Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Tuan putri


__ADS_3

Jeje yang baru kembali dari restoran langsung menuju kamar hotelnya. Hal pertama yang dia lakukan adalah, menghubungi Fira. Rasa rindunya, yang sudah tak tertahan membuatnya, tidak sabar untuk menghubungi Fira.


Mengusap layar ponselnya, Jeje mengusap nomer ponsel Fira yang tertera dengan nama 'my wife'. Melalui sambungan vidio, Jeje menyalurkan rindunya.


"Halo, sayang," sapa Jeje saat wajah Fira terlihat di layar ponselnya.


"Sayang," panggil Fira. Air mata Fira tiba-tiba mengalir di pipinya. Baru sehari dia di tinggal oleh Jeje, tapi terasa lama untuk Fira.


Jeje menarik senyum di ujung bibirnya. "Apa kamu merindukan aku?" tanya Jeje melihat Fira yang menangis. Rasanya Jeje benar-benar tidak tahan. Ingin dirinya terbang, dan memeluk Fira, saat melihat Fira menangis.


"Iya," ucap Fira seraya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Aku janji akan segera pulang, jika semua urusanku sudah selesai." Jeje mencoba menenangkan Fira.


"Iya, aku akan menunggumu." Fira mulai menampikan senyuman. Senyuman dengan hiasan lesung pipi yang selalu membuat Jeje jatuh cinta.


"Apa yang kamu lakukan hari ini di rumah ibu?"


"Tadi ibu membongkar baju-baju lama milikku. Dan apa kamu tahu, aku menemukan sepatu kecil milikku, yang di simpan ibu." Fira menunjukan di layar ponselnya, sepatu bayi yang dia dapat dari hasil membongkar barang lama milik ibunya.


"Itu warna pink, apa kamu akan memakaikannya pada anak kita?"


"Iya."


"Tapi kalau anak kita laki-laki?"


"Iya tetap akan aku pakaikan."


Jeje mengerutkan dahinya, saat mendengar ucapan Fira. "Mana bisa begitu, sayang."


"Kenapa memangnya? kamu saja kemarin memakai baju warna pink."


Fira mengerucutkan bibirnya, merasakan kekesalannya.


Jeje hanya menghela napasnya. Kalau bukan keinginan Fira yang sedang hamil, dirinya tidak akan mau memakai baju warna pink. Dan sekarang hal itu akan menimpa anaknya, jika anaknya laki-laki. "Iya, baiklah. Apa pun keinginanmu, aku setuju saja."


Fira langsung tersenyum saat mendengar ucapan Jeje. "Apa kamu sudah makan?"


"Sudah tadi di restoran di hotel."


Fira dan Jeje melanjutkan obrolan mereka. Jeje menceritakan perjalanannya kemarin, dan bagaimana lelahnya perjalanan kemarin.


"Fir," panggil Bu Ani pada Fira.


Saat Fira dan Jeje sedang asik bertukar cerita, Bu Ani memangilnya. "Sayang ibu memanggilku," ucap Fira pada Jeje.


"Ya sudah, temui dulu. Nanti aku akan menghubungi lagi."


"Baiklah." Fira pun mengakhiri sambungan vidio dengan Jeje. Meletakkan ponselnya di atas nakas, Fira keluar dari kamar.


Fira mencari ibunya, untuk menanyakan kenapa ibunya memanggilnya. Mencari ke sudut rumah, Fira menemukan ibunya di dapur. "Kenapa ibu memanggil Fira?" tanya Fira seraya melangkah ke dapur.


Bu Ani yang sedang mencuci piring, menghentikan kegiatannya, dan berbalik. "Katanya, tadi kamu mau beli susu ibu hamil. Raka sudah pulang, kamu minta tolong dia antar saja."


Fira yang terlupa untuk membawa susu ibu hamil, memang berniat untuk ke supermarket untuk membeli. "Ya, Fira coba tanyakan dulu, apakah Kak Rafa mau antar atau tidak."


Fira berlalu dan menuju kamar Raka. Mengetuk pintu kamar Raka, Fira menunggu Raka membuka pintu. Selang beberapa saat Raka membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Tuan putri?" tanya Raka seraya mengusap rambutnya yang basah sehabis makan.


Fira mencebikkan bibirnya saat Raka memanggilnya dengan sebutan Tuan putri. "Aku sudah bilang, jangan panggil aku Tuan putri. Aku sudah tidak pantas di panggil Tuan putri."


Raka langsung tertawa kecil. "Baiklah," ucap Raka. "Ada apa kamu mengetuk pintu."


