Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Menjadi sarang semut


__ADS_3

Sesuai jadwal hari ini Adhi dan Zara akan ke kantor Jeje, untuk menyiapkan berkas yang akan di bawa ke luar negeri, dua hari lagi.


Sebagai pasangan kekasih, Adhi dan Zara bersikap profesional. Di kantor mereka bersikap selayaknya atasan dan sekertaris, dan tidak mencampurkan urusan perasaan di dalamnya.


"Kamu sudah bilang sama ayah kalau kita akan ke luar negeri?" tanya Adhi.


"Sudah."


Mendengar bahwa Zara sudah izin dengannya, Adhi merasa senang. Adhi menantikan hari dimana dirinya akan mengenalkan Zara kepada mamanya. Dan dirinya benar-benar menantikan hari itu.


Keluar dari lift Adhi dan Zara berjalan beriringan, menuju ke ruangan Jeje. Tapi sebelum sampai di ruangan Jeje, mereka lebih dulu melewati meja kerja Fira.


"Hai fir," sapa Zara pada Fira, yang sedang sibuk dengan laptopnya.


Fira menengadah saat suara yang terdengar renyah terdengar olehnya. Fira sudah menebak bahwa itu adalah suara dari Zara. "Kalian sudah datang," ucap Fira.


"Iya, kami baru saja datang, dan kamu tidak menyadari kedatangan kami," ucap Zara, sedikit menyindir Fira.


"Iya, tadi ada yang aku kerjakan." Fira yang tadi di minta Jeje untuk menyiapkan beberapa berkas, fokus pada laptopnya. Hingga saat Adhi dan Zara datang dia tidak menyadari.


"Apa istri Presdir memiliki perkerjaan yang banyak?" Dengan senyum di wajahnya, Zara mengoda Fira.


Fira menatap Zara tajam, sebenarnya semenjak dirinya berkerja, baru kali ini ada perkerjaan yang benar-benar dia kerjakan. Mungkin karena tidak adanya Valeria, jadi Jeje memintanya menyiapkan berkas. "Jangan mengodaku. Aku hanya seketaris cadangan disini. Saat ada Valeria, dia akan mengerjakan semua. Dan aku akan mengerjakan hal-hal kecil saja."


"Aku juga heran denganmu, sebagai istri Presdir, harusnya kamu duduk manis saja di rumah, menikmati menanti suami pulang ke rumah." Zara sudah lama sekali tidak mengoda Fira. Sudah dua hari dia bertemu dengan Fira, dan rasanya dia merindukan masa-masa itu.


Wajah Fira seketika berubah saat mendengar ucapan Zara. Dia teringat dengan pembicaraan dengan mertuanya, beberapa hari yang lalu, yang memintanya untuk berhenti berkerja. "Aku sedang memikirkan hal itu. Mungkin setelah kalian pergi ke luar negeri, aku akan berhenti."


Zara yang berniat mengoda merasa tidak enak. "Maaf kalau aku menyingung kamu, fir," ucap Zara.


Fira hanya tersenyum kembali, saat melihat Zara yang merasa bersalah. "Memang aku sudah berniat, ra. Jadi jangan merasa bersalah."


Zara merasa lega saat ucapannya tidak menyakitkan Fira. "Apa pun keputusanmu, semoga menjadi yang terbaik untukmu."


Fira mengangguk saat mendengar ucapan semangat dari Zara.


"Sudah-sudah, ayo, masih banyak perkerjaan yang harus kita lakukan." Adhi yang dari tadi melihat adegan dua wanita di hadapannya, mencoba mengakhiri semua.


"Ayo masuk, Jeje sudah menunggu." Fira berdiri, melangkah mengantarkan Adhi dan Zara, untuk masuk ke dalam ruangan Jeje. Setelah mengetuk pintu, Fira meraih handle pintu dan mendorongnya. Saat Fira masuk, nampak Jeje sedang mengerjakan perkerjaannya di depan laptopnya.


"Kalian sudah datang," ucap Jeje. Jeje berdiri dan menghampiri Adhi, Zara serta istrinya.


"Iya Bang, baru saja." Adhi menjabat tangan Jeje, saat Jeje menghampirinya.


"Silakan duduk." Jeje melangkah ke arah sofa, seraya mempersilakan untuk duduk.


Setelah mereka semua siap, mereka melanjutkan menyiapkan berkas-bekas yang akan di siapkan untuk di serahkan pada Tuan Edward.


