
Sesuai janji Jeje kemarin, pagi ini dia sibuk membuatkan sarapan untuk di bawa, dan di makan di dalam mobil oleh Fira.
Fira pun setia menunggu Jeje di ruang makan, seraya memainkan ponselnya. "Sayang, kenapa uang di rekeningku jadi sebanyak ini?" Tanya Fira yang melihat isi saldonya, dari internet banking di ponselnya.
Jeje yang sedang sibuk memotong buah, menolah pada Fira. "Itu uang penjualan apartemen sebelah," jelas Jeje.
"Kenapa di kasih ke aku?" tanya Fira yang di buat bingung.
"Kalau bukan aku kasih ke kamu, lalu aku kasih ke siapa?" Jeje menggeleng kepalanya, saat mendapatkan pertanyaan Fira.
"Kalau aku punya uang sebanyak ini, untuk apa aku kerja." Fira tertawa menertawakan dirinya sendiri.
"Memang siapa yang memintamu untuk berkerja? Aku bahkan bisa memberimu lebih dari yang aku berikan di rekening mu itu sekarang." Jeje yang merasakan kesal, hanya bisa menyindir Fira.
Fira yang menyadari bahwa kata-katanya di artikan lain oleh Jeje, hanya bisa menelan ludahnya kasar. Dia menyadari, menjadi istri seoarang Gajendra, dia bisa saja duduk manis dan menikmati uang suaminya. Tapi rasanya, kebosanan di rumah akan membuatnya benar-benar frustrasi.
"Kamu tahu bukan, kalau aku berkerja karena aku bosan di rumah. Tidak ada kegiatan yang aku kerjakan di rumah." Fira berdiri, dan melangkahkan kakinya menghampiri Jeje. Fira memutar tubuh Jeje, agar bisa melihat wajah suaminya itu. "Biarkan aku kerja, sampai usia kandungan ku besar," ucapnya menatap Jeje. "Anggap saja itu alasan agar aku selalu bisa dekat dengan mu." Fira tersenyum, malu-malu menampilkan lesung pipinya. Fira mencoba meyakinkan Jeje untuk mengizinkan dirinya tetap berkerja di kantor Jeje.
Tak ada yang bisa mengalahkan pesona Fira di mata Jeje. Baginya wanita di hadapannya ini, punya sejuta cara untuk membuatnya luluh. "Baiklah." Dalam hati Jeje, tidak ada salahnya jika Fira berada di kantornya. Lagi pula itu cara tepat untuk menjaga Fira.
"Ayo bersiap," ucap Jeje mencubit hidung Fira.
Akhirnya mereka berdua bersiap menuju kantor. Dalam perjalanan ke kantor, Fira memakan bekal yang di buat oleh Jeje. Dengan lahap Fira memakan buah potong, dan roti dengan selai strawberry di dalamnya. Tak lupa susu ibu hamil, yang segaja di buat Jeje hangat, di minum oleh Fira.
Sesampainya di kantor, Fira dan Jeje memulai perkerjaanya masing-masing.
**
Saat jam kerja berakhir, Fira bersiap-siap untuk pulang. Setelah di rasa perkerjaan sudah selesai, dan memastikan mejanya sudah rapi , Fira menuju lobby untuk menunggu Adhi dan Zara datang.
Tadi siang, Fira menghubungi Zara untuk mengajaknya jalan-jalan, karena Jeje ada jadwal untuk bertemu klien sore ini. Fira memilih mengunakan waktu untuk bertemu temannya, dari pada menunggu di apartemen sendiri.
Tapi karena Jeje melarang Fira untuk naik motor dengan Zara. Akhirnya Jeje meminta Adhi, untuk menemani Fira dan Zara jalan-jalan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Zara, saat Fira masuk ke dalam mobil.
"Belum."
"Kita mau kemana Nona-Nona?" tanya Adhi mengoda penumpang yang duduk di kursi belakang.
"Kita Nona dan Nyonya, Pak!" seru Fira membalas godaan Adhi.
