
Dalam hati Adhi membenarkan apa yang di katakan Tuan Edward, kalau Adhi bisa belajar dari Jeje. Karena dari yang di lihat Adhi, Jeje cukup handal dalam bisnis ini.
Fira dan Reza pun sibuk menyiapkan beberapa berkas, setelah di minta oleh Jeje. Dan sesekali Fira menanyakan hal-hal yang tidak di ketahui pada Reza.
"Pak Reza apa ini juga harus di pindahkan?" tanya Fira yang sedang memindahkan beberapa berkas ke dalam laptopnya.
"Iya Nona Zhafira," jawab Reza dengan senyum
Fira pun mengucapkan terimakasih, dengan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya
Reza yang mendapati senyum manis dari Fira dengan hiasan lesung pipi, langsung terpesona. "Pantas saja Presdir marah-marah saat kekasihnya hilang, ternyata dia secantik itu saat tersenyum" batin Reza saat mengingat, dirinya di minta mencari Fira tanpa henti.
"Ehm" Jeje dehem membuat Reza dan Fira menoleh.
Adhi yang melihat Jeje berdehem langsung menoleh pada Jeje, "Sepertinya Pak Gajendra haus ya?" tanyanya. Adhi langsung beralih pada Fira, "Fir tolong ambilkan minum untuk Pak Gajendra," perintah Adhi pada Fira.
Fira yang mendapat perintah Adhi, langsung berdiri dan berlalu keluar ruangan, menuju pantry, untuk membuat minuman.
Reza yang sadar kenapa Jeje berdehem mulai gugup, "Matilah aku" batin Reza. Reza benar-benar merutuki kesalahannya menatap Fira.
Setelah Fira keluar Jeje melayangkan tatapan tajam pada Reza, "Jangan coba-coba menatap Fira seperti itu za, atau bersiaplah potong gaji," ucap Jeje penuh ancaman.
"Maaf pak," ucap Reza yang takut dengan ancaman yang Jeje berika..
"Kalau di ajak ngomong Fira nunduk za, kalau nggak mau di potong gaji," goda Adhi pada Reza, dan langsung dapat tatapan tajam dari Jeje.
Fira yang sudah selesai membuat minuman, masuk ke dalam ruangan kembali.
"Kenapa tiga," tanya Jeje pada Fira, yang membawa tiga cangkir teh dalam satu nampan.
"Saya rasa bukan hanya Pak Gajendra saja yang haus, kami juga haus," potong Adhi sebelum Fira menjawab untuk siapa tiga cangkir teh itu. Adhi pun beralih pada Reza "Bukan begitu Pak Reza."
Reza yang di ajak bicara oleh Adhi, tidak berani menjawab. Dia tidak mau berurusan dengan bosnya lagi.
"Silahkan," ucap Fira sopan pada Jeje seraya menyerahkan secangkir teh.
"Terimakasih," ucap Jeje dengan senyum, dan Fira membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1
Fira menyerahkan teh satu lagi untuk Adhi
"Terimakasih Fira," senyum Adhi mengembang sempurna, saat menerima secangkir teh dari Fira.
"Adhi kenapa senyum seperti itu" batin Fira.
Saat hendak duduk, dia sekalian meletakan cangkir di meja untuk Reza, "Ini tehnya pak Reza."
"Iya," jawab Reza dengan menunduk, dan tidak berani menatap Fira.
"Kenapa pak Reza aneh begini " batin Fira.
Adhi dan Jeje yang melihat Reza menunduk saat menerima minuman dari Fira, hanya menahan tawa.
Mereka melanjutkan perkerjaan sampai jam istirahat tiba. Adhi menawarkan untuk makan siang di restorannya. Tapi Reza memilih tidak ikut, dan memilih untuk makan di kantin kantor saja.
Akhirnya mereka bertiga saja yang menuju restoran Adhi. Mereka memutuskan untuk memakai mobil Jeje. Adhi dan Jeje duduk di depan, dengan Jeje yang mengendarai mobilnya. Sedangkan Fira duduk di bangku belakang.
"Pernikahan bang Jeje kapan?" tanya Adhi memecah keheningan di dalam mobil.