**


Sampai jam istirahat tiba, Adhi, Jeje, Zara dan Fira, masih bergelut dengan perkerjaannya. Jeje dan Adhi yang masih sibuk, akhirnya meminta Fira dan Zara untuk istirahat terlebih dahulu. Dan mereka akan menyusul setelah, mereka membahas beberapa hal.


Akhirnya Fira dan Zara memilih untuk makan siang di kantin kantor. Saat Fira dan Zara masuk di kantin, dari kejauhan Fira melihat Nayla. Fira pun mengajak Zara untuk bergabung dengan Nayla. Sebenarnya Zara malas sekali untuk bergabung dengan Nayla, tapi dia tidak ada pilihan lain, saat Fira yang mengajaknya.


"Nay," sapa Fira.


"Fira, tumben kamu makan disini," ucap Nayla. Nayla sudah cukup hapal, bahwa selama Fira hamil, di jarang makan di kantin. Sesekali dia memesan makanan, tapi itu pun di makan di ruangannya.


"Iya, bosan di ruangan terus." Fira tersenyum saat menjawab. Dia langsung duduk tepat di hadapan Nayla.


"Kamu lagi disini, ra?" tanya Nayla.


"Iya, aku ada kerjaan sama Adhi."


Nayla yang mendengar nama Adhi di sebut, mengingatkannya dengan kejadian kemarin, dimana Adhi menyatakan cintanya pada Zara. Masih sulit untuk Nayla menerima itu semua.


"Oh.. sama Adhi," ucap Nayla, dengan senyum getir.


Zara sebenarnya menyadari perubahan wajah Nayla, tapi dirinya harus membiasakan diri untuk tidak perduli. Bagaimana juga dirinya dan Adhi saling mencintai.

__ADS_1


Akhirnya Zara memilih untuk duduk di dekat Fira, dan memesan makanan bersama Fira.


"Ra, selama di luar negeri kamu akan tinggal di rumah Tuan Edward?" Fira yang tadi sempat mendengar perbincangan Adhi dan Jeje, menangkap bahwa Adhi akan mengajak Zara untuk tinggal di rumah Nyonta Ayu dan Tuan Edward.


"Sepertinya begitu fir, mungkin agar Adhi bisa sekalian punya waktu bertemu mamanya."


"Sekalian mau kenalin calon mantu ya?" Dengan senyum, Fira mengoda Zara.


"Apa sih, fir," elak Zara. Sebenarnya Zara merasa tidak nyaman saat Adhi mengajaknya untuk tinggal di rumah mamanya. Tapi sebagai sekertaris Adhi, dirinya tidak bisa mengelak.


"Santai, ra. Tuan Edward dan Nyonya Ayu sangat baik. Aku jamin kamu akan betah disana."


Zara merasa sedikit lega mendengar cerita Fira. Zara tahu, dulu Fira tinggal disana. Jadi Fira sudah sangat kenal, dan tahu mama dan papa tiri Adhi. Paling tidak Zara tidak terlalu takut bertemu dengan mama Adhi.


Nayla yang mendengar cerita Fira dan Zara, merasa sangat muak. Dirinya malas sekali mendengar pembahasan hubungan Adhi dan Zara. "Aku duluan ya, masih ada perkerjaan yang harus aku selesaikan." Akhirnya Nayla memilih untuk pergi.


"Oh ya, nay. Selamat berkerja kembali," ucap Fira memberikan semangat.


"Iya fir," ucap Nayla pada Fira. "Aku duluan ya, ra." Nayla beralih pada Zara, dan langsung berlalu meninggalkan Fira dan Zara yang masih di kantin.


Zara mengangguk menjawab ucapan Nayla. Zara tahu, Nayla sengaja menghindar, saat Fira membahas masalah Adhi. "Kenapa kamu bahas masalah Adhi?" tanya Zara pada Fira.


"Aku lupa tadi ada Nayla," ucap Fira polos. Fira benar-benar lupa saat membicarakan Adhi, sedangkan Nayla ada di depannya.


"Iya, aku merasa tidak saja. Aku takut terkesan ingin memamerkan hubungan aku saja."


"Memang dia masih suka dengan Adhi?" Fira menatap Zara, menanti jawaban atas pertanyaanya.


"Sebelum Adhi menyatakan cinta, dia sempat memintaku untuk menjauhi Adhi."