Adhi tertawa saat dia salah menyebutkan panggilan untuk Fira. "Baiklah Nyonya Gajendra, sekarang kita menuju kemana?"
"Kita ke mall saja, Pak," ucap Fira seraya menepuk kursi belakang kemudi.
"Baik." Adhi pun menginjak pedal gasnya, dan melajukan mobilnya, menuju mall yang biasa mereka kunjungi.
Sesampainya di mall, Fira dan Zara berkeliling-keliling mengunjungi beberapa toko yang terdapat di mall. Sedangkan Adhi, mengekor di belakang mereka berdua.
"Dari tadi aku melihat, kalian hanya masuk ke dalam toko, melihat-lihat dan keluar tanpa membeli apa-apa. Sebenarnya apa yang kalian cari?" Adhi yang sudah lelah menemani dua wanita di hadapannya, sudah kehilangan kesabarannya. Bagaiamana tidak kesabaranya hilang, jika dia melihat Fira dan Zara hanya berjalan-jalan tanpa membeli apa pun.
Fira dan Zara tergelak saat mendengar ucapan Adhi. "Kami hanya ingin mengingat masa-masa kuliah. Dulu aku dan Zara tidak pernah bisa membeli apa pun, saat berada di mall, karena kami tidak punya cukup uang. Dan sekarang kami ingin mengulangnya," jawab Fira menjelaskan.
"Tapi bukannya sekarang Nyonya Gajendra memiliki banyak uang. Kenapa harus mengulang kegiatan yang melelahkan ini," keluh Adhi seraya memberi sindiran untuk Fira. Adhi tahu pasti, menjadi istri Jeje, uang adalah hal mudah untuk Fira.
"Aku bisa saja membeli apa yang berada disini, tapi aku tidak pernah membeli sesuatu yang tidak aku butuhkan." Fira yang terbiasa menghargai uang, tidak pernah membiarkan dirinya tergoda membeli sesuatu yang menurutnya memang tidak perlu.
"Iya," jawab Adhi mengalah. Dia memang sudah kenal Fira sejak lama. Jadi bukan hal baru Adhi melihat Fira berhemat.
"Lagi pula, kita kesini untuk jalan-jalan. Memangnya aku bilang kesini mau beli-beli," sindir Fira pada Adhi.
Adhi hanya bisa membulatkan matanya. Dia tidak menyangka Fira menjadi semenyebalkan ini. Atau mungkin dia baru menyadari, saat dirinya sudah tidak menaruh hati pada Fira.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita makan saja, mungkin Adhi laper fir, jadi bawaannya marah-marah," potong Zara.
"Siapa yang marah ra?" tanya Adhi yang tidak terima.
"Ayo," ucap Fira menarik lembut tangan Zara, dan meninggalkan Adhi.
Rasanya kepala Adhi berdenyut, menghadapi dua wanita yang bersamanya. Dia hanya bisa pasrah, dan mengekor di belakang Fira dan Zara.
Fira dan Zara memilih-milih restoran untuk mereka makan. Dan saat pilihan mereka sudah dapat. Mereka berbelok masuk ke dalam restoran.
"Aku ke toilet dulu ya," ucap Adhi pada Fira dan Zara, saat melihat Fira dan Zara sudah mendapatkan restoran yang mereka inginkan. Dan Adhi mendapatkan anggukan dari Fira dan Zara sebagai jawaban.
Fira dan Zara pun masuk ke dalam restoran. Tapi saat mereka masuk, mereka berpapasan dengan seorang wanita dan seorang pria, yang hendak keluar.
"Fira, Zara," ucap Celia saat melihat Fira dan Zara bersamaan. " Kalian saling kenal?" Tanyanya heran saat melihat Fira dan Zara bersamaan.
"Iya kami teman kuliah," ucap Fira tersenyum pada Celia.
"Wah dunia sempit banget ya. Tenyata aku mengenal dua sahabat." Celia tertawa mengingat, bahwa dia mengenal Fira dan Zara dengan cara berbeda.
__ADS_1
Mendengar ucapan Celia, Fira dan Zara pun ikut tertawa.