"Aku ingin membeli susu, apa Kak Raka mau menemani?" Dengan ragu-ragu Fira menanyakan pada Raka.


Raka langsung mengacak rambut Raka. "Tentu saja mau," ucap Raka. "Tunggulah disini, aku akan bersiap."


Fira pun meninggalkan kamar Raka, dan menuju ke kamarnya untuk mengambil tasnya. Karena jam sudah menujukan jam enam, Fira mengambil sweater dan memakainya.


Saat Fira keluar dari kamar, sudah ada Raka yang menunggunya. "Naik apa kita?" tanya Fira pada Raka.


"Aku sudah menghubungi supir untuk menjemput kita."


Fira hanya mengangguk, dan menunggu supir Raka untuk menjemputnya.


Setelah menunggu beberapa saat, mobil yang menjemput Fira dan Raka pun datang. Fira dan Raka keluar dari rumah, dan menuju ke mobil.


"Malam, Pak," sapa Supir Raka saat membukakan pintu.


"Malam." Raka mempersilakan Fira untuk masuk, dan Raka masuk setelah Fira.


Dalam hati Fira heran, kenapa hanya seorang manager toko saja, Raka mengunakan supir. Setahu Fira, beberapa manager di kantornya lebih sering menyetir sendiri mobilnya, dari pada membayar supir.


Tapi Fira mencoba menghilangkan pikirannya. Mungkin hanya Fira saja yang tidak tahu, bahwa di luar sana banyak manager yang menyewa supir untuk kegiatan sehari-hari.


Setelah mobil sampai di parkiran supermarket, Fira dan Raka keluar dari mobil, dan melangkah menuju ke supermarket. Raka mengambil troli dan mendorongnya, beriringan dengan Fira.

__ADS_1


"Kamu mau beli apa?" Raka menanyakan agar dia tahu kemana dia akan mendorong trolinya.


"Beli susu ibu hamil," jawab Fira.


Raka seketika menghentikan langkahnya, saat mendengar Fira ingin membeli susu ibu hamil. "Kamu sudah hamil?" tanya Raka memastikan.


"Iya," jawab Fira di iringi dengan senyuman di pipinya, yang menampilkan lesung pipinya.


Raka langsung mencengkram pegangan troli, menahan keterkejutannya. Raka menyadari, bahwa Fira sudah menikah tapi tidak menyangka akan hamil secepat ini. "Selamat ya," ucap Raka.


"Terimakasih," ucap Fira. "Ayo." Fira langsung melangkah menuju lorong susu.


Mengedarkan pandangan, Fira mencari susu ibu hamil yang biasa di minumnya. "Dapat," ucap Fira saat mendapatkan apa yang di carinya.


Raka yang mendorong troli, menghampiri Fira. "Apa lagi yang ingin kamu beli?"


Fira nampak berpikir apa yang akan dia beli. "Ibu tadi memasan beberapa barang, ayo." Fira berlalu mencari barang yang di minta ibunya, sedangkan Raka mengekor di belakang Fira.


Raka hanya bisa menemani Fira memilih barang-barang. Dari lorong ke lorong, Raka mengekor Fira memilih barang. Hingga akhrinya satu troli penuh tidak terasa.


Raka menghubungi supir, untuk membantu dirinya yang membawa semua barang belanjaan milik Fira, karena jumlah barang yang di beli Fira cukup banyak.


"Apa kamu makan terlebih dahulu?"


Fira mengingat bahwa ibunya tadi memasak, dan rasanya Fira tidak tega jika harus makan di luar. "Kita makan di rumah saja ya, karena ibu tadi memasak."


Raka mengangguk, dan memerintahkan supir untuk ke rumah Bu Ani.


Sesampainya di rumah Raka di bantu supir menurunkan belanjaannya. Tampak Bu Ani mengeleng heran, melihat apa saja yang di beli oleh Fira.


Saat meletakkan barang belanjaan, ponsel milik Raka berdering. Mengangkat sambungan teleponnya. "Iya, aku akan kesana," ucap Raka saat menerima sambungan teleponnya.


"Sepertinya aku tidak bisa ikut makan malam bersama," ucap Raka menatap Fira dan bergantian menatap Bu Ani.


"Kenapa?" Fira mengerutkan dahinya, saat Raka tiba-tiba tidak ikut makan bersama.


"Ada temanku dari luar negeri datang. Jadi aku harus menemuinya."


"Pergilah, Nak," ucap Bu Ani.


