Sang Penguasa

Sang Penguasa
159. Luo Jiao Lie di Dalam Dunia Jiwa.


__ADS_3

Qing Ruo yang tanpa sadar meneteskan air mata itu ikut tergagap, lalu segera menyeka air matanya, menatap Luo Jiao Lie yang begitu tampak keheranan.


" Gadis bodoh. Apa yang kamu lakukan selama ini? Apakah kamu meningkatkan kekuatan tanpa memperhatikan keselamatan diri!" Membuat Luo Jiao Lie terdiam, menundukkan kepalanya dengan sedih.


" Saudara Ruo, aku..." ucapnya pelan.


" Bagaimana kamu bisa menjadi kuat, tanpa memperhatikan aturan yang ada," ucap Qing Ruo sekali lagi.


" Penguasa, apa yang terjadi?" Tanya Huo Zhaodau yang selesai menyerap kristal jiwa, menghampiri Qing Ruo yang tampak kesal dan sedih.


Huo Zhoudau tediam, menantap Qing Ruo yang sedang mengendalikan emosinya, menatap Luo Jiao Lie yang bahkan tidak mengerti dengan tindakan Qing Ruo yang tiba-tiba itu.


" Nona, apa yang terjadi?" Huo Zhaodau menatap Luo Jiao Lie dengan heran.


" Tuan, aku tidak tahu..." jawab bingung.


" Mohon penjelasannya nona," ucap Huo Zhaodau berbicara melalui telepati.


" Tuan,aku hanya di minta mengedarkan kekuatan sejatiku, tiba-tiba saudara Ruo menjadi kesal, dan memarahiku."


" Jika demikian, coba nona lakukan sekali lagi."


" Baik tuan." Sambil mengedarkan kekuatannya.


" Nona," ucap Huo Zhaodau terkejut.


" Tuan, apakah ada yang salah?"


" Apakah nona tidak merasakan sesuatu yang salah? Ada banyak kekuatan yang berbeda di tubuh nona yang sudah berada di ambang batas. Jika nona naik tingkat lagi, itu akan membunuh nona," ucapnya dengan jujur, membuat Luo Jiao Lie mematung.


Wajahnya yang begitu tenang sebelumnya, tiba-tiba memucat, menatap Qing Ruo yang masih terdiam dengan wajah kesalnya.


" Nona, aku yakin alasan penguasa muda kesal, itu karena dia mengasihi nona," ucap Huo Zhaodau menjelaskan, membuat Luo Jiao Lie terharu.


" Zhoudau, jaga tempat ini," ucap Qing Ruo tiba-tiba berdiri dari tempatnya.


" Baik penguasa...."


" Saudari, ikut aku," ucapnya dengan tatapan hangat, membuat Luo Jiao Lie begitu kebingungan.


" Saudara kita mau kemana?"


" Kemarilah," ucap Qing Ruo sambil memunculkan gerbang dimensi dunia jiwa.


" Swhus..." pusaran angin biru keemasan muncul di hadapan mereka.


" Ba-baik saudara...." Sambil berdiri, lalu mengikutinya Qing Ruo yang memasuki pusaran angin berwarna biru keemasan yang muncul di hadapannya itu.


" Swhus...swhus...." sosok mereka berdua lenyap di hadapan Huo Zhaodau, dan muncul di dalam dunia jiwa.


" Swhus...swhus...." muncul di atas puncak gunung danau petir hitam.


" Saudara, ini...." Mengedarkan pandangannya dengan heran. Belum sempat Qing Ruo menjawab, tiba- tiba Qing Yong Jun keluar dari dalam danau yang melepaskan kekuatan petir berwarna hitam itu.


" Ayah..." Menatap Luo Jiao Lie yang terdiam mematung.

__ADS_1


" Jun er, perkenalkan ini bibi Jiao Lie. Bantu dia mengembangkan kekuatan petir dari tubuhnya. Setelah benar-benar pulih, bawa ke danau Giok Biru."


" Baik ayah." Dengan hormat.


" Saudari, bersiaplah." ucapnya sambil membuat segel tangan.


" Swhus...swhus..." Formasi berbentuk rantai petir muncul, lalu dengan perlahan melilit tubuh Luo Jiao Lie. Tidak hanya itu Qing Ruo juha menembakan setetes darah emas pada kening Luo Jiao Lie.


" Rantai jalan petir, dan kekuatan darahku. Latih kekuatan petir itu. Jun er akan membantu mu."


" Baik saudara." dengan perasaan haru. Lalu mulai menyerap kekuatan darah emas yang mengandung kekuatan petir yang begitu luar biasa tersebut.


" Jun er, bantu bibi mu."


" Baik ayah."


Setelah berkata-kata, Qing Ruo meninggalkan tempat itu, menuju istana naga emas.


" Swhuss...." sosoknya muncul di tempat itu, disambut Huo Mingzhi dan Youlin Sha yang sedang berbincang-bincang di halaman istana.


" Penguasa," ucap mereka berdua menyapa Qing Ruo dengan hormat.


" Lanjutkan saja, aku tidak lama," ucap Qing Ruo sambil memasuki istana Naga Emas.


" Tapi penguasa, apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya Youlin Sha sambil bergerak mengikuti Qing Ruo.


" Youlin Sha, aku hanya mengambil pecahan jiwa tetua She Pian," jawab Qing Ruo dengan ramah.


" Apakah penguasa telah menemukan tubuh yang sesuai untuknya?"


