Sang Penguasa

Sang Penguasa
182. Bertemu dengan Qing Lainnya.


__ADS_3

Pernyataan yang di lontarkan oleh Qing Ruo membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu  semakin murka.  Bahkan sosok tetua Agung tersebut hampir tidak bisa menahan diri, jika tidak di tahan oleh pemuda yang begitu tenang di sudut ruangan.


" Tetua jangan bertindak gegabah. Lihatlah, di hadapan banyak orang dia begitu tenang bahkan begitu berani memprovokasi kita. Lebih aneh lagi dengan tingkat kultivasinya yang hanya berada di tingkat pendekar Kaisar Dewa," ucap pemuda tersebut berbicara melalui telepati pada sosok tetua Agung dari klan Ji tersebut.


" Tuan muda benar." Menatap Qing Ruo dengan lekat.


Di hadapan mereka, Qing Ruo yang menyadari keberadaan pemuda  yang terlihat berbeda dari kelompok lainnya itu,  tersenyum santai.


" Ternyata dari sekian banyak orang yang ada di tempat ini, masih ada yang bertindak bijaksana. Aku yakin saudara pasti bukan berasal dari kelompok mereka. Apakah benar demikian?"


Sang Pemuda menganggukkan kepala.


" Aku memang bukan dari kelompok mereka, namun secara tidak langsung, aku juga  terlibat dengan masalah ini."


Qing Ruo menganggukkan kepalanya.


" Senang berkenalan dengan anda." Sambil menangkupkan  tangannya dengan hormat.


Sapaan Qing Ruo tersebut dibalas dengan anggukan santai dari sosok tersebut.


" Jika demikian, itu berarti saudara hanyalah orang luar yang dijadikan  tameng dalam masalah ini.  Tapi aku begitu heran dengan para tetua yang tidak tahu malu ini. Bagaimana bisa kalian  berlindung  di bawah ketiak seorang pemuda," ucap Qing Ruo santai.


" Tuan muda Qing Yan, apa yang akan kita lakukan dengan sosok ini? Aku sudah tidak sabar menguliti tubuhnya!" ucap tetua tersebut murka, menatap Qing Ruo dengan kemarahan yang menyala.


Kata-kata tetua tersebut membuat ruangan itu menjadi hening, bahkan membuat Qian Kun dan para penjaga yang ada di dalam ruangan itu terdiam dengan wajah pucat pasi.


" Shen Guoshi Qing, ini terlalu mengerikan tidak heran jika klan kecil ini begitu berani," ucap Qian Kun berbicara melalui telepati pada para penjaga yang berada di sisinya.


" Tuan, Apa yang harus kita lakukan?" Tanya penjaga tersebut.


" Aku juga tidak tahu. Bahkan tiga klan dewa kuno pelindung kota Xi juga tidak ingin menyinggung  Shen Guoshi Qing," jawab Qian Kun dengan wajah panik, menatap Qing Ruo yang tidak bergeming dari tempatnya.


Di hadapan banyak orang itu. Qing Ruo yang juga tidak menyangka jika pemuda tersebut berasal dari klan Qing, menatap pemuda tersebut dengan penuh selidik.


Keheningan di tempat itu membuat para tetua dari ketiga klan tersebut  tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


" Anak muda, apakah kamu menyesal? Jika pun kamu menyesal, kamu sudah terlambat,  karena tidak ada harapan lagi kamu bisa meninggalkan tempat ini. Aku Ji Rong Sha, akan mengulitimu. Memberikan siksasaan yang lebih menyakitkan dari tuan muda Ji Jiu dan Patriark Ji Huan," ucapnya dengan penuh kemenangan.


" Saudara, aku juga sudah tidak sabar memotong lidahnya," ucap tetua dari klan Xian.


Qing Ruo yang terdiam sebelumnya tersenyum santai, berjalan melewati tetua tersebut, lalu menghampiri pemuda tersebut.


" Saudara Qing Yan, senang berjumpa dengan anda. Aku Qing Ruo, putra Qing Peng, cucu Qing Xia, trah pertama dari  leluhur Qing Fenbao, Qing Kongque dan leluhur agung Qing Tian." sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, membuat Qing Yan yang ada dihadapannya tersebut ternganga. Bahkan suara tawa para tetua yang berada di dalam ruangan itu tiba-tiba terhenti.


" Tu-tuan muda," ucap Qing Yan terbata, dan langsung berlutut di hadapan Qing Ruo, membuat suasana di dalam ruangan itu semakin mencekam.


" Saudara, bangunlah."


" Tidak tuan muda. Hamba tidak berani," ucapnya, menundukan kepalanya. Bahkan Qian Kun dapat melihat reaksi tubuh buah Qing Yan yang tampak begitu ketakutan.


Tindakan Qing Yan membuat Ji Rong Sha dan rombongannya hampir menangis dan meratapi diri.


" Oh tidak, tuan muda Qing Yan saja berlutut dihadapannya." Membatin dengan wajah pucat pasi, bahkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu juga tidak kalah terkejutnya.


Di antara wajah panik itu, hanya Qian Kun dan rombongannyalah yang kini bisa tersenyum. Bahkan hampir membuatnya tertawa terbahak-bahak.


