Sang Penguasa

Sang Penguasa
61. Hua Zhen.


__ADS_3

Qing Ruo muncul di dalam kamar, menemukan Yuan Bai dan Yuan Hei sedang berkultivasi dengan tenang.


" Penguasa," ucap mereka berdua dengan hormat.


" Kita akan segera pergi,"  ucap Qing Ruo sambil memanggil Yu Jieru dan rombongannya untuk segera kembali.


" Penguasa, apakah ada yang salah?" Tanya Yuan Bai.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Tidak ada yang salah. Hanya saja ada pekerjaan mendesak yang harus segera diselesaikan..." ucap Qing Ruo yang tidak ingin menceritakan perihal keberadaan klan Hua yang menjadi musuh klan Luo, berbincang bincang santai sambil menunggu Yu Jieru dan rombongannya kembali.


***


Pusat kota Hua.


Yu Jieru dan rombongannya yang sedang menikmati suasana kota Hua tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan seorang gadis.


" Berhenti! Kalian para pencuri. Kembalikan barang-barangku."  Teriaknya mengoceh, membuat Yu Jieru dan rombongannya menjadi pusat perhatian.


Yu Jieru dan rombongannya  yang   tidak melakukan hal yang  dituduhkan itu terlihat begitu kebingungan.


" Nona, apa maksud Anda?" tanya Liong Hei.


" Maksud? Sungguh lucu. Setelah menipu kami, kalian lalu berpura-pura tidak tahu. Kembalikan barang-barang yang telah kalian ambil!" Teriaknya dengan keras, sehingga membuat tempat itu semakin ramai.


Dalam waktu singkat beberapa prajurit muncul di tempat itu.


" Nona, ada apa?" tanya sang komandan pasukan.


" Komandan,  kebetulan sekali kalian datang. Mereka adalah orang-orang yang telah mengambil barang- barangku secara paksa!" Menunjuk Jinse.


" Aku," ucap Jinse  menunjuk dirinya dengan heran.


" Tuan-tuan, mari selesaikan  masalah ini di aula kehakiman. Biar hakim yang memeriksa dan memutuskan," ucap sang komandan dengan bijak.


" Baik," jawab Yu Jieru, yang di sambut dengan tatapan sinis sang gadis yang membuat Jinse semakin salah tingkah.


" Mari tuan-tuan, nona," ucap komandan tersebut dengan ramah, sambil mengarahkan rombongan itu  menuju pusat kota.


Dalam perjalanan.


" Saudara..." ucap Zin ragu, menatap Jinse yang terlihat serba salah.


" Saudara jangan pernah berpikir seperti itu. Aku tidak akan pernah mempermalukan Penguasa dan diri sendiri. Jika tidak percaya, tanya saja pada saudara Liong Hei." Menatap Liong Hei yang juga terlihat begitu kebingungan.


" Benar. Kami bahkan selalu bersama. Jadi aku tahu apa yang dilakukan oleh saudara Jinse..." Jawab Liong Hei heran.


Sebelumnya, pada saat mereka keluar dari penginapan Bunga Persik, Yu Jieru membagi rombongan itu menjadi dua kelompok. Kelompok pertama di pimpin oleh Liong Hei dengan anggotanya, Jinse, Wuya Hai, Mao Huo,  Tian Feng, Tian Lu Ye dan Tu Hai. Kelompok dua dipimpin oleh Yu Jieru, dengan anggota, Hu Shan, Qiong Du, Qiong Da, Zin dan Zan. Dengan tujuan agar tidak menarik perhatian banyak orang.

__ADS_1


Pada saat mereka sedang berjalan menuju pusat kota, tiba-tiba Hu Shan mendapat pesan dari Qing Ruo.


" Penguasa meminta kita untuk kembali. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Hu Shan, berbicara melalui tetepato pada semua rombongannya dengan bingung.


" Saudara Liong Hei, bagaimana? Kita tidak mungkin mengatakan masalah yang memalukan ini pada penguasa..." ucap Yu Jieru dengan wajah serba salah.


" Kita juga tidak mungkin membuat penguasa menunggu kita. Kabari saja, lagipula kita juga tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan," Liong Hei berpendapat.


Setelah merundingkan masalah itu cukup lama, akhirnya mereka sepakat untuk melaporkan masalah itu pada Qing Ruo.


" Baik," jawab Hus Shan, lalu mengirim pesan pada Qing Ruo.


" Saudara, karena kita belum mengetahui dengan siapa kita berhadapan, dan masalah yang kita hadapi,  maka mohon untuk tidak berbicara lebih banyak," ucap Yu Jieru berbicara melalui telepati, mengingatkan  Jinse  dan yang lainnya.


" Baik," jawab Jinse yang sebenarnya sangat begitu kesal.


" Saudara Jinse, gadis itu ternyata cukup cantik. Lihatlah! Bagaimana jika saudara jadikan istri saja," ucap  Hu  Shan menggodanya.


" Saudara, aku sedang tidak ingin bercanda," ucapnya sedih, dengan perasaan bersalah.


" Ayolah, di mana Jinse yang selalu ceria. Lagipula jika saudara memang tidak melakukannya, mengapa harus..." ucap Hu Shan menyemangatinya


" Saudara Hu Shan benar." Sambil memasang wajah cerahnya.


