Sang Penguasa

Sang Penguasa
171. Meninggalkan Rumah Lelang.


__ADS_3

Sambil menikmati minuman, Qing Ruo dan Hong Dou berbincang-bincang santai.


" Tuan Na Ruo," ucap Hong Dou ragu.


" Nona, bicaralah," ucap Qing Ruo santai.


" Apakah tuan Na Ruo masih memiliki sumber daya, pil atau senjata tingkat tinggi yang sekiranya tidak terlalu tuan butuhukan. Jika ada, kami siap membelinya."


Qing Ruo tersenyum santai menggelengkan kepalanya.


" Aku rasa sumber daya yang aku lelang sebelumnya itu lebih dari cukup."


Jawaban Qing Ruo membuat Hong Dou sedikit kecewa. Walaupun demikian, sosok itu tetap menampilkan senyumnya yang ramah.


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba seorang gadis cantik, yang merupakan pelayan rumah lelang itu memasuki ruangan. Membawakan tiga item lelang yang dimenangkan oleh Qing Ruo sebelumnya, beserta cincin penyimpanan yang berisi jutaan kristal jiwa, yang merupakan keuntungan dari lelang buah apel emas dan buah bodhi.


Sang pelayan tersebut lalu menyerahkan item tersebut pada Hong Tianmi.


" Nona," ucapnya berbicara melalui telepati menjelaskan item tersebut dengan rinci.


" Baik, terima kasih," ucap Hong Tianmi.


Setelah gadis itu pergi, Hing Tianmi lalu menyerahkan item tersebut pada Qing Ruo dan menjelaskannya dengan rinci.


" Tuan, pengeluaran anda terdiri dari, Inti api gelap dua puluh juta, rumput emas penguat jiwa tiga puluh juta, dan Mutiara jiwa naga enam puluh juta. Total Seratus sepuluh juta. Dan pemasukan Anda, buah apel emas enam puluh lima juta, buah Bodhi seratus delapan puluh lima juta, total dua ratus lima puluh juta. Dikurangi biaya administrasi lelang lima persen, dua belas juta lima ratus ribu, menjadi dua ratus tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu. Di kurangi lagi dengan tiga item sumber daya yang anda beli seratus sepuluh juta, maka keuntungan bersih yang tuan terima, seratus dua puluh tujuh juta lima ratus ribu," ucap Hong Tianmi menjelaskan, sambil memberikan cincin penyimpanan dan tiga kotak giok pada Qing Ruo.


" Terima kasih nona," ucap Qing Ruo sambil menerima cincin penyimpanan dan ketiga kotak giok itu, lalu menyimpannya.


" Tuan Na Ruo, apakah anda tidak memeriksa cincin itu terlebih dahulu?" Tanya Hong Dou.


" Nona Hong Dou, aku percaya dengan anda dan rumah lelang ini," jawab Qing Ruo dengan ramah.


" Terima kasih tuan."


" Nona Hong Dou, karena urusan kami di tempatnya telah selesai, maka kami mohon undur diri. Sekali lagi terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada kami untuk melelang sumber daya yang kami miliki." Sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Kami juga berterima kasih. Partisipasi tuan Na Ruo dalam lelang ini akan membawa hal baik pada rumah lelang kami, terima kasih." Menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Nona Hong Dou," ucap Qing Ruo sambil memberikan cincin penyimpananya pada gadis itu.


" Tuan, apa ini?" mencoba menolak hadiah itu dengan halus.


" Nona, terimalah. anggap saja sebagai hadiah persahabatan," ucap Qing Ruo memaksa.


" Baik tuan. Terima kasih."


" Baik, nona Hong Dou, nona Tianmi, kami pergi," ucap Qing Ruo sambil sambil meninggalkan ruangan itu.


Setelah Qing Ruo dan Long Chen pergi, muncul tiga sosok semi abadi tingkat tingkat lima, menghadap Hong Dou dengan hormat.


" Nona, apa yang harus kami lakukan?"


" Tetua, selama tuan Na Ruo dan pelayannya itu berada di kota ini, lindungi mereka dengan berbagai cara," ucap Hong Dou dengan serius.

__ADS_1


" Baik nona...." Lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Setelah para pendekar tingkat tinggi itu pergi, Hong Dou lalu memeriksa isi cincin Penyimpanan tersebut, yang langsung membuatnya ternganga.


" Saudari, ada apa?" tanya Hong Tianim dengan penasaran.


" Saudari, lihatlah." sambil memberikan cincin penyimpanan pada Hong Tianmi, yang juga membuat gadis itu tercengang.


" Saudari, ini benar-benar luar biasa," ucapnya.


" Tuan Na Ruo benar-benar dermawan," ucapnya senang sambil mengeluarkan tiga buah bodhi dari dalam cincin penyimpanan tersebut.


