
" Swhuss.... swhus...." Qing Ruo dan rombongannya terus bergerak memasuk lorong gua yang mengarahkan mereka keluar menuju sisi gunung lainnya.
Sepanjang lorong, Yanshi Gong masih belum mampu menenangkan pikirannya, menatap punggung Qing Ruo yang bergerak mendahuluinya dengan begitu heran.
" Bisa selamat dari dua kucing hitam bermata gelap, lalu selamat dari panda putih cakar emas, bahkan bisa pergi dari hadapan dua sosok jenderal utama hewan gelap dan semut hitam raksasa. Apakah Sebelumnya dia juga melakukan hal yang sama? Dengan mengancam mereka tanpa gentar sedikitpun." Membantin sambil terus bergerak.
" Swhus... swhus..." Mereka terus bergerak tanpa halangan sedikitpun.
" Tuan muda, perjalanan kali ini cukup mudah," ucap Yanshi Gong memulai percakapan.
" Tentu saja, karenanya hewan buas bodoh yang masih ingin tinggal di lorong ini setelah tahu ada sosok semi abadi tingkat sembilan," ucap Qing Ruo sambil terus bergerak dengan tenang.
" Tapi bagaimana dengan sosok tulang hidup yang sebelumnya juga ikut kabur, bukankah mereka tidak memiliki pikiran dan perasaan?" tanya Yanshi Gong dengan heran.
" Kita saja yang menganggapnya demikian, karena pada dasarnya segala sesuatu yang dapat bergerak bahkan terlihat hidup, mereka mungkin memiliki kehidupannya sendiri," jasab Qing Ruo menjelaskan.
" Tuan muda," ucapnya ragu.
" Tetua, bicaralah."
" Tuan muda, apakah mereka benar-benar akan melepaskan kita?"
" Maksud tetua?" tanya Qing Ruo.
" Para jenderal hewan gelap itu," jawabnya pelan.
" Setelah mengalami kerugian besar, aku yakin mereka tidak akan pernah melepaskan kita. Tenanglah, selama kita berada di dalam kawasan hutan gelap, mereka tidak akan berani bertindak sembarangan, tetapi di luar hutan ini, kemungkinan besar kita akan menghadapi mereka lagi."
" Tapi tuan muda, bagaimana cara kita menghadapi mereka?"
" Tidak ada yang bisa kita lakukan selain pergi dan bersembunyi."
" Jadi tindakan tuan muda sebelumnya?" tanya Yanshi Gong dengan penasaran.
" Itu hanyalah gertakan," jawab Qing Ruo dengan santai, membuat Yanshi Gong hampir terjatuh.
" Tetua, dalam situasi apapun, jangan pernah menunjukan kelemahan kita, karena hal itu akan membuat musuh semakin yakin bahwa kita berada di bawah mereka. Buat mereka berpikir bahwa kita bukanlah orang yang mudah di hadapi. Selain itu, ketenangan adalah hal yang utama." Sambil terus bergerak.
" Tuan muda, apakah kita tidak menyegel lorong gua ini, supaya kita dapat mengulur waktu melarikan diri."
" Tetua, hal itu akan membuat mereka mengira kita semakin takut padanya. Jika kita bertemu dengan mereka lagi, mereka tidak akan pernah memberi ruang pada kita untuk berbicara."
" Baik tuan muda." Sambil terus bergerak.
Menjelang malam, Qing Ruo dan rombonganya akhirnya melihat cahaya di ujung lorong.
" Tuan muda, sebentar lagi kita akan keluar dari gua perak terlarang ini, dan itu artinya kita akan melewati wilayah kekuasaan laba- laba api, elang perak, dan harimau gelap mata biru," ucap Yanshi Gong.
__ADS_1
" Baik, terus bergerak ucapan Qing Ruo.
" Swhus...swhus...." sosok mereka terus bergerak, hingga akhirnya keluar dari lorong gua perak itu.
" Tetua," ucap Qing Ruo sambil melepaskan tembakan tiga pisau mendahului mereka, sedangkan dirinya begerak memimpin rombongannya melesat naik ke atas tebing gunung yang tertpotong tersebut.
" Swhus...swhus...." Qing Ruo dan rombongannya terus bergerak, mencari tempat yang dapat digunakan untuk bersembunyi dan beristirahat.
Setelah bergerak mengitari tebing gunung raksasa itu, Qing Ruo akhirnya menemukan ceruk kecil yang ditempati oleh seekor elang perak. Tanpa sempat bergerak, hewan gelap yang merupakan sudah berada di tingkat semi abadi tingkat empat itu langsung terdiam saat tembakan segel cakram Emas Langit Ling mengurungnya.
" Swhus...swhus...." Qing Ruo dan rombongannya memasuki ceruk tetsebut dan bersembunyi di belakang elang perak tersebut.
" Tetua, Long Chen kita akan beristirahat di tempat ini."
" Baik," jawab Yanshi Gong dan Long Chen secara bersamaan.
****
Tidak lama kemudian, Mao Bing dan rombongannya keluar dari gua perak tersebut, bergerak meninggalkan tempat itu, menyusul aura pisau perak yang Qing Ruo lepaskan sebelumnya.
