Sang Penguasa

Sang Penguasa
110. Meninggalkan Dunia Kecil Emas Klan Liu.


__ADS_3

Di atas permukaan Danau.


" Swhus..." Gelembung perisai transparan menyelimuti mereka. Tidak hanya itu, ratusan cakram emas juga ikut muncul, menyelimuti perisai transparan tersebut.


" Benar-benar pemilik darah dewa mantra formasi," ucap Liu Whang berbicara pada Liu Heng dan ombongannya menatap Qing Ruo dengan hormat.


Dengan perlahan bola transparan itu terus v bergerak memasuki dasar danau. 


Di dalam perisai transparan,  Qing Ruo dengan sengaja membiarkan kekuatan spiritual emas masuk, dan membuat hal itu seperti mereka tidak berada di dalam perisai transparan tersebut, sehinga membuat Liu Whang dan rombonganya dapat merasakan suasana yang sesungguhnya ketika mereka memasuki dasar danau emas.


" Tuan muda, tekanan ini. Apakah anda sengaja membiarkannya?" Tanya Liu Heng, yang terlihat tidak nyaman.


Qing Ruo menganggukan kepalanya.


"  Ini adalah alasan mengapa kalian tidak pernah bisa mendekati benda tersebut, dan mengetahui rahasia yang ada di dalamnya."


Pada saat Qing Ruo  sedang berbicara, tiba-tiba ratusan kilatan cahaya muncul  dari dasar sungai, langsung menyerang perisai  transparan.


" Tuan muda, ini..." ucap Liu Heng penasaran.


" Serangannya formasi jiwa darah," ucap Qing Ruo menjelaskan.


" Swhus.. swhus..."  ratusan cakram emas yang ada di sekitar perisai transparan menghandang serangan cahaya tersebut, menghalau dan meledakannya.


" Seberapa kuat serangan ini?" tanya Liu Whang.


" Bisa membunuh semi andai tingkat tujuh," jawab Qing Ruo, membuat Liu Whang dan rombonganya bergidik.


Semakin dekat mereka dengan patahan tongkat emas yang sengaja Qing Ruo tinggalkan sebelumnya, semakin intens seragan cahaya putih tersebut. Selain itu,  tekanan di tempat itu  semakin membuat mereka merasa tercekik.


" Tuan muda," ucap Liu Heng.


" Baik," ucap Qing Ruo, sambil mengibaskan tangannya, menghilangkan tekanan di dalam perisai transparan. Membuat Liu Whang dan rombongannya dapat bernafas lega.


Setelah terus bergerak,  lima belas meter kemudian, mereka dapat melihat sepotong patahan tongkat emas yang tertancap di dasar danau.


" Cukup sampai di sini," ucap Qing Ruo sambil menunjuk potong tongkat emas dengan ukiran kuno,  sepanjang lima meter yang terus berdengung dengan keras, sambil melepaskan tembakan cahaya putih.


" Tuan muda, sebaiknya kita kembali," ucap Liu Whang yang sudah merasa puas. Terlebih lagi, saat dinding perisai transparan tersisa kini mulai retak.


" Baik," jawab Qing Ruo sambil mengerakan gelembung perisai transparan itu bergerak keluar dari dasar sungai.


" Swhuss... swhus...." Bola perisai transparan itu muncul di permukaan, lalu bergerak menuju tempat leluhur Liu Lao yang berada di tepi danau.

__ADS_1


" Swhuss.." bola perisai transparan itu lenyap.


" Terima kasih tuan muda," ucap Liu Whang dengan perasaan lega.


" Yang mulia tidak perlu sungkan. Aku juga senang dapat membantu Anda," ucap Qing Ruo tersenyum ramah.


" Niat hati ingin memberi Anda hadiah, yang ada justru menyusahkan Anda," ucap Liu Whang tersenyum kecut, menatap Qing Ruo yang tersenyum ramah padanya.


Tiba-tiba Liu Whang mengarahkan pandangannya pada sosok Liu Lao.


" Tuan muda, apakah Leluhur Lao tidak berbahaya?"


" Maksud yang mulia?"


" Bagaimana Jika tiba-tiba kekuatan yang menyegel tubuhnya terlepas, lalu apakah dengan menyegelnya seperti ini tidak membahayakan nyawanya?"


" Yang Mulia, segel ini bahkan membunuh leluhur Liu Tian. Selain itu, orang yang tersegel, tidak bisa melesat segel itu sendiri, kecuali di lakukan oleh orang lain. Tersegel seperti ini selama ratusan tahun, aku rasa itu akan membahayakan nyawanya."


" Tuan muda, apakah tidak ada cara lain untuk menyadarkannya?"


Qing Ruo mengelengkan kepalanya.


" Yang mulia, ini adalah kali pertama aku menemukan seseorang dengan kasus seperti ini. Dan aku masih belum menemukan  cara untuk mengatasinya," jawab Qing Ruo dengan jujur.


Liu Whang terdiam dengan pikirannya yang buntu, menatap Qing Ruo juga terlihat sedang mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut.


Mereka semua terdiam dengan pikirannya masing-masing, mencoba mencari cara.


" Tuan muda," ucap Liu Heng.


" Jenderal, bicaralah," ucap Qing Ruo.


