Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kejutan


__ADS_3

Kemarin setelah Jeje pulang dari memetik mangga, Adhi mengajak Zara untuk pergi jalan-jalan. Tapi sayangnya, Zara menolak dengan alasan dirinya sudah sampai di rumah, dan malas untuk keluar rumah lagi. Akhirnya mereka memutuskan keesokan harinya untuk pergi jalan-jalan, sekaligus mencari buku untuk adik Zara.


**


Setelah menjemput Zara ke rumahnya, Adhi melajukan mobilnya menuju ke mall terdekat, sesuai janji mereka berdua yang ingin berjalan-jalan.


Sesampainya di mall, Adhi dan Zara langsung menuju toko buku, untuk mencari buku untuk adik Zara.


''Kemarin Bang Atta bicara apa saja." Adhi yang kemarin cukup lama di ruangan Daffa, membiarkan Zara berlama-lama dengan Atta.


Zara yang sedang memilih buku pesanan adiknya, menatap ke arah Adhi. Zara mengingat pertemuan kemarin dengan Atta.


Setelah menerima uang dari Zara, Atta melanjutkan obrolan dengan Zara.


"Mama mengundangmu untuk makan malam. Bisakah besok kamu datang." Atta yang tadi ingin berangkat menemui Zara, di hadang oleh mamanya. Mamanya sudah bisa menebak kemana Atta akan pergi. Dan mamanya menitipkan pesan itu pada Atta.


Zara yang mendapatkan pertanyaan itu bingung. Mengingat bahwa mama Atta kemarin mengantarnya pulang dari rumah sakit, rasanya berat untuk menolak. "Baiklah." Akhinya Zara memilih menerima undangan mama Atta.


"Ra," panggil Adhi pada Zara.


Zara yang mendengar panggilan Adhi tersadar dari lamunannya. "Mama Bang Atta mengundangku makan malam hari ini,'' ucapnya saat mengingat perbincangan dengan Atta.


Adhi yang mendengarkan ucapan Zara membulatkan matanya sempurna. "Terus kamu mau?"


"Aku nggak enak dhi, karena kemarin mamanya, mengantar aku dan ayah pulang dari rumah sakit." Zara menatap Adhi dengan raut wajah binggung.


Rasanya Adhi benar-benar tidak tahu harus bersikap apa. Ingin rasanya melarang Zara, tapi dirinya tidak bisa sejauh itu mengatur hidup Zara. "Aku akan mengantarmu."


Zara sebenarnya merasa tidak enak harus merepotkan Adhi. "Tapi.."


"Aku hanya akan mengantarmu, dan akan menunggumu di luar, aku hanya ingin memastikan kamu pulang dengan selamat," potong Adhi sebelum Zara melanjutkan ucapannya. Adhi berpikir, jika Zara pergi dan pulang dengannya, paling tidak Atta tidak ada kesempatan untuk mendekatinya.


Zara benar-benar dihadapkan situasi sulit. Tidak mungkin dirinya tega menyuruh Adhi untuk menunggu di luar. Tapi melarang Adhi untuk tidak mengantar pun akan percuma, karena Adhi pasti akan memaksa.


Setelah membeli buku Adhi dan Zara memutuskan untuk makan terlebih dahulu, sebelum mereka pulang. Setelah menentukan restoran mana, Adhi dan Zara menuju restoran dan memesan makanan


"Apa kamu besok sudah mulai berkerja?" Adhi yang sedang menunggu pesanan makanan mereka, mengisi keheningan dengan obrolan.


"Ayah sudah jauh lebih baik. Aku rasa besok aku akan mulai berkerja." Zara yang sudah beberapa hari tidak masuk, merasa tidak sabar untuk berkerja.


Rasanya Adhi pun jauh tidak sabar, menunggu Zara kembali berkerja. Berkerja sendiri tanpa Zara beberapa hari, membuat dirinya merasa sepi. Melihat wajah Zara di kantor, sudah bagaikan semangat baginya.


"Kapan pertemuan dengan Tuan Edward di jadwalkan kembali?" Ada sedikit rasa tidak enak di hati Zara, karena dirinya Adhi membatalkan pertemuannya dengan Tuan Edward.


"Bang Jeje menjadwalkan, setelah pernikahan Valeria dan Reza."


Mendengar ucapan Adhi, Zara merasa memiliki kesempatan untuk mengatakan pada ayahnya. Bahwa dia akan ikut Adhi untuk ke luar negeri.


