
Hari ini sesuai yang Fira dan Jeje rencanakan, mereka akan kerumah Mama Inan. Fira ingin mengantarkan oleh - oleh sekalian menginap dirumah mama Inan, karena sejak menikah dua minggu yang lalu Fira dan Jeje belum kerumah mamanya.
"Anak mama kesini," ucap Mama Inan yang melihat Jeje dan Fira baru masuk ke dalam rumah.
"Iya ma, maaf baru sempat kemari," ucap Fira seraya memeluk mama Inan.
"Jeje sibuk ma," jawab Jeje pada mamanya.
"Ya sudah, kalian bersih-bersih dulu ya, habis itu kita makan."
Jeje dan Fira berlalu ke kamar Jeje, setelah mamanya meminta untuk membersihkan diri.
Fira membuka kamar Jeje, kamar dengan nuansa hitam dan putih yang terlihat oleh Fira. Aroma maskulin masih terasa, walau sudah cukup lama di tinggal pemiliknya.
Seketika Fira mengingat kamar ini, kamar yang menjadikan pertemuan pertamanya dengan Jeje. Pertemuan awal yang membuatnya terpesona akan ketampanan seorang Gajendra Nareswara.
"Kamu kenapa?" Tanya Jeje seraya memeluk Fira dari belakang.
"Aku hanya mengingat pertemuan pertama kita," ucap Fira tersenyum membayangkan pertemuan pertamanya dengan Jeje.
"Memang apa yang kamu ingat?" Tanya Jeje, seraya mencium ceruk leher Fira.
"Mengingat kamu yang keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk." Fira sedikit tertawa mengingatnya.
"Oh ya, apa kamu terkejut?"
__ADS_1
"Jelas aku terkejut, itu untuk pertama kalinya melihat perut kotak-kotak seorang pria secara langsung, biasanya aku hanya melihat dari majalah atau iklan saja."
"Apa kamu terpesona?"
"Bagaimana aku bisa terpesona, belum sempat aku melihat, aku sudah berbalik karena kamu marah-marah." Fira mengucapkan dengan sedikit kekesalan, mengingat pertama kali bertemu Jeje sudah marah-marah.
"Maafkan aku," pinta Jeje dan Fira mengangguk.
"Aku akan mengantinya kejadian itu dengan tidak marah-marah lagi," ucap Jeje dengan semangat.
Kening Tira berkerut tidak mengerti apa yang di katakan Jeje. "Maksudnya?" Tanya Fira.
"Kalau yang yang pertama kamu ke kamar ini melihatku hanya dengan handuk aku marah-marah, kali kedua ini dengan suka rela aku akan memperlihatkannya tanpa marah," seragai licik dari Jeje.
"Dan disini, untuk kedua kalinya akan aku memberikan bonus melihat tanpa handuk," goda Jeje seraya mengendong Fira ala bridal style.
"Ah..." teriak Fira yang kaget di gendong oleh Jeje. "Kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Fira panik.
"Mandi." Jeje dengan mengedipkan mata.
"Nggak, aku nggak mau. Ini dirumah mama sayang, jangan begini." Fira merasa tidak enak saat di rumah mamanya Jeje melakukan perkerjaannya.
"Mama juga ngerti kok."
"Tapi nanti mama nunggu lho, kamu kan lama kalau mandi seperti ini." Fira memberikan alasan lagi pada Jeje.
__ADS_1
"Ya aku janji sebentar," ucap Jeje sudah menurunkan Fira di kamar mandi.
Setelah perdebatan mereka, akhirnya Fira mengalah. Karena Fira tahu, dia tidak akan menang untuk melawan keinginan Jeje.
**
"Sudah jangan cemberut seperti itu," ucap Jeje sesaat selesai melakukan pekerjaannya.
Fira yang kesal karena janji Jeje yang sebentar berubah jadi lebih lama, membuat jari-jari Fira mengerut karena terlalu lama berendam di dalam bathtub.
Jeje yang menyadari kekesalan istrinya, mulai mendekati Fira yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
"Kenapa nggak kelihatan," ucap Jeje yang menekan pipi Fira dari belakang.
Fira yang melihat dari pantulan cermin, langsung tertawa melihat ulah Jeje yang menekan pipinya.
"Aku sudah bilang berapa kali, tidak akan kelihatan walau kamu menekannya," ucap Fira tertawa dan langsung menunjukan lesung pipinya.
"Caranya memang tidak bisa membuat lesung pipimu terlihat, tapi hasilnya tetap akan terlihat," ucap Jeje mencium rambut Fira.
"Jangan marah lagi." Jeje mengulang kata-katanya dan Fira mengangguk.
"Ayo mama sudah menunggu," ajak Jeje.
Fira berdiri, dan Jeje mengandeng Fira keluar menuju meja makan.
__ADS_1