Fira membulatkan matanya mendengar cerita Zara. "Apa sejauh itu yang dia lakukan padamu?"


"Bahkan lebih jauh lagi. Dia meminta aku untuk menerima Bang Atta. Agar aku bisa menjauh dari Adhi."


Fira benar-benar tidak menyangka Nayla yang di kenalnya, malu-malu berubah seperti itu.


"Tapi Adhi sudah menjelaskan padanya, kalau Adhi tidak menyukainya. Jadi semoga saja dia tidak menganggu hubunganku."


"Iya," jawab Zara di sertai anggukan. "Saat Adhi mengantarku pulang kemarin, Dia menceritakan bahwa dia sudah mengatakan pada Nayla, bahwa di tidak bisa menerima cinta Nayla."


Fira yang mendengar cerita dari Zara mengangguk mengerti.


Saat Fira dan Zara sedang asik bercerita, Jeje dan Adhi menghampiri mereka.


"Kalian sudah selesai?" tanya Adhi yang seraya mendudukkan tubuhnya.


"Belum," ucap Zara.


"Sayang aku sudah pesankan makanan untukmu." Fira menatap Jeje, dan memberitahu.


"Terimakasih."


Akhirnya Jeje dan Adhi menyelesaikan makannya, di temani oleh Fira dan Zara yang sudah selesai makannya.


**


Seharian Jeje, Adhi, Fira, dan Zara menyelesaikan perkerjaanya. Mereka harus menyusun beberapa file data untuk di serahkan pada Tuan Edward. Dan itu cukup menyita waktu.


"Aku mau makan gula kapas." Suara Fira tiba-tiba membela keheningan di tengah-tengah perkerjaan.


Jeje, Adhi dan Zara yang sedang fokus pada laptopnya, seketika menoleh pada Fira. Mereka semua menantap dengan mata bertanya.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Fira saat melihat tatapan dari Jeje, Adhi, dan Zara tampak aneh. "Apa kalian tidak tahu, bahwa keinginan ibu hamil, bisa datang kapan saja?" Fira balas menatap tajam pada ketiga orang di hadapannya.


"Sayang, mau cari dimana gula kapas jam segini?" Setiap keinginan Fira, bagi Jeje sudah bagai titah sang raja. Tapi mengingat akan susah mencari gula kapas, untuk memenuhi keinginan Fira, selain di taman hiburan.


Fira memikirkan dimana dirinya bisa mendapatkan gula kapas yang sedang dia inginkan. Cukup lama Fira berpikir, sampai akhirnya dia teringat satu tempat. "Apa kamu tahu, di perempatan jalan di lampu merah, ada pasar malam. Waktu itu kita pernah kesana." Fira berbinar menceritakan dimana tempat dia bisa mendapatkan gula kapas.


Jeje pun memutar ingatannya. Sampai akhirnya dia mengingat bahwa dulu dia berdua dengan Fira pergi untuk membeli gula kapas. "Iya, aku ingat."

__ADS_1


"Ayo kita kesana, perkerjaan sudah selesai kan?"


Jeje mengangguk menerima ajakan dari Fira. Melihat istrinya yang semangat untuk mendapatkan apa yang di inginkan, pasti menjadi kesenangan tersendiri bagi Jeje. Dan semua selalu meninggalkan cerita yang menyenangkan untuk di ingat.


Fira beralih pada Adhi dan Zara. "Kalian ikut ya?" Fira mengajak Adhi dan Zara, untuk pergi ke pasar malam.


Adhi dan Zara saling pandang, seolah saling bertanya untuk menjawab pertanyaan dari Fira. "Baiklah," ucap Zara, setelah menemukan jawaban atas pertanyaannya.


Setelah mendapatkan jawab kalau semua mau pergi. Akhirnya mereka bersiap untuk ke tempat yang di minta oleh Fira.


**


Dengan menaiki mobil masing-masing, Jeje, Fira, Adhi dan Zara sampai di pasar malam. Saat sampai disana tidak terlalu ramai, karena mengingat ini masih hari kerja. Pasar malam hanya di penuhi oleh anak-anak dan orang tua yang mengantarkannya.


