Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Menuduh


__ADS_3

Jeje duduk tepat di samping Fira, setelah meletakkan minuman. Dia memutar sedikit tubuhnya ke samping, agar bisa menjangkau wajah Fira, "Kenapa kamu bisa disini?" pertanyaan itu yang pertama keluar dari mulut Jeje.


Fira yang mendengar Jeje berbicara langsung ikut memutar tubuhnya menatap Jeje. Fira pikir, Jeje akan bertanya kenapa dia pergi, tapi yang di dapat Fira malah pertanyaan lain.


"Apa Adhi yang membawa mu kemari?" Jeje melanjutkan lagi pertanyaannya.


Fira terkesiap, saat Jeje melontarkan pernyataan itu, "Kenapa dia menunduh Adhi yang membawa ku," batin Fira.


"Apa Adhi yang membawamu untuk tinggal bersama orang tuanya?" tanya Jeje memperjelas pertanyaannya.


"Jadi ini yang dia pikirkan, dia berfikir Adhi yang membawaku " batin Fira merasa sakit mendengar tuduhan itu.


Dia tidak menyangka Jeje melibatkan orang lain dalam hubunganya. Menuduh Adhi sebagai orang di balik kepergian Fira.


"Jawab fir!" suara Jeje sudah meninggi, dia pun menatap tajam Fira, seolah menunggu jawab Fira.


"Bukan urusanmu," ucap Fira, dan membuang muka. Fira benar-benar tak berani menatap Jeje. Rasanya sakit saat Jeje menuduh orang lain, padahal mamanya sendiri yang melakukannya.


Mendengar jawab Fira, rahang Jeje mulai mengeras, emosinya mulai naik. Dia benar-benar tidak bisa menahan amarah di dadanya, "Kamu pergi begitu saja, dan kamu bilang ini bukan urusanku." tanyanya seraya menarik lengan Fira kasar, agar Fira menatapnya.


Fira terkejut, melihat Jeje memperlakukannya dengan kasar, "Ya Adhi yang membawaku tinggal bersama orang tuanya, apa kamu puas atas jawabanku," jawab Fira dengan suara yang parau, dia tidak punya pilihan lain, selain menjawab seperti yang Jeje tuduhkan, karena dia ingin mengakhiri pedebatan ini.

__ADS_1


" Maaf kan aku dhi harus melibatkanmu, " Fira menyesali dirinya malah membawa Adhi lebih dalam, dalam permasalahan antara dirinya dan Jeje.


Jeje yang mendengar kalau orang yang telah membawa Fira pergi adalah Adhi, merasa sangat kecewa. "Oh jadi begini, Adhi membawamu kemari, dan dia disana berpura-pura mencarimu," Jeje tertawa getir menertawakan dirinya sendiri, yang dengan bodohnya melihat sandiwara yang di lakukan Adhi dan Fira.


"Adhi juga mencariku "


"Tenyata kalian main di belakangku, bodohnya aku yang terlalu percaya kalau kamu, dan adhi hanya berteman," Jeje benar-benar tidak habis fikir, kalau selama ini Fira telah membohonginya.


"Maafkan aku harus berbohong, aku tak punya pilihan lain " batin Fira menangis. Rasanya dia ingin mengatakan, bahwa mamanya lah yang membawanya sampai kesini, tapi rasanya suara itu tak bisa keluar dari mulut Fira.


"Bagus kalau kamu sudah tahu sekarang, jadi aku permisi, aku akan kembali ke kantor," ucap Fira seraya berdiri, dan berniat meninggalkan Jeje. Bagi Fira sudah cukup perdebatan yang hanya akan membuat lukanya lebih dalam.


Jeje yang tak terima langsung menarik tangan Fira, hingga membuat tubuh Fira terjatuh tepat di pangkuan Jeje. Fira yang kaget langsung menatap Jeje. Sejenak mereka saling menatap.


Jeje melihat Fira menatapnya lekat, dari kedua bola mata Fira, Jeje bisa melihat jika wanita yang ada di pangkuannya masih menyimpan cinta untuknya, "Katakan kalau kamu tidak mencintaiku?" pertanyaan di lontarkan Jeje dengan tatapan tajam pada Fira.


