Sang Penguasa

Sang Penguasa
85. Di Kediaman Hua Zhen.


__ADS_3

Aula kediaman Hua Zhen. 


Hua Zun, Hua Thong dan lima tetua lainnya  sedang berbincang-bincang santai.


" Saudara Zun, bagaimana perjalanan singkat kalian di kawasan  gurun perbatasan  utara?" tanya salah satu tetua dengan penasaran.


" Saudara Kai,  Ini adalah perjalanan singkat yang sangat menyenangkan," Jawab Hua Zun dengan penuh semangat, sambil menceritakan keberhasilan mereka dalam mendapatkan beberapa sumber daya bahkan menaikan tingkat kultivasi  Hua Zhen menjadi semi abadi tingkat empat.


" Benar-benar perjalanan singkat yang luar biasa. Dengan sumber daya yang kita miliki, menaikkan tingkat kultivasinya adalah sesuatu yang sangat sulit, tetapi kalian dapat melakukannya," ucap Hua Kai menanggapi.


" Benar. Ini semua karena penguasa muda Qing Ruo," ucap Hua Thong dengan bangga.


" Saudara Thong, seperti apakah sosok penguasa  muda Qing Ruo ini?" tanya Hua Kai. 


" Saudara Kai, sebentar lagi orangnya akan tiba, namun aku juga tidak tahu, apakah kita bisa menemuinya,"  jawab Hua Thong.


" Maksud saudara Thong?"


" Saudara Kai, penguasa muda Qing Ruo baru saja kembali dari hutan perbatasan Utara, siapa tahu dia ingin beristirahat, dan kita...." Hua Thong menghentikan kata-katanya, saat dirinya melihat Hua Zhen dan beberapa sosok memasuki ruangan.


" Tuan muda, penguasa muda," ucap Hua Thong dan Hua Zun menyambut kedatangan Qing Ruo dan rombongannya dengan hormat, sambil mempersilakan mereka duduk.


" Jenderal Bai, jenderal Rong, dimana Jenderal Jianyu," tanya Hua Zun menatap kedua jenderal itu dengan heran.


" Jenderal Jianyu sedang ada sedikit urusan," jawab Heian Bai.


" Penguasa muda Qing Ruo, ini adalah tetua Hua Kai, Hua Ding, Hua Zhi, Hua Hai, dan Hua Gong," ucap Hua Zhen memperkenalkan kelima sosok tersebut.


" Hormat pada para tetua," ucap Qing Ruo sambil berdiri dan menangkupkan tangannya dengan hormat.


" Penguasa muda," ucap para tetua tersebut sambil berdiri dan menangkupkan tangannya dengan hormat.


Tidak lama kemudian beberapa pelayan memasuki ruangan, menghidangkan makanan dan minuman.


Setelah para pelayan itu pergi, Hua Zhen kembali melanjutkan pembicaraan mereka.


" Saudara Ruo," ucap Hua Zhen menatap Qing Ruo dengan penuh arti.


Qing Ruo yang mengerti maksud Hua Zhen menganggukkan kepalanya.


" Saudara Zhen, apakah masih ada  tetua lainnya?" tanya Qing Ruo membuat Hua Kai dan rombongannya begitu penasaran.


Hua Zhen menggelengkan kepalanya.


" Saudara Ruo, kediaman kami hanya memiliki tujuh tetua. Apakah saudara Ruo perlu kehadiran saudaraku yang lainnya?"


Qing Ruo menggelengkan kepalanya.


" Aku rasa ini sudah cukup," ucapnya  menatap Hua Zun dan rombongannya yang begitu tegang karena rasa penasaran.


" Para tetua, aku ingin kalian  membawaku menemui Patriark  Shen Guoshi Hua," ucap Qing Ruo dengan serius.


" Apa!" Hua Zun dan rombongannya terkejut.


" Penguasa Muda, maksud Anda?" tanya Hua Kai menatap Qing Ruo dengan serius.


" Tetua Hua Kai, apakah ada yang salah dengan niatku?" Tanya Qing Ruo dengan heran.


" Penguasa Muda, ada pertentangan diantara kami," ucap Hua Kai pelan.

__ADS_1


Qing Ruo tersenyum ramah.


" Justru karena alasan itu aku ingin menemuinya." membuat Hua Kai dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam. 


" Penguasa muda, apakah Anda yakin?" tanya Hua Zun dengan wajah serius.


" Tetua, apakah aku terlihat bercanda? Sampai kapan kalian hidup dalam penindasan ini? Jika kalian menolak, maka aku juga tidak bisa memaksa."


Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening. Tampak keraguan dan kebingungan dari wajah mereka, terutama Hua Zhen, yang masih terlihat mencoba menerka tujuan Qing Ruo.


" Pertanyaanku sederhana,  apakah para tetua bersedia atau tidak?" tanya Qing Ruo sekali lagi, membuyarkan lamunan mereka.


" Saudara Ruo, aku bersedia," ucap Hua Zhen, sambil mengarahkan pandangannya pada para tetua yang yang terlihat masih ragu.


" Jika tuan muda setuju, maka aku juga demikian," ucap Hua Zun.


" Lalu bagaimana dengan saudara  yang lain?" tanya Hua Zun.


Hua Kai dan rombongannya yang masih terlihat ragu itu akhirnya menganggukan kepalanya.


