
Fira naik kedalam taxy, dan berangkat menuju kantornya. Sesampainya di kantor, Fira membayar taxy nya, dan turun dari taxy. Saat Fira turun dari taxy, Fira melihat dari kejauhan Fira melihat Jeje, yang sedang duduk di ruang tunggu.
Sebenarnya Fira malas menemuinya, karena Fira masih kecewa pada Jeje yang tidak percaya padanya. Tapi karena Jeje adalah rekan bisnis dari tuan Edward, Fira harus menghargainya.
Fira melangkahkan kakinya menghampiri Jeje, "Selamat pagi Tuan Gajendra, ada yang bisa saya bantu?" tanya Fira ramah.
"Fir, ada yang aku mau bicarakan," Jeje menatap lekat pada Fira, dia benar-benar berharap Fira tidak menolak.
Fira menyesali dirinya sendiri yang menyapa Jeje, karena ternyata Jeje ingin membahas urusan pribadi di kantor.
"Maaf tuan Gajendra saya tidak membahas urusan pribadi di kantor."
"Fir, aku mohon aku butuh penjelasan kamu fir" pinta Jeje yang sudah sangat frustasi, untuk membujuk Fira.
Fira di buat kesal pada Jeje yang masih minta penjelasan lagi padanya. Padahal semua sudah dia jelaskan kemarin. Tapi melihat Jeje yang memohon, Fira tidak punya pilihan. Akhirnya Fira mengajak Jeje ke taman sebelah kantornya , Fira merasa tidak enak kalau berbicara masalah pribadi dengan Jeje di dalam kantor.
Jeje yang mendengar Fira mau berbicara dengannya, akhirnya mengikuti Fira di taman dekat kantornya.
Sesampainya di taman, Fira melihat taman masih terlihat sepi, karena orang-orang memakai tempat ini di jam istirahat.
"Aku sudah menjelaskan kemarin, jadi tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, pergilah karena pesawat mu akan segera berangkat," tanpa berbasa-basi lagi Fira langsung mengusir Jeje.
Jeje megang kedua tangan Fira, menatap kedua bola mata Fira, "Baiklah, aku terima penjelasan kamu kemarin, tapi apa kamu bisa jelaskan soal pelukan kemarin?, apa sebegitu cinta nya kamu sama Adhi sampai kamu menangis di pelukannya?" Jeje merasa benar-benar cemburu dengan Adhi.
Fira terkejut saat Jeje meminta penjelasan soal pelukannya kemarin dengan Adhi. Sebenarnya kemarin Fira menerima pelukan Adhi karena dia sedang dalam suasana sedih karena Jeje tidak percaya padanya.
"Aku harus jelaskan apa"
"Aku dan Adhi tidak ada hubungan apa-apa, pelukan kami hanya pelukan teman yang sudah lama tidak bertemu," jawab Fira sekenanya, Fira benar-benar tidak punya jawaban lain.
"Teman?, apa bertemu teman harus berpelukan seperti itu!" seru Jeje kesal mengingat bagaimana eratnya Adhi memeluk Fira.
__ADS_1
"Kami kan lama tidak bertemu, ya wajar kalau seperti itu," elak Fira, dengan sedikit gugup.
"Dengan teman mu kamu bisa berpelukan, sedangkan dengan ku yang juga sudah lama tidak bertemu, kamu tidak melakukan hal sama, berarti kamu tidak rindu bukan?" sindir Jeje pada Fira.
Fira ingat betul, saat bertemu dengan Jeje, yang Fira rasa hanya ketakutan. Walau di dalam hatinya begitu merindukan Jeje, dirinya tak berani memeluk pria itu.
Dorongan rasa rindu Fira yang begitu dalam yang sudah dia tahan selama ini membuatnya melangkah dan memeluk Jeje.
Jeje yang mendapatkan pelukan Fira begitu terkejut, dia tidak menyangka Fira menjawab pertanyaannya dengan pelukan. Jeje merasa senang dan membalasnya, Jeje juga begitu merindukan Fira.
"Aku ingin memelukmu tapi aku takut," Fira mengatakan dengan sudah berderai air mata, air mata yang sudah kering mulai mengalir lagi di pipinya.
