
Suasana di tempat itu menjadi hening, Qing Ruo dan rombongannya dengan tenang mulai memulihkan diri dengan menyerap kristal jiwa abadi.
Lima belas menit kemudian, Qing Ruo membuka matanya, menatap Murong Jianyu yang duduk di hadapannya dengan sikap hormat.
" Jenderal," ucapnya ragu.
" Bicaralah," ucap Qing Ruo dengan tenang.
" Aku ingin mengikuti dan melayani penguasa," ucapnya dengan wajah serius.
Qing Ruo tersenyum hangat.
" Lalu bagaimana dengan tugasmu sebagai seorang jenderal?"
" Aku akan mengundurkan diri dan menyerahkan tugasku pada yang lain."
" Apakah kekaisaran emas memberikan kebebasan?"
Murong Jianyu menganggukkan kepalanya.
" Jianyu, itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Seorang petinggi pasukan tiba-tiba mengundurkan diri, bahkan tanpa masalah sedikitpun, bukankah hal itu akan terlihat sangat aneh? Jika kamu menjadi penguasa, Apa yang kamu pikirkan tentang hal itu?" Tanya Qing Ruo membuat Murong Jianyu terdiam.
Qing Ruo tersenyum ramah.
" Menjadi pelayan itu tidak harus selalu berada disisi orang yang dilayani. Jianyu, aku ingin kamu tetap menjadi jenderal di penjara Api gunung langit, untuk membantu orang-orang kita yang ditangkap secara tidak adil dan dipenjarakan di tempat itu."dengan wajah serius.
Murong Jianyu yang masih terdiam memikirkan kata-kata Qing Ruo sebelumnya, akhirnya menganggukan kepala.
" Tenanglah suatu saat kita akan berjuang bersama," ucap Qing Ruo pelan.
" Masksud penguasa?" dengan penuh semangat.
" Aku ingin membangun kejayaan Shen Shandian Luo kembali. Pada saat masa itu tiba, aku ingin kamu berjuang di sisiku." Sambil mengeluarkan sebilah pedang Xue Luo.
" Ambillah," ucap Qing Ruo, dengan senyum ramah yang tulus.
" Penguasa muda, ini..." Menatap Qing Ruo dengan ragu.
" Xue Luo, itu adalah nama yang aku diberikan pada pedang ini. Dengan menerima pedang ini, itu berarti kamu telah menjadi orang-orangku."
" Baik penguasa, terima kasih." Sambil meraih pedang itu dengan tangan bergetar.
Tidak hanya itu, Qing Ruo juga menyerahkan lencana giok hijau yang merupakan sarana komunikasi antara dirinya dan Murong Jianyu.
" Jika kamu mengalami suatu masalah ataupun hal yang bersifat penting lainnya, kabari aku."
" Terima kasih penguasa..."
" Jianyu," ucap Qing Ruo pelan, sambil menunjukkan lencana lemas burung phoenix, serta pedang Langit Biru.
__ADS_1
" Pe-penguasa, hamba...." dengan mulut ternganga, menatap kedua benda suci klan Luo ada di hadapannya.
" Ini adalah rahasia kita berdua. Selain dirimu, hanya Prajurit Zhao yang melihatnya, bahkan jenderal Luo Xing juga belum mengetahui hal ini."
" Ba-baik Penguasa." Dengan perasaan bahagia.
Qing Ruo dengan sengaja menunjukkan kedua benda suci itu dengan tujuan untuk mematahkan keraguan dan menyakinkan Murong Jianyu mengenai keberadaannya.
" Tetaplah bersikap seperti biasa, dan tingkatkan kekuatannu, hingga panggilan untuk bergabung dalam pasukan tiba," ucap Qing Ruo dengan serius, membuat semangat Murong Jianyu benar-benar membara.
" Baik penguasa..." Menangkupkan tangannya dan berlutut di hadapan Qing Ruo.
Dari jauh. Heian Bai dan Dalu Rong yang diam-diam mengamati, begitu sangat penasaran, namun mereka mengurungkan niatnya untuk menganggu kebersamaan tersebut.
Satu jam kemudian, Qing Ruo lalu mengakhiri perbincangannya bersama Murong Jianyu.
" Saudara Bai, saudara Rong, mari kita pergi." Sambil mengubah tampilan wajahnya dengan menggunakan wajah Na Mu.
" Penguasa?" Tanya Murong Jianyu heran.
" Prajurit kota sebelumnya mengetahui identitasku sebagai orang klan Luo. Dan sangat aneh jika musuh klan Hua memasuki kota itu dengan bebas, dan itu akan menempatkan kita di bawah pengawasan."
" Baik, hamba mengerti," ucap Murong Jianyu dengan hormat, sedang Heian Bai dan Dalu Rong yang pernah melihat penyamaran itu sebelumnya hanya tersenyum santai.
" Baik, mari kita pergi," ucap Qing Ruo sambil bergerak meninggalkan tempat itu.
