Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kalung itu?


__ADS_3

"Aku akan membantumu ke kamar mandi," ucap Jeje pada Fira. Fira yang mendapat tawaran dari Jeje pun tak bisa menolak, dia hanya mengangguk menerima tawaran Jeje.


Jeje langsung mengendong tubuh Fira ala


bridal style menuju kamar mandi. Fira yang di gendong dengan tubuh polosnya berusaha menutupi apa yang bisa dia tutupi dengan kedua tangannya.


"Untuk apa kamu tutupi?" tanya Jeje pada Fira.


Pipi Fira langsung merona, malu mendapatkan pertanyaan itu dari Jeje.


Jeje hanya mengeleng melihat rona merah yang menyembul di pipi Fira. Dia tahu wanita yang berada di gendongannya ini sangat malu.


Sesampainya di kamar mandi Jeje menurunkan Fira di bath up. "Apa perlu aku bantu untuk mandi?"


Fira yang mendapat tawaran Jeje, langsung mengeleng, dia tidak mau tubuh polosnya di lihat langsung oleh Jeje, walaupun sebenarnya Jeje sudah melihatnya.


"Baiklah, aku akan keluar, panggil aku jika kamu sudah selesai." Jeje pun memilih keluar.


***


Setelah selesai Fira manggil Jeje, dan Jeje pun membantu Fira untuk kembali ke kamar. Jeje dengan telaten membantu Fira mengeringkan tubunya, dan membantu memakaikan pakaian Fira.


"Sebaiknya besok saja kita ke pantai," ucap Jeje yang melihat Fira kesakitan.


Fira menghela nafasnya, "Apa besok akan sembuh?" tanyanya. Fira begitu takut kalau sakit yang di rasakan ini akan berlangsung lama.


"Entahlah aku juga tidak tahu."


"Kalau begini ceritanya mending tidak perlu kesini." Fira merasakan penyesalan, karena memutuskan untuk ke tempat ini, kalau pada akhirnya dia hanya bisa berdiam diri di kamar saja.


Jeje membulatkan matanya mendengar ucapan Fira. "Kenapa kamu berkata begitu sayang."


"Kalau aku tahu akan sakit, lebih baik kita melakukan di rumah saja, jadi aku tidak perlu kemana-kemana." Fira hanya tidak bisa membayangkan, mereka sudah jauh-jauh ke tempat ini, tapi tidak bisa jalan-jalan


"Jangan kesal, besok akan lebih baik, kalau pun kita tidak bisa jalan-jalan sekarang masih ada lain waktu." Jeje berusaha menenangkan Fira. Jeje tahu istrinya begitu ingin jalan-jalan, tapi dirinya juga tidak tahu, kalau Fira akan merasakan sesakit itu.


"Jangan kesal begitu." Jeje melangkahkan kaki menghampiri Fira yang duduk di tempat tidur.

__ADS_1


"Iya." Fira hanya bisa pasrah. Dirinya tidak mau membuat Jeje kecewa karena dia menyesali ke tempat ini.


Jeje yang melit wajah kesal istrinya pun menekan pipi Fira. "Mana lesung pipimu, apa dia sudah pergi?"


Fira yang mendapati Jeje menekan pipinya teringat dengan seseoarng. "Kamu sama saja dengan Adhi saja, suka sekali menekan pipiku," kesalnya mengingat adhi lah yang melakukan hal yang sama.


"Hah, apa Adhi suka menyentuhmu." pekik Jeje yang kaget Adhi melakukan hal yang sama dengannya.


"Bukan menyentuhku," elak Fira tak terima.


"Tapi dia hanya menekan lesung pipiku," lanjut Fira menjelaskan.


"Bilang pada Adhi jangan pernah melakukannya, karena hanya aku yang boleh, mengerti." Perintah Jeje tegas.


"Kenapa dia berubah menyebalkan"


"Iya." Fira tidak mau berdebat lagi dengan Jeje.


***


Hari ini sesuai janji Jeje, Jeje mengantar Fira untuk ke pantai. Jeje dan Fira tidak jadi melihat sunrise karena mereka harus bangun ke siangan, jadi di putuskan untuk melihat sunset saja di sore hari nanti.