Tujuan pertama mereka adalah penjual gula kapas. Dengan semangat Fira menarik lembut tangan Jeje, untuk menuju ke penjual gula kapas. Jeje pun dengan suka rela menuruti keinginan istrinya


"Lihatlah di seperti anak kecil yang sedang mencari permen," ucap Adhi yang melihat Fira. Adhi hanya mengeleng kepala saat Fira yang sedang hamil, berubah drastis.


"Sama-sama manis, tapi dia mencari gula kapas." Zara membenarkan ucapan Adhi, di sertai tawa kecil.


"Apa nanti jika kamu mengandung anak kita kamu juga akan seperti itu?"


Zara yang mendengar pertanyaan Adhi menoleh, menatap pada Adhi. Dia masih mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Adhi. Dia tidak percaya Adhi akan mengatakan hal itu padanya sekarang.


"Kenapa memandangku seperti itu? apa kamu tidak mau mengandung anakku?" tanyanya menatap kembali pada Zara.


Semburat rona merah terlihat di wajah Zara. Rasanya Zara malu sekali membahas tentang anak dengan Adhi. Mengingat, bahwa dirinya baru saja menjajaki hubungan pacaran.


Adhi langsung menautkan jemarinya pada jemari Zara. "Tenanglah, nanti jika kamu hamil, aku akan menuruti semua apa yang kamu mau." Senyum tipis tergambar dari wajah Adhi, rasanya Adhi menantikan saat-saat itu. Dimana Zara akan menjadi istrinya.


Zara tidak membalas ucapan Adhi. Dia hanya mengeratkan genggaman tangan Adhi, menyalurkan rasa senang yang tidak bisa di ucapkan. Ada rasa senang saat Adhi berpikir, bahwa hubungannya dengan dirinya, akan dia bawa ke jenjang yang lebih jauh.


Senyum yang tadinya terlihat tipis, sekarang nampak lebih terlihat pada wajah Adhi. "Ayo kita susul Fira," ajak Adhi seraya menarik lembut tangan Adhi.


Fira yang mengantri di depan penjual gula kapas, memperhatikan penjual membuat gula kapasnya. Saat pesanannya sudah jadi, mata Fira berbinar saat mendapatkan gula kapas. Dia langsung memakannya dengan lahap. Menikmati sensasi manis dari gula, Fira mengabaikan sekitarnya.


Jeje yang melihat Fira hanya mengeleng saja. Dia sudah terbiasa, melihat Fira yang bersemangat saat memakan apa yang dia mau. "Sayang apa kamu sadar, sejak hamil kamu selalu makan manis. Sebaiknya kamu kurangi, takut gula darahmu naik." Jeje yang mengingat Fira begitu suka dengan hal manis, memperingatkan Fira.


Fira tertegun mendengar ucapan Jeje. Mengingat-ingat dalam memori kepalanya, Fira menyadari bahwa dirinya memang suka sekali makan sesuatu yang manis. "Kali ini saja, besok aku akan mengurangi yang manis-manis."


"Baiklah, kali ini. Dan itu hanya satu gula kapas saja."


"Satu saja?" tanya Fira memastikan. Fira sudah tahu, kalau Jeje sudah menebak dirinya yang tidak akan makan satu saja gula kapas.


"Iya, satu saja. Kalau terlalu banyak, aku takut apartemen kita akan menjadi sarang semut, karena mencari sumber manis dari dirimu." Senyum mengiringi saat Jeje mengucapkan kata-katanya.


Pipi Fira langsung merona saat mendengar ucapan Fira. Mungkin terdengar biasa, tapi bagi Fira, kata-kata Jeje membuatnya selalu jatuh cinta pada Jeje.


Zara dan Adhi yang menemukan Fira dan Jeje di depan penjual gula kapas, saling pandang saat melihat Fira yang sedang asik makan gula kapas.


"Apa kamu juga mau gula kapas?" tanya Adhi pada Zara.


"Iya," jawab Zara di sertai anggukan. Walau tak sesemangat Fira, tapi dia juga menyukai gula kapas.


Adhi pun langsung membelikan untuk Zara. Setelah selesai, dia memberikan pada Zara. Fira dan Zara akhirnya di sibukkan dengan memakan gula kapasnya,


Jeje dan Adhi memilih menunggu wanita yang di cintainya, menikmati makananan di tangan mereka.


.


.


.


Besok ketemu lagi, sama dua pasangan menikmati serunya pasar malam ya🤭


Jangan lupa like🥰


.

__ADS_1


.


Mampir juga ke My Baby CEO.


__ADS_2