
Di luar kota Gu Lu.
Qing Ruo terus bergerak, menjauh dari gerbang utara dengan cepat.
" Tidak heran tuan putri itu begitu tenang, ternyata dari awal dia sudah tahu yang membuat keributan di pusat kota adalah orang-orang dari klan Yin," batinnya.
Pada saat dirinya terus bergerak, tiba-tiba dua aura bergerak mendekatinya dengan cepat.
" Aura ini..." Membatin terus menjauh, sambil mengabari Mayi Xian dan Mayi Cao untuk menemuinya di wilayah utara kota.
" Swhus.... swhus...." sosoknya terus bergerak dengan cepat, berusaha menjauh dari sosok yang mengejarnya tersebut.
****
Di tempat lain.
Lima kilometer dari gerbang barat kota Gu Lu, Mayi Xian dan Mayi Cao yang sedang berada di tempat itu tiba-tiba menerima pesan jiwa dari Qing Ruo.
" Saudara, penguasa meminta kita menemuinya di kawasan hutan Utara," ucap Mayi Xian dengan serius.
" Baik, bergerak," ucap Mayi Cao tanpa berbasa-basi, bergerak meninggalkan tempat itu.
" Swhus.... swhus...." sosok mereka berdua lenyap dari pandangan para pemuda yang ada di tempat itu, melesat seperti kilatan cahaya.
" Aura ini," ucap para pemuda yang ada di tempat itu terkejut, saat merasakan jejak aura yang tinggalkan oleh Mayi Xian dan Mayi Cao.
" Ternyata mereka adalah pendekar tingkat tinggi yang sedang menyamar. Untung saja kita tidak menyinggungnya. Tapi bagaimana cara mereka menyamarkan tingkat kultivasinya begitu luar biasa tersebut...."
" Semesta itu luas tak terselami, jadi akan selalu ada orang yang lebih kuat, jadi berperilaku lah dengan baik, supaya tidak menyinggung orang-orang seperti mereka," ucap seorang pemuda menjelaskan.
" Hampir saja...." ucap mereka mengusap dadanya.
****
Di tempat lain.
Qing Ruo yang merasa keberadaannya terus di kejar oleh dua aura semi abadi tingkat delapan tahap menengah itu, lalu memperlambat gerakannya.
" Swhuss..." sosoknya berhenti pada dahan pohon raksasa, lalu menunggu kedua sosok tersebut dengan tenang.
Tidak lama kemudian, kedua sosok yang terus mengejarnya itu pun akhirnya tiba.
" Swhus... swhus...." sosok Xui Yen dan Lu Dan muncul di hadapan Qing Ruo.
" Tuan muda, maaf mengganggu perjalanan Anda," ucap Xui Yen sambil menangkupkan tangannya hormat.
" Jenderal, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Qing Ruo dengan ramah.
" Tuan muda, putri Yuan Liu ingin bertemu dengan anda," ucap Lu Dan dengan hormat.
" Bertemu?" Dengan tatapan heran.
" Benar tuan muda, mari ikut kami kembali," ucap Lu Dan dengan hormat.
" Jenderal, jangan bercanda, sebelumnya Anda dan Putri Yuan Liu menolak keberadaanku di kota ini, " ucap Qing Ruo dengan tatapan tajam, membuat Xui Yen dan Lu Dan terdiam.
" Tapi tuan," ucap Lu Dan dengan ragu.
" Sebelumnya kalian telah mempermalukan ku, apakah kalian ingin bermain-main dengan ku?"
" Tu-tuan muda, mengenai hal itu kami benar-benar minta maaf, dan kami juga tidak bermaksud demikian."
__ADS_1
" Jika demikian, apa tujuan kalian yang sebenarnya? Apakah karena aku menggunakan Lencana Klan Xiong Ma?"
" Be-benar tuan," ucap Lu Dan terbata.
" Apakah ada yang salah dengan lencana tersebut?" tanya Qing Ruo sekali lagi.
" Tidak tuan muda, kami hanya ingin memastikan bahwa Anda-"
Tiba-tiba Yuan Liu dan Xui Long tiba di tempat itu, menghentikan penjelasan Lu Dan.
" Putri..." Menyapa kehadiran gadis itu dengan hormat.