"Kamu baru selesai makan?" Tanya Zara pada Celia.
"Iya, kami baru saja selesai makan," ucap Celia. "Oh ya kenalkan ini sahahatku, Daniel." Celia memperkenalkan temannya pada Fira dan Zara.
"Daniel," ucap pria itu pada Zara, seraya mengulurkan tangannya.
"Zara." Zara pun menerima uluran tangan Daniel.
Daniel pun beralih pada Fira, dan mengulurkan tanganya. Bola matanya yang berwarna biru, menatap lekat wajah Fira.
"Fira," ucap Fira tersenyum seraya menerima uluran tangan Daniel.
"Daniel," ucapnya menyebutkan namanya. Daniel yang melihat lesung pipi, yang terlihat saat Fira tersenyum, langsung terpesona. Rasanya dia melihat kecantikan alami dari wanita di hadapannya.
"Kami duluan ya," ucap Celia sesaat setelah Daniel berkenalan dengan Zara dan Fira.
"Iya silakan," Fira mempersilakan Celia dan Daniel untuk kembali lebih dahulu.
Celia dan Daniel melangkah keluar dari restoran dan menuju parkiran mobil.
"Kamu kenal mereka dimana?" tanya Daniel pada Celia.
"Fira dan Zara maksudmu?" tanya Celia memastikan.
"Iya."
"Kalau Zara aku bertemu saat dia bersama sepupu ku. Sedangkan Fira, dia tetangga apartemen ku," ucap Celia pada Daniel.
Daniel yang mendengar ucapan Celia mengangguk mengerti.
"Tapi apa kamu tahu? Sepertinya Fira itu selingkuhan seseorang atau mungkin simpanan pria hidung belang," ucap Celia pada Daniel.
Daniel menautkan kedua alisnya. Rasanya dia begitu kaget mendengar ucapan Celia. "Kenapa kamu mengatakan seperti itu?"
"Kamu bayangkan saja, dia berkerja hanya sebagai sekertaris. Dan dia tinggal di apartemen ku, yang begitu mahal harganya. Kamu tahu sendiri bukan, aku saja harus menguras isi tabunganku, untuk membeli apartemen itu," jelas Celia pada Daniel.
Perasaan tidak percaya masih menyelimuti pikiran Daniel. Dia melihat dengan jelas, wajah polos Fira, dan tidak yakin Fira melakukan hal itu. "Mungkin dia punya alasan untuk menerima menjadi simpanan atau selingkuhan seseorang," ucapnya membela.
"Alasan?" tanya Celia. "Apa lagi jika bukan uang." Celia langsung tertawa saat mengatakan uang menjadi alasan Fira.
"Sayang sekali, jika wanita secantik itu melakukan hal seburuk itu hanya demi uang," batin Daniel.
**
"Kamu bertemu Celia dimana?" tanya Zara pada Fira.
"Dia tetangga baruku. Dia orang yang membeli apartemen milik Jeje," jelas Fira. "Kamu sendiri, bagaimana kamu mengenalnya?"
"Waktu itu aku bertemu saat makan bersama Atta."
"Apa dia salah satu pacar Atta?" tanya Fira yang ingin tahu.
"Tadinya aku pikir begitu. Tapi ternyata dia sepupu Atta," jelas Zara.
Mendengar bahwa Celia adalah sepupu Atta, kedua bola mata Fira membulat sempurna. Dia mengingat cerita Jeje yang menabrak sepupu Atta, hingga membuat wangi parfum sepupu Atta, menempel di baju Jeje.
Seketika Fira juga mengingat, bagaimana dia mencium aroma parfum yang sama sewaktu di dalam lift. Dan ternyata dugaannya benar, jika parfum milik Celia dan parfum yang menempel di baju Jeje sama.
"Kamu kenapa?" tanya Zara yang melihat Fira melamun.
"Tidak," ucap Fira. "Aku hanya berpikir, ternyata yang membeli apartemen Jeje adalah sepupu Atta sendiri," ucapnya pada Zara.
