
Sesaat setelah sampai di kantor, Jeje dan Fira langsung menaiki lift Presdir menuju ruangannya. Sepanjang melangkah ke dalam lift, Fira melihat para karyawan menyapa dengan ramah, dan memberi senyum terbaik yang mereka miliki untuk Fira dan Jeje. Bagi Jeje mungkin itu adalah hal biasa, tapi bagi Fira, di hormati seperti itu membuatnya merasa canggung.
Pintu lift yang terbuka, membuat Fira dan Jeje melangkah keluar dari lift. Dari kejauhan Fira melihat Valeria yang sedang duduk, di meja kerjanya, nampak sedang bersiap memulai perkerjaanya. "Pagi Valeria," sapa Fira lebih dulu, dengan di bubuhi senyuman di wajah Fira.
Valeria yang sedang bersiap memulai perkerjaanya, menengadah saat mendengar suara sapaan untuknya. Kedua mata Valeria melihat Presdir berserta istrinya, yang berdiri tepat di meja kerjanya. "Pagi Fir.. Bu.. eh Nyonya." Valeria yang bingung memanggil Fira, menyebut semua panggilan.
"Panggil Fira saja," ucap Fira pada Valeria, yang sedang bingung memanggil apa pada dirinya
Valeria yang di minta untuk memanggil nama saja, menatap sejenak pada Presdir nya, seolah dia meminta persetujuan atas permintaan istrinya. "Iya Fira," jawab Valeria, setelah mendapat anggukan dari Jeje.
"Valeria, sekarang Fira akan membantu perkerjaanmu." Jeje memberi tahu pada Valeria.
Valeria yang tadi sampai di meja kerjanya, merasa heran kenapa ada satu meja lagi tepat di sampingnya. Dan setelah mendengar ucapan Presdir nya, dia baru sadar untuk apa meja itu. "Baik Pak."
Jeje pun beralih menatap lekat pada Fira. "Hentikan perkerjaan mu saat kamu lelah, dan jangan memaksakan perkerjaan mu." Jeje memberi peringatan tegas pada Fira . " Jika kamu butuh apa-apa, aku ada di dalam."
Fira hanya bisa mengangguk saat mendengar ucapan Jeje, dan menuju meja kerjanya. Sedangkan Jeje masuk ke dalam ruanganya.
"Apa yang bisa aku kerjakan, val?" tanya Fira pada Valeria.
Kecangungan mulai di rasakan oleh Valeria. Rasanya dia tidak bisa menyuruh istri Presdir begitu saja.
"Jangan merasa tidak enak menyuruhku val, aku juga karyawan seperti dirimu," ucap Fira yang menangkap wajah Valeria yang canggung.
Valeria tertawa kecil. Dia tidak menyangka kalau Fira bisa membaca isi pikirannya. "Baiklah, kamu bisa memindahkan data jadwal Presdir ke dalam laptop." Valeria menyerahkan sebuah map, berisi catatan di dalamnya.
Fira menerima map, dan langsung menyalakan laptop di meja kerjanya. Dia mulai memindahkan, dan menyusun jadwal Jeje.
Mata Fira menajam, saat melihat catatan di dalam map berisi jadwal kepergian Jeje ke luar negeri. Dia mencoba mendekatkan, untuk membaca dengan jelas, apa yang di lihatnya. "Val, apa Presdir akan ke luar negeri dua hari lagi? Tanyanya memastikan pada Valeria.
Valeria yang sedang sibuk mengetik pun menoleh. "Iya, itu hasil meeting kemarin dengan Pak Adhi," jawab Valeria. "Apa Presdir belum memberitahumu?" Valeria yang melihat raut wajah kaget dari Fira mencoba menebak.
"Dia sudah memberitahu aku, tapi aku tidak menyangka dua hari lagi dia akan berangkat." Fira memilih berbohong, karena dia tidak mau orang melihat Jeje tidak perduli, karena tidak memberitahu dirinya.
Valeria yang mendengar ucapan Fira mengangguk mengerti.
Akhirnya Fira melanjutkan perkerjaannya. Dalam hatinya, dia akan menanyakan nanti saja pada Jeje, perihal kepergian Jeje dan Adhi ke luar negeri.
Setelah memindahkan jadwal Jeje. Valeria memberikan beberapa berkas untuk di pindahkan. Fira merasa sangat senang, saat Valeria sudah mau membagi perkerjaanya.
Saat sedang fokus pada laptopnya. Fira mendegar suara langkah sepatu, berjalan menuju ruangan Jeje. Fira langsung menoleh untuk melihat siapa yang melangkah menuju ruangan Jeje. Dan ternyata dia melihat Atta melangkah menuju ruangan Jeje.