Dengan tenang mereka terus bergerak melewati hutan teratai raksasa tersebut. Delapan jam kemudian, mereka akhirnya melihat sebuah kota berbenteng.
" Swhus... swhus...." Beberapa prajurit bergerak mendekati mereka.
" Tuan-tuan, indentitasnya," ucap prajurit tersebut dengan ramah.
Qing Ruo lalu menunjukkan lencana Klan Na, Dalu Rong menunjukkan lencana Klan Dalu, Heian Bai menunjuk lencana Klan Heian, dan Murong menunjukkan lencana klan Murong.
" Terima kasih tuan-tuan," ucap prajurit tersebut, mempersilakan Qing Ruo dan rombongannya memasuki kota.
Setelah membayar biaya masuk, Qing Ruo lalu membawa rombongannya memasuki kota Hua.
****
Kediaman Hua Zhen.
Hu Shan dan rombongannya begitu panik saat melihat Hua Zhen kembali tanpa Qing Ruo.
" Tuan muda Hua Zhen, di mana tuan kami?" tanya Hu Shan dengan wajah serius.
Hua Zhen yang memahami kekhawatiran Hu Shan dan rombongannya tersebut tersenyum santai.
" Tenanglah, Penguasa muda baik-baik saja." Sambil menjelaskan perjalan singkat mereka yang berpisah di perbatasan hutan teratai raksasa.
__ADS_1
Setelah mendapatkan penjelasan dari Hua Zhen, Hu Shan dan rombongannya lalu kembali melanjutkan pekerjaan mereka, diiringi tatapan hormat Hua Zhen.
" Sepertinya mereka adalah para pelayan pilihan." ucap Hua Zhen kagum, lalu kembali ke dalam ruangannya.
****
Jalanan Kota Hua.
" Saudara Ruo, apakah ini kediaman tuan muda Hua Zhen?" tanya Heian Bai heran saat melihat Qing Ruo membawa mereka singgah di sebuah sebuah restoran mewah di kota itu.
" Saudara Bai, kediaman Saudara Hua Zhen masih jauh dari tempat ini," jawab Qing Ruo santai, dan tampak begitu senang.
" Maksud saudara Ruo?"
" Saudara Bai, kapan lagi kita bisa seperti ini." ucap Qing Ruo sambil membawa mereka memasuki halaman restoran mewah tersebutt, membuat mereka akhirnya mengerti tujuan Qing Ruo.
Kedatangan mereka di tempat itu langsung disambut oleh para pelayan yang sedang berjaga hormat.
" Tuan-tuan, selamat datang di restoran Bunga Manis." Dengan senyumnya yang ramah.
" Nona, aku ingin ruangan khusus, makanan dan minuman terbaik," ucap Qing Ruo.
" Mari tuan." Sambil mengarahkan Qing Ruo dan rombongannya menuju lantai tujuh yang merupakan lantai terakhir dari restoran tersebut.
Di sepanjang jalan menuju lantai tujuh, berapa pasang mata terus mengawasi pergerakan mereka, sehingga membuat Murong Jianyu merasa tidak senang.
" Jianyu, biarkan saja." Suara Qing Ruo berbicara dalam pikirannya.
" Baik penguasa."
Qing Ruo yakin, bawa sosok yang terus mengawasi pergerakan mereka di setiap lantai tersebut adalah para perampok yang berusaha menandai keberadaan mereka.
Tidak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di lantai tujuh dan pelayan tersebut lalu mengarah mereka pada ruangan mewah yang secara khusus menghadap arah selatan, sehingga mereka dapat melihat pemandangan kota Hua yang indah tersebut dengan jelas.
" Silakan tuan," mempersilakan Qing Ruo dan rombongannya.
" Terima kasih nona," ucap Qing Ruo dengan ramah.
Setelah Qing Ruo dan rombongannya memasuki ruangan, sang pelayan lalu menutup pintu ruangan, dan meninggalkan tempat itu.
Di dalam ruangan.
Qing Ruo mengubah tampilan wajahnya, lalu duduk pada kursi, menatap kota Hua dengan santai.
" Benar-benar tempat yang nyaman," ucap Heian Bai, sambil menikmati pemandangan yang ada dihadapan mereka dengan santai.
" Saudara Bai, saudara Rong, selain menikmati kebersamaan ini, aku juga ingin membicarakan sesuatu pada kalian," ucap Qing Ruo memulai percakapan.
" Maksud saudara Ruo?" tanya Heian Bai penasaran.
__ADS_1
" Aku ingin kerjasama saudara membantuku memperbaiki hubungan dengan Shen Guoshi Hua, serta membangun kekuatan mereka."
" Apa!" ucap Heian Bai dan Dalu Rong terkejut, bahkan membuat Murong Jianyu sampai berdiri dari tempat duduknya, menatap Qing Ruo dengan lekat.