Sang Penguasa

Sang Penguasa
321. Membunuh Para Tetua.


__ADS_3

" Sangat kuat. Dia bahkan bisa melewati segel mantra formasi yang telah kita buat.." ucap salah satu tetua menatap Qing Ruo dengan tajam.


" Benar, dia bahkan mampu menghancurkan bola angin pemecah besi, tapi ini sangat aneh..." menatap Qing Ruo dengan penuh selidik.


" Saudara benar, aku bahkan tidak merasakan tingkat kekuataannya, apakah dia sudah berada di tahap abadi..."


****


" Pangeran Gang, siapa mereka?" tanya Qing Ruo tanpa menghiraukan para tetua pelindung klan yang menatapnya dengan tajam tersebut.


" Tuan, mereka adalah para tetua pelindung klan yang sebelumnya ingin menangkapku," jawab Yin Gang menjelaskan.


" Baik, aku mengerti. Lalu apakah pangeran punya saran?" tanya Qing Ruo dengan santai, sambil menatap ketiga tetua yang menatapnya dengan tajam.


" Maksud tuan?" tanya Yin Gang yang sedang memulihkan dirinya dengan heran.


" Apa yang ingin pangeran lakukan pada mereka? Apakah aku harus membunuhnya atau bagaimana?"  jawab Qing Ruo dengan santai.


" Tuan, sebaiknya kita tangkap saja," ucap Yin Gang.


" Baik," ucap Qing Ruo dengan tenang.


" Kalian, tampar diri kalian seratus kali, lalu hancurkan tingkat kultivasi kalian hingga ke tingkat pendekar spiritual," ucap Qing Ruo dengan santai.


" Tch... tidak tahu diri, jangan kira dapat menghancurkan bola angin pemecah besi membuatmu merasa berhak  memberi perintah pada kami," ucap tetua pemimpin kelompok tersebut dengan kesal.


" Baiklah, karena kalian tidak mau melakukannya sendiri, maka aku yang akan melakukannya," ucap Qing Ruo sambil bergerak.


" Swhuss... swhus...." sosoknya melesat dengan cepat, menyerang para tetua yang sudah bersiap tersebut.


" Saudara, ternyata dia masih berada di tingkat semi abadi. Selain itu, dia juga seorang diri. Lemahkan kekuatannya!" ucap pemimpin kelompok memberi perintah, saat merasakan tingkat kekuatan Qing Ruo yang mengedar saat melakukan serangan.


" Swhus... swhus..." serangan tapak hitam dan serangan bola angin bermunculan, menyerang sosok Qing Ruo dengan bertubi-tubi.


" Dhuar... dhuar ..." Serangan tapak  dan serangan bola angin yang  dilepaskan oleh ketiga tetua tersebut hancur terkena tamparan Qing Ruo.


" Masih menggunakan serangan yang sama, apakah kalian bercanda!" ucap Qing Ruo sambil terus bergerak menghampiri salah satu tetua dan menghalau serangannya.


" Ternyata dia benar-benar sosok yang sangat kuat. Saudara, apa yang harus kita lakukan?"  Menatap Qing Ruo yang terus bergerak mendekatinya.


" Serangan bola angin penghancur besi kita benar-benar dibuat tidak berguna..." ucap tetua lain dengan wajah panik.


" Serang dengan pukulan  tapak Yin secara bersama-sama!" ucap pemimpin kelompok.


" Baik..." sambil bergerak, mengepung Qing Ruo dari tiga arah yang berbeda.


"Swhuss...." Tiga tapak hitam raksasa yang melepaskan aura dingin, muncul dari tiga sisi yang berbeda, mengepung Qing Ruo bersamaan dengan munculnya rantai besi hitam yang ikut bergerak menyerang Qing Ruo.


" Ternyata Semi abadi tingkat sembilan tahap puncak benar-benar lemah," ucap Qing Ruo sambil bergerak dan meninju tapak hitam raksasa tersebut.


" Dhuar...." Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu dengan keras, bersamaan dengan terlemparnya sosok salah satu tetua yang terkena serangan balik dari serangan tapak yang dilepaskannya.


" Akh..." rintihnya kesakitan sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.


" Swhuss...." sosok Qing Ruo  tiba-tiba  muncul di hadapan tetua tersebut  dan menamparnya dengan keras.


" Plak...plak...." Suara tamparan itu bergema dengan keras, mengejutkan dua tetua lainnya yang segera bergerak meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


" Tuan, mereka ingin pergi...." ucap Yin Gang mengingatkan.


" Biar saja," ucap Qing Ruo sambil menampar tetua yang kini berada di bawah penindasannya.


" Plak...plak..." Tamparan keras itu terus bergema, bersama dengan sosoknya yang terlempar ke berbagai arah.


" Tu-tuan, to-tolong hentikan, tuan." Memohon sambil melindungi wajahnya.


" Ini belum seratus kali," ucap Qing Ruo sambil terus menampar tanpa belas kasihan.


" Plak...plak..." Tamparan keras itu bergema, mengubah bentuk wajah tetua tersebut


" Akh..." rintihnya kesakitan dengan darah segar yang kini telah mengucur dari mulutnya.


***


Di tempat lain.


" Swhuss... swhus...." Kedua tetua yang hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terpental setelah menabrak perisai transparan yang telah yang menyegel tempat itu.


" Oh tidak. Kita telah terkurung! tapi bagaimana kita melakukannya..." ucap salah satu tetua panik.


" Saudara, terus serang...!"  sambil melepaskan pukulan tapak.


" Dhuar... dhuar...." Ledakan dahsyat bergema mengetarkan  perisai transparan tersebut dengan hebat tanpa merusaknya sedikitpun.


