
Halaman istana.
Hua Zhen dan rombongannya tiba di tempat itu, langsung disambut oleh berapa prajurit elit.
" Tuan muda," yang lainnya telah menunggu, mari.." ucap Parajurit itu dengan ramah.
" Baik," jawab Hua Zhen sambil membawa Qing Ruo dan rombongannya memasuki istana.
" Saudara Ruo, mohon maaf. Sambutan keluarga utama pada keluarga Perak memang seperti ini," ucap Hua Zhen menjelaskan, karena tidak ada satupun petinggi istana yang menyambut kedatangan mereka.
" Tidak masalah, dengan sudah tiba di tempat ini saja sudah cukup," jawab Qing Ruo.
Di antara mereka. Hua Diu tampak begitu gugup, bahkan hampir tidak mampu melangkahkan kakinya.
" Putri, apa yang membuatmu begitu takut?" tanya Qing Ruo.
" Penguasa muda, Aku yakin para pembunuh itu ada di dalam..." Ucapnya dengan bibir bergetar dan tampak begitu tegang.
Qing Ruo menggelengkan kepalanya.
" Bagaimana Putri bisa yakin? Bahkan putri sendiri belum melihatnya?"
" Tapi Penguasa muda..." dengan ekspresi takut.
" Tenanglah. Jika pun sosok itu ada, aku yakin dia tidak akan berani mengulangi tindakannya..." Sambil meminta Hua Zhen membawanya memasuki ruangan.
Tidak lama kemudian. Qing Ruo dan rombongannya tiba di dalam ruangan itu, namun mereka begitu terkejutnya saat melihat sosok Hua Kai yang sudah berada di tempat itu, duduk di kursi perak yang di jaga oleh dua prajurit.
" Tetua Kai," ucap Hua Zhen berbicara melalui telepati, menatap Hua Kai yang duduk seperti seorang tawanan.
" Tuan muda, tenanglah. Aku baik-baik saja," Jawabnya dengan hormat.
Di antara mereka Qing Ruo dengan tampilan aura pendekar kaisar tingkat dasar terus berjalan memasuki ruangan dengan tenang.
" Hormat pada patriark dan tetua agung," ucap Hua Zhen pemimpin rombongannya, memberi hormat pada Hua Zuigao dan Hua Zhanglao.
" Hua Zhen, para tetua kediaman Wen, silakan duduk," ucap Hua Zhanglao mempersilakan. Namun karena kursi perak terbatas, Hua Zun dan Hua Thong, serta ke empat tetua lainnya berdiri, mempersilakan Qing Ruo, Heian Bai, Dalu Rong, dan Murong Jianyu untuk duduk.
__ADS_1
" Maaf tetua, kami hanya orang lain. Kami cukup berdiri saja,'" ucap Murong Jianyu menolaknya.
" Tetua, sebaiknya kita sama- sama berdiri saja. Bukankah itu cukup adil? Lagipula tempat ini cukup miskin untuk menyediakan banyak kursi," ucap Qing Ruo, membuat Hua Zun dan para tetua itu terdiam. Bahkan Hua Kai kini bahkan sudah tidak mampu menyembunyikan ketegangan dari wajahnya.
" Tu-tuan," ucap Hua Zun dengan lidah kelu, mengubah panggilannya pada Qing Ruo, berusaha mengingatkan tetapi tidak mampu.
Kata-kata yang di lontarkan oleh Qing Ruo membuat suasana tenang di dalam ruangan itu menjadi begitu tegang, bahkan tatapan para tetua yang duduk di kursi perak kini semakin tajam, dengan aura pembunuhan yang langsung keluar dari tubuh mereka.
Di kursi utama dan kursi kehormatan. Hua Zuigao dan Hua Zhanglao, bahkan tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Qing Ruo, yang merupakan seorang pendekar kaisar dewa tingkat dasar.
" Hua Zhen, apakah tujuan kedatanganmu untuk mencela kami," ucap Hua Zhanglao dengan wajah kesalnya, menatap Qing Ruo dengan tajam.
Hua Zhen yang berada di bawah tatapan ratusan para tetua tingkat tinggi itu hanya bisa terdiam kelu. Bahkan Hua Diu kini tampak pucat pasi.
" Hua Zhen, bicaralah," ucap Hua Zuigao dengan tenang.
Hua Zhen menganggukkan kepalanya, dan berusaha berdiri.
" Patriark, tetua agung, serta para tetua dari keluarga emas. Aku Hua Zhen datang bersama tetua kediaman Hua Wen menemui kalian semua, untuk memenuhi keinginan saudaraku," ucapnya menatap Qing Ruo yang tampak begitu tenang, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu semakin penasaran.
" Tetua, apakah Anda mengenalinya?" tanya Hua Zuigao berbicara pada Hua Zhanglao melalui telepati.
Tidak hanya Hua Zuigao dan Hua Zhanglao, tetapi semua tetua yang ada di dalam ruangan itu juga begitu penasaran.