" Baik, terima kasih." Ucap Qing Ruo.


" Saudara Ruo, kapan kita akan menemui mereka?" tanya Hua Zhen.


" Karena ini sudah malam,  sebaiknya kita lakukan besok pagi saja," jawab Qing Ruo.


" Baik. Saudara Ruo, untuk pertemuan besok pagi,  apa yang harus kami lakukan?"  tanya Hua Zhen.


" Aku hanya  perlu saudara,  dan para tetua hadir dalam pertemuan itu. Selebihnya,  serahkan semuanya padaku," jawab Qing Ruo dengan serius.


" Baik," jawab Hua Zhen. 


" Tapi saudara..." Dengan wajah ragu. Bahkan Hua Kai dan rombongannya begitu terkejut.


" Saudara Zhen, ada apa?"


" Aku yakin saudariku tidak akan pernah mau." Dengan wajah serius.


Qing Ruo tersenyum ramah.


" Saudara bahkan belum berbicara padanya, lalu bagaimana saudara tahu?"


Hua Zhen senyum-senyum sendiri.


" Saudara Ruo benar. Baik, besok sebelum pergi, aku akan mengabarinya."


" Terima kasih saudara," ucap Qing Ruo.


Setelah membicarakan banyak hal, menjelang tengah malam, Hua Zhen membubarkan pertemuan itu, lalu meminta beberapa pelayan mengarahkan Qing Ruo dan rombongannya  menuju ruangan khusus yang digunakan untuk beristirahat.


Namun pada saat mereka akan meninggalkan ruangan itu, Murong Jianyu memasuki ruangan bersama seorang  prajurit.


" Penguasa, tuan muda,para tetua," ucapnya ramah, menangkap tangannya dengan hormat.


Pada saat dirinya hendak melaporkan pekerjaannya, Qing Ruo dengan segera menghentikan tindakannya.


" Nanti saja." Suara Qing Ruo berbicara dalam pikirannya.


" Baik penguasa..." berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

__ADS_1


" Saudara Jianyu, selamat datang," ucap Hua Zhen mempersilahkan untuk duduk, namun dengan segera dicegah olehnya.


" Saudara Zhen, terimakasih sebelumnya." Menatap Hua Zhen dengan penuh arti, apalagi saat melihat Qing Ruo dan semua orang yang sudah berdiri dan hendak pergi.


" Saudara Zhen, apakah boleh aku meminta tempat untuk beristirahat," ucapnya pelan.


Hua Zhen menganggukkan kepalanya.


" Tentu saja." jawab Hua Zhen.


" Terima kasih suadara.." ucap Murong Jianyu dengan senyumnya yang ramah.


" Saudara Zhen, para tetua, aku pergi dulu," ucap Qing Ruo dengan hormat.


" Saudara Ruo, selamat beristirahat," ucap Hua Zhen, sambil menangkupkan tangannya dengan hormat, lalu memanggil pelayan  untuk membawa Qing Ruo dan rombongannya,  mengarahkan mereka menuju ruangannya.


Setelah Qing Ruo dan rombongannya benar-benar pergi, Hua Zhen lalu meminta para tetua itu untuk tidak pergi, dan melanjutkan pembicaraan rahasia mereka.


****


Di tempat lain.


Qing Ruo yang di temani Murong Jianyu, meninggalkan aula utama kediaman Hua Zhen dengan santai. Sambil berbincang-bincang, mereka terus bergerak mengikuti pelayan yang mengarahkanya.


" Jianyu, ikut aku sebentar," ucap Qing Ruo.


" Baik penguasa..."


Tidak lama kemudian,  mereka akhirnya tiba di ruangan Qing Ruo.


" Tuan silakan," ucap sang pelayan dengan hormat sambil membuka pintu dan mempersilahkan Qing Ruo.


" Baik pelayan, terima kasih," ucap Qing Ruo. 


" Tuan, lalu bagaimana dengan jenderal Murong Jianyu?"


" Pelayan, aku ada sedikit urusan. Setelah urusan kami selesai, aku akan mencari Anda," ucap Murong Jianyu menjelaskan.


" Baik jenderal."


Setelah Qing  Ruo dan Murong Jianyu memasuki ruangan, pelayan tersebut lalu meninggalkan tempat itu.


Di dalam ruangan.


Qing Ruo dan Murong Jianyu duduk pada kursi yang tersedia di dalam ruangan itu dengan santai. Setelah mengirim pesan pada Hu Shan dan rombongan untuk mengawasi pergerakan para tetua di kediaman Hua Zhen, dan  menyegel ruangan itu, Qing Ruo lalu meminta Murong Jianyu untuk melaporkan pekerjaannya.


" Jianyu, bagaimana pekerjaanmu sebelumnya?"


" Penguasa, para pengintai itu adalah para tuan muda klan Hua, dari kediaman lain." 


" Lalu apa tujuan mereka melakukan hal itu?"


" Mengawasi pergerakan semua orang yang ada di kota Hua, dan pekerjaan mereka itu seperti sebuah kewajiban."


" Lalu apakah kamu menangkap dan menahan mereka?"


Murong Jianyu menggelengkan kepalanya.


" Aku melepaskan mereka."

__ADS_1


"  Syukurlah," ucap Qing Ruo sambil mengeluarkan arak rumput kristal, dan melanjutkan perbincangan mereka.


__ADS_2