" Tuan Qing Ruo, maaf mengganggu perjalanan anda," ucap Yuan Liu sambil memperkenalkan dirinya dengan hormat.
Qing Ruo terdiam menatap sosok yang baru datang itu dengan tajam.
" Putri bicaralah," ucapnya dengan tegas.
" Tuan, sebelumnya di gerbang kota Anda menggunakan lencana klan Shen Guoshi Xiong Mao, Apakah benar demikian?" Dengan sikap hormat.
" Benar," jawab Qing Ruo sambil menganggukkan kepalanya, membuat Yuan Liu dan rombongannya terdiam.
" Tuan muda, untuk memastikan kebenarannya, a Apakah aku boleh melihat lencana itu kembali..." dengan sikap hormat.
Qing Ruo menggelengkan kepalanya.
" Lencana Klan bukanlah mainan. Apakah ada yang salah dengan lencana tersebut?"
" Tuan muda, Siapa anda sebenarnya?"
" Qing Ruo, itu adalah nama lahirku, hingga saat ini." Sambil menunjukan kekuatan petir abadi yang tiba-tiba muncul dari tangannya, membuat Yuan Liu dan rombongannya tanpa sadar bergerak mundur.
" Tuan putri, dia benar-benar berasal dari klan Qing," ucap Lu Dan berbicara pada Yuan Liu melalui telepati.
" Jika demikian, bagaimana anda bisa memiliki lencana klan Xiong Mao?" tanya Yuan Liu dengan serius.
Tiba-tiba Mayi Xian dan Mayi Cao yang ternyata sudah tiba di tempat itu memunculkan dirinya.
" Tuan muda Qing Ruo adalah cucu yang abadi Xiong Mao Tian," ucap Mayi Xian dengan hormat, membuat Yuan Liu dan rombongannya begitu terkejut.
" Tu-tuan, siapa kalian..." ucap Yuan Liu, menatap kemunculan Mayi Xian dan Mayi Cao yang tiba-tiba berada di belakang Qing Ruo dengan tubuh bergidik.
" Tuan putri, Aku Mayi Xian dan saudaraku Mayi Cao, kami berdua adalah pelayan tuan muda Qing Ruo," jawab Mayi Xian dengan hormat.
" Putri, mereka pasti sosok yang sangat kuat, aku bahkan tidak merasakan kehadiran dan tingkat kekuatannya," ucap Xui Yen berbicara melalui telepati dengan wajah serius.
"Sebelumnya aku benar-benar telah menyinggung tuan muda Qing Ruo, karena tertipu dengan nama Klan Qing yang dia menggunakan. Jenderal Xui Yen, apa yang harus kita lakukan?"
" Putri, bagaimana jika kita mengundangnya ke istana," jawab Xui Yen dengan hormat.
" Itu tidak mungkin, karena tuan muda Qing Ruo pasti akan menolak."
" Putri, para jenderal, karena urusan kita telah selesai, maka aku undur diri," ucap Qing Ruo sambil menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Tapi tuan muda, apakah anda tidak..." ucapnya ragu.
" Maaf putri, kami hendak melanjutkan perjalanan, lagi pula suasana kota juga tidak aman untuk beristirahat," jawab Qing Ruo dengan tenang, yang kini sedikit ramahal, membuat Yuan Liu dan rombongannya seperti mati kutu, karena tidak memiliki alasan yang tepat untuk menahan Qing Ruo dan rombongannya.
" Putri, satu-satunya harapan adalah dengan berbicara jujur mengenai masalah yang kita hadapi. Jika tidak, kita tidak akan memiliki harapan," ucap Lu Dan berbicara melalui telepati dengan serius.
" Baik," jawab Yuan Liu dengan memantapkan hatinya.
__ADS_1
" Tuan muda Qing Ruo, sebelumnya aku minta maaf atas tindakanku yang kurang pantas," ucap Yuan Liu sambil berlutut dengan hormat lalu di ikuti oleh Lu Dan dan rombongannya.
" Putri, bangunlah. Bukankah itu semuanya salah paham," ucap Qing Ruo dengan tegas.
" Tuan muda, aku mohon tolong kami," ucap Yuan Liu dengan bersungguh-sungguh.
" Putri, bangunlah," ucap Qing Ruo yang merasa tidak nyaman dengan tindakan seperti itu.
