
Kegusaran Hu Yan Lan, dan ancaman yang dilontarkan oleh Qing Ruo membuat para pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
" Baru kali ini aku mendengar ada seseorang yang begitu ingin menantang kematian. Nak, apakah kamu buta sehingga tidak lihat keberadaan kami dan menyadari kemampuan diri sendiri?"
" Jangan terlalu banyak bicara. Jika ingin mati, majulah!" ucap Qing Ruo memprovokasi.
Tindakan Qing Ruo yang tanpa gentar sedikitpun, membuat para pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
" Benar-benar tidak menghargai kesempatan!" ucap pemimpin kelompok tersebut sambil mengedarkan kekuatannya.
" Yang tidak menghargai kesempatan itu adalah kalian!" ucap Qing Ruo yang merasa yakin dengan kekuatannya, tiba-tiba melesat, menyerang pemuda tersebut.
" Swhuss... swhus...." Kedua sosok dengan tingkat kekuatan yang sama tersebut, saling bergerak menyerang.
" Dhuar....." serangan mereka beradu, melempar sang pemuda hingga terpental beberapa kali, lalu berhenti di hadapan rombongannya.
" Apa...." ucap para pemuda itu terkejut.
" Saudara, dia sangat kuat. Serangan tunggalnya bahkan langsung membunuh saudara Qui," ucap para pemuda itu terkejut, sambil menatap sosok yang tewas dengan dadanya yang telah remuk tersebut dengan bergidik.
" Saudara, lihatlah. Ini hanya serangan fisik, tapi kekuatannya begitu mengerikan," ucap pemuda yang lain saling berpandangan.
" Jika kita menghadapinya satu per satu, mungkin kita tidak akan mampu, tetapi akan berbeda hasilnya kita menghadapinya bersama-sama,"ucap pemuda lainnya dengan kemarahan menyala.
" Maju kalian semua!" ucap Qing Ruo memprovokasi.
" Penguasa, apakah ini tidak...." ucap Hu Yan Lan menjeda kata-katanya, menatap para pemuda yang ada di hadapannya dengan serius.
" Hu Yan Lan, tenanglah. Walaupun aturan ruang dan waktu menekan kultivasiku hingga ke tingkat pendekar spiritual, tetapi aku mempelajari teknik kultivasi jiwa dewa, di mana aku masih mampu melepaskan kekuatan dua tingkat kekuatan yang sebenarnya."
" Itu berarti penguasa dapat melepaskan kekuatan pendekar dewa tahap dasar hingga tahap menengah?"
" Benar," jawab Qing Ruo dengan tenang.
" Baik, penguasa...." lalu mengambil sikap siaga.
" Tidak heran, serangan tunggalnya langsung membunuh pemuda tersebut. Penguasa benar-benar luar biasa." Membatin, menatap Qing Ruo dengan penuh kekaguman.
Di hadapan Qing Ruo dan Hu Yan Lan. Kesembilan pemuda yang tersisa menatap Qing Ruo dengan penuh kebencian.
" Karena kamu ini mencari kematian, maka kami akan mengabulkannya. Serang!" ucap seorang pemuda memimpin rombonganya, bergerak menyerang Qing Ruo.
" Mati!" Teriak Qing Ruo, ikut bergerak sambil melepaskan tembakan pedang Xue Luo.
" Swhuss.... swhus....." Tujuh bilah pedang Xue Luo dengan kekuatan petir, yang tiba-tiba muncul dari kehampaan, melesat menyerang para pemuda tersebut.
" Dhuar.... dhuar....." Ledakan dahsyat bergema saat pedang tersebut beradu dengan serangan yang di lepaskan oleh para pemuda tersebut.
" Swhus...." Qing Ruo terlempar hingga belasan meter, namun para pemuda yang beradu serangan dengan pedang Xue Luo, langsung ditewaskan.
" Dhuar... Dhuar...." tubuh mereka meledak dan terpotong.
" Swhuss.... Swhus ..." Dua pemuda yang tersisa melarikan diri, meninggalkan tempat itu dengan wajah pucat pasi.
" Saudara, berpisah....!" ucapnya bergerak berlawanan arah namun langsung dikejar oleh Hu Yan Lan.
" Penguasa," ucap Hu Yan Lan meminta Qing Ruo mengejar satu pemuda lainnya.
Qing Ruo yang langsung terlempar itu langsung bergerak, melepaskan tembakan pada Xue Luo pada pemuda tersebut.
__ADS_1
" Swhuss...." Pedang itu melesat mendahuluinya, namun mengenai perisai emas pemuda tersebut.
" Dhuar ..." Ledakan keras melempar sosok pemuda tersebut yang langsung digunakan untuk bergegas pergi.
" Cukup cerdas, tapi tidak kali ini," ucap Qing Ruo sambil terus bergerak.
" Swhus....swhus...." tujuh pisau cahaya Shen Guang muncul, melesat mengejar pemuda tersebut.
" Badj****n ini memiliki banyak pusaka suci!" ucap pemuda tersebut mengumpat, sambil memanggil bantuan dengan memecahkan lencana giok merah.
" Swhuss.... swhus...." pisau cahaya Shen Guang melesat dengan cepat.
" Dhuar... dhuar... " beberapa pisau dapat dihalau, namun salah satu pisau lainnya menghantam tubuh pemuda tersebut.
" Swhus...." sosoknya terlempar hingga menghantam pohon-pohon yang ada di sekitarnya.
" Akh..." teriaknya kesakitan.
" Swhus...." Qing Ruo muncul di hadapannya, lalu mencengkram lehernya.
" Tu-tuan muda," ucapnya tercekat, memohon pengampunan dengan wajah pucat pasi.
