Sang Penguasa

Sang Penguasa
282. Bergerak Menuju Gunung Langit Yin.


__ADS_3

Di dalam ruangannya.


Sambil menunggu pesanannya dan Hong Di tiba, Qing Ruo memeriksa cincin penyimpananya, memeriksa setiap pesan jiwa yang di terima, sambil mengabari Mao Tang dan Mao Lei menjelaskan rencannya pada patriark klan Hong tersebut.


Tidak lama berselang, setelah dirinya selesai mengabari Mao Tang dan Mao Lei yang berjaga di kota Gu Lu itu, beberapa aura bergerak mendekati ruangannya.


" Tuan muda, sesorang ingin bertemu dengan Anda," ucap pelayan yang  berada di balik pintu itu berbicara dengan hormat.


" Silakan masuk," ucap Qing Ruo dengan ramah.


Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka,  menampilkan sosok pria paruh baya yang memasuki ruangan,  menatap Qing Ruo dengan heran.


" Tuan muda, apakah anda...." ucapnya ragu.


Qing Ruo menganggukkan kepalanya dengan tenang.


" Patriark, duduklah," ucapnya dengan ramah.


Tidak lama kemudian seorang seorang pelayan memasuki ruangan sambil membawakan makanan dan minuman.


" Tuan muda," ucapnya meminta izin menata makan dan minuman itu  dengan hormat.


" Silakan," ucap Qing Ruo dengan ramah.


Tidak lama kemudian,  setelah selesai menata makanan di atas meja, para pelayan itu lalu meninggalkan ruangan tersebut.


Dengan tenang Qing Ruo lalu meraih minuman yang ada di atas meja dan menuangkannya pada gelas yang tersedia.


" Patriark," ucapkan dengan hormat sambil memberikan minuman tersebut.


" Terima kasih, tuan muda." Sambil meraih minuman yang diberikan padanya, lalu menyesap minuman itu dengan tenang.


" Patriark, aku Qing Ruo," ucapnya memperkenalkan diri, pembuatan Hong Di hampir menyemburkan minuman dari mulutnya.


" Apakah maksud mu Shen Guoshi Qing?" sambil menjaga jarak.


" Benar," jawab Qing Ruo dengan jujur, membuat Hong Di yang sebelumnya tampak ramah kini mulai menunjukkan sikapnya tidak bersahabat.


Qing Ruo tersenyum santai.


" Aku tidak tahu apa yang telah  dilakukan oleh leluhurku  di kawasan ini, sehingga kalian begitu membenci keturunannya. Jika tahu seperti ini, lebih baik aku hancur saja jasad itu," ucapnya pelan membuat Hong Di menjadi salah tingkah dan merasa bersalah.


Tiba-tiba tempat itu menjadi hening.


" Patriark, aku menemukan mereka bunuh diri di hadapan orang-orang klan Yin, jadi silakan pergi," ucap Qing Ruo memecah keheningan itu.


Hong Di yang masih tampak kebingungan karena sikapnya, masih terdiam dan beluk bergeming.


" Karena Anda tidak mau pergi, maka aku yang  pergi," ucap Qing Ruo sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu meninggalkan ruangan itu.


Satu menit berlalu, namun Hong Di masih belum bergerak dari tempatnya, hingga suara pelayan yang sedang berbicara di luar ruangan itu mengejutkannya.


" Tuan muda," ucapnya memanggil Qing Ruo yang telah meninggalkan tempat itu.


Dengan perasaan bersalah, Hong Di lalu meninggalkan ruangan untuk menyusul Qing Ruo.

__ADS_1


Sepanjang lorong ruangan, Hong Di terus menanyakan keberadaan Qing Ruo pada para pelayan yang ada, namun satupun dari mereka tidak ada yang melihatnya, membuatnya semakin bersalah.


" Hais, mengapa aku menjadi orang yang tidak tahu diri," batinnya sambil terus bergerak.


Tidak lama kemudian, Hong Di akhirnya tiba di pintu masuk restoran.


" Pelayan, apakah kalian melihat tuan muda yang memesan ruangan nomor sembilan sebelumnya?" sambil menjelaskan ciri-ciri Qing Ruo dengan rinci.


" Apakah maksud patriark, tidak tuan muda tampan dengan jubah putih sederhana?"


" Benar," jawab Hong Di.


" Oh, tuan muda itu sudah pergi," ucap pelayan itu dengan hormat, membuat Hong Di hanya bisa mendesah panjang.


" Terima kasih pelayan," ucapnya  lalu meninggalkan restoran tersebut.


" Mencarinya juga tidak mungkin, setidaknya aku sudah tahu dalang dari kematian Ye er," batinnya dengan perasaan yang tidak menentu sambil terus melangkahkan kakinya.


*****


Dua ratus meter dari gerbang restoran. Di tempat  persembunyiannya, Qing Ruo berdiri  ditemani Mao Tang dan Mao Lei melihat kemunculan Patriark Klan Hong tersebut.


" Penguasa, Hong Di," ucap Moa Lei menunjukkan sosok paruh baya yang terlihat sedang tergesa-gesa tersebut.


" Baik, sesuai dengan rencana kita, temui dia dan buat dia mejadi sekutu Yuan Shui," ucap Qing Ruo.