Saat Adhi dan Zara sedang menikmati makanannya, mereka berdua mendengar seseorang memanggil nama Zara. Zara yang mendengar namanya di panggil, melihat arah suara. Dan mendapati Celia yang memanggil. "Celia."


Adhi yang duduk tepat di hadapan Zara, memutar kepalanya, untuk melihat Celia siapa yang di maksud oleh Zara. Matanya membulat saat mendapati Celia yang di lihatnya, adalah mantan kekasih Jeje, dan sekaligus sepupu Atta.


"Adhi," ucap Celia yang kaget saat mendapati Adhi bersama dengan Zara. "Kalian berdua disini?" tanya Celia.


"Iya, kami kami sedang makan siang," ucap Zara.


"Apa aku boleh bergabung?"


"Tentu saja." Zara mempersilakan Celia untuk ikut makan bersama dengan dirinya dan Adhi.


Celia langsung mendaratkan tubuhnya di kursi setelah di persilakan bergabung. Celia langsung memanggil pelayan restoran untuk memesan makanan. "Kamu apa kabar dhi?" Tanya Celia menatap Adhi.


"Baik."


"Terakhir aku bertemu denganmu. Kira-kira waktu kamu masih sekolah ya. Tidak terasa kamu sudah tubuh setampan Daffa."


"Terimakasih," ucap Adhi. "Apa kamu sudah lama kembali kesini?" Adhi tahu bahwa Celia ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya seraya meniti karir modelnya.


"Sudah hampir dua minggu ini aku tinggal disini," jelas Celia.


"Apa kamu akan lama disini?" Adhi menatap Celia dan bertanya.


"Kebetulan agensi modelku sudah ada disini. Jadi aku memutuskan untuk menetap disini.''


Saat mereka sedang berbincang, makanan yang di pesan Celia datang. Mereka pun bertiga melanjutkan makan mereka, setelah makan yang di pesan Celia datang.


"Ra, nanti aku antar kamu pulang terlebih dahulu saja ya. Nanti malam aku akan mengantarmu untuk ke rumah Bang Atta.'' Adhi yang sudah menyelesaikan makannya, mengatakan pada Zara.


Celia yang mendengar ucapan Adhi yang ingin ke rumah Atta menatap ke arah Adhi, dan beralih menatap Zara. "Kamu mau ke rumah Atta, ra?"


"Iya, mama Bang Atta mengundangku makan malam.''

__ADS_1


"Wah kebetulan sekali, aku juga berniat kesana, tapi belum sempat." Jadwal Celia yang padat beberapa hati ini, membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk ke rumah sepupunya itu.


"Kalau begitu bagaimana kalau kamu ikut saja denganku." Zara berpikir, jika Celia ikut Adhi bisa ikut ke dalam rumah Atta juga. Jadi Adhi tidak akan menunggu di mobil selama Zara di rumah Atta.


Celia nampak berpikir, tidak ada salahnya menerima ajakan dari Zara untuk bersama-sama untuk menuju rumah Atta. "Baiklah.''


Zara merasa lega saat Celia menerima ajakannya. "Nanti biar aku dan Adhi yang akan menjemputmu di apartemen.''


Setelah menyelesaikan makan siang, dan memutuskan untuk ke rumah Atta malam nanti. Adhi dan Zara berpisah dengan Celia, dan berjanji akan datang untuk menjemput Celia nanti malam. Adhi langsung mengantarkan Zara, untuk pulang ke rumah terlebih dahulu.


"Kenapa kamu mengajak Celia ke rumah Bang Atta?'' Adhi yang sedang fokus menyetir, menatap Zara sejenak, sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Aku pikir kamu juga bisa ikut masuk ke rumah Bang Atta jika ada Celia, dari pada menunggu aku di dalam mobil.''


Adhi melirik sedikit pada Zara. "Maksudmu aku juga ikut masuk ke dalam rumah Bang Atta?'' Adhi memastikan lagi pada Zara.


"Iya,'' jawab Zara di sertai anggukan.


Adhi menarik senyum di ujung bibirnya saat mendengar ucapan Zara. Ada rasa senang di hati Adhi saat tau bahwa Zara memikirkan dirinya yang menunggu di dalam mobil. "Baiklah.'' Adhi menyetujui usulan Zara. "Aku rasa akan jadi kejutan saat Bang Atta melihat aku juga datang.'' Adhi hanya bisa tertawa dalam hati membayangkan reaksi Atta atas kehadirannya.


