Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kamu harap aku


__ADS_3

Saat Fira masih di liputi beribu pertanyaan, sampai penghulu mengucapkan selamat pun Fira hanya mengangguk-angguk. Memasang senyum yang di paksakan.


"Selamat ya Je," ucap Nyonya Inan seraya memeluk Jeje. Dan seketika membuat Fira terperagah, rasanya Fira tidak percaya apa yang di lihatnya di depannya.


"Terimakasih ma," ucap Jeje dengan senyum mengembang.


Nyonya Inan beralih pada Fira, dan tersenyum manis pada Fira.


"Nyonya," ucap Fira.


"Mama dong sayang," ucap Inan yang membenarkan panggilan Fira.


"Selamat ya sayang atas pernikahan kamu," ucap Inan seraya memeluk menantunya.


"Maafkan mama selama ini ya fir, mama sudah berusaha memisahkanmu dengan Jeje," ucap Inan masih dalam pelukan Fira, dan mulai menangis.


Fira benar-benar tidak menyangka mendapat permintaan maaf dari mama Jeje, dan saat Fira mendengar mama Jeje menangis dia meyakini, bahwa permintaan maafnya benar-benar tulus dari hati, "Iya ma, Fira sudah maafkan," Fira mencoba menenangkan.


"Mama senang sekarang kamu sudah jadi menantu mama," ucap Inan dengan senyum bahagia seraya melepas pelukan.


"Ya ma" jawab Fira dengan senyum, walaupun semua masih membuatnya bingung, melihat mama Jeje begitu bahagia, Fira juga ikut bahagia.


Selanjutnya Bu Ani menghampiri Fira dan memeluk putrinya. "Selamat ya Nak, semoga cinta kalian abadi sampai maut memisahkan." Doa terpanjat dari Bu Ani, untuk putrinya. Bu Ani merasa sangat senang, saat putrinya sudah bisa menikah dengan orang yang begitu di cintainya.


"Bu.." Fira memanggil dengan sorot mata bertanya, dan Fira tahu ibunya mengetahui semuanya.


Bu Ani yang memahami sorot mata putrinya yang masih di liputi kebingungan, akhirnya dia mencoba menjelaskan. "Nyonya Inan sudah melamarmu, sebelum pernikahan ini Nak. Dia datang ke luar negeri untuk memintamu menjadi menantunya. Ibu pun menerimanya karena Ibu tahu, kamu mencintai Jeje. Inilah takdirmu sayang, takdir cinta kalian."


Fira hanya memikirkan kapan Nyonya inan datang, kenapa ibunya baru mengatakan sekarang, terus kenapa Jeje tidak mengatakannya, pertanyaan itu melintas di pikiran Fira.


"Sudah jangan di pikirkan, yang penting kamu sudah menikah dengan Jeje." Bu Ani mengakhiri pikiran Fira yang di penuhi pertanyaan.


Setelah Bu Ani pergi, Fira beralih menatap pada Jeje. Dari sekian orang yang harus menjelaskan semua ini adalah Jeje. Jeje yang memahami isi fikiran Fira hanya bisa berbisik, "Aku akan jelaskan nanti sayang, pasanglah senyum manismu dulu, dan nikmati pesta kita."


Mendengar ucapan Jeje sebenarnya Fira merasa kesal, bagaimana dirnya bisa menikmati, jika dia masih di penuhi kebingungan.


"Fira," teriak sesorang.

__ADS_1


Fira tahu betul pemilik suara siapa itu, dan sesuai dugaan Fira, pemilik suara itu adalah Zara.


Zara menghampiri Fira, dan langsung memeluknya, "Selamat ya, akhirnya kamu menikah dengan Presdir. Aku sangat senang kamu bisa menikah dengan orang yang kamu cintai."


"Terimakasih."


Zara pun melepas pelukannya, "Tidak sia-sia aku tutup mulut selama ini," ucap Zara yang langsung menutup mulutnya dengan tangan saat dia tidak sengaja mengatakan kalimat itu.


Jeje yang samping Fira yang menatap tajam pada Zara, dia begitu kesal mendengar Zara mengucapkaan kalimat itu di depan Fira.


Fira membulatkan matanya saat Zara mengatakan selama ini sudah tutup mulut, "Apa kamu tau semua ini?" tanya Fira pada Zara.


