
Qing Ling terdiam dan mulai menampakkan senyum kecil di wajahnya. Logikanya yang penuh dengan kekhawatiran akhirnya bisa menerima penjelasan Qing Ruo. Jika benar suaminya bertarung melawan semi abadi tingkat tujuh, mungkin dia tidak akan pernah melihat Qing Ruo lagi.
Setelah selesai membersihkan tubuh Qing Ruo, dengan tenang dan telaten jari-jari lentik itu memasangkan pakaian baru pada tubuh yang sudah bersih itu dengan lembut.
" Terima kasih" ucap Qing Ruo memeluknya dengan hangat, sambil mengecup keningnya.
Qing Ling terdiam, merasakan kehangatan pelukan, sambil mendengar irama jantung yang berdetak dengan lembut.
" Istriku, aku ingin beristirahat," ucap Qing Ruo sambil menggendong tubuh itu, membawa ke atas tempat tidur dan membaringkannya dengan lembut.
" Gege..." sambil tertawa kecil.
Qing Ruo hanya tersenyum kecil, lalu berbaring di sisinya, dan memeluknya tubuh itu dengan hangat, dan mulai tertidur.
Qing Ling tersenyum kecil, menatap wajah yang tertidur itu dengan penuh kehangatan dan cinta.
*****
Kota Hua.
Yu Jieru yang ditugaskan oleh Qing Ruo mendampingi Hu Shan dan rombongannya tampak begitu kesal.
" Penguasa, mereka benar-benar memalukan," batinnya mengadu pada Qing Ruo saat melihat tingkah Hu Shan dan rombongannya yang bertindak konyol.
Pemandangan kota Hua yang begitu indah dengan suasana yang begitu tenang dan nyaman membuat Hu Shan rombongan lupa menjaga sikap.
Di kawasan tempat penjualan sumber daya dan senjata, mereka telihat begitu antusias, membuat Yu Jieru hanya bisa mengelus dadanya.
Dari jauh. Setiap mata yang mengawasi tindakan mereka hanya bisa menggelengkan kepala.
" Mereka pasti orang asing yang baru saja tiba di kota Hua..." ucap orang-orang, membuat Yu Jieru tersenyum kecut.
" Tidak heran, karena kota ini begitu indah, jadi terlihat bahagia itu wajar..." ucap yang lain menimpal.
" Tapi dia tampak tenang," ucap para penjual, sambil menunjuk ke arah Yu Jieru dan Liong Hei, yang tampak santai.
" Aku rasa mereka adalah pemimpin kelompok itu." ucap para penjual membicara sosok Hu Shan dan yang lainnya.
" Untung saja ini daratan ilahi. Jika tempat ini adalah Benua teratai biru, akan lain ceritanya," ucap Yu Jieru berbicara pada Liong Hei melalui telepati.
" Saudara Lianghao Benar. Saudara Hu Shan dan yang lainnya benar-benar terlihat seperti orang desa yang baru saja tiba di kota," ucap Liong Hei sambil tertawa, membuat Yu Jieru ikut tersenyum.
****
Jantung daratan ilahi.
Heran Bai dan Dalu Rong tiba di Penjara Api gunung langit, disambut langsung oleh Jianyu.
" Jenderal Heian Bai, Jenderal Dalu Rong, mari," ucap Jianyu dengan ramah, membawa kedua tamunya tersebut ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangan.
" Jenderal Dalu Rong, Jenderal Heian Bai, maaf membuat jenderal berdua menunggu," sambil menjelaskan alasannya.
__ADS_1
" Seharusnya kami yang meminta maaf, karena telah menganggu dan menyita waktu jenderal," ucap Dalu Rong dengan ramah.
Tidak lama kemudian, beberapa pelayan memasuki ruangan, menghidangkan makanan dan minuman. Setelah para pelayan itu pergi, Jianyu lalu melanjutkan kembali perbincangan mereka yang tertunda.
" Jenderal jika aku boleh tahu, ada hal apa yang membawa Jenderal berdua mendatangiku?" tanya Jianyu dengan hormat.
" Jenderal Jianyu, kami berdua ingin menyelidiki penyebab kematian prajurit Luo Zhao." Dalu Rong menjelaskan.
Jianyu tersenyum santai.
" Jenderal berdua tidak perlu melakukan penyelidikan lagi," ucap Jianyu dengan santai.
" Maksud jenderal?" tanya Dalu Rong dengan cepat
" Karena akulah yang membunuhnya," jawab Jianyu.
"Apa!" Dalu Rong dan Heian Bai terkejut. Menatap Jianyu dengan lekat.
" Mengapa jenderal berdua begitu panik, bukankah dia bukan prajurit Luo Zhao," ucap Jianyu, membuat Dalu Rong dan Heian Bai semakin terkejut.
" Apakah itu berarti jenderal tahu?" tanya Dalu Rong.
Jianyu menganggukkan kepala.
" Dia adalah komandan Na Mu," jawabnya santai.
Dalu Rong dan Heian Bai menganggukan kepala, menatap Jianyu dengan waspada.
" Sebelumnya Jenderal mengatakan bahwa jenderal sendiri yang membunuhnya. Mohon penjelasannya..." ucap Heian Bai.
" Berarti Jenderal sudah tahu?" Tanya Dalu Rong.
" Informasi yang aku peroleh sangat sedikit. Saat itu, aku yang selalu melakukan pemeriksaan secara berkala, tiba-tiba melihat tulisan di lantai penjara yang ditulis oleh Na Mu dengan mantra formasi yang mengatakan bahwa sosok Na Mu yang ada di luar itu adalah Qing Ruo. Aku yakin Qing Ruo itu adalah sosok yang dilindungi oleh jenderal berdua," ucap Jianyu santai, membuat Dalu Rong dan Heian Bai semakin heran.
