Sang Penguasa

Sang Penguasa
93. Rencana Qing Ruo.


__ADS_3

Tiga kilometer arah timur  benteng kota Hua, Hu Shan beserta rombongannya yang sedang menunggu kedatangan Qing Ruo, berbincang-bincang santai, menceritakan kesan mereka selama di kota tersebut.


" Ini baru kota Hua, tetapi keindahannya sungguh luar biasa," ucap Hu Shan dengan penuh semangat.


" Benar, ini baru kota  kecil, lalu bagaimana dengan kota besar lainnya..." ucap Jinse tidak kalah semangatnya, tanpa menghiraukan Yu Jieru dan Liong Hei yang duduk didepan mereka, yang sesekali menahan tawa dan menggelengkan kepala.


" Aku sudah tidak sabar lagi untuk segera bertualang bersama penguasa muda," ucap Tu Hai.


"Apakah saudara yakin?" tanya Yu Jieru.


" Maksud Saudara?"


" Ini adalah kota kecil dan aturannya juga tidak begitu banyak. Perlu saudara ketahui, di kota besar aturannya juga sangat banyak. Bahkan pelanggaran kecil akan berujung pada kematian, sehingga aku tidak yakin penguasa akan mengijinkan kita untuk bergerak bebas, apalagi dengan jumlah banyak orang seperti ini," ucap Yu Jieru menjelaskan, membuat Hu Shan dan rombongannya yang begitu bersemangat tiba-tiba terdiam.


" Saudara Lianghao, benarkah?" tanya Tian Feng, dengan wajah serius.


" Tentu saja," jawab Liong Hei,  membuat Tian Feng dan rombongannya terdiam, mengubah wajah Jinse dan rombongannya menjadi masam.


Tiba-tiba gelak tawa Yu Jieru dan Liong Hei mengejutkan mereka, membuat Hu Shan dan rombongannya semakin heran.


" Saudara Liong Hei, lihatlah wajah mereka," ucap Yu Jieru tertawa terbahak-bahak, membuat Hu Shan dan rombongannya akhirnya mengerti, bahwa Yu Jieru dan Liong Hei sedang mengerjai mereka.


" Tidak lucu..." ucap Jinse kesal.


" Tentu saja lucu, lihatlah wajah kalian itu..." ucap Liong Hei tertawa terbahak-bahak.


" Swhuss..." Qing Ruo tiba-tiba muncul dan mengejutkan mereka.


" Penguasa," ucap mereka dengan hormat.


" Maaf membuat kalian menunggu," ucap Qing Ruo dengan senyumnya yang ramah, menatap raut wajah yang berbeda.


" Jinse, Hu Shan, ada apa?" tanya Qing Ruo.


Rombongan itu mengelengkan kepalanya.


" Tidak ada penguasa, kami hanya kalah taruhan dari saudara Liong Hei dan Lianghao," jawab Hu Shan.


Qing Ruo menganggukan-anggukan kepalanya, sambil menatap Yu Jieru dan Liong Hei yang tampak bahagia.


" Penguasa, apakah kita akan segera pergi?" Tanya Liong Hei dengan penuh semangat.


" Benar. Apakah kalian sudah siap?"


" Kami sudah siap penguasa," jawab Jinse.


" Baik, mari kita pergi," ucap Qing Ruo lalu membawa mereka, bergerak meninggalkan tempat itu.


" Swhuss... Swhus...." Kilatan cahaya keemasan yang terlihat begitu kontras dari kegelapan malam, melesat, bergerak meninggalkan tempat itu.


" Penguasa, kemana tujuan kita?" tanya Qiong Du.


" Kita akan menuju kota Danau Emas," jawab Qing Ruo.


" Apakah itu jauh?" Tanya Hu Shan.


" Kurang lebih tiga hingga empat hari perjalanan dari kota Hua. Qing Ruo menjelaskan.


" Penguasa, lalu apa rencana kita?" tanya Liong Hei.