"Pagi fir," sapa Atta. Atta pun beralih pada Valeria. "Pagi Val," sapanya pada Valeria.
"Pagi," jawab Fira dan Valeria bersamaan.
"Apa Jeje ada?"
"Pak Gajendra ada di dalam," ucap Valeria pada Atta. "Mari aku antar." Valeria berdiri, berniat mengantar Atta ke ruangan Jeje. Tapi dia kembali duduk, dan tidak melanjutkan langkahnya, saat mendengar Atta akan masuk saja sendiri.
Atta yang melangkah ke ruangan Jeje, langsung mengetuk pintu. Dia memegang handle pintu dan mendorong perlahan pintu. " Hai bro," sapanya dari balik pintu.
"Elo ta, masuk!" Jeje yang melihat Atta mempersilakan Atta masuk.
Atta mendorong lebih lebar pintu ruangan Jeje, agar dirinya bisa masuk. Kemudian dia melangkah menuju meja kerja Jeje, menarik kursi, dan duduk tepat di depan Jeje. "Hebat ya loe, istri sama mantan kekasih jadi sekertaris loe," goda Atta yang mengingat, saat melihat Fira dan Valeria di depan ruangan Jeje.
"Sial loe," umpat Jeje.
Atta tertawa melihat Jeje yang kesal. "Lagi pula kenapa loe biarin, istri loe kerja sih, kayak udah nggak mampu aja loe kasih makan."
"Fira sendiri ya mau kerja," jawab Jeje kesal saat temannya mencibirnya. "Dan, dari pada dia kerja di tempat Adhi, dan jauh dari pantauan gue, mending di sini."
"Wah loe main ambil-ambil aja sekertaris Adhi," godanya pada Jeje.
"Enak aja main ambil," elak Jeje. "Gue barter lah."
"Barter? Barter sama apa?" Atta tertawa mendengar ucapan Jeje.
"Sama Zara," jawab Jeje.
"Apa?" pekik Atta. "Kenapa Zara, bukannya kemarin dia hanya sementara gantiin Fira. Kenapa sekarang loe malah tuker dia kerja disana?" Atta yang kaget memberi beberapa pertanyaan pada Jeje.
__ADS_1
"Suka-suka gue lah, dia kan karyawan gue," jawab Jeje enteng.
Atta hanya mendesis kesal mendengar ucapan Jeje.
"Kenapa? Loe takut kalah cepat ya, sama Adhi kalau Zara disana," cibir Jeje. "Pesona loe dah luntur kayanya." Jeje tertawa terbahak mengoda temannya yang nampak kesal.
"Zara beda bro. Dia susah banget di deketin." Atta menghela nafasnya, mengingat bagaimana dia sudah mengirim pesan, dan menghubungi Zara. Tapi tidak ada respon sama sekali dari Zara.
Kalau loe cuma main-main, mending jauhin Zara. Sebagai suami temannya Zara, gue nggak kasih izin buat loe deketin Zara."
"Jahat loe," ucap Atta. " Gue juga kan, mau kayak loe sama Daffa, punya istri yang baik."
"Loe berhenti dulu dari kebiasaan loe itu, baru loe cari istri yang baik," cibir Jeje. "Mana ada wanita yang mau menyerahkan hidupnya, sama pria macam loe, yang suka ganti-ganti wanita."
Atta hanya diam seribu kata, saat mendengar ucapan Jeje. Dia tidak bisa mengelak atau menyanggah. Dalam batinnya dia membenarkan ucapan Jeje, yang mengatakan bagaimana dirinya.
"Udah, loe pikirnya di rumah aja," ucap Jeje. "Ini." Jeje menyerahkan kunci mobil pada Atta. "Biasa servis aja," ucap Jeje memberitahu Atta
Atta yang melihat Jeje menyerahkan kunci mobilnya, teringat dengan tujuannya ke kantor Jeje. Dia pun menerima kunci mobil Jeje. "Ya udah gue balik, kalau gitu," ucap Atta setelah menyelesaikan urusannya.
"Iya, makasih bro," ucap Jeje.
Atta berdiri, dan melangkah keluar dari ruangan Jeje. Saat di depan ruangan Jeje, dia bertemu kembali dengan Fira dan Valeria.
"Sudah selesai bertemu Jeje nya?" tanya Fira.
"Sudah ini," ucap Atta seraya menunjukan kunci mobil milik Jeje.
"Memang kenapa mobil Jeje?"
"Servis berkala aja," jawabnya pada Fira. "Gue balik dulu ya," pamit Atta dan Fira mengangguk.