Tidak lama kemudian. Qing Ruo, Youlin Sha dan Huo Mingzhi tiba di depan  pintu kamar khusus.


" Penguasa," ucap Youlin Sha, sambil membuka pintu kamar tersebut.


Setelah pintu kamar terbuka, Qing Ruo lalu memasuki ruangan itu, menghampiri bola kristal yang berada di tengah ruangan yang berisi seekor roh ular kecil sebesar ibu jari tangan orang dewasa yang sedang tertidur.


" Tetua She Pian," ucap Qing Ruo dengan hormat, membangunkan sosok ular kecil berwarna hitam gelap itu.


" Penguasa," ucapnya, sambil membuka matanya, menatap Qing Ruo dengan hormat.


"Tetua, aku telah menemukan tubuh yang tepat untuk anda," ucap Qing Ruo, menjelaskan tujuan kedatangannya.


" Terima kasih penguasanya," ucap dengan hormat.


Setelah berbincang-bincang sebentar di tempat itu, Qing Ruo lalu membawa bola kristal yang berisi pecahan jiwa tersebut menuju penjara barat.


****


Penjara barat.


Long Chen, Long Fu dan Long Qe duduk di depan penjara, berbincang-bincang santai.


" Aku begitu penasaran dengan ular-ular itu. Sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh penguasa," ucap Long Qe dengan heran.


" Saudara, aku juga tidak tahu," jawab Long Chen.

__ADS_1


Pada saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba sosok Qing Ruo muncul di hadapannya.


" Penguasa," ucap Long Chen dan rombongannya menyapa Qing Ruo  dengan hormat.


Qing Ruo menganggukan kepalanya pelan, sambil menanyakan keadaan ketiga ular yang telah mereka tangkap sebelumnya.


" Maaf penguasa, sebelumnya kami sedikit berlebihan, sehingga ular-ular itu benar-benar dalam keadaan terluka parah." Long Chen menjelaskan.


" Lalu bagaimana dengan ular api sisik emas?"


" Dia mungkin yang paling parah, karena begitu melawan..." Jawab Long Fu.


" Tidak apa, justru itu lebih baik," ucap Qing Ruo, membuat mereka semakin heran, sambil meminta  long Chen mengeluarkan ular api sisik emas dari dalam penjara.


" Baik penguasa, tunggu sebentar," ucap Long Chen sambil berlalu memasuki penjara.


Sambil menunggu Long Chen mengeluarkan ular api sisik emas dari dalam penjara. Qing Ruo berbincang- bincang dengan Long Fu dan Long Qe dengan santai.


" Penguasa, ini." Long Fu tiba-tiba memberikan satu gulungan kitab jurus pada Qing Ruo.


" Long Fu, ini?"


" Penguasa, ini adalah teknik terlarang dari klan Xun tersebut, dan ini adalah versi lengkapnya." Sambil memberi penjelasan pada Qing Ruo mengenai kitab tersebut dengan rinci. 


"Terima kasih," ucap Qing Ruo senang, lalu menyimpan gulungan teknik dari klan Xun tersebut.


Tidak lama kemudian. Long Chen kembali, sambil membawa sosok ular api sisik emas yang terlihat begitu sekarat.


" Penguasa," ucap Long Chen, meletakkan tubuh ular yang melepaskan kekuatan api itu.


" Terima kasih," ucap Qing Ruo sambil melepaskan rantai jiwa pada ular api tersebut dan menyegelnya. Tidak hanya itu, Qing Ruo juga melapaskan kekuatan petir dari tubuhnya, menyiksanya ular yang masih ingin melawan tersebut.


" Swhus ...." Kristal transparan yang berisi pecahan jiwa tetua She Pian muncul di hadapan mereka.


" Tetua, sekarang..." ucap Qing Ruo pada sosok ular mungil tersebut, yang langsung bergerak memasuki tubuh ular api sisik emas yang sedang sekarat.


" Lahap jiwanya," ucap Qing Ruo sekali lagi. Sambil melepaskan segel penyatuan tubuh pada kedua ular tersebut.


Di hadapan Qing Ruo. Long Chen, Long Fu dan Long Qe, akhirnya mengerti. Menatap proses penyatuan tubuh itu dengan seksama.


" Pemilik darah Shen Guoshi Ling benar-benar mengagumkan. Teknik penyatuan jiwa adalah hal yang sangat sulit, tapi begitu mudah baginya." Long Chen membatin, menatap Qing Ruo dengan takjub.


Lima belas menit kemudian, pecahan jiwa She Pian akhirnya dapat menelan kekuatan jiwa ular api sisik emas tersebut.


" Penguasa, terima kasih," ucap She Pian dengan hormat dan bahagia, karena tubuh yang ditempati itu adalah sosok hewan buas semi abadi yang memiliki kekuatan dasar api dan sisik emas yang sangat kuat.


" Tetua, pulihkan dirimu," ucap Qing Ruo dengan hormat.


" Baik penguasa." Sambil bergerak, mencoba tubuh barunya yang masih terluka parah tersebut.


Setelah She Pian pergi, Qing Ruo juga undur diri dari tempat itu.


" Long Chen, aku pergi dulu. Tetap awasi kedua ular yang tersisa, aku ada rencana lain untuk mereka."


" Baik penguasa..." Dengan hormat.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Qing Ruo lalu keluar dari dunia jiwa.


__ADS_2