
" Swhus... swhus...." Qing Ruo, Murong Jianyu dan Hua Zhen bergabung, membantu Heian Bai dan rombongannya yang begitu kewalahan menghadapi Pria paruh baya tersebut.
" Dhuar.. Dhuar...." ledakan dahsyat bergema, mengguncang seluruh ruangan.
" Swhus... Swhus..." sosok paruh baya itu menghindari serangan Hua Zun dan rombongannya, bergerak menargetkan Qing Ruo dan Hua Zhen.
" Dhuar ...." gelombang ledakan pukulannya melempar Hua Zhen dan Qing Ruo.
" Penguasa muda, tuan muda, mundur...!" Teriak Hua Zun dan Hua Thong, meminta Qing Ruo dan Hua Zhen meninggalkan arena pertempuran, sambil menghadang serangan pria paruh baya tersebut.
" Dhuar... dhuar...." Serangan mereka beradu, mendorong tubuh Hua Zun dan Hua Thong hinggga menghantam dinding gua.
" Swhus.... swhus..." Qing Ruo dan Hua Zhen bergerak meninggalkan pertempuran tersebut.
" Saudara Ruo," ucap Hua Zhen mengamati pertempuran dahsyat itu dengan ngeri.
" Pertempuran ini memang bukan untuk tingkatkan kita. Selain itu, kehadiran kita justru akan menjadi beban," ucap Qing Ruo sambil terus bergerak menjauh.
" Semi abadi tingkat enam benar-benar mengerikan. Walaupun dalam keadaan terluka, tetapi masih mampu mengimbangi kekuatan lima pendekar semi abadi tingkat lima. Saudara Ruo, apa yang harus kita lakukan?"
" Ambil permata jiwa naga perak..." ucap Qing Ruo.
"Tapi saudara, bukankah kita dapat mengambilnya setelah pertempuran ini...?"
" Benar, lakukan saja untuk mengalihkan perhatianya," ucap Qing Ruo bergerak menghampiri naga perak lainnya.
" Baik," jawab Hua Zhen lalu bergerak mengambil permata jiwa naga perak yang telah terbunuh tersebut. .
" Swhus..." Qing Ruo muncul di hadapan sosok naga perak yang teronggok.
" Jika saja gunung ini tidak memiliki kekuatan emas, mungkin ledakan ini sudah mengubur semua orang." Membatin, sambil membelah kepala naga tersebut, mengambil permata jiawa, dan menguliti naga perak tersebut.
Tiba-tiba matanya bersinar.
" Mantra formasi," ucapnya.
" Tetua, saudara Bai, tahan tetua tersebut. Aku ada rencana," ucapnya berbicara melalui telepati pada rombongannya, lalu bergerak keluar gua.
" Swhuss..." Qing Ruo tiba di depan mantra formasi yang menyegel mulut gua, memeriksa susunan mantra formasi dan mengubah susunannya.
Tiga menit kemudian, Qing Ruo lalu kembali menuju ruangan gua yang menjadi tempat pertempuran.
" Dhuar... dhuar..." Ledakan keras bergema, melempar sosok Murong Jianyu yang merupakan semi abadi tingkat lima tahap awal dengan ekstrem.
" Swhus..." Qing Ruo bergerak menghampirinya.
" Jianyu..."
" Penguasa, tenanglah. Hamba baik-baik saja." Sambil bangkit berdiri, mengedarkan kekuatan penyembuhan dari tubuhnya.
" Walaupun sudah terluka parah, namun kekuatan serangannya sangat mematikan." Qing Ruo membatin, menatap sosok pria paruh baya yang telah berlumuran darah tersebut , yang kini bertarung dengan gila. bahkan berhasil mengirim Hua Thong hingga menghantam dinding gua.
" Saudara Heian Bai, Dalu Rong, tinggalkan tempat ini..." Ucap Qing Ruo memanggil mereka semua untuk segera meninggalkan tempat itu.