Atta melanjutkan langkahnya menuju lift, dan menunggu lift terbuka. Saat lift terbuka, mata Atta melihat wanita yang tidak asing di lihatnya.
"Hai, Bang Atta," sapa Nayla pada Atta.
"Hai nay," sapa Atta balik.
"Iya mau ambil mobil Jeje."
Nayla yang mendengar tujuan Atta ke kantor mengangguk mengerti. Dalam hatinya dia bersorak senang, saat tidak segaja bisa bertemu dengan Atta. Niatnya untuk mengambil barang di resepsionis, membuatnya bisa bertemu Atta. "Bang Atta, boleh kapan-kapan kita bicara. Ada yang aku ingin bicarakan." Nayla yang melihat kesempatan itu pun, tidak mau menyianyiakan.
Atta menoleh pada Nayla menatap wajah Nayla. " Tentang apa?"
"Tentang Zara."
Kedua bola mata Atta langsung berbinar, saat mendengar ucapan Nayla, yang mengatakan ingin berbicara mengenai Zara. Atta melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Dalam hatinya menunggu jam makan siang, akan terlalu lama. "Pulang kerja datanglah ke restoran Daffa, aku akan menunggu mu disana." Atta memutuskan memilih sore hari saja, untuk bertemu dengan Nayla.
Nayla sudah bisa menebak, saat dia mengatakan tentang Zara, pasti Atta tidak akan menolak. "Baiklah."
Saat lift terbuka, Atta dan Nayla pun melangkah keluar, dan berpisah menuju tujuan masing-masing. Nayla menuju meja resepsionis, untuk mengambil barang. Sedangkan Atta menuju parkiran, menyusul karyawannya yang menunggu disana. Dia menyerahkan kunci pada karyawannya, sesampainya di parkiran mobil. Atta pun berlalu menuju mobilnya sendiri, untuk kembali ke bengkel.
**
Mata Jeje yang dari tadi fokus menatap laptopnya, teralih saat dia menatap jam, di sudut kanan bawah layar laptopnya. Jam yang mendekati waktu istirahat, membuat dirinya menghentikan, jari-jarinya yang dari tadi mengetik di atas keyboard.
Jeje berdiri, dan melangkah keluar untuk menghampiri Fira. Tapi belum sempat Jeje membuka pintu. Dia melihat pintu ruangan di buka.
Fira yang berniat mengajak Jeje untuk makan siang, tersentak saat melihat Jeje yang berada di belakang pintu. "Maaf," ucapnya yang kaget.
Jeje yang melihat pintu di buka sebenarnya sudah memundurkan tubuhnya. Sehingga dia tidak terkena benturan pintu, yang di buka Fira. "Untung tidak kena," godanya pada Fira.
Fira hanya tersenyum memamerkan deretan giginya. Fira langsung menutup pintu, dan berbalik melangkah menghampiri Jeje. "Maaf aku tidak tahu kamu berada di balik pintu." Fira mengulang permintaan maafnya.
"Kalau sampai kena bagaimana?" tanya Jeje, seraya melingkarkan tangannya di pinggang Fira.
"Sayang, ini di kantor." Fira mencoba melepas tangan Jeje yang melingkar di pinggangnya.
"Aku tahu." Jeje mengencangkan pelukan di pinggang Fira.
Fira selalu malas harus berdebat dengan Jeje, yang selalu sesukanya. Apa lagi ini ruangannya, dan dia adalah penguasa ruangan, dimana Fira berada sekarang. "Kamu mau kemana tadi?" tanya Fira, menengadah. Tubuh Jeje yang lebih tinggi dari dirinya, selalu membuatnya susah, saat harus berbicara dekat.
__ADS_1
"Mengajakmu makan siang." Jeje menyelipkan rambut Fira, di balik telinga Fira seraya memandangi Fira.
"Padahal aku juga masuk berniat untuk mengajakmu makan. Karena Valeria dan Reza sudah lebih dulu pergi ke kantin."
"Wah kita sehati ya," goda Jeje.
Fira hanya tersenyum mendengar godaan Jeje. "Aku pikir kita punya ikatan batin," ucap Fira tertawa.
"Saat cinta menciptakan ikatan batin di antara kita. Hati ini akan lebih mudah untuk mengetahui seberapa besar cinta kita."
Fira tertegun mendengar ucapan Jeje. Dengan tidak percayanya dirinya tadi pagi, membuat Fira tidak bisa merasakan seberapa besar cinta Jeje selama ini. Tangan Fira langsung melingkar sampai ke punggung Jeje. Dengan membenamkan wajahnya di dada Jeje, dia menangis. " Maaf aku tadi pagi, yang tidak percaya padamu."
