Sang Penguasa

Sang Penguasa
190. Terus Bergerak ke Utara.


__ADS_3

Jejak aura yang ditinggalkan oleh Qing Ruo di tempat itu membuat kelima sosok dari klan Mu Bing itu ternganga.


" Walaupun kita telah kehilangan saudara Cue, tapi kita juga bersyukur karena dapat menahan diri."


" Saudara benar. Jika tidak, kita akan kehilangan banyak orang."


" Tapi bagaimana dengan tuan muda Ning Wan?"


" Mari kita temui tuan kota," ucap sang pemimpin kelompok, lalu memimpin rombongannya bergerak meninggalkan tempat itu.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo terus bergerak meninggalkan perbatasan kota  Cheng, terus bergerak menuju kota Bao.


Dua puluh lima kilometer dari kota itu. Qing Ruo lalu mengeluarkan sosok Huo Zhoudau.


" Penguasa," ucapnya dengan hormat.


" Terus bergerak ke utara," ucap Qing Ruo sambil naik ke atas punggungnya.


" Baik Penguasa."


Pada saat berada di atas punggungnya Huo Zhaodau, sosok Long Chen muncul.


" Penguasa," ucapnya dengan heran.


" Kita sedang bergerak ke kota Bao."


" Tapi penguasa, bagaimana dengan kota Cheng?"


" Kota itu sedang di kepung oleh pasukan dari kota Ning."


" Bagaimana bisa. Kota itu adalah kota yang di lindungi oleh dua klan dewa kuno."


" Tapi kota Ning di bantu oleh Shen Guoshi Mu Bing," ucap Qing Ruo.


" Klan Pohon Es kuno?" Dengan wajah heran.


" Benar."


" Shen Guoshi Mu Bing adalah salah satu klan dewa kuno yang sangat kuat di kawasan utara ini. Jarang ada klan dewa kuno yang mau terlibat dengan mereka." Long Chen menjelaskan.


Qing Ruo tersenyum santai.


" Aku bahkan telah membunuh tetua mereka yang menjadi jenderal utama kota Ning, dan menjarah lima tetua lainnya." Sambil mengeluarkan cincin penyimpanan para tetua tersebut.


Long Chen yang tidak menyangka akan hal itu menatap Qing Ruo dengan takjub.


" Ini benar-benar luar biasa," ucapnya gembira.


" Karena mereka telah mengganggu perjalananku maka mereka harus membayar kompensasi yang pantas."


" Apakah mereka mengetahui identitas, penguasa?"


" Tidak, aku hanya menggunakan kekuatan petir dan terus menggertak mereka,"ucap Qing Ruo membuat Long Chen dan Huo Zhaodau yang menyimak cerita itu tertawa terbahak-bahak.


" Tapi bukankah penguasa memang mampu mengalahkan mereka."


Qing Ruo menganggukkan kepalanya pelan.


" Karena mereka hanya ada di tingkat lima dan tingkat enam."


" Penguasa, sebenarnya aku sangat penasaran mengenai hal itu, karena tingkat kultivasi penguasa...."

__ADS_1


" Aku menggunakan teknik terlarang, Derivasi Jiwa Dewa," ucap Qing Ruo.


" Penguasa, kami bahkan tidak tahu hal itu," ucap Huo Zhaodau menimpali perbincangan santai itu.


" Derivasi jiwa dewa, itu adalah teknik kultivasi yang hanya cocok digunakan oleh mereka yang memiliki darah petir. Sangat lambat dan memerlukan begitu banyak sumber daya. Namun pada saat aku berada di tingkat empat, aku dapat melawan mereka yang berada di lima hingga tingkat enam." Qing Ruo menjelaskan.


" Benar-benar mengerikan." Long Chen membantin, menatap Qing Ruo dengan bergidik.


" Long Chen, apakah kamu tahu kota terdekat yang memiliki gerbang teleportasi?" tanya Qing Ruo mengalihkan pembicaraan tersebut.


" Ada penguasa, kota Xinhai. Tiga hari perjalanan dari kota Cheng."


" Baik, kita pergi ke kota Xinhai," ucap Qing Ruo, sambil meminta Long Chen mengarahkan Huo Zhaodau menuju kota tersebut.


" Penguasa beristirahat saja, serahkan ini kepada kami berdua," ucap Long Chen.


" Baik," jawab Qing Ruo lalu duduk dengan tenang sambil menyerap kristal jiwa abadi untuk memulihkan diri. 


****


Di dalam dunia jiwa. Di dalam kolam petir hitam.


Luo Jiao Lie membuka matanya. Menatap Qing Yong Jun yang berjaga di tepi danau.


" Jun er," ucapnya dengan lembut, sambil menghampiri Qing Yong Jun.


" Bibi, ada apa?"


" Bibi ingin menunjukkan sesuatu," ucapnya sambil melepaskan petir berwarna hitam.


" Bibi, selamat. Itu artinya inti petir bibi telah pulih."


Luo Jiao Lie menganggukan kepalanya dengan gembira.


" Baik," jawab  Luo Jiao Lie, lalu bergerak mengikuti Qing Yong Jun yang bergerak mendahuluinya.


" Swhuss....swhus...." Mereka bergerak menuju istana emas yang berada di pusat dunia jiwa.


Sepanjang jalan menuju istana emas. Luo Jiao Lie tidak henti-hentinya berdecak kagum. Selain karena  pemandangan dunia jiwa yang indah, aura emas yang begitu kentara membuat tempat itu hampir seperti daratan Ilahi.


