
Pertempuran dahsyat terjadi di kawasan lembah gunung pasir hitam, mengubah hutan meranggas, yang merupakan wilayah berbatasan hutan es dengan wilayah gurun pasir itu, porak poranda.
Tiga ribu Prajurit bertopeng perak yang merupakan para pendekar tingkat raja hingga tingkat kaisar dewa, enam pendekar Semi abadi tingkat tiga, dan dua semi abadi tingkat lima, menggempur tiga sosok semi abadi tingkat lima yang melakukan perlawanan dengan brutal.
Kerja sama ketiga sosok itu membuat ribuan murid klan Yin yang berusaha keras melumpuhkannya begitu prustrasi, terlebih lagi dengan jumlah pasukan dan kekuatan yang mereka miliki ternyata tidak dapat membuat ketiga sosok itu menjadi gentar.
" Dhuar.... dhuar...." Ledakan keras terus bergema mengguncang kawasan itu.
" Kalian sangat lemah. Mana semi abadi tingkat tujuh kalian itu!" Teriak salah satu sosok itu memprovokasi, sambil melepaskan tebasan pedang emas yang ada di tangannya, yang langsung mengubah pendekar tingkat raja dewa dan pendekar kaisar dewa tingkat dasar yang ada di hadapannya menjadi kabut darah.
" Terus Serang! Aku ingin melihat seberapa lama mereka mampu bertahan,"ucap sosok semi abadi tingkat lima, memimpin pasukan itu menggempur ketiga sosok yang ada di hadapannya dengan serangan formasi.
" Maju saja! Aku ingin melihat seberapa banyak prajurit yang kalian miliki..." Jawab dari salah satu sosok itu dengan sengit.
Lima kilometer dari pusat pertempuran. Empat sosok terus bergerak, mendekati tempat itu dengan berhati hati.
" Swhus... Swhus..." Sosok itu semakin dekat.
" Saudara Qing Ruo, itu adalah Klan Yin, tapi siapa yang mereka lawan?" tanya Hua Zhen.
" Oh tidak. Apa yang mereka lakukan di tempat ini!" ucap Qing Ruo melesat sambil melepaskan tembakan pedang Xue Luo.
" Swhus.. swhus..." Pedang yang tiba-tiba muncul itu, melesat mendahului sosok Qing Ruo yang bergerak mendekati wilayah pertempuran.
" Dhaur... dhuar..." Pedang itu mengubah para pendekar tingkat rendah dari klan Yin menjadi kabut darah.
Prajurit klan Yin yang sedang fokus menyerang tiga sosok semi abadi tingkat lima, begitu terkejut saat melihat puluh murid tingkat rendah mereka tiba-tiba berubah menjadi kabut darah.
" Swhuss... swhus...." Pedang berwarna biru keemasan dengan balutan petir emas kehitaman bergerak ke berbagai arah.
" Saudara..." dua sosok yang sedang bertempur dengan beringas tersebut, menyambut kedatangan Qing Ruo dengan begitu gembira.
" Saudara, tetap fokus," ucap Qing Ruo mengingatkan kedua sosok itu sambil melepaskan tebasan pedang Xue Luo.
***
Dari jauh.
" Tetua, tunggu apalagi," ucap Hua Zhen, sambil bergerak ikut menyerang.
" Baik," jawab Hua Zun dan Hua Thong, bergerak dan ikut menyerang, membuat para murid klan Yin semakin kelabakan. Dengan tiga sosok semi abadi tingkat lima sebelumnya, mereka sudah begitu kewalahan, di tambah lagi dengan kemunculan l Hua Zun dan Hua Thong yang juga merupakan semi abadi tingkat lima, Hua Zhen semi abadi tingkat tiga, dan Qing Ruo yang merupakan Semi abadi tingkat dua, membuat pasukan itu mulai tercerai- berai.
__ADS_1
Di pihak pasukan Klan Yin. Dalam waktu singkat, kemunculan Qing Ruo dan rombongannya langsung menewaskan ratusan prajurit mereka, bahkan dari enam pendekar Semi abadi tingkat tiga, empat diantaranya telah ditewaskan.
" Sial**n! Mengapa harus bertemu dengan pendekar tingkat tinggi di tempat ini." ucap sosok pendekar Semi abadi tingkat lima kesal.
" Mengapa kita selalu sial," jawab sosok semi abadi tingkat lima lainnya.
" Jika terus bertahan di tempat ini, semua pendekar tingkat rendah akan mati. Saudara, urungkan saja niat kita menangkap mereka, sebaiknya kita pergi saja."
" Baik, arah pasukan ke arah Utara, kita akan berusaha mengalihkan perhatian mereka." Sambil melepaskan serangan kabut hitam pekat.
" Dhuar... dhuar...." Kabut hitam pekat mulai menyebar.
" Saudara Ruo, mereka ingin pergi..."
" Saudara Heian Bai, biarkan saja," jawab Qing Ruo sambil melepaskan tembakan pedang Xue Luo, membunuh murid klan Yin yang berada dalam jangkauan serangan pedang terbangnya.
" Saudara Ruo, aku bahkan tidak ingin menyisakan mereka sama sekali..." ucap sosok lainnya dengan kemarahan yang menyala.
" Saudara Dalu Rong, tenanglah. Aku ada ide..." sambil meminta mereka meninggalkan kawasan lembah yang kini telah dipenuhi kabut beracun tersebut.