Fira yang melihat ibunya mengizinkan Raka, mencebikkan bibirnya. Dia merasa sepi jika hanya makan berdua dengan ibunya saja.


"Besok aku janji, besok akan mengajakmu jalan-jalan," ucap Raka. Raka menyadari kekesalan Fira.


"Janji?" Wajah Fira yang kesal kembali, mengembangkan senyuman.


Raka pun pergi meninggalkan Fira dan Bu Ani. Dengan menaiki mobilnya, Raka di antar supir pergi menemui temannya.


Setelah Raka pergi, Fira dan Bu Ani menyiapkan makanan, dan bersiap untuk makan malam.


"Kamu sudah periksa kandungan lagi, Fir?" Bu Ani yang sedang memakan makananya, seraya bertanya pada Fira.


"Belum, Bu. Mungkin setelah Jeje pulang Fira akan memeriksakan kandungan Fira."


"Masih sering mual?"


"Nggak sih, Bu. Hanya kadang-kadang saja."


"Ibu berdoa semoga kandunganmu sehat."


"Iya, Bu. Fira berharap juga bergitu."


Setelah makan malam, Fira masuk ke dalam kamarnya. Sejenak Fira melihat ponselnya di atas nakas. Dia baru ingat, jika tadi saat dirinya pergi, dia lupa membawa ponselnya.


Seraya merangkak naik ke atas tempat tidur, Fira mengambil ponselnya. Dan alangkah terkejutnya Fira, saat ada beberapa pangilan tak terjawab dari Jeje di layar ponselnya.


Rasanya Fira merutuki kesalahannya, saat lupa membawa ponselnya. Fira tidak menyangka Jeje akan menghubunginya berkali-kali.


Fira yang melihat pesan singkat yang di kirim Jeje, menyakini bahwa Jeje pasti diliputi kekhawatiran. Karena dari pesan Jeje, menanyakan 'ada apa, kenapa kamu tidak mengangkat telepoku'. Ada juga pesan yang berbunyi 'sayang, kamu baik-baik saja kan?'.


Fira benar-benar merasa bersalah, membuat Jeje khawatir. Mengusap nomer ponsep miliknya, Fira mencoba menghubungi Jeje. Cukup lama Fira menghubungi Jeje, tapi tidak ada jawaban dari Jeje.


Karena terlalu lama menunggu sambungan telepon di angkat, akhirnya Fira merebahkan tubuhnya. Rasa kantuknya sudah menderanya, mengingat banyak kegiatan yang di lakukannya hari ini.


**


Raka yang menemui temannya, sampai di sebuah cafe. Kemacetan yang terjadi, membuat Raka sedikit lama untuk datang.


"Ka," panggi seorang pria.


"Hai, Niel." Raka menjabat tangan dan memeluk sedikit tubuh pria di hadapannya.


"Akhirnya aku bisa menemuimu juga," ucap Daniel.


"Maafkan aku, kemarin aku terlalu sibuk," ucap Raka seraya tangannya memanggil pelayan, untuk memesan minuman.


"Pengusaha muda sepertimu, memang selalu sibuk." Daniel tertawa mengoda Raka.

__ADS_1


"Semua berkat dirimu, jika tidak ada yang menampung aku di luar negeri, aku tidak akan sesukses ini." Raka menyadari bahwa selama dirinya kuliah di luar negeri, dengan bea siswa, Daniel dan keluarganya lah yang menampungnya.


"Kamu selalu merendah. Padahal semua juga usahamu." Daniel tahu pasti, bagaimana Raka berusaha menyelesaikan kuliahnya, dan membangun bisnisnya.


"Apa kamu sedang bertemu klienmu lagi?" Raka tahu, tempo hari Daniel datang untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Tapi saat Daniel ingin bertemu dengan Raka. Raka sangat sibuk, sehingga membuat dua sahabat itu tidak bisa bertemu.


"Iya, tapi rekan bisnisku sedang keluar negeri, jadi aku hanya bertemu asistennya saja." Daniel yang tadi ke kantor Jeje, hanya menemui Reza saja disana. Sedangkan Jeje, kabarnya sedang keluar negeri.


Tapi fokus Daniel bukanlah itu. Tapi fokusnya adalah tidak adanya Fira juga di kantor. Dan Daniel yakin, Fira ikut dengan Jeje ke luar negeri.


"Apa dengan asistennya saja urusanmu belum selesai?" Raka menyadari raut wajah yang berubah dari Daniel.


"Tidak, hanya saja aku tidak bertemu dengan sekertarisnya," ucap Daniel seraya menengak minumannya.