Zara begitu bingung mendapat pertanyaan dari Fira, "Nanti biar Pak Presdir yang jelasin aja," Zara berucap seraya melirik pada Jeje, "Sekarang tersenyumlah jangan memasang wajah kaget terus," pinta Zara pada Fira.


Fira beralih dengan orang yang berdiri di samping Zara. "Hai, selamat ya atas pernikahanmu," Adhi mengulurkan tangannya memberi ucapan selamat kepada Fira.


Fira menatap Adhi seoalah masih tidak percaya bahwa bukan Adhi yang menikah dengannya. Fira mengingat bagaimana kemarin dia nampak seperti pahlawan yang akan membawa Fira ke pelaminan. Tapi nyatanya bukan dia yang menikah dengan Fira.


"Apa kamu berharap aku yang akan menikahimu" goda Adhi pada Fira, yang menatapnya seoalah meminta penjelasan.


"Jangan mengoda istriku," potong Jeje sinis sebelum Fira menjawab apa pun.


"Apa kamu ingin membuat Fira marah dengan mengadu padanya?" tanya Jeje tajam.


"Tanpa aku mengadu, aku pastikan dia akan marah padamu Bang, karena semua rencanamu ini," Adhi tertawa terbahak.


"Aku pergi dulu ya, selamat sekali lagi," Adhi pun berlalu meninggalkan Fira dan Jeje.


Fira yang mendengar ucapan Adhi, langsung menatap tajam pada Jeje seoalah meminta penjelasan. Fira masih berfikir rencana apa sebenarnya yang di katakan Adhi.


Jeje yang melihat Fira menatap tajam padanya, tahu Fira kesal, dan meminta penjelan darinya, "Aku janji akan jelaskan nanti setelah acara," Jeje mengenggam tangan Fira menyangikan, "Jadi sekarang tersenyumlah sayang," pinta Jeje pada Fira.


"Apa kamu tidak senang dengan pernikahan ini?" Jeje berucap seraya mencium tangan Fira.


"Aku bahagia je, tapi aku bingung," ucap Fira manatap lekat pada Jeje.


"Aku tahu, tapi aku mohon, aku ingin melihat wajah cantikmu tersenyum di hari pernikahan kita."

__ADS_1


Fira akhirnya tersenyum setelah mendengar permintaan Jeje. Harusnya dirinya memang tersenyum di hari pernikahan, karena bisa menikah dengan orang yang di cintainya.


Saat mereka berdua senang menyalami beberpa tamu, Daffa dan Atta menghampiri Jeje dan Fira.


"Selamat ya bro," Atta dan Daffa mengulurkan tangan bergantian pada Fira dan Jeje.


"Terimakasih," ucap Jeje.


"Terimakasih kak," ucap Fira tersenyum.


"Akhirnya pejuang cinta memenangkan pertaruhan cintanya, sepertinya aku harus belajar banyak soal cinta darimu," goda Atta pada Jeje.


"Cinta perlu perjuangan bro," timpal Daffa mengoda Jeje.


"Aku tak habis fikir seoarang Gajendra akan jadi budak cinta," bisik Atta pada Daffa.


Fira dan Jeje hanya menanggapi dengan senyuman ulah teman-teman Jeje.


***


"Hai, kita ketemu lagi," sapa Atta pada Zara.


Zara yang mendengar anda yang menyapanya menoleh, dan di dapati pria yang pernah menumpahkan minuman padanya waktu di acara pertunangan Jeje dan Ana. "Hai," sapa balik dari Zara.


"Sepertinya kita belum pernah berkenalan," Atta mengulurkan tangannya pada Zara, "Atta," ucapnya menyebut namanya.


Zara yang melihat seorang pria asing mengulurkan tangan, merasa tidak enak, akhirnya dia menerima uluran tangannya juga, "Zara."


"Ternyata kamu teman Fira ya?"


"Iya, aku teman kuliahnya."


"Berarti kita sama ya, kamu teman Fira, dan aku teman Jeje," Atta tertawa mengingat kebetulan ini.


"Oh dia teman Pak Gajendra."


"Apa kamu kemari bersama Adhi?" Atta yang dari tadi melihat Zara selalu bersama Adhi menebak.

__ADS_1


"Iya, aku kesini bersama Adhi," ucap Zara, " Kalau begitu permisi dulu." Zara pun berlalu.


Atta melihat Zara pergi hanya tersenyum melihatnya.


__ADS_2