Jeje tidak menyangka kata-katanya mengingatkan kejadian tadi pagi, dan membuat istrinya menangis. Kepalanya berdenyut merasakan pusing, saat Fira selalu menangis karena hal-hal sepele. "Jangan menangis, nanti anak kita akan jadi sedih juga." Jeje berusaha menenangkan Fira.
Fira melepas pelukannya, menjauhkan tubuhnya dari Jeje, agar bisa menjagkau wajah Jeje. "Aku juga tidak tahu kenapa aku menangis," ucap Fira seraya mengusap air mata di pipinya.
"Mungkin hormon ibu hamil." Jeje menebak apa yang terjadi pada Fira.
Fira yang berpikir, mungkin benar yang di katakan oleh Jeje. Semenjak hamil dirinya merasa lebih sensitif. Mudah menangis, dan bersedih.
"Sudah, jangan bersedih lagi. Sekarang kita makan, agar kamu bisa senang lagi," ucap Jeje, dan Fira mengangguk.
"Kamu mau makan apa?"
"Makan di kantin saja."
Jeje benar-benar malas saat Fira mengajak, untuk makan di kantin. "Tapi kita makan di ruanganku saja. Dan pesan dari sini saja," pinta Jeje.
Fira tahu Jeje selalu malas untuk makan di kantin, dan jadi pusat perhatian karyawannya. "Baiklah."
Akhirnya Jeje melangkah menuju mejanya. Mengangkat telepon, dan menekan nomer kantin di kantornya. Jeje menyebutkan beberapa pesanan makanan yang di minta oleh Fira, dan menyuruh pelayan kantin mengantar ke ruangannya.
Sambil menunggu pesanan, Fira dan Jeje duduk di sofa yang terdapat di ruangan Jeje. Jeje menanyakan pada Fira bagaimana hari ini. Jeje paham bahwa hari ini, Fira benar-benar berkerja untuk pertama kalinya, sebagai sekertarisnya.
Fira menceritakan dengan senang apa saja yang di kerjakan hari ini. Dan seketika Fira teringat dengan jadwal Jeje yang akan ke luar negeri. "Apa benar kamu mau keluar negeri?" Tanya Fira memastiskan.
"Astaga aku lupa memberitahumu, " ucap Jeje yang baru teringat dengan jadwalnya menemui Tuan Edward. "Aku akan menemui Tuan Edward bersama Adhi dua hari lagi. Kami ingin membicarakan tentang kerjasama kami," jelas Fira.
"Lalu aku?" tanya Fira lirih.
Rasanya hati Jeje sakit, mendengar suara lirih istrinya. Jeje sendiri juga berat untuk pergi, tapi tanggung jawabnya mengharuskan dia untuk pergi. Jeje berpikir, tidak mungkin dia mengajak Fira, dalam kondisi hamil. "Maafkan aku sayang, tapi aku tidak bisa mengajakmu, saat kondisimu sedang hamil seperti ini." Jeje membelai lembut kepala Fira.
Fira sadar akan tanggung jawab Jeje. Walapun berat Fira harus bisa mendukung. "Baiklah."
"Kamu nanti bisa tinggal di rumah mama atau ibu, selama aku pergi." Jeje merasa meninggalkan Fira dengan mama atau mertuanya adalah pilihan tepat, dari pada meninggalkan Fira sendiri di apartemen.
"Aku di rumah ibu saja ya. Aku sudah lama tidak kesana." Fira pun memilih untuk tinggal di rumah ibunya, selama Jeje ke luar negeri.
"Baiklah, nanti aku akan antar kamu."
Perbincangan mereka terhenti saat pintu ruangan Jeje di ketuk. Dan saat Jeje membuka pintu, ternyata pelayan kantin yang berada di depan pintu, dengan membawa pesanan makanan milik Jeje dan Fira.
Jeje dan Fira akhirnya memulai makan, setelah pesanan mereka datang. Seraya menyelipkan beberapa obrolan. Jeje menceritakan bahwa dia akan melepas Adhi. Karena Jeje merasa Adhi sudah sangat bisa memimpin perusahaanya sendiri. Fira yang mendengar rencana Jeje, merasa senang. dia tahu betul bagaimana Adhi berjuang dari awal mengurus perusahaanya.
Setelah Jeje dan Fira selesai makan, mereka berdua melanjutkan perkerjaannya, kembali ke meja kerja masing-masing.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
Mampir juga ke karya istagram aku Myafa16
__ADS_1