Raka mengerutkan dahinya dalam. "Apa kamu menyukai sekertaris klienmu?"


"Iya, dia cantik," ucap Daniel membayangkan wajah Fira. "Senyumannya..."


"Wah, apa sabahatku sedang jatuh cinta?" goda Raka. Senyum Raka mengembang saat mendengar cerita dari Daniel. Raka tahu, Daniel jarang memuji seorang wanita.


"Entahlah.." Daniel sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya. Mengingat Fira yang menjalin hubungan dengan Jeje, membuat Daniel bingung mendekati Fira.


"Jangan menyerah, coba dulu." Raka mencoba meyakinkan sahabatnya.


"Iya, aku akan mencoba," ucap Daniel. "Bagaimana Tuan putrimu, apa kamu sudah bertemu dengannya?"


Mendapat pertanyaan dari Daniel, Raka hanya tersenyum tipis. "Dia sudah menikah."


Raka mengingat bagaimana dirinya mengetahui Fira sudah menikah. Saat pertama kali mendarat di negera ini, Raka bertabarakan dengan seorang wanita di Bandara.


Tanpa sengaja, wanita itu menjatuhkan sebuah surat kabar. Dan saat Raka mengambilnya, Raka melihat wajah Fira terampang jelas bersanding dengan putra pemilik Nareswara Grup.


Wajah Fira yang tak banyak berubah, membuatnya mengingat dengan jelas wanita yang di cintainya dari kecil.


Bertahun-tahun tinggal di keluarga Fira. Membuatnya dekat dengan Fira, dan menumbuhkan rasa cinta. Cinta sebagai seorang pria, dan bukan cinta sebagai seorang kakak.


Walaupun Fira menganggapnya sebagai kakaknya, tapi bagi Raka, Fira adalah cintanya. Dan berharap suatu saat dia bisa meminang Fira, sebagai istrinya.


Rasanya Raka menyesali, dirinya yang terlambat datang. Dirinya yang mengejar mimpinya untuk menjadi pengusaha, membuat dirinya menunda untuk kembali ke tanah kelahiranya, dan menemui Fira.


Bergelut dengan kesediahannya, Raka memutuskan untuk urung menemui Fira. Tapi rasa rindu Raka bukan hanyalah pada Fira, melainkan Bu Ani, yang sudah di membesarkannya juga.


Dengan memberanikan diri, Raka datang ke rumah Bu Ani, untuk menemuinya. Tapi sayangnya, saat Raka datang Bu Ani sedang tidak ada di rumah.


Adik Bu Ani yang tinggal disebelah rumah, yang mengetahui bahwa dirinya adalah Raka, langsung menghubungi Bu Ani. Tapi Raka meminta untuk tidak memberitahu, bahwa dirinyalah yang datang.


Saat pertama bertemu Bu Ani, beliau tidak sama sekali mengenali Raka. Raka menyadari, perubahan tubuhnya memanglah sangat berbeda, jadi wajar saja Bu Ani tidak mengenali Raka.


Bu Ani sangat senang saat mengetahui, bahwa yang di hadapannya adalah Raka. Memeluk Raka, Bu Ani menyulurkan rasa rindunya.


Bu Ani yang sudah menganggap Raka putranya, meminta Raka untuk tinggal bersamanya. Tidak tega mendengar permohonan Bu Ani, Raka menyetujuinya.


Dan saat kemarin Raka bertemu dengan Fira. Rasanya hatinya sangat senang. Di pandangnya wajah Fira, yang sudah di rindukanya. Tapi kesadaran Raka kembali, saat mendengar Bu Ani menanyakan menantunya. Raka merasa sudah tidak punya harapan lagi, saat Fira sudah menikah.


"Apa?" Daniel merasa kaget saat tahu orang yang di cintai sahabatnya sudah menikah. "Lalu?"


"Lalu? lalu apa?" Raka bertanya kembali pada Daniel.


"Kamu akan menyerah begitu saja?"


"Pertanyaan bodoh apa yang kamu berikan? aku tidak akan merusak kebahagiaanya."


Raka yang baru saja tahu, bahwa Fira sudah hamil, meyakini jika dirinya sudah jauh dari sebuah kesempatan. Mendekati Fira sudahlah tidak mungkin untuk Raka.


"Iya, semoga kamu mendapatkan pengantinya."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Inget Ana nabrak orang di Bandara. ini dia orangnya☺️


Jangan lupa kalian like ya🥰

__ADS_1


__ADS_2