" Swhuss...." Qing Ruo bergerak meninggalkan tempat itu yang diikuti oleh Heian Bai dan yang lainnya, membuat para murid Klan Yin yang juga sedang melarikan diri begitu gembira.
" Lihat! Mereka ternyata takut dengan kabut hitam. Hais, mengapa cara ini tidak kita gunakan sebelumnya..." Ucap sosok yang menjadi pemimpin pasukan itu, menatap kepergian Qing Ruo dan rombongannya dengan kesal.
" Baik..." Terus bergerak ke arah Utara.
***
Di tempat lain.
Qing Ruo dan rombongannya berhenti di puncak gunung pasir hitam.
" Swhuss..." Qing Ruo turun di tempat lapang, di ikuti oleh Heian Bai, Dalu Rong dan yang lainnya, lalu mencari tempat untuk duduk dan berteduh.
" Saudara," ucap Heian Bai dan Dalu Rong memeluk Qing Ruo dengan hangat, membuat Jianyu, Hua Zhen dan dua tetua yang ikut serta terdiam.
" Saudara Heian Bai, Dalu Rong, senang melihat kalian berdua di tempat ini." Sambil memperkenalkan Hua Zhen, tetua Hua Zun dan Hua Thong.
" Jenderal Jianyu," ucap Qing Ruo menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Tuan muda," ucap Jianyu berlutut dengan hormat.
__ADS_1
" Jenderal, apa yang Anda lakukan?" tanya Qing Ruo terkejut, sambil meraih bahu Jianyu, dan memintanya untuk bediri.
" Saudara, jenderal Jianyu adalah murid jenderal besar," ucap Heian Bai menjelaskan.
" Benar, tuan muda. Aku Jianyu adalah murid guru Luo Xing, tetapi bukan sekedar itu. Aku Murong Jianyu adalah pelayan Shen Shandian Luo trah pertama," ucap Jianyu dengan hormat.
Qing Ruo menganggukan kepala. Berusaha bersikap tenang, menyembunyikan keterkejutannya pada sosok Jianyu yang ada di hadapannya.
" Ternyata klan Murong masih berada di daratan ilahi.." membatin senang.
" Baik jenderal, hormatmu aku terima. Bangunlah. Namun bagaimana bisa jenderal tahu jika aku..." Qing Ruo menjeda kata-katanya, membuat Murong Jianyu terdiam, bahkan membuatnya tidak berani berdiri dan mengangkat kepalanya.
" Saudara Heian Bai, Dalu Rong," ucap Qing Ruo sambil mengerutkan keningnya.
Heian Bai dan Dalu Rong yang sepertinya memahami maksud Qing Ruo, terlihat salah tingkah.
" Saudara Ruo, sebelumnya kami mengira saudara telah tiada, lalu kami melakukan penyelidikan," ucap Heian Bai, menjelaskan pertemuannya dengan Jianyu dengan rinci.
Di sisi lain. Jianyu terus memberi tanda pada Heian Bai untuk tidak membicarakan hal tersebut di hadapannya Hua Zhen dan dua tetua klan Hua tersebut.
" Aku mengerti. Saudara Heian Bai, Dalu Rong, Jenderal Jianyu, terima kasih." ucap Qing Ruo menangkupkan tangannya dengan hormat, menatap ketiga sosok yang ada di hadapannya dengan hangat.
" Tuan muda," ucap Jianyu ragu, sambil menatap Hua Zhen, Hua Zun dan Hua Thong dengan sorot penuh dengan kemarahan.
" Jenderal Jianyu, walaupun Anda murid jenderal Berar Luo Xing, namun anda masih belum mengenal saudara Qing Ruo dengan baik," ucap Hua Zhen tersenyum ramah.
" Shen Guoshi Hua, Klan Luo tidak pernah lupa dengan kalian, apalagi She Hua Wen dan keturunannya," ucap Jianyu dengan tegas, membuat Hua Zhen tersenyum kecil.
" Tuan muda, dia..." Ucap Jianyu dengan jengkel.
" Jenderal Murong Jianyu. Hamba Hua Zhen, adalah keturunan ke seratus dua puluh sembilan dari leluhur Shen Guoshi Hua Wen. Dan secara langsung telah meluruskan masalah ini dengan Penguasa muda Qing Ruo," ucap Hua Zhen, menjelaskan.
" Apa!" Murong Jianyu, Heian Bai dan Dalu Rong terkejut. Menatap Qing Ruo dengan lekat.
" Saudara Hua Zhen," ucap Qing Ruo menggelengkan kepalanya.
" Penguasa Muda, sebagai tuan muda keluarga Hua yang secara langsung berkonflik dengan klan Luo, aku perlu mejelaskannya, supaya tidak terjadi kesalahpahaman di masa depan." ucap Hua Zhen dengan tegas.
" Baiklah-baiklah. Rahasia ini di cukup kalian yang mengetahuinya."
" Ba-baik Penguasa," ucap Jianyu dengan gugup, membuat Qing Ruo tersenyum kecil.
__ADS_1
" Panggil aku saudara Ruo saja, apalagi di depan banyak orang. Saudara Heian Bai, Dalu Rong. Saudara Hua Zhen, mohon kerjasamanya."
" Baik saudara..." Jawab mereka bersamaan.