"Mungkin Celia mengetahui dari Atta, kalau Pak Gajendra mau menjual apartemennya," ucap Zara.
Fira hanya mengangguk membenarkan, bagaimana bisa sepupu Atta yang membeli apartemen Jeje. Tapi Fira masih merasa aneh saat Jeje tidak menceritakan, bahwa apartemennya di beli oleh sepupu Atta.
Setelah Adhi datang, mereka bertiga makan bersama.
"Oh ya dhi, kamu pakai parfum apa?" tanya Fira pada Adhi.
"Kenapa memangnya?" Adhi menautkan alisnya dan bertanya.
"Aku rasa, aku akan meminta Jeje untuk memakai parfum seperti milikmu. Karena aku tidak mual saat mencium parfum milikmu," jelas Fira.
Adhi langsung tertawa saat mendengar ucapan Fira. " Kamu yakin Bang Jeje akan mau?" tanya Adhi memastikan pada Fira. Adhi tahu betul, bagaiamana seorang Gajendra. Adhi yakin Jeje tidak akan mau memakai parfum miliknya.
"Ya, kalau aku yang minta, dia tidak akan menolak," ucap Fira.
"Suruh dia menghubungi aku, untuk tahu parfum apa yang aku pakai." Adhi pun tidak menyia-nyiakan kesempatan mengoda Jeje. Dia sudah bisa memastikan, akan sulit jika Jeje harus menanyakan sendiri padanya.
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah mereka bertiga makan, Adhi mengantar Fira untuk ke apartemennya.
**
Sesampainya di apartemen Fira berlalu ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Rasa lelahnya, terobati saat tubuhnya masuk ke dalam bathup. Aroma bunga lili membuatnya merasa begitu nyaman.
Tapi saat dia sedang asik menikmati berendam. Fira mendengar pintu kamar mandi di ketuk. Sayup-sayup Fira mendengar suara Jeje dari balik pintu. Dan akhirnya Fira memilih mengakhiri acara berendamnya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Fira yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya," ucap Jeje mendekat dan mendaratkan kecupan di bibir Fira. Jeje pun langsung berlalu ke kamar mandi, bergantian dengan Fira.
Saat keluar dari kamar mandi, Jeje melihat Fira yang sedang duduk bersandar di tempat tidur. "Bagaimana jalan-jalannya tadi?" tanya Jeje seraya melangkah menuju lemari, untuk menganti pakaian.
"Hanya jalan-jalan dan makan saja," ucap Fira.
Jeje yang sudah selesai memakai baju pun, melangkah menyusul Fira di tempat tidur. Mendudukkan tubuhnya di tempat tidur, dan bersandar seperti yang di lakukan Fira.
Fira yang melihat Jeje duduk bersandar pun langsung mendekat pada Jeje, menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Jeje. Jeje yang melihat Fira sudah di dadanya, memeluk, dan membelai lembut rambut Fira.
"Oh ya, kenapa kamu tidak bilang kalau yang membeli apartemen mu adalah sepupu Atta," ucap Fira yang mengingat perbincangan tadi sore dengan Zara di restoran.
Jeje langsung membulatkan matanya sempurna saat mendengar ucapan Fira. "Apartemen mana maksud kamu?" tanyanya memastikan.
"Ya apartemen sebelah lah. Memangnya apartemen mana lagi," ucap Fira sedikit menyindir.
Jeje yang mencerna dengan baik, semua ucapan Fira. Dia benar-benar merasa kaget, saat tahu bahwa Celia lah yang membeli apartemennya. "Aku benar-benar tidak tahu kalau sepupu Atta yang membelinya, karena semua Reza yang mengurus," jelas Jeje.
"Aku pikir kamu sengaja menjual pada sepupu Atta."
"Kalau aku tahu Celia yang membelinya. Aku tidak akan mengizinkannya," batin Jeje. Jeje benar-benar merasa sangat menyesal, tidak mengecek siapa pembeli, yang membeli apartemennya.
"Bagaimana kamu tahu bahwa dia sepupu Atta?" Dan bagiamana kamu bisa mengenalnya?" tanya Jeje penuh curiga.