" Oh tidak, ini sangat kuat...."  ucap salah satu tetua dengan wajah panik.


" Swhuss... swhuss...." tombak besi hitam muncul, lalu kembali menyerang perisai transparan tersebut.


***


Di tempat lain.


" Tu-tuan, hentikan tuan...." Memohon, berbicara pada Qing Ruo melalui telepati.


" Ini belum seratus kali," jawab Qing Ruo sambil menampar sosok tersebut dengan keras.


Di tempat lain. Yin Gang yang melihat bagaimana Qing Ruo melawan ketiga tetua serta tindakanmya menyiksa tetua tersebut membuatnya bergidik ngeri.


" Sangat kuat dan begitu kejam," batinnya menatap Qing Ruo yang terus menampar tetua tersebut tanpa menghiraukan dua tetua lainnya yang  berusaha kabur dari tempat itu.


Setelah selesai menampar tetua tersebut, Qing Ruo lalu meminta sosok yang tidak berdaya itu menghancurkan tingkat kultivasinya.


" Lakukan sekarang juga. Jika aku yang melakukannya, maka aku akan menghilangkannya," ucap Qing Ruo dengan tenang sambil bergerak pergi, menghampiri kedua tetua yang sedang berusaha menghancurkan perisai pertahanan transparan.


" Ba-baik, tuan."


" Badj***n. Siapa yang percaya kata-katamu..." Membantin menatap Qing Ruo dengan kesal, lalu mengedarkan kekuatannya.


" Swhung...." Udara bergetar bersama dengan ledakan aura kekacauan yang  mengedar dari tubuhnya dengan ektrem.


" Tuan...." ucap Yin Gan panik, menantap Qing Ruo yang hendak menghajar dua tetua lainnya.


" Hais, tidak tahu diri..." ucap Qing Ruo sambil bergerak menghampiri tetua tersebut.


" Anak muda, mari kita mati bersama..." ucapnya tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


" Naif! Jika ingin mati, mati saja sendiri!" Sambil membuat segel tangan tangan.


" Swhuss...." Cakram emas raksasa muncul dari kehampaan, memecah diri menjadi jutaan cakram kecil lainnya, lalu membentuk bola emas raksasa, mengurung tetua tersebut.


"  Si-siapa kamu..." ucap tetua tersebut dengan panik.


" Mati saja sendiri," ucap Qing Ruo sambil menyegel bola cakram emas itu.


" Argh... Kep***t!" Teriaknya tetua tersebut bersamaan dengan ledakan dahsyat yang mengetarkan bola  emas tersebut, membuat kedua tetua lainnya yang sedang berusaha menghancurkan perisai transparan yang menyegel tempat itu menghentikan tindakannya.


" Shen Guoshi Ling..." ucapnya terbata dengan mulut ternganga.


" Tu-tuan, kami menyerahkan..." ucap tetua lainnya dengan wajah pucat pasi.


" Menyerah? Apakah tidak terlambat?" ucap Qing Ruo  dengan santai sambil menghampiri tetua tersebut.


" Tu-tuan, kami..." Menjeda kata-katanya, menatap Qing Ruo dengan ragu.


" Tuan, bagaimana ini..." ucap Yin Gang yang telah selesai memulihkan diri menghampiri Qing Ruo.


" Sepertinya tidak ada pilihan," ucap Qing Ruo sambil mengedarkan kekuatannya.


" Trark...." Suara petir bergema tanpa menampakan  wujudnya menggelegar.


" Pe-petir tanpa warna..." ucap kedua tetua itu saling berpandangan dengan panik, lalu bergerak pergi, namun tiba-tiba ledakan dahsyat bergema.


" Dhaur...." ledakan keras itu melempar salah satu tetua dengan  tombak petir menancap pada punggungnya.


" Mati!" Ucap Qing Ruo.


" Dhuar...." Tombak Petir itu meledakan tubuh tetua tersebut menjadi kabut darah, membuat Yin Gang yang berada di belakangnya terngaga. 


" Sangat kuat dan begitu mengerikan. Semi Abadi tingkat puncak benar-benar dibuat tidak berdaya." Membatin dengan jantung berdetak dengan cepat.


Di tempat lain, salah satu tetua yang telah kehilangan harapan menggunakan kesempatan  itu mengedarkan kekuataan puncakya.


" Swhung...." udara bergetar bersamaan dengan munculnya ledakan aura kekacauan. 


" Tuan Qing Ruo..." ucap Yin Gang panik.


" Tenanglah," ucap Qing Ruo, sambil menggerakkan tangannya.


" Trark..." Suara petir bergema bersamaan dengan terlemparnya  sosok tetua tersebut.


" Argh..." teriaknya kesakitan dengan tombak petir menancap pada punggungnya, sambil terus mengedarkan kekuatan puncaknya untuk menuntaskan teknik penghancur jiwa.


" Mati!" ucap Qing Ruo sambil mengepalkan tangannya.


" Dhuar...." Tombak petir itu meledakan tubuh tetua tersebut tanpa sisa,  membuat Yin Gang yang sebelumnya begitu panik tertegun.


" Pangeran Gang, pergi..." ucap Qing Ruo mengejutkannya.


" Ba-baik tuan..." ucapnya tergagap sambil bergerak pergi, namun tiba-tiba berhenti saat melihat Qing Ruo yang masih berada di tempat itu.


" Pangeran pergilah, aku akan menyusul," ucapnya sambil melepaskan ribuan cakram emas, menghapus semua jejak aura pertempuran yang ada di tempat itu.


" Ba-baik, tuan..." sambil bergerak meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


🙏🙏 1 bab 🙏🙏


__ADS_2