" Satu untukku, satu untuk saudari, dan satu lagi untuk ayah," ucap Hong Dou dengan gembira.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo dan Long Chen, terus melangkahkan kakinya meninggalkan rumah lelang, bergerak menuju penginapan Bunga Xi.


Di sepanjang jalan. Mereka berdua terus merasakan beberapa aura, bergerak mengikuti mereka.


" Penguasa, sepertinya kita benar-benar diawasi."


" Selama mereka tidak menyerang, biarkan aja. Tapi apakah kamu mengenali auranya?"


" Aku ragu penguasa, karena jaraknya terlalu jauh. Berdasarkan auranya kemungkinan mereka adalah tetua yang ada di kamar nomor dua belas dan nomor lima dan tiga lainnya lagi aku tidak tahu," jawab Long Chen menjelaskan.


" Berdasarkan pergerakannya, sepertinya mereka memang sedang bekerjasama," ucap Qing Ruo dengan santai.


Tidak lama kemudian mereka tiba di kawasan yang sedikit gelap dan sepi.


" Swhuss... swhus..." lima tetua dengan seringai dingin, muncul menghandang Qing Ruo dan Long Chen. Namun belum sempat salah satu dari mereka bergerak, tiga sosok lainnya muncul, berdiri di belakang Qing Ruo dan Long Chen.


" Mohon para tetua memberi wajah pada kami," ucap salah satu sosok yang berada di belakang Qing Ruo berbicara, sambil mengeluarkan lencana rumah lelang Giok Es.


Tanpa berkata-kata kelima sosok yang menghadang Qing Ruo itu bergerak menjauh.


" Swhuss.. swhus...." Sosok mereka lenyap di dalam kegelapan malam.


" Para tetua, terima kasih," ucap Qing Ruo dengan hormat, sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Tuan Na Ruo. Ini adalah kewajiban kami. Jadi tidak perlu sungkan."sambil memberikan lencana giok merah.


" Jika tuan dalam kesulitan, panggil kami dengan lenacana ini."


" Baik tetua, terima kasih," ucap Qing Ruo sambil meraih lencana giok itu, dan menyimpannya.


Setelah ketiga tetua dari rumah lelang itu pergi, Qing Ruo dan Long Chen lalu melanjutkan perjalanannya.


" Rumah lelang Giok Es benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa," ucap long Chen.


" Sepertinya demikian. Sebagai salah satu klan penguasa kota, kekuatan mereka tentunya tidak lemah," ucap Qing Ruo menimpali, sambil terus berjalan.

__ADS_1


***


Di tempat lain. Di sudut bangunan yang gelap.


Kelima tetua yang menghadang Qing Ruo dan Long Chen sebelumnya, tampak begitu senang.


" Ide saudara untuk memastikan sosok itu benar-benar berjalan dengan baik. Ternyata sosok itu memang pemuda yang berada di kamar nomor sembilan itu."


" Saudara, apakah kita akan segera bertindak di malam ini?"


" Apakah saudara yakin melakukannya di dalam kota?"


" Aku khawatir jika sosok itu akan pergi menggunakan gerbang teleportasi?"


" Saudara benar. Jiak dia menggunakan gerbang teleportasi, maka kita benar-benar tidak memiliki kesempatan itu lagi."


" Lalu apa ide saudara?"


" Sergap dia di tempat penginapan atau memaksanya melakukan perjalanan tanpa menggunakan gerbang teleportasi."


" Tapi bagaimana caranya?"


" Kita buat kekacauan di gerbang teleportasi..."


" Ini sangat berisiko. Sebaiknya kita bicarakan dengan saudara yang lain."


" Saudara benar." Sambil terus membahas rencana mereka.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo dan Long Chen akhirnya tiba di penginapan Bunga Xi, lalu menemui pelayan yang berjaga.


" Nona, aku ingin menginap tiga malam lagi," ucap Qing Ruo sambil membayar biaya penginapan tersebut.


" Dengan senang hati, tuan." tersenyum bahagia.


" Baik nona, kami pergi dulu," ucap Qing Ruo, meninggalkankan meja kasir, lalu menuju kamarnya.


Lorong penginapan.


" Penguasa," ucap Long Chen, menanyakan alasan Qing Ruo.


" Pertama aku ingin segera naik tingkat. Selain itu, aku juga ingin mengecoh penguntit itu."


" Apakah maksud penguasa, para tetua yang menghadang kita sebelumnya?"


" Benar. Aku yakin mereka tidak akan melepaskan kita."


" Lalu apa yang akan kita lakukan?"


" Sebaiknya kita naik tingkat dulu."

__ADS_1


" Baik penguasa."


__ADS_2