"Waktu aku di apartemen sendiri, aku melihat dia sewaktu mengambil pesanan makanan, dan akhirnya kami berkenalan. Dan tadi aku baru tahu, saat aku dan Zara bertemu di restoran. Zara yang mengatakan bahwa Celia adalah sepupu Atta." Fira menjelaskan pada Jeje. "Dunia sempit ya, aku berkenalan dengan sepupu Atta, dan baru mengetahuinya setelah sekian lama," Fira tertawa mengingat kebetulan itu.
"Kamu benar, dunia memang begitu sempit, hingga dia harus membeli apartemen milikku," batin Jeje kesal.
"Kamu tahu, waktu aku bertemu Celia di lift. Aku mencium parfum milik Celia, sama dengan parfum yang menempel di bajumu. Tadinya aku mengelak pikiran ku, bahwa kalian mungkin kenal. Tapi ternyata aku salah, dan ternyata parfum milik Celia lah yang menempel di baju mu." Fira masih tertawa mengingat dugaan konyolnya, yang mengira Jeje mengenal Celia. Tapi ternyata Jeje memang benar mengenalnya.
Jeje yang mendengar masalah parfum yang menempel di bajunya langsung teringat kejadian malam itu. Dia berpikir untuk mengatakan semua pada Fira. Menceritakan masa lalu seperti apa antara dirinya dan Celia. Jeje tidak mau masalah Celia, menjadikan salah paham di kemudian hari antara dirinya dan Fira.
Tapi belum sempat Jeje mengatakan apa-apa Fira langsung melepas pelukkannya dan menatap Jeje. "Oh ya, tadi aku mencium parfum milik Adhi," ucap Fira mengingat aroma parfum Adhi yang tidak membuatnya mual.
Jeje yang mendengar Fira mencium parfum milik pria lain, langsung menajamkan pandanganya. "Untuk apa kamu mencium parfum milik Adhi?" tanya nya tidak terima.
Fira merutuki kesalahannya saat berucap pada Jeje. "Bukan mencium, tapi tercium," elak Fira.
"Sama saja," jawab Jeje ketus.
"Bedalah," elak Fira. "Kalau tercium, dari kejauhan aroma parfum terasa oleh indera penciuman kita," jelas Fira seraya menjauhkan tubuhnya. "Tapi kalau mencium, itu seperti ini." Fira yang berucap seraya mendekatkan tubuhnya. Mengendus tubuh Jeje dari dada menuju leher Jeje. Perlahan Fira menghirup aroma tubuh Jeje.
Jeje yang mendapati Fira yang mendekat, dan menciumnya hingga lehernya, memejamkan matanya. Menikmati sensasi nafas Fira yang menghembus tepat di kulitnya.
Tapi kenikmatan itu seketika berhenti saat Fira menjauhkan tubuhnya. "Kenapa berhenti?" tanya Jeje yang melihat Fira menghentikan aksinya menciumi leher Jeje.
"Aku hanya mencontohkan," ucap Fira dengan senyum licik. Fira tahu bahwa Jeje sudah mulai menegang saat dia mendekat.
"Ayo lanjutkan lagi," ucap Jeje seraya menarik tubuh Fira lembut.
"Janji dulu, kalau kamu mau menganti parfum milik mu dengan parfum milik Adhi," ucap Fira merengek.
Jeje tersentak saat mendengar ucapan Fira. Ternyata inti dari pembicaraan Fira dengan dirinya adalah, untuk meminta dirinya menganti parfum miliknya dengan milik Adhi.
Jeje melepas tangannya yang mencoba menarik tubuh Fira. Dia mulai berdiri, dan melangkah menuju meja rias. "Apa kamu tahu ini parfum mahal?" Dan kamu memintaku menganti dengan parfum milik Adhi?" Tanyanya sarkastik pada Fira.
Mungkin seperti inilah Jeje memerkan parum mahal milkknyağŸ¤
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa berikan like dan vote🥰
Mampir juga ke karya lain ku, dan instagram aku Myafa16