Setelah bergerak sejauh tiga kilo meter, mereka mulai kehilangan jejak aura tersebut, membuat Mao Bing benar-benar menghentikan pergerakan mereka.
" Mereka bergerak begitu cepat, bahkan kita tidak merasakan jejak auranya, saudara Bing, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Mao Tang dengan serius.
" Sepertinya ada yang salah," ucap Mayi Gui sambil melepaskan kekuatan jiwanya memeriksa tempat itu dengan seksama.
" Jenderal Mao Bing, dengan jarak yang begitu dekat, mustahil mereka dapat meninggalkan kita begitu cepat. Aku curiga jejak aura yang kita ikuti sebelumnya adalah pengalihan yang memang sengaja mereka lakukan untuk mengelabui kita."
" Berdasarkan cerita komandan bawahan Jenderal Mao Cheng dan Mao Teng sebelumnya, aku yakin mereka pasti sedang bersembunyi. Dan ini akan merepotkan kita." ucap Mao Tang.
" Maksud Jenderal Mao Tang?" tanya Mayi Gui.
" Jenderal Mayi Gui, mereka memiliki kemampuan untuk bersembunyi, bahkan sebelumnya mereka bersembunyi di tempat yang telah dihancurkan oleh jenderal Mao Teng dan Mao Cheng," jawab Mao Bing menjelaskan, membuat mereka terdiam.
" Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Mao Tang.
" Saudara, kita telah memasuki wilayah Harimau Hitam mata biru, dan kita tidak bisa bergerak dengan bebas. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menunggu jenderal Mayi Xian dan Mayi Cao, setelah itu kita akan menemui jenderal Hu Yan Lan, dan meminta izin padanya," ucap Mao Bing dengan serius.
" Baik, jika demikian mari kita mencari tempat untuk beristirahat," ucap Mayi Gui, bergerak meninggalkan tempat itu.
****
Di dalam ceruk.
Qing Ruo sedang memulihkan diri tiba-tiba menghentikan tindakannya saat Yanshi Gong tiba-tiba mengganggunya.
" Tuan muda, seperti mereka kembali," ucap Yanshi Gong dengan wajah tegang. Saat merasakan tiga aura yang sangat kuat bergerak mendatangi kawasan itu.
__ADS_1
Qing Ruo terdiam sesaat.
" Tenanglah, aku yakin mereka tidak mengetahui keberadaan kita," ucap Qing Ruo yang sebelumnya telah menyegel mulut ceruk tersebut dan menyamarkan kehadiran mereka dengan sosok elang perak.
" Tapi tuan muda, bagaimana jika...,"ucap Yanshi Gong menjeda kata-katanya menatap Qing Ruo dengan serius.
" Tetua, asalkan mereka tidak menghancurkan kawasan ini, mereka tidak akan menemukan kita. Lagipula jika mereka mendatangi tempat ini, aku juga sudah memikirkan apa yang harus kita lakukan," ucap Qing Ruo dengan tenang.
" Baik tuan muda," ucap Yanshi Gong menganggukkan kepalanya.
" Penguasa, jika hamba boleh tahu, apa rencana kita selanjutnya?" Tanya Long Chen, berbicara pada Qing Ruo melalui telepati, yang kini mulai kesal dengan Yanshi Gong.
" Tenanglah, aku sudah memikirkan apa yang akan kita lakukan. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah memulihkan diri."
" Baik penguasa," jawab Long Chen, lalu mulai memulilhkan diri.
" Elang perak, awasi tempat ini. Jika ada sesuatu yang mendekat, segera kabari aku," ucap Qing Ruo dengan tegas, berbicara pada pikiran sosok hewan gelap itu.
" Baik tuan."
Setelah berkata-kata pada elang perak itu, Qing Ruo lalu memulilhkan dirinya.
Di depan mulut ceruk.
Elang perak yang tersegel oleh Mantra cakram Langit Ling, terdiam di tempatnya tanpa berani bergerak sedikitpun.
" Hais.... Mengapa harus bertemu dengan para dewa ini." Membatin kesal, sambil mengitari pandangannya, mengawasi kaki gunung tersebut.
****
Di depan mulut gua perak terlarang.
Mao Bing, Mao Tang dan Mayi Gui duduk di tempat itu, beristirahat untuk memulihkan kekuatan mereka yang sebelumnya terkuras oleh kekuatan lorong gua yang benar-benar menindas kekuatan mereka.
" Semoga Jenderal Mayi Xian dan Jenderal Mayi Cao segera tiba," ucap Mao Bing.
" Jenderal Mao Bing, tenanglah, mereka memang sedang bergerak menuju tempat ini," ucap Mayi Gui.
" Aku tidak menyangka, jika kita akan dibuat repot seperti ini," ucap Mao Tang sambil menggelengkan kepalanya.
" Asalkan kita dapat bekerjasama dengan jenderal Hu Yan Lan, kita pasti akan menangkap mereka," ucap Mayi Gui.
" Jenderal Mayi Gui, benar. Kali ini kita pasti akan membunuh mereka," ucap Mao Bing dengan serius.
" Aku juga berharap demikian," ucap Mao Tang dengan kesal.
🙏🙏🙏 ***Satu Bab ya kak***.🙏🙏🙏
__ADS_1