" Gadis kecil, tunggu pembalasanku.." ucapnya sambil menatap gadis yang berjalan di depannya dengan kesal.


" Saudara, ayo goda gadis itu..." ucap Hu Shan yang terus berbicara melalui telepati, menggodanya.


Setelah berjalan cukup lama. Yu Jieru dan rombongannya akhirnya tiba di pusat kota. Namun yang membuat mereka terkejut, mereka di arahkan menuju sebuah kediaman besar dan mewah, dengan tembok setinggi lima belas meter. 


" Saudara Lianghao, ini..." ucap Jinse heran, karena mereka tidak di bawa ke aula kehakiman, tetapi kediaman pribadi. 


Yu Jieru menggelengkan kepalanya.


" Tetap tenang, dan tunggu penguasa datang," ucap Yu Jieru berbicara dalam pikiran mereka semua.


Tidak lama kemudian, seorang pemuda dengan jubah emas keluar dari dalam istana, menghampiri mereka.


" Kakak,"  ucap sang gadis dengan wajah ceria, menghampiri pemuda tersebut.


" Diu er, ada apa ini..." Menatap Yu Jieru dan rombongannya yang di rantai  dengan heran. Dan semakin heran lagi saat melihat sang komandan yang salah tingkah.


" Kakak," Sambil berbisik pada pemuda tersebut lalu meninggalkan tempat itu.


Sang pemuda tampak mengerutkan keningnya, menatap Jinse dengan heran.


" Komandan Hong, bawa mereka ke dalam penjara!"


" Tuan, kami tidak melakukan kesalahan apapun, mohon kebijaksanaan tuan memutuskan masalah ini dengan benar .." ucap Hu Shan yang kini sudah  tidak dapat menahan diri memasang wajah kesal.

__ADS_1


Pemuda tersebut tersenyum ramah.


" Kalian memang tidak bersalah, tapi aku ingin menahan kalian," jawabnya santai, membuat Yu Jieru dan rombongannya semakin bingung.


" Tuan muda, jangan bercanda," ucap Liong Hei mulai kesal.


" Bercanda? Apakah aku terlihat seperti itu?" dengan senyumnya yang ramah, sambil meminta prajurit membawa Hu Shan dan rombongannya ke dalam penjara.


" Tuan beri kami alasan yang masuk akal. Jika tuan kami datang. Dia tidak akan menoleransi hal seperti ini," ucap Yu Jieru dingin.


" Alasan yang masuk akal?  Apakah kamu mengancam?" Menatap Yu Jieru dengan santai. 


" Kita salah tempat. Aku kira kita sebelumnya memang  melanggar aturan, ternyata ini hanya tindakan seorang gadis yang kurang kerjaan. Mari kita pergi," ucap Liong Hei, sambil menghancurkan rantai perak yang mengikat tangan dan kakinya, lalu di ikuti oleh Hu Shan dan yang lainnya.


Yu Jieru menggelengkan kepalanya.


" Saudara sekalian, harap tenang. Yang ada di depan kita ini adalah Shen Guoshi Hua. Klan dewa kuno. Turuti saja perintah mereka. Jika kita membuat masalah, kita tidak akan pernah bisa pergi dari tempat ini. Tunggu Penguasa datang..." Berbicara melalui telepati, membuat Hu Shan dan rombongannya mengubah roman wajahnya.


Liong Hei dan rombongannya tampak begitu terkejut. Mereka tidak pernah menyangka jika pemuda yang terlihat begitu santai itu adalah orang yang memiliki darah dewa kuno. Sedangkan sang pemuda menjadi heran saat melihat Liong Hei dan rombongannya yang sebelumnya begitu murka tiba-tiba menjadi tenang.


" Komandan Hong," ucapnya sekali lagi.


Dengan segera sang komandan membawa Hu Shan dan rombongannya memasuki bagian dalam kediaman tersebut.


" Hais, gadis ini. Komandan Hong juga, mengapa selalu mengikuti tindakan konyolnya," ucap sang pemuda menggelengkan kepalanya. Namun baru saja pemuda tersebut akan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba seorang  prajurit memasuki halaman.


" Tuan muda Hua Zhen, seseorang  ingin bertemu dengan anda." sang prajurit melapor.


Tuan muda yang bernama Hua Zhen itu mengerutkan keningnya.


" Baik, bawa dia masuk."


" Baik tuan muda," jawab sang prajurit lalu bergegas pergi.


Setelah prajurit itu pergi, Hua Zhen  lalu meninggalkan tempat itu, masuk ke dalam ruangan.


Tidak lama kemudian prajurit itu kembali bersama seorang pemuda.


" Hormat pada tuan muda Hua Zhen, hamba Qing Ruo." Menangkapkan  tangannya dengan hormat.


" Qing Ruo...?" Membatin. Menatap Qing Ruo dengan heran.


" Tuan Qing Ruo, silahkan duduk," ucapnya dengan ramah.


" Terima kasih tuan muda. "


" Tuan Qing Ruo, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


" Tidak tuan muda. Ini adalah kali pertama kita berjumpa."

__ADS_1


" Oh, ada urusan apa hingga tuan Qing Ruo datang menemuiku?"


" Tuan muda, maaf sebelumnya. Tujuan kedatanganku adalah untuk menanyakan orang-orangku yang sebelumnya dibawa oleh prajurit ke tempat ini." ucap Qing Ruo dengan tenang.


__ADS_2