" Tuan muda, hamba hanya putra dari pemimpin dari keluarga cabang, Qing Chi Chou. Jika tuan muda memaksa untuk berdiri maka ayahada Chi Chou  akan menerima hukuman kuno seratus  kali cambukan petir. Mohon tuan muda memahami."


Penjelasan Qing Yan membuat Qing Ruo begitu terkejut dengan aturan tersebut. Walaupun demikian dia tetap menunjukkan sikapnya  yang tenang. 


" Tidak ada yang melihat tindakanmu di tempat ini. Jika tidak mau berdiri maka aku akan memberikan hukuman seratus cambukan petir padamu." Sambil melepaskan kekuatan petir hitam keemasan dari tubuhnya.


" Trark...." petir yang menggelegar itu membentuk cambuk petir di  tangannya.


Tindakan Qing Ruo  membuat para tetua tersebut segera menjauh dan  berdiri di sudut ruangan, terlebih lagi dengan aura seni abadi tingkat delapan  yang juga menyebar di dalam ruangan itu,  membuat mereka  hampir membasahi diri.


" Berdiri, atau aku akan melakukannya," ucap Qing Ruo dengan tegas.


Dengan kepala tertunduk, Qing Yan akhirnya berdiri, membuat Qing Ruo menarik kembali kekuatan dan petir dari tubuhnya.


" Tuan Qian Kun, aku rasa masalah di tempat ini sudah selesai. Jadi aku akan pergi. Dan Qing Yan, masalah ini aku serahkan padamu. Setelah selesai,  temui aku di penginapan Hua Cun." Lalu lenyap dari ruangan itu.

__ADS_1


" Swhuss...." sosoknya lenyap, meninggalkan jejak penindasan yang membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu mematung.


Qian Kun dan Qing Yan yang bahkan belum sempat menjawab, menatap sosok Qing Ruo yang membias lalu lenyap itu dengan ternganga.


" Tuan Qian Kun, mohon untuk merahasiakan hal ini, terutama  keberadaan tuan muda Qing Ruo," ucap Qing Yan tersadar dari lamunannya.


" Baik tuan. Aku Qian Kun, atas nama klan Qian akan merahasiakan hal ini."


" Baik tuan, terima kasih," ucap Qing Yan dengan hormat.


" Tuan Qing Yan.  Jika demikian silakan lanjutkan urusan tuan muda dengan mereka," ucap Qian Kun sambil membawa rombongannya meninggalkan tempat itu.


" Ji Rong Sha, mereka yang  tertawa di atas kesombongan  pada akhirnya akan menangis, jadi selamat menangis," ucap Qian Kun pada sosok tetua agung itu, sambil menutup pintu ruangan.


Kata-kata Qian Kun membuat Ji Rong Sha dan rombonganya begitu kesal, namun tertahan oleh keberadaan Qing Yan.


Setelah Qian Kun dan rombongannya pergi, tempat itu benar-benar menjadi hening.  Qing Yan yang tampak bingung,  menatap para tetua tersesebut sambil menggelengkan kepalanya.


" Tuan muda mohon pengampunanmu," ucap Ji Rong Sha sambil berlutut bersama rombongannya.


" Tetua, jika dia meminta aku untuk bunuh diri dihadapan kalian, aku juga akan melakukannya. Apakah kalian mengerti maksudku?"


Kata-kata Qing Yan membuat Ji Rong Sha dan rombongannya terdiam.


" Alasan mengapa kami diminta harus tetap tenang dalam segala hal, dan tidak bertindak dengan sembarangan, memang untuk menghindari masalah seperti ini. Apalagi  sosok yang kalian lihat  sebelumnya adalah cucu agung dari putri  Shen Guoshi Kongque  dari  putra pertamanya Shen Guoshi Qing Fengbao. Meninggalkan masalah ini padaku, itu berarti tuan muda Qing Ruo sudah mengampuni kalian, namun bukan berarti aku meninggalkan masalah ini begitu saja. Berdasarkan aturan yang ada, menghancurkan kultivasi adalah hukuman paling rendah, setelah penyisaan, dan menghancurkan  seluruh klan. Jadi silakan tetua memutuskan."


" Tidak ada pilihan," ucap Ji Rong Sha,  lalu menghancurkan kultivasinya, dan ikuti oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


" Para tetua, terima kasih," ucapnya lalu  memanggil penjaga penginapan, untuk mengantar rombongan itu kembali ke klan mereka  masing-masing.


" Tetua, jika terjadi masalah di klan, dan selama itu tidak  menyangkut klan Qing, tetua dapat memangilku. Selain itu, aku juga  ingin para tetua merahasiakan masalah ini." Sambil menyerahkan lencana giok jiwa pada Ji  Rong Sha.


" Terima kasih tuan muda," ucapnya dengan hormat, lalu mengikuti para penjaga penginapan bunga Xi.


Setelah para tetua dari ketiga klan  itu pergi, Qing Yan yang tidak ingin membuat Qing Ruo menunggu lebih lama di penginapan Hua Cun  lalu bergerak meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2