" Tuan muda, tapi bagaimana jika leluhur Lao benar-benar membebaskan dirinya dari segel mantra ini, dan itu akan menjadi petaka bagi dunia kecil ini dan Klan Liu..." Menatap Qing Ruo dan rombongannya dengan wajah serius.


"  Saudara Heng benar. Bagaimana jika leluhur dapat membebaskan dirinya. Jika dalam keadaan seperti ini,  bukankah itu akan menjadi petaka bagi Klan Liu," ucap Liu Ninglong dengan wajah serius.


" Yang mulia, jenderal,  tenanglah. Sudah aku jelaskan sebelumnya. Siapa yang lebih kuat, Leluhur Liu Tian atau Leluhur Liu Lao? sangat tidak mungkin leluhur Liu Lao dapat membebaskan dirinya, karena segel mantra ini terikat dengan kekuatan darahnya. Untuk mengantisipasi hal itu,  aku punya cara ekstrem, yaitu mengikat dan merantainya pada pilar formasi."


" Aku rasa itu lebih baik," ucap Liu Whang.


" Lalu bagaimana dengan yang lain?" tanya Qing Ruo.


" Aku juga setuju dengan hal itu," ucap Liu Heng lalu diikuti anggukan Liu Ninglong dan yang lainnya.

__ADS_1


" Baik," ucap Qing Ruo, sambil mengeluarkan berbagai jenis batu berwarna, dan kristal biru semesta, yaitu kristal tingkat tinggi  yang digunakan secara khusus untuk membuat senjata, lalu bergerak mejauh dari kelompok tersebut.


" Swhuss... swhus...." batu berwarna  dan kristal biru tersebut mengambang. Dengan tenang, Qing Ruo lalu membuat segel tangan, dan mulai membentuk dua pilar formasi raksasa, lengkap dengan rantai emas.


Di tepi danau. Liu Whang dan rombonganya terdiam, dan terus memperhatikan Qing Ruo yang sedang bekerja dengan seksama.


" Benar-benar pemilik darah Shen Guoshi Ling," ucap Liu Heng, berbicara melalui telepati  pada Liu Whang dan rombonganya.


" Saudara Heng, benar. Aku seperti melihat kehadiran Dewa Kuno itu kembali, bahkan dengan sosok yang lebih mengerikan, karena memiliki dua darah kuno dalam tubuhnya," ucap Liu Whang.


Satu jam kemudian, di hadapan mereka, Qing Ruo mengakhiri pekerjaannya, dengan mengikatkan rantai emas pada kedua tangan dan kaki Liu Lao, lalu menembakan cahaya keemasan pada tubuh Itu.


" Tuan muda," ucap Liu Whang dan rombonganya terkejut, saat melihat sosok Liu Lao terlepas dari segel formasi jiwa darah.


" Argh...." Teriak Liu Lao mulai meronta. Matanya yang memerah, menatap Liu Whang dan rombonganya dengan kemarahan tanpa batas.


Setiap kali sosok itu menghancurkan salah satu rantai emas yang mengingat tangan dan kakinya, maka rantai emas lain, yang bergerak seperti sulur, muncul mengikatnya.


" Tuan muda," ucap Liu Whang, menghampiri Qing Ruo yang berdiri dengan tenang di hadapan sosok itu dengan khawatir.


" Tenanglah," ucap Qing Ruo dengan santai, mengabaikan Liu Lao yang terus meraung-raung murka.


" Yang Mulia, sisanya aku serahkan pada Anda." Menatap Liu Whang dan rombonganya dengan serius, lalu mulai mengajarkan cara melepaskan segel dan menggunakannya. Mengantisipasi Jiak suatu saat mereka berhasil menyadarkan sosok pria paruh baya tersebut.


" Terima kasih tuan Muda, dengan keadaannya seperti ini, kesempatan kami untuk menyadarkan menjadi lebih mudah," ucap Liu Whang, yang kini merasa semakin berhutang budi pada Qing Ruo.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Lakukanlah yang terbaik. Jika yang mulia berhasil menyadarkannya, kehadiran leluhur Liu Lao akan menjadi kekuatan utama klan Liu," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Tuan muda benar. Menyadarkan leluhur Lao akan  menjadi prioritas kami, karena kami sangat mengharapkan kehadirannya kembali."


" Semoga berhasil," ucap Qing Ruo sambil memberikan cincin penyimpanan yang berisi dua puluh lima buah persik abadi.


" Tuan muda, ini?"


" Yang Mulia, terimalah. Terima kasih telah memberikan kesempatan padaku untuk beristirahat di dunia kecil ini. Selain itu,  aku juga mau undur  diri,  untuk melanjutkan perjalananku." Dengan wajah ramah.


" Tapi tuan Muda. Kami bahkan tidak memberikan apapun pada anda..." Menatap Qing Ruo dengan rasa bersalah.


" Yang Mulia, sudah berada di tempat ini saja sudah lebih dari cukup." 


" Terima kasih tuan Muda. Aku Liu Hwang dan klan Liu akan mengingat budi  ini..." Menangkupkan tangannya dengan hormat, di ikuti oleh Liu Heng, Liu Ninglong dan yang lainnya.

__ADS_1


" Aku Qing Ruo juga akan mengingat kota Danau Emas," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


Setelah berbincang-bincang di tempat itu, Liu Hwang lalu membawa Qing Ruo keluar dari dunia kecil itu.


__ADS_2