" Baik penguasa, kami mengerti," ucap Mao Tang dengan hormat.


" Baik, aku akan melanjutkan perjalanan," ucap Qing Ruo.


Qing Ruo menanggukkan kepalanya.


" Jaga diri kalian." Sambil berlalu dari tempat itu.


Setelah Qing Ruo pergi, Mao Tang dan Mao Lei lalu bergerak mendekati Hong Di yang begitu tergesa-gesa tersebut.


" Patriark," ucap Mao Tang menyapa sosok paruh baya itu dengan ramah.


" Tuan-tuan, siapa kalian?" tanya Hong Di dengan sikapnya yang kurang bersahabat.


Mao Tang dan Mao Lei lalu menunjukan  lencana emas klan Yuan.


" Patriark, kami di minta oleh Yang mulia untuk melindungi setiap patriark pilar kota Gu Lu," ucap Mao Tang menjelaskan, membuat Hong Di terdiam.


" Mengapa bisa demikian?" tanya Hong Di yang kini mulai ramah.


" Patriark, keselamatan para pemimpin klan adalah hal yang utama, terlebih lagi klan  Yin yang semakin berani, jadi Yang Mulia melakukan tindakan pencegahan ini dengan rahasia, mohon patriark untuk tidak salah paham," ucapnya Mao Lei dengan hormat.


Hong Di yang merasa sangat di rugikan  oleh klan Yin dengan kematian Hong Ye menganggukan kepalanya.


" Terim kasih tuan, jika demikian mari ikut ke klan, aku akan menunjukkan sesuatu," ucapnya dengan serius.


" Baik, Patriark," ucap Mao Tang dengan hormat, lalu mengikuti sosok itu dengan tenang.


" Saudara, sepertinya rencana penguasa berhasil," ucap Mao Tang berbicara pada Mao Lei melalui telepati.

__ADS_1


" Sepertinya demikian," ucap Mao Lei dengan gembira.


****


Di tempat lain. Qing Ruo  akhirnya  tiba di gerbang timur, lalu berbaris bersama para pengunjung lainnya yang akan meninggalkan kota itu.


Pada saat  menunggu pemeriksaan dari prajurit yang berjaga, Qing Ruo menerima pesan jiwa dari Mao Tang yang menjelaskan bahwa rencana mereka menarik kekuataan klan Hong untuk mendukung Yuan Shui  telah berhasil. 


" Setidaknya satu persatu kalan besar ikut bergabung," batinnya senang.


Tidak lama kemudian, giliran Qing Ruo pun tiba.


" Tuan muda," ucap prajurit  memanggil Qing Ruo untuk memasuki tempat  pemeriksasaan dengan ramah.


" Baik tuan," ucap Qing Ruo sambil menujukan lencana klan Hu yang dia gunakan.


" Shen Hu, ternyata perjalanan tuan muda cukup jauh," ucap prajurit itu dengan ramah.


" Aku rasa itu tidak benar, jauh itu jika aku pergi ke wilayah barat," ucap Qing Ruo yang menggunakan lencana  Klan milik Hu Yan Lan tersebut berbincang-buncang ramah.


" Silakan, tuan muda," ucap prajurit tersebut, mempersilahkan Qing Ruo dengan hormat.


" Baik tuan, terima kasih," ucap Qing Ruo dengan hormat, lalu bergerak meninggalkan tempat itu.


Satu kilo meter dari gerbang kota, Qing Ruo  lalu mengubah tampilannya dengan sosok Yin Gan sambil mempercepat pergerakannya.


" Shwus... swhus...." sosoknya lenyap dalam kegelapan malam, melesat ke arah gunung Langit Yin dengan cepat.


***


Di tempat lain.


Lima murid klan Yin yang Qing Ruo ikuti di kota sebelumnya, berjaga  di sebuah bukit kecil yang berada dua puluh  lima  kilometer  dari  kota Gu Lu.


Di balik mantra formasi ilusi, dan kegelapan malam, mereka berdiri dengan tenang, mengamati setiap pergerakan yang ada di kawasan itu dengan seksama.


" Lebih nyaman saat berjaga di kota Gu Lu, sedangkan di tempat ini, apa yang kita dapatkan," ucap seorang murid menggerutu.


" Jika tidak suka, sampaikan  saja pada senior secara langsung, jangan mengomel di belakang," ucap murid lainnya menyela dengan kesal.


Pada saat  sedang berbincang-bincang, tiba-tiba mereka melihat sosok Qing Ruo melintasi kawasan itu.


" Saudara, lihat..." menujuk ke arah Qing Ruo yang bergerak melintasi tempat persembunyiannya.


" Kejar!" ucap  pemimpin kelompok sambil bergerak menyusul Qing Ruo dengan kecepatan puncaknya


****


Di depan kelima pemuda tersebut.


Qing Ruo yang tidak mengetahui keberadaan kelima murid klan Yin yang bersembunyi di balik perisai ilusi itu, terus bergerak  dengan tenang.


Tidak lama kemudian saat memasuki kawasan terlarang sejauh sebelas kilometer,  Qng Ruo  tiba-tiba merasakan tiga kelompok aura  dari arah  yang berbeda, bergerak ke arahnya.


" Apakah ada yang  melihat  kedatanganku?" Batinnya heran sambil terus bergerak.

__ADS_1


__ADS_2