" Jenderal, jika boleh kami tahu, apa alasan anda melakukan hal itu?" Tanya Dalu Rong penasaran.
Jianyu tersenyum kecil.
" Karena aku tidak ingin menyusahkan Jenderal besar. Aku yakin Jenderal besar masih merahasiakan sesuatu pada saudara bedua, tetapi karena aku yakin saudara berdua adalah orang kepercayaannya, maka aku akan menceritakan sebuah rahasia..." Mengubah panggilannya pada Dalu Rong dan Heian Bai dengan wajah serius.
" Rahasia..."
" Benar. Aku Murong Jianyu adalah muridnya." Sambil tersenyum santai.
" Apa... Murid!" ucap Dalu Rong dan Heian Bai terkejut.
" Benar," ucap Jianyu dengan tenang.
Dalu Rong dan Heian Bai terdiam beberapa saat.
" Akhirnya aku mengerti. Tindakan saudara Jianyu yang begitu peduli dengan Luo Zhao sebelumnya karena saudara adalah murid jenderal besar Luo Xing." ucap Heian Bai mengubah panggilannya pada Jianyu.
" Saudara Heian Bai benar. Jika yang saudara berdua kirim sebelumnya adalah Na Mu yang asli, lalu dimana prajurit Luo Zhao sekarang?"
__ADS_1
Dalu Rong dan Heian Bai saling berpandangan.
" Prajurit Luo Zhao baik-baik saja, dan saat ini sedang berada di dalam istana kediaman kami, namun saudara Qing Ruo yang menggunakan penyamaran Na Mu, mungkin saat ini dalam bahaya..." ucap Heian Bai dengan khawatir.
" Saudara Heian Bai, jika aku boleh tahu, siapa Qing Ruo yang saudara maksud itu?"
" Dia adalah..." ucap Heian Bai ragu menatap Dalu Rong yang menganggukkan kepalanya.
" Dia adalah tuan muda Klan Luo."
" Apa. Jadi Qing Ruo itu...?" menatap Dalu Rong dan Heian Bai dengan serius.
" Menurut informasi prajurit Luo Zhao, statusnya bahkan lebih tinggi dari Jenderal besar Luo Xing." Dalu Rong menimpali.
" Hais, aku begitu gegabah. Lalu dimana tuan muda Qing Ruo sekarang?" Tanya Jianyu dengan wajah khawatir.
" Benteng perbatasan Utara," jawab Heian Bai.
" Yang kami takutkan saat ini adalah jika Jenderal pengawas lencana para petinggi pasukan jenderal utara mengetahuinya. Sangat aneh jika lenaca giok jiwa Na Mu telah hancur, tetapi sosoknya masih ada," ucap Dalu Rong menjelaskan.
Pada saat Dalu Rong sedang berbicara, tiba-tiba cincin penyimpanannya bergetar.
" Pesan dari Jenderal besar," ucapnya sambil memeriksa lencana giok berwarna hijau tersebut.
" Oh tidak...." Dengan wajah pucat pasi.
" Saudara, ada apa?" Tanya Heian Bai sambil meraih lencana giok tersebut dan memeriksanya.
Seketika tubuhnya seperti membeku, menatap Dalu Rong yang terlihat sangat terpukul.
"Saudara, apa yang terjadi?" Tanya Jianyu menyadarkan mereka.
" Na Mu tewas, itu berarti saudara Qing Ruo telah tewas..." ucap Heian Bai tertunduk sambil menahan air matanya.
" Oh tidak, ini salahku..." ucap Jianyu menyalahkan dirinya dengan perasaan yang begitu terpukul.
" Saudara tenanglah. Bukan seperti itu kejadian. Saudara Qing Ruo tewas karena bertarung melawan Semi abadi tingkat tujuh..." ucap Dalu Rong menenangkan Jianyu yang terlihat begitu terguncang.
" Klan Yin. Aku akan hancurkan kalian semua!" Ucap Heian Bai dengan penuh kemarahan.
" Maksud saudara?" Tanya Jianyu.
Heian Bai lalu menyerahkan lencana giok itu pada Jianyu.
Dengan perasaan terguncang, Jianyu memeriksa lencana giok yang ada di tangannya, yang berisi laporan umum mengenai perkembangan di wilayah perbatasan utara dengan perasaan yang berkecamuk.
" Dia adalah sosok yang luar biasa. Selain mampu mematahkan strategi lawan, dia juga berhasil mengungkap kelompok yang menjadi Pasukan gelap tersebut. Saudara Dalu Rong, jangan biarkan jenderal besar dan prajurit Zhao mengetahui hal ini terlebih dahulu. Sebaiknya kita segera bergabung dengan pasukan yang akan segera berangkat." Ucap Heian Bai sambil berdiri dari kursi.
" Mari kita pergi sekarang juga," ucap Jianyu dengan kemarahan yang menyala di matanya.
" Saudara Jianyu-" ucap Dalu Rong.
" Saudara Dalu Rong, dia adalah tuan guruku. Bagaimana aku bisa berdiam diri," ucap Jianyu dengan wajah tegas.
__ADS_1
" Baik, semakin banyak orang maka semakin kuat kita," ucap Heian Bai.
Jianyu lalu memanggil seorang komandan, dan melimpahkan tugasnya pada sosok komandan tersebut, lalu pergi bersama Dalu Rong dan Heian Bai.