Mendengar pertanyaan Adhi, jantung Fira merasakan sedikit sesak. Dia tidak menyangka Adhi akan membahas pernikahan Jeje di dalam mobil, saat ada dirinya.
"Satu minggu, secepat itu"
"Kalau bang Jeje butuh bantuan, kita dengan senang hati membantu," ucapnya pada Jeje, "Bukan begitu fir," Adhi beralih pada Fira yang duduk di belakang seraya bertanya.
"Hah..oh ya," gugup Fira.
"Apa Adhi pikir aku akan membantunya, mana ada mantan pacar membantu menyiapkan pernikahan" batin Fira benar-benar kesal dengan ide Adhi.
"Baiklah, kalau aku butuh bantuan aku akan meminta bantuan dari kalian."
"Sabar fir, hadapi semuanya," Fira menyemangati diri, dalam hatinya.
Akhirnya mereka sampai di restoran, dan mereka memesan makanan.
Sebelum makanan datang, Adhi izin ingin menemui Daffa di ruangannya, dan meninggal Fira dan Jeje, berdua.di meja restoran.
__ADS_1
"Apa kamu senang dengan keputusanmu?" Jeje membuka suaranya di saat hanya mereka berdua di meja restoran.
Fira mengerutkan keningnya, "Keputusanku?" Fira merasa bingung dengan ucapan Jeje.
"Apa kamu lupa, kalau keputusanmu untuk meninggalkan ku, membuatku harus menikah?" Jeje memperjelas pernyataanya tadi.
Fira tidak menyalahkan Jeje, mungkin benar yang dikatakan Jeje, kalau Fira tidak meninggalkanya, dan bertahan dengan Jeje, mungkin Jeje tidak akan menikah dengan orang lain.
"Kenapa diam?, apa kamu merasa bersalah?" Jeje menatap sinis pada Fira.
Fira yang melihat Jeje, mentap dengan sinis, tahu bahwa dia benar-benar kesel dengan dirinya. "Sudah lah je, berbahagialah.."
"Kamu tentu tahu kalau aku tidak akan bahagia dengan menikahi orang lain, dan kamu ingin melihatku bahagia?" sergah Jeje, yang sedikit tidak terima Fira memintanya untuk bahagia.
"Aku pun tidak bahagia je, melihatmu menikah dengan orang lain" batin Fira sesak.
"Iya, aku ingin melihatmu bahagia" ucap Fira dengan tegas. Rasanya Fira sendiri berat mengatakan ini semua. Tapi ini sudah menjadi keputusanya.
"Berikan aku kebahagiaan, maka aku akan bahagia setelah menikah." Jeje menatap dalam kedua bola mata Fira.
Fira menautkan kedua alisnya, masih belum bisa mencerna perkataan Jeje. "Apa. maksudmu?"
"Berikan waktumu seminggu ini untukku, dan aku akan bahagia menikah dengannya," pinta Jeje pada Fira.
"Apa kamu sudah gila!" serunya pada Jeje, "Aku tidak ingin merusak hubunganmu," Fira menolak dengan tegas. Fira tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan Jeje dan Ana.
"Aku tidak memintamu merusak hubunganku, aku tadi sudah bilang bukan, aku akan tetap menikah, dan aku hanya ingin memintamu bersama ku dalam seminggu ini."
"Aku mohon buatlah aku bahagia untuk terakhir kalinya" Jeje mengeggam tangan Fira, seraya memohon.
Fira benar-benar dilema. Jujur dia ingin melihat Jeje bahagia, tapi dengan bersamanya selama seminggu akan menyakitkan untuknya. Tapi demi jeje mungkin Fira akan melakukan apapun, walaupun sakit asalkan Jeje bahagia suatu hari nanti. "Baiklah," setelah menimbang-nimbang akhirnya Fira mengiyakan semua permintaan Jeje.
Jeje yang mendengar Fira mau menerima tawaranya untuk membuatnya bahagia dalam seminggu ke depan, merasa sangat senang. Setidaknya, sebelum dia mengakhiri semua, dia bisa merasakan bahagia dengan Fira.
"Maaf lama," ucap Adhi yang kembali, setelah dari ruangan Daffa.
"Iya, tidak apa-apa." jawab Fira.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Adhi sudah kembali, dan mereka melanjutkan makan mereka.