" Selain aman, dunia jiwa adalah tempat ideal yang baik untuk berlatih dan meningkatkan kekuatan." Batinnya sambil menatap sosok Qing Yong Jun yang kini sudah menjadi pendekar dewa Bumi tahap menengah.


" Bibi, apakah ada yang salah?"


" Jun er bibi begitu penasaran, sebelumnya dirimu memperkenalkan diri sebagai putra kedua, lalu di mana kakakmu?" membuat Qing Yong Jun tiba-tiba berhenti.


" Kakak Zilong, sekarang berada di benua teratai biru," jawabnya pelan.


" Jun er, maksudmu dia berada di luar daratan ilahi?" Dengan wajah heran.


" Benar, bibi."


" Jun er, itu adalah dunia kecil terlarang tertutup. Mudah dimasuki tetapi sulit untuk keluar. Apakah ayahmu..." Menatap Qing Yong Jun dengan heran.


" Bibi, kakak ada adalah seorang petualang, sama seperti ayah. Dia adalah orang yang menyukai kebebasan dan ayah memberikan kebebasan itu. Akupun jika sudah kuat juga ingin seperti kakak. Pergi ke berbagai dunia kecil lainnya," ucap Qing Yong Jun  menjelaskan sosok Qing Zilong pada Luo Jiao Lie dengan bangga.


" Dia pasti anak yang luar biasa," ucap Luo Jioa Lie,


" Tentu saja. Saat kecil kakak sudah membuat kagum semua orang. Kejujuran, kecerdikan dan kemampuannya begitu mengagumkan."


Luo Jiao Lie menganggukkan kepalanya.


" Jika penguasa muda saja berani memberikan kekebasan padanya, itu berarti dia adalah anak yang luar biasa." Luo Jiao Lie membatin.


Di sisi Luo Jiao Lie, tampak mata Qing Yong Jun berkaca-kaca.

__ADS_1


" Kakak, aku rindu," batinnya.


" Jun er, ada apa?" Tanya Luo Jiao Lie heran.


" Bibi, aku rindu kakak Zilong," ucapnya pelan, membuat Luo Jiao Lie mematung, menyadari kesalahannya karena telah mengingat sosok yang sangat dirindukan oleh tuan mudanya tersebut.


" Jun er, maaf," ucapnya pelan, memeluk Qing Yong Jun dengan hangat. 


" Bibi tidak salah." sambil mengusap air matanya.


Luo Jiao Lie yang tidak bisa berkata-kata itu hanya terdiam,  memeluk Qing Yong Jun dengan hening.


" Bibi, tenanglah. Aku hanya rindu. Lagi pula jika aku sudah kuat, aku bisa pergi mencari kakak."


" Jun er pasti bisa," ucap Luo Jiao Lie, sambil melepas pelukannya, menatap sosok yang ada di hadapannya dengan hangat.


" Bibi, mari." Membawa  Luo Jiao Lie bergerak melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.


Setelah terus bergerak, mereka akhirnya melihat sebuah istana megah mengambang berwarna keemasan.


" Jun er, itu?" menatap istana megah dengan pilar-pilar raksasa yang berukiran makhluk langit, dengan kagum.


" Bibi, itu adalah istana emas, kediaman utama ayah dan ibu. Nanti aku juga akan membawa bibi ke istana kediamanku istana giok biru, dan istana kediman kakak Zilong, istana naga emas. Selain tiga tempat utama itu ada Vila bambu emas, Gazebo danau giok biru, istana penjara barat, dan kebun buah-buahan abadi."


Luo Jiao Lie yang tidak bisa berkata-kata itu hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah penuh semangat.


Tidak lama kemudian mereka mendarat di halaman istana Emas.


" Bibi, mari." Membawa Luo Jiao Lie ke dalam istana.


Pada saat mereka menaiki tangga istana, Huli Bai keluar dari istana. 


" Jun er," ucapnya menyambut kedatangan mereka dengan hormat.


" Bibi Bai, ini Bibi Jiao Lie." Memperkenalkan sosok Luo Jiao Lie pada Huli Bai.


" Tuan putri, hamba Chie Huli Bai, pelayan Shen Shandian Luo." Berlutut  dengan hormat, membuat Luo Jiao Lie terkejut.


" Chie...?" ucapnya tergagap.


" Benar putri."


" Saudari Bai, bangunlah kita semua sama. Walaupun aku memiliki nama Luo, tapi aku hanya dari keluarga cabang, yang juga sama- sama melayani penguasa muda Qing Ruo."


" Tapi putri tetaplah seorang Luo. Ada darah petir yang membedakan kita," ucap Huli Bai bersikeras.


" Baiklah-baiklah," ucap Luo Jiao Lie sambil memeluk Huli Bai dengan hangat.


" Putri senang berjumpa dengan Anda," ucap Huli Bai dengan hangat.


" Aku juga." Dengan senyumnya yang ramah.


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, di depan pintu Istana, Huli Hei muncul di tempat itu.


" Putri, hamba Chie Huli Hei," ucapnya dengan hormat, hendak berlutut namun segera di hentikan oleh  Luo Jiao Lie.


" Saudari," ucapnya memeluk Huli Hei dengan hangat.


" Jaga kandungan, saudari." Dengan tatapan hangat.


" Terima kasih putri," ucap Huli Bai dengan hormat.


Luo Jiao Lie tidak menyangka jika kedatangannya di tempat itu akan dapat sambutan yang luar biasa dari dua  sosok wanita cantik yang ada di hadapannya.


👉 1 bab ya kak.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2