__ADS_1


" Memulai pertualangan," jawab Qing Ruo santai, membuat wajah masam mereka begitu bersemangat.


" Apakah itu berarti kami tidak akan kembali ke dalam dunia jiwa lagi?" Tanya Tu Hai.


" Oh, apakah  kalian ingin kembali ke dalam dunia jiwa?" tanya Qing Ruo, mencandai mereka dengan wajah serius, membuat mereka terdiam.


" Apakah itu berarti selama ini kalian tidak senang di dalam dunia jiwa?" tanya Qing Ruo sekali lagi.


" Penguasa,  kami tidak bermaksud  seperti itu. Di daratan ilahi yang sangat indah ini, akan sangat disayangkan jika..."


" Aku mengerti. Karena dunia jiwa tidak seindah daratan ilahi, tidak heran jika kalian bosan," ucap Qing Ruo pelan, sambil menahan tawanya, melihat reaksi Hu Shan dan rombongannya yang hampir terjatuh dari langit.


" Penguasa, kami.." ucap Hu Shan dan rombongannya berhenti, menatap Qing Ruo dengan rasa bersalah, membuat Qing Ruo tiba-tiba tertawa.


" Hu Shan,  aku hanya bercanda..." sambil menahan tawa.


" Hais penguasa," ucap Hu Shan dan rombongannya sambil menggelengkan kepalanya. Apalagi melihat Yu Jieru dan Liong Hei yang tertawa terbahak- bahak.


" Sudah jatuh tertimpa tangga, sebelumnya kita di kerjai oleh saudara Liong Hei dan saudara Lianghao, sekarang oleh penguasa," ucap Tu Hai.


" Terus bergerak," ucap Qing Ruo.


" Baik penguasa..."


" Mulai saat ini kalian sudah bebas," ucap Qing Ruo membuat suasana hati mereka gembira, namun masih diam.


" Kalian sudah bisa memulai petualangan, tapi aku ingin membawa kalian ke kota Danau Emas. Di sana aku akan pergi ke Klan Shen Guoshi Yin di gerbang es hitam utara, dan kalian pergi ke kota Bunga Semi Selatan. Di kota itu Luo Zhao akan memandu kalian untuk menuju gunung terlarang Semi Selatan." Dengan wajah serius.


" Maksud Penguasa?" tanya Tian Lu Ye.


" Kita akan tinggal  dan membangun kekuatan di tempat itu."


" Penguasa, bagaimana jika gunung Semi Selatan sudah di tempati oleh kekuatan lain?" tanya Yu Jieru.


" Justru itu lebih baik, karena kita tidak perlu repot-repot lagi."


" Maksud penguasa?"


" Rangkul mereka. Untuk  menguasai sebuah tempat, itu tidak harus selalu menggunakan kekerasan dan penindasan, tetapi melalui kerjasama yang baik."


" Penguasa benar, karena penindasan akan melahirkan kebencian. Tapi bagaimana jika mereka tidak mau?"


" Serahkan padaku. Setidaknya kalian sudah tiba di kota Bunga Semi Selatan, itu saja sudah cukup," ucap Qing Ruo.


" Baik penguasa..." Sambil terus bergerak.


****


Di dalam Dunia Jiwa.


Qing Yong Jun yang sedang berkultivasi di halaman istana giok biru, dikejutkan oleh kedatangan Huo Mingzhi dan Huo Zhaodau.


" Tuan muda, aula cermin jiwa telah terbuka," ucap Huo Mingzhi dengan penuh semangat.


" Benarkah?" Dengan wajah kegirangan. 


" Benar,  tapi karena saat ini masih malam, jadi pemandangan di luar masih belum terlibat dengan jelas." Huo Zhaudao menjelaskan.