"Kamu bilang aku tidak rindu, aku begitu merindukanmu sampai dadaku sesak menahannya"
"Apa kamu melihat ku membalas pelukan adhi seperti ini," Fira berucap seraya memperat pelukannya menyalurkan rasa rindunya.
Jeje mengingat kejadian kemarin, memang benar hanya Adhi yang memeluknya, sedangkan Fira tidak membalas dan hanya diam. "Fir.."
"Diam dan biarkan aku yang bicara," bentak Fira saat Jeje hendak bicara.
Jeje menunggu Fira bicara lagi, tapi tak ada suara yang keluar dari mulut dira
"Katanya tadi mau bicara?"
"Tidak jadi, aku hanya mau memeluk saja," Fira mempererat pelukannya.
Jeje hanya menahan tawanya, Jeje bisa merasakan kalau wanita yang ada di pelukannya ini amat merindukan dirinya.
"Aku sangat merindukan fir," Jeje mengecup pucuk kepala Fira.
"Apa kamu tahu aku seperti orang gila mencarimu," Jeje menceritakan bagaimana dia tanpa Fira.
__ADS_1
Fira yang mendengar Jeje ucapan Jeje, seketika teringat dan mendorong Jeje, melepas pelukannya.
Jeje yang mendapati Fira melepaskan pelukan dan mendorongnya, begitu kaget.
"Bohong sekali kalau kamu seperti orang gila mencariku," cibirnya, "Buktinya kamu memilih bertunangan, dari pada menungguku," Fira langsung membuang mukanya, menahan sesaknya mengingat Jeje sudah bertunangan.
"Fir aku bisa jelaskan, aku terpasang karena mama memaksa," Jeje memegang dua tangan Fira, mencoba menyakinkan Fira.
Fira tersentak mendengar Jeje menyebut mamanya dalam kalimatnya, dia langsung teringat akan Nyonya Inan, menikahkan Jeje adalah tujuannya. "Sudahlah je, semua memang sudah berakhir," Fira mengatakan sambil menghapus airmatanya.
"Jangan katakan itu fir," Jeje memohon pada Fira,
Fira melihat dari kedua bola mata Jeje, bahwa dia benar-benar masih mencintai dirinya, tapi dirinya tidak bisa merusak semua rencana yang di susun oleh Nyonya Inan.
"Berbahagialah je, menikahlah dengan pilihan orang tuamu, mama mu sudah mengirimku jauh sampai kesini, jangan sia-siakan pengorbananku," Fira menatap seraya memohon juga.
"Aku mohon je, lupakan aku," Fira sakit sebenarnya mengatakan ini semua, tapi dia sudah sejauh ini pergi, dia tak mau semua sia-sia. Lagi pula tidak akan ada gunanya lagi hubungannya dengan Jeje di perbaiki lagi, kalau berakhir tidak adanya restu dari orang tua Jeje.
"Apa itu yang kamu inginkan?" tanya Jeje menatap dengan sunguh-sunguh pada Fira.
"Iya," Fira menjawab dengan berat.
"Baiklah, aku akan turuti yang kamu mau," Jeje tidak punya pilihan lain, melihat Fira yang sudah berjuang sejauh ini.
Fira langsung menatapnya Jeje, rasanya berat saat Jeje mengiyakan, tapi memang inilah kenyataan yang Fira harus terima.
"Aku akan kembali, jaga dirimu baik-baik saat disini, aku yakin cintamu padaku tersimpan rapi di hati mu," Jeje mengecup kening Fira, memberikan perpisahan yang indah pada Fira.
Jeje pun menarik kopernya dan berlalu meninggalkan Fira. Fira melihat Jeje berlalu, menahan
sesaknya. Melihat orang yang dia cintai pergi, adalah hal terberat untuk dirinya.
__ADS_1
Kecupan yang Jeje berikan menandakan, perpisahan yang manis yang di berikan Jeje untuknya. Rasanya dia tidak akan melupakan perpisahan ini.
Ucapan Jeje tadi memiliki makna yang dalam untuk Fira."Aku akan menyimpan rapi cintamu di hati ku je" Fira memegangi dadanya, tempat menyimpan cinta Jeje.