" Hm, bicaralah,"ucap Hua Zhanglao, mempersilakan.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya, lalu menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu dengan tenang.
" Patriark, tetua agung, para tetua, terima kasih telah menyempatkan waktu untuk hadir, dan menerima kedatangan kami. Tujuan kedatangan kami adalah untuk mengakhiri perseteruan antara keluarga perak dan keluarga utama, dan membangun kembali-"
Tiba-tiba ruangan itu menjadi riuh. Bahkan beberapa ketua tanpa segan menunjukkan ketidaksenangannya.
" Tch... Aku pribadi dari keluarga sayap kiri menolak!"
" Benar, aku dari keluarga sayap kanan juga tidak Sudi!"
Satu per satu para tetua itu melontarkan kata-kata pedasnya, menatap Qing Ruo dengan penuh kebencian.
__ADS_1
" Kakak," ucap Hua Diu yang kini sudah hampir menangis, menarik lengan baju Hua Zhen yang begitu tampak tegang.
" Putri, lawan ketakutanmu. Ingat jangan biarkan ketakutan menguasaimu..." Suara Qing Ruo berbicara dalam pikirannya.
" Tapi penguasa muda..."
" Kuatkan hati. Berpikirlah seolah-olah saat ini Putri tidak memiliki siapapun. Tidak memiliki saudara untuk berlindung, bahkan tempat untuk tinggal..." suara Qing Ruo terus berbicara dalam pikirannya, mengubah wajah pucat pasi itu mulai memerah.
" Tetap tenang. Jangan membiarkan kemarahan menguasai hatimu, karena kemarahan akan mendatangkan keburukan yang berakhir dengan penyesalan." suara Qing Ruo sekali berbicara dalam pikirannya.
Ruangan itu begitu tegang dengan berbagai jenis umpatan yang keluar dari mulut para tetua, yang menatap Qing Ruo dan rombongannya dengan penuh kebencian, namun hal itu justru membuat Qing Ruo semakin bersemangat, dengan tenang terus mengarahkan Hua Diu untuk melawan ketakutannya, yang secara perlahan mulai mampu menguasai dirinya
" Putri, tenangkan hatimu. Lihatlah penguasa muda. Dia bahkan tidak gugup dan takut sedikitpun..." Suara Murong Jianyu berbicara dalam pikiran Hua Diu, membantu Qing Ruo menenangkan Hua Diu, yang dengan perlahan mulai mengubah raut wajah itu menjadi lebih tenang.
" Jenderal Murong Jianyu benar. Penguasa muda saja bahkan tidak takut sedikitpun, lalu mengapa pula aku harus takut. Jikapun aku mati di tempat ini. Aku akan membawa mereka mati bersamaku..." ucapnya mulai tenang.
Setelah melihat Hua Diu yang mulai mampu menguasai dirinya dan bersikap tenang, Qing Ruo kembali lagi melontarkan pertanyaan, sambil menatap Hua Zuigao dan Hua Zhanglao yang sedang berdiskusi.
" Putri, apakah sosok yang ditakuti itu ada di dalam ruangan ini?"
Hua Diu menganggukkan kepala, menunjuk sosok tiga tetua yang ada di dalam ruangan itu.
Qing Ruo menganggukkan kepalanya.
" Lalu apa yang putri lihat dari mereka saat ini?"
" Mereka adalah sosok yang kuat, yang sewaktu-waktu dapat membunuh kita semua di tempat ini, namun Aku juga yakin bahwa mereka juga bisa terbunuh."
" Apakah putri yakin?" tanya Qing Ruo.
Hua Diu menganggukan kepalanya dengan sorot mata yang tenang, membuat Hua Zhen yang berada di sisi Hua Diu begitu heran saat merasakan aura ketakutan yang kini tidak muncul dari tubuh saudarinya itu.
Tiba-tiba Qing Ruo tertawa, mengejutkan semua orang yang di dalam ruangan itu.
" Selamat, anda kini bukan putri kecil lagi Anda adalah wanita yang luar biasa. Aku Qing Ruo, mengucapkan selamat atas keberhasilan itu," ucapnya menangkupkan tangannya dengan hormat.
" Putri, aku Heian Bai, mengucapkan selamat." Sambil menangkupkan tangannya dengan hormat. Tidak hanya itu, Dalu Rong dan Murong Jianyu juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
" Penguasa muda Qing Ruo, jenderal emas Heian Bai, jenderal emas Dalu Rong dan jenderal emas Murong Jianyu. Terima kasih. Tanpa dukungan kalian, mungkin aku akan tetap menjadi anak kecil, dan seorang penakut yang bahkan tidak berani menatap para tetua yang sangat brengsek itu." Ucap Hua Diu dengan tegas, membuat ruangan yang begitu riuh dan tegang sebelumnya tiba-tiba menjadi hening.