"Apa kamu senang?" tanya Jeje saat sudah duduk di tepi pantai.


"Senang." Fira mengembangkan senyum di wajahnya, mengungkapkan rasa bahagianya.


Fira melihat kearah pantai, betapa indah pemandangan yang dia lihat sekarang.


"Apa kamu tau, dulu aku selalu merenggek pada ayah untuk mengajakku ke pantai, tapi ayah selalu beralasan Tuan muda tidak bisa di tinggal jauh, dia begitu mengutamakan Tuan muda. Awalnya aku marah, tapi aku tahu bahwa ayah menyanyanginya seperti menyanyangiku. Dan sekarang Tuan mudanya membawaku kemari." Fira menatap kosong pada langit seoalah dia merindukan ayahnya.


Jeje yang mendengar cerita Fira sedikit menyesal. Jeje ingat begitu, dulu tidak mau di tinggal oleh Pak Amin. Jeje kecil selalu merengek minta di temani. Jeje tak pernah tahu kalau ada hati yang terluka, saat ayahnya harus bersama Jeje.


"Aku akan mengembalikan waktu yang pernah aku ambil," ucap Jeje seraya mengenggam tangan Fira.


"Katakan apa yang kamu inginkan dan aku akan penuhi semua kenangan lamamu." Jeje menatap lekat kedua bola mata Fira.


"Aku hanya ingin kamu ada disisiku, dan jangan tinggalkan aku, aku tak perlu kamu mengganti waktuku yang hilang karenamu, karena ke depan akan banyak waktu untuk kita menciptakan kenangan baru," ucap Fira tersenyum lembut.

__ADS_1


Jeje hanya tersenyum dengan penuturan Fira. Dan dalam hati Jeje berjanji akan memenuhi semua keinginan Fira.


"Ayo ikut dengan ku." Jeje menarik tangan Fira lembut, mengajaknya ke suatu tempat.


"Kemana?"


"Kamu akan tahu nanti."


Jeje mengajak Fira ke suatu


tempat, dimana nanti akan terlihat sunset dengan jelas.


Mereka menunggu sunset hingga sempurna. Fira begitu senang melihat pemandangan ini yang di nanti.Warna jingga begitu indah menghiasi langit di pinggir pantai. Saat fokus melihat sunset tiba-tiba Fira melihat Jeje berlutut.


"Zhafira Maheswari, maukah kamu menemaniku menua, dan hingga mau maut memisahkan kita," ucap Jeje seraya memberi bunga dan sebuah kotak.


Fira benar-benar di buat kaget oleh aksi Jeje. Di saksikan langit yang memberi warna jingga, Jeje mengungkapkan keinginannya.


Fira tak pernah membayangkan ini. Pernikahanya yang tiba-tiba membuatnya Jeje tidak melamarnya.


"Aku mau," jawab Fira menerima bunga dari Jeje


Jeje berdiri dan membuka kotaknya yang di bawanya. Fira tercenggang melihat isi dari kotak yang di bawa jeje. "Kalung itu," ucap Fira yang mengingat kalung Jeje beli di luar negeri


"Sebenarnya ini untukmu, bukan untuk yang lain," jelas Jeje, karena setahu Fira kalung ini di beli untuk Ana.


Jeje langsung memakaikan pada Fira


"Cantik saat kamu yang memakainya," puji Jeje.


"Terimakasih."


Setelah matahari terbenam Jeje membawa Fira ke restoran di dekat pantai.


Saat berjalan ada banyak lilin disepanjang jalan yang di lalui Fira. Di ujung lampu-lampu itu ada sebuah meja dan dua kursi yang di kelilingi lilin dan obor. Di bawah kursi berhamparkan pasir pantai yang berhias bunga-bunga. Jeje pun membawa Fira duduk, dan menikmati makan malam.


"Kamu menyiapkan semua hal romantis ini?" tanya Fira.

__ADS_1


"Maafkan aku baru bisa melakukannya, harusnya ku lakukan sebelum menikah untuk melamarmu." sesal Jeje pada Fira.


"Tidak apa-apa, bagiku dulu atau sekarang sama saja." Fira tersenyum pada Jeje.


__ADS_2