" Tidak masalah. Sudah aktif kembali saja, itu sudah cukup." ucap Qing Yong Jun dengan gembira, sambil berdiri dari duduknya, lalu membawa Huo Mingzhi dan Huo Zhaudao meninggalkan istana giok biru, menuju Aula cermin jiwa yang ada di kawasan tengah Dunia jiwa.

__ADS_1


****


Di dunia luar.


Qing Ruo dan rombongannya terus bergerak meninggalkan kota Hua, menuju kota Danau Emas yang ada di Utara.


Dua hari kemudian, menjelang pagi. Mereka melihat kota kecil, yang merupakan kota manusia.


" Kota Sungai Biru," ucap Qing Ruo menjelaskan.


" Penguasa, apakah kita akan singgah di kota itu?" tanya Hu Shan.


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Kita langsung saja,  menuju kota Danau Emas."


" Baik,"


Di kota Sungai Biru.


" Swhus... swhus..." Qing Ruo dan rombongannya mendekati benteng kota. Beberapa prajurit yang berjaga di atas benteng kota, menghampiri mereka."


" Tuan," ucap prajurit tersebut menyapa Qing Ruo dan rombongannya dengan ramah.


" Prajurit," ucap Qing Ruo menyapa prajurit tersebut dengan ramah, lalu menjelaskan tujuannya yang akan melewati kota tersebut, sambil menunjukkan lencana emas  Klan Hua.


" Baik Tuan muda," ucap prajurit tersebut dengan ramah sambil minta rombongannya membuka gerbang kota.


" Terima kasih prajurit," ucap Qing Ruo membawa rombongan memasuki kota itu.


Di dalam benteng kota. Komandan pasukan mengarahkan Qing Ruo dan rombongannya menggunakan kereta kuda, untuk mempercepat pergerakan  Qing Ruo dan rombongannya.


" Ini sangat luar biasa," ucap Hu Shan berbicara melalui telepati pada rombongannya, sambil memperhatikan lima prajurit yang dengan cekatan mempersiapkan kereta kuda untuk melayani mereka.


" Shen Guoshi Hua adalah klan Dewa kuno, dan kota manusia harus menunjukan hormat pada mereka, lagipula jika mereka tidak memfasilitasi kita, maka kita boleh terbang bebas di atas langit kota mereka." Yu Jieru menjelaskan.


" Silakan tuan," ucap sang komandan dengan hormat.


" Terima kasih komandan," ucap Qing Ruo menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu memasuki kereta kuda.


Setelah Qing Ruo dan rombongannya memasuki keretanya masing-masing, sang komandan lalu memerintahkan prajuritnya yang menjadi kusir kereta, membawa Qing Ruo dan rombongannya bergerak menuju gerbang Utara kota.


Di dalam kereta kuda. Qing Ruo dan rombongannya menggunakan kesempatan itu untuk memulihkan diri, dengan menyerap kristal jiwa abadi, tanpa memiliki waktu untuk melihat-lihat kota tersebut.


Sepanjang hari, kereta itu terus bergerak melintasi kota Sungai Biru, hingga menjelang malam, mereka tiba di gerbang Utara.


" Tuan-tuan, kita sudah tiba," ucap sang prajurit yang menjadi kusir mengingatkan Qing Ruo.


" Baik," ucap Qing Ruo sambil keluar dari keretanya, lalu di ikuti oleh Hu Shan dan rombongannya.


" Prajurit, terima kasih," ucap Qing Ruo dengan hormat, sambil memberikan cincin penyimpan yang berisi lima belas buah apel emas.


" Tu-tuan, ini..." Menatap Qing Ruo dengan panik dan begitu ketakutan.


" Terimalah, dan bagian pada rombonganmu, " ucap Qing Ruo dengan wajahnya yang hangat, meyakinkan prajurit tersebut.


" Te-terima kasih tuan..." Menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Baik, kami pergi," ucap Qing Ruo, lalukeluar dari gerbang utara, yang di iringi tatapan hormat para prajurit itu.

__ADS_1


__ADS_2