" Apa!" Hua Zun dan rombongannya terkejut. Bahkan membuat pria paruh baya itu semakin menggila, karena menganggap dirinya lebih kuat dari pada lawan-lawannya.
__ADS_1
" Tenanglah, aku ada rencana..." Suara Qing Ruo berbicara dalam pikiran mereka.
" Swhuss..." Qing Ruo bergerak mendahului mereka, lalu diikuti oleh Hua Zhen dan yang lainnya.
" Kalian semua terlalu naif!" Teriak sosok tersebut tertawa keras, membiarkan Dalu Rong dan rombongannya meninggalkankan ruangan itu.
***
Lorong gua.
Qing Ruo dan rombongannya tiba di depan perisai transparan, dan berhenti di tempat itu.
" Saudara Ruo," ucap Hua Zhen penasaran.
" Saudara, aku ada rencana," ucap Qing Ruo sambil meminta rombongannya untuk berpura-pura ketakutan.
Dalu Rong dan rombongannya yang sudah terbiasa dengan strategi Qing Ruo dengan segera bertingkah seperti orang yang ketakutan, membuat Hua Thong dan Hua Zun menahan tawa.
" Swhuss..." Sosok yang mereka lawan Sebelumnya muncul di dalam lorong. Menatap Qing Ruo dan rombongannya dengan seringai dingin.
" Sudah aku katakan sebelumnya. Kalian benar-benar naif..." ucapnya sambil tertawa keras.
" Te-tetua, mohon pengampunan-"
" Tidak ada pengampunan. Kalian telah membunuh naga perak kembar ku. Maka kalian juga harus mati!" Ucapnya memotong kata-kata Qing Ruo.
" Tapi tetua, bukankah Naga perak itu yang menyerang kami terlebih dahulu..."
" Tidak ada negosiasi. Nyawa ganti nyawa. Sebelumnya kalian yang membunuh, kini giliranku..." bergerak mendekati Qing Ruo dan rombongannya.
" Naif!" Ucap Qing Ruo tiba-tiba memprovokasi, membuat sosok itu menjadi kalap.
" Tua Bangka, kamu Saja yang harus mati!" Teriaknya Heian Bai memprovokasi.
" Argh....! Hari ini aku Dong He akan memakan kalian semua!"
" Swhung...." Segel mantra formasi itu bergetar, mengaktifkan jebakan yang ada di sepanjang lorong.
" Trark..." Ledakan petir tiba-tiba muncul, dari arah belakang Dong He dan menyelimuti seluruh lorong gua.
" Apa!" teriaknya panik saat segel mantra formasi yang dibuatnya tidak menunjukan reaksi yang sesuai dengan arahannya. Bahkan pergerakan Senjata yang menjadi menyusun segel tersebut bergerak menyerangnya.
" Dhuar... dhuar..." Ledakan dahsyat bergema, mengguncang lorong gua.
" Argh ... Kep***t ternyata kamu telah mengubah susunan mantra formasi ini..." Teriaknya murka, sambil melepaskan pukulan, menghalau serangan pedang tingkat tinggi yang kini bergerak menyerangnya.
" Dhuar... Dhuar..." Sambaran petir mengecoh konsentrasinya sedangkan serangan pedang dari susunan formasi itu semakin intens.
" Swhuss... swhus...." Dong He bergerak ke berbagai arah, menyerang dan menghindari serangan pedang tersebut.
" Argh..." Teriaknya frustrasi, karena pedang tersebut terus bergerak dan mengunci dirinya.
" Penguasa Muda, apa yang harus kita lakukan?" tanya Hua Zun menatap Qing Ruo dengan takjub.
" Tunggu. Biarkan serangan formasi ini melemahkan kekuatannya," Jawab Qing Ruo sambil mengendalikan formasi serangan pedang tersebut.
__ADS_1
" Baik, kami mengerti," ucap Dalu Rong sambil bersiap-siap.