Fira yang mendapati pertanyaan itu, menatap pria yang ada di hadapannya. Jujur dalam hatinya, dia begitu mencintai laki-laki yang dia tinggal pergi begitu saja ini. Dan dalam enam bulan kepergiannya, tidak sedikit pun rasa cintanya ikut pergi dari hatinya. Tapi suara Fira tercekat di tenggorokannya, seolah tak mampu mengatakan bahwa dia masih mencintainya.


Jeje menatap ke dalam dua bola mata Fira, mencari kejujuran atas apa yang Fira rasa. Dari sorot mata Fira, jelas terlihat disana, bahwa Fira masih mencintainya.Tapi sayangnya tidak ada satu kata pun, keluar dari Fira.


Jeje menatap Fira lebih dalam, melihat setiap sudut wajah Fira. Wajah yang sudah lama dia tidak pandangi, wajah yang begitu dia rindukan. Jeje melihat setiap sudut, dan berhenti saat melihat bibir Fira. Bibir yang dia rindukan selama ini, bibir yang memberinya ciuman hangat.

__ADS_1


Perlahan Jeje mendekat, dan membenamkan bibirnya pada Fira. Fira yang terbawa suasana hanya terdiam saat Jeje mulai membenamkan bibirnya pada bibir Fira


Ingin rasanya Fira mendorong Jeje dan menolaknya, tapi semua itu tak bisa dia lakukan, logikanya benar-benar tidak berjalan saat melihat pria yang ada di hadapannya, sedang ingin menciumnya. Fira tidak memungkiri kalau dia merindukan pria ini, merindukan ciuman hangat dari bibir Jeje.


Jeje yang merasa tidak ada penolakan dari Fira, mulai memberanikan diri, mencium Fira lebih dalam, memberi lum*tan-lum*tan yang akan membuat bibir keduanya basah. Jeje mulai memberi gigitan lembut pada bibir Fira, yang membuat bibir Fira terbuka. Saat mendapati bibir Fira terbuka, Jeje menjelajah setiap sudut rongga mulut Fira.


Fira yang mendapat ciuman lembut dari Jeje, menikmati setiap lum*tan yang di berikan Jeje, menikmati setiap gigitan yang Jeje berikan. Jantungnya seakan berdetak lebih kencang, nafasnya mulai tersengal menikmati sentuhan bibir Jeje di bibirnya. Sejenak Fira benar-benar melupakan janji-janjinya pada ibunya.


Walaupun tak ada balasan, Jeje dapat merasakan Fira menikmati ciumannya. Saat merasa nafas mereka sudah saling beradu mencari oksigen yang masuk dari celah-celahan tautan bibir mereka, Jeje melepas ciuman Fira.


Jeje menyapu lembut bibir Fira dengan jemarinya, "Kamu masih mencintaiku" Jeje menjawab pertanyaan, yang dia berikan tadi sendiri. Bagi Jeje ciuaman dari Fira sudah memberikan jawaban, atas apa yang ada hati Fira.


Fira yang mendengar Jeje mengatakan dirinya masih mencintai Jeje, menyesali kenapa dirinya menerima ciuman Jeje, bahkan menikmati, jika akhirnya ciuman itu, menjawab sebesar apa cinta Fira untuk Jeje.


"Aku harus kembali ke kantor," ucap Fira menutupi kegugupannya.


Fira langsung bangun dari panguan Jeje, merapikan bajunya, dan melangkah keluar dari kamar hotel Jeje.


Melihat Fira pergi, Jeje hanya tersenyum, dia tahu Fira berusaha menghindarinya, karena dia gugup setelah berciuman dengannya. Jeje pun tidak melarang atau mencegah Fira yang memilih pergi.


Di usapnya bibirnya yang masih basah, dan masih meninggalkan sisa lipstik disana. Rasanya dia begitu bahagia, bisa mencium wanita yang begitu dia rindukan.

__ADS_1


"Kalau Adhi yang membawamu kemari, aku yang akan membawamu kembali " batin Jeje sesaat setelah Fira pergi.


__ADS_2