" Siapa kamu, lalu dari kelompok mana kalian!" Dengan tatapan dingin.
" Jin Gong, tuan. Ka-kami semua dari klan Jin, tuan..." Dengan terbata.
" Mati!" ucap Qing Ruo mengeratkan cengkeramannya, meremukkan leher pemuda tersebut, yang masih ingin melakukan perlawanan tersebut.
" Krark...." suara leher yang remuk itu mengakhiri nyawa pemuda tersebut.
****
Di tempat lain.
" Swhus... Swhus...." Pemuda tersebut mencoba menghindar, namun pergerakan ular raksasa yang merupakan hewan buas tingkat dewa bumi itu lebih cepat darinya.
" Krark...." suara tubuh pemuda itu remuk di dalam mulut ular raksasa tersebut.
" Swhus....." Sosok Hu Yan Lan bergerak meninggalkan tempat itu, lalu di susul oleh ular emas tersebut.
Dalam waktu singkat, sosok ular raksasa itu akhirnya berhasil mengejar sosok Hu Yan Lan.
" Swhus...." ular raksasa itu melesat, hendak menangkap sosok Hu Yan Lan yang berada di depannya, namun dari arah yang berbeda, tiba-tiba muncul pisau cahaya Shen Guang, menghalau perhatiannya.
" Dhuar..... Dhuar....." Ledakan keras saat pisau-pisau itu menghantam tubuhnya.
" Swhuss...." sosok Qing Ruo muncul sambil menunjukan lencana giok hijau, membuat ular raksasa yang mendesis-desis dengan beringas itu langsung menjauh.
" Penguasa, terima kasih," ucap Hu Yan Lan dengan hormat, berusaha menyembunyikan kegentarannya.
" Mari kita pergi," ucap Qing Ruo sambil bergerak meninggalkan tempat itu.
****
Di tempat lain.
" Swhus... swhus...." sosok ular raksasa itu bergegas pergi, sambil mengubah tampilannya menjadi sosok manusia.
" Ternyata pemegang lencana giok hijau," ucapnya dengan tubuh bergidik, lalu bergerak menuju puncak gunung Ping Xie.
__ADS_1
****
Di tempat lain.
Qing Ruo dan Hu Yan Lan terus bergerak menuju puncak gunung Ping Xie.
" Penguasa...." ucap Hu Yan Lan dengan ragu.
" Bicaralah," ucap Qing Ruo.
" Mengenai kelompok pemuda yang menyerang kita sebelumnya. Apakah penguasa tahu mereka?"
" Mereka adalah para murid klan Jin," jawab Qing Ruo.
" Klan Jin?"
" Benar, lalu apa yang kamu ketahui tentang mereka?
" Klan besar ketiga setelah klan Yin. Berasal dari tanah suci Jin Tian," jawab Hu Yan Lan dengan serius.
" Jika demikian seberapa kuat mereka?"
" Mungkin saat ini, mereka adalah yang pertama."
" Mengapa bisa demikian?".
" Penguasa, kawasan gerbang Es Hitam ini dikuasai oleh tiga klan besar, yaitu klan Yin, Klan Jin dan Klan Shi. Setelah kekuatan klan Yin menurun karena kekacauan intenal yang terus berlarut sepanjang ribuan tahun ini, otomastis posisi pertama diambil alih oleh mereka, dan posisi terkuat kedua pada klan Shi."
" Tidak heran mereka begitu berani," ucap Qing Ruo sambil terus bergerak.
Setelah memiliki lencana giok hijau yang di takuti oleh hewan buas, Qing Ruo dan Hu Yan Lan dapat bergerak menuju puncak gunung Ping Xie tanpa hambatan.
Setelah bertemu dengan berbagai jenis hewan buas tingkat tinggi lainnya, tiba-tiba Qing Ruo dan Hu Yan Lan merasakan tiga aura hewan buas yang sudah berada di tingkat semi abadi tingkat lima, bergerak mendekati mereka.
" Swhus.... Swhus...." tiga sosok ular hijau mata emas, muncul di hadapan Qing Ruo dan Hu Yan Lan dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Belum sempat Qing Ruo berbicara dan menujukan lencana giok hijau, tiba-tiba sosok itu melepaskan tembakan bisa ular emas.
" Swhuss...." cairan berwarna emas yang merupakan racun tingkat puncak itu mengenai tubuh Qing Ruo dan Hu Yan Lan, melempar mereka berdua hingga ratusan meter dari sosok ular tersebut.
" Penguasa...." ucap Hu Yan Lan panik, tanpa menghiraukan rasa sakit di tubuhnya, bergerak menghampiri Qing Ruo.
" Tenanglah, aku baik-baik saja," ucap Qing Ruo sambil menyerap sehelai kelopak bunga teratai merah.
" Hu Yan Lan, sembuhkan dirimu." Sambil memberikan satu helai kelopak teratai merah lainnya.
" Baik, terima kasih penguasa...." sambil meraih kelopak bunga tersebut dan menyerapnya.
" Hu Yan Lan, maaf aku mencelakai mu," ucap Qing Ruo pelan.
" Penguasa tidak salah, karena kita berdua pun tidak tahu bahwa mereka akan tiba-tiba menyerang."
Qing Ruo menganggukan kepalanya.
" Sepertinya mereka tidak ingin membunuh kita secara langsung." sambil berusaha memulihkan kekuatannya.
" Penguasa, benar. Mereka sepertinya ingin bermain-main dengan kita terlebih dahulu," ucap Hu Yan Lan, menatap ketiga sosok ular hijau mata emas yang tidak bergeming dari tempatnya itu.
🙏🙏 1 bab 🙏🙏
__ADS_1