" Benar-benar pemilik darah Shen Guoshi Ling..." Hua Zun membatin, sambil menatap Dong He yang kini bertarung seperti orang kesetanan.
" Argh..." Teriaknya kesal, menangis di dalam hati, karena mantra formasi pembunuh dewa yang dia buat untuk membunuh orang lain, kini akan merenggut nyawanya.
Dalam keputusasaannya, Dong He akhirnya menyadari kebodohannya.
" Mereka bahkan bisa memasuki tempat ini dengan melewati mantra formasi yang aku buat. Bukankah itu berarti mereka telah menguasainya." membatin kesal.
" Dhaur..." sebilah pedang perak, yang merupakan senjata abadi tingkat lima menghantam punggungnya, menghancurkan armor emas yang melindungi tubuhnya.
" Swhus..." tubuhnya terlempar hingga menghantam dinding gua, lalu bergerak pergi, menerobos sambaran petir, kembali menuju ruangan utama gua.
" Argh..." teriaknya terlempar, terkena hantaman petir yang menyegel lorong gua.
" Petir ini..." membatin, merasakan sensasi asing menguasai tubuhnya.
" Sekarang!" ucap Qing Ruo sambil tetap mengendalikan serangan formasi.
" Baik," jawab Heian Bai dan rombongannya, sambil melepaskan serangan mereka.
" Swhuss... Swhus..." tombak dan pedang menghantam Dong He, melempar dan menghempaskan tubuhnya di lantai lorong.
" Aku..." Rintihannya kesakitan dengan darah segar menghiasi bibirnya.
" Swhus... Swhus..." serangan tombak dan pedang kembali muncul, mengunci tubuhnya.
" Argh..." Dong He berteriak, menyilangkan tangan menghadang serangan pedang dan tombak yang melesat kearahnya.
" Dhuar...." ledakan dahsyat mengirim tubuhnya terbang, bahkan beberapa pedang kini menancap di tubuhnya.
" Swhus..." serangan formasi pedang dan sambaran petir yang mengisi seluruh lorong gua lenyap. Menyisakan tubuh Dong He yang berusaha berdiri.
" Shen Guoshi Qing, aku tidak pernah memusuhi kalian. Jadi jangan libatkan klan Dong," ucap lirih, menatap Qing Ruo dengan mata sedih.
" Shen Guoshi Qing?" Heian Bai dan rombongannya menatap Qing Ruo heran.
" Dong He mengira penguasa muda Qing Ruo adalah Shen Guoshi Qing..." Hua Zhen membatin.
" Tetua Dong He-" Murong Jianyu menghentikan kata-katanya saat sosok Dong He tiba-tiba roboh.
" Bhuk..." Tubuh itu roboh bersamaan dengan terlepasnya beberapa pedang yang menancap dari tubuhnya.
" Swhung..." Bola emas dengan kekuatan elemen air, sebesar buah anggur muncul dan mengambang di atas tubuhnya.
" Penguasa muda, itu adalah kekuatan darah dan kekuatan jiwa Dong He," ucap Murong Jianyu.
" Benar, ini adalah permohonannya agar tidak memusuhi Klan Dong," ucap Hua Zun, meminta Qing Ruo untuk mengambil mutiara jiwa dewa tersebut.
" Baik," jawab Qing Ruo sambil meraih Mutiara jiwa dewa tersebut, lalu menyimpannya.
" Baik, mari kita beristirahat," ucap Heian Bai sambil menghampiri Qing Ruo dan membawa jasad Dong He ke dalam ruangan utama, di ikuti oleh Murong Jianyu yang membawa pedang yang terlepas dari tubuh tersebut.
" Baik," jawab Qing Ruo sambil bergerak mengikuti rombongan tersebut.
__ADS_1
***
Maaf satu bab dulu. semoga besok bisa dua bab lagi. Terima kasih.🙏🙏🙏.