" Putri, bangunlah. Tuan muda sangat tidak menyukai tindakan seperti ini. Bahkan kami sebagai pelayannya dilarang untuk berlutut seperti itu di hadapannya. Menurut tuan muda, hormat seperti itu hanya boleh diberikan kepada orang yang melahirkan kita, leluhur kita seperti nenek, kakek serta pada seorang guru," ucap Mayi Xian berbicara melalui telepati pada Yuan Liu dan rombongannya, membuat mereka mejadi serba salah.
" Putri, bangunanlah," ucap Mayi Cao.
" Ba-baik tuan. Terima kasih..." berdiri dengan menundukkan kepalanya, tanpa berani menatap Qing Ruo yang terdiam.
" Putri Yuan Liu, kami hanya orang asing yang kebetulan singgah di kota ini, dan tentu saja kami tidak memiliki alasan untuk melakukan hal itu," ucap Mayi Cao dengan serius membuat raut wajah Yuan Liu dan rombongannya membeku.
" Jenderal Lu Dan, apa yang harus kita lakukan...." ucap Yuan Liu berbicara pada rombongannya dengan panik.
" Putri, apalagi diriku yang sudah mengusirnya, dia tidak akan pernah mendengarkan aku....."
" Aku ada ide, tapi apakah putri setuju atau tidak. Bagaimana jika kita menggunakan pusaka Klan," ucap Xui Long.
" Tapi aku tidak yakin ayahanda setuju."
" Putri, dia adalah tuan muda Hutan Gelap, sekaligus pemilik darah petir kuno itu. Aku yakin inilah kesempatan kita, dan aku juga yakin dia dapat membawa kota Gu Lu keluar dari krisis ini," ucap Xui Yen dengan serius.
" Tuan muda, jika Anda dapat membantu kami, aku berjanji akan memberikan pusaka klan Yuan berupa bejana lagit Yuan," ucapnya memohon.
" Deg... " jantung Qing Ruo berdetak dengan cepat.
" Bejana langit. Ini adalah kesempatan besar, jadi aku tidak perlu repot-repot pergi ke kawasan kuno timur," batinnya sambil menenangkan diri.
" Tuan muda, mohon tolong kami..." ucap Xui Yen sekali lagi dengan hormat.
Qing Ruo terdiam cukup lama, hingga akhirnya mengangguk kepalanya.
" Putri, aku tidak berjanji dapat melakukannya, tapi aku akan mencoba yang terbaik," ucapnya pelan, membuat Yuan Liu dan rombongannya begitu gembira.
" Terima kasih tuan muda, jika boleh kami mohon ikut kami kembali ke kota, karena pembicaraan ini memerlukan tempat khusus," ucapnya memohon dengan hormat.
" Kota bukanlah tempat yang aman," ucap Qing Ruo menggelengkan kepalanya.
" Tapi tuan muda, kami memiliki tempat rahasia dan kami yakin tempat itu aman," ucap Lu Dan berbicara.
" Penguasa, kota itu sedang kacau, aku tidak yakin dengan hal itu," ucap Mayi Xian berbicara melalui telepati.
" Aku juga tahu, tapi apakah ada kota lain yang dekat dengan gunung Langit Yin?"
" Tidak ada penguasa, satu-satunya kota terdekat adalah kota ini," jawab Mayi Cao.
" Tidak ada pilihan," ucap Qing Ruo.
" Maksud penguasa?"
" Aku ingin kota ini menjadi markas pasukan bantuan," ucapnya sambil menjelaskan kerjasamanya dengan Jin Kong, membuat Mayi Xian dan Mayi Cao begitu terkejut.
" Jadi apakah kita akan menggunakan kota ini?" tanya Mayi Xian.
" Tidak ada pilihan, karena kita juga tidak mungkin menyembunyikan pasukan di dalam hutan dalam jumlah yang sangat banyak. Semoga tempat yang mereka maksud itu benar-benar aman," ucap Qing Ruo, lalu mengarahkan pandangannya pada Yuan Liu.
" Baik, kami bersedia," ucapnya dengan santai.
__ADS_1
" Terima kasih, tuan muda." Lalu membawa Qing Ruo dan rombongannya bergerak meninggalkan tempat itu.