**


Setelah bersiap Adhi langsung melajukan mobilnya menuju rumah Zara, untuk menjemput Celia terlebih dahulu sebelum mereka menuju rumah Atta.


"Dimana apartemen Celia?'' Adhi yang melihat Zara masuk ke dalam mobil, menanyakan kemana dia harus melajukan mobilnya.


Zara yang sedang memakai seatbelt menoleh pada Adhi. "Di apartemen Fira.''


Adhi langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Zara. "Dimana kamu bilang?" Adhi yang seketika otaknya berhenti berpikir, menanyakan kembali pada Zara kemana dia harus menjemput Celia.


"Celia tinggal di apartemen Fira dan Pak Gajendra.'' Zara mengulangi penjelasannya pada Adhi.


"Celia tinggal di apatemen yang sama dengan Bang Jeje?" Adhi masih mencerna dengan baik penjelasan Zara.


"Iya, Celia tinggal di apartemen yang sama dengan Fira dan Pak Gajendra. Malah apartemen Celia, adalah apartemen yang dulu pernah di tempati oleh Fira.''


Adhi mengerutkan dalam keningnya mengetahui Celia menempati apartemen yang pernah di tempati Fira. "Dia membeli apartemen Bang Jeje?"


"Iya lah dhi. Celia membeli apartemen itu. Kalau tidak membeli, bagaimana dia bisa tinggal disana.'' Zara tertawa mendengar pertanyaan yang lucu bagi Adhi.


Adhi masih sulit percaya bahwa, Celia mantan kekasih Jeje tinggal bersebelahan dengan Fira dan Jeje. "Apa Fira mengenal Celia?" Adhi mulai melajukan mobilnya menuju apartemen Jeje dan Fira.


Adhi mengingat pertemuan antara dirinya dan Fira, selepas pulang kerja waktu itu. Tapi dirinya merasa tidak melihat Celia disana. "Kenapa aku tidak tahu?"


"Waktu itu kamu ke toilet.''


Dalam hati Adhi, dia berpikir ternyata dia melewatkan hal penting itu. Walaupun di hatinya sudah tidak ada Fira, baginya dia tidak akan pernah tega melihat Fira terluka.


**


Celia yang baru saja mendapatkan pesan dari Zara, langsung mengambil tasnya, dan keluar dari apartemennya. Tapi saat dirinya baru saja mengunci pintu apartemennya, dia melihat Jeje berjalan menuju apartemennya.


"Hai, je.'' Celia yang melangkah menuju lift, berhenti di depan pintu apartemen Jeje.


Jeje yang melihat Celia, hanya diam saja tidak membalas ucapan Celia. Bagi Jeje, rasanya tidak ada gunanya dia membalas sapaan Celia. Jeje hanya ingin cepat-cepat mengambil baju dirinya dan Fira, karena besok mereka akan berangkat berkerja dari rumah mamanya.


Celia yang mendapati Jeje tidak membalas sapanya, langsung menarik lengan Jeje. "Apa kamu ingin ke apartemen Fira?"


"Apa kamu tidak melihat aku sedang membuka pintu,'' jawab Jeje seraya menghempas tangan Celia yang berada di lengannya.


"Apa yang kamu lihat dari sekertarismu itu je?''


Jeje hanya tertawa mendapat pertanyaan dari Celia. "Bagiku dia bukan hanya sekedar sekertaris. Tap..''


"Tapi selingkuhan mu?" Celia yang mendengar ucapan Jeje langsung memotong ucapan Jeje.


"Selingkuhan,'' gumam Jeje bingung. "Sepertinya tinggal di luar negeri, membuatmu sedikit tidak bisa berpikir dengan benar.'' Jeje yang malas langsung meraih handle pintu, dan masuk ke dalam apartemennya. Jeje pun langsung masuk ke dalam apartemen, meninggalkan Celia yang masih diam di depan pintu apartemennya.


Celia yang melihat Jeje meninggalkannya masuk ke dalam apartemen, mengeram kesal. Rasanya dia benar-benar tidak rela Jeje menjalin hubungan dengan Fira.


Ponsel Celia yang berdering membuat, emosinya teralihkan. Celia langsung mengambil ponselnya di dalam tas dan mengangkat sambungan telepon. "Iya, aku akan segera turun." Celia yang mendapat telepon dari Zara, segera melangkahkan kakinya untuk menuju loby di mana Zara dan Adhi menunggu.


**


Saat sampai di rumah Atta. Adhi, Zara, dan Celia langsung turun dari mobil dan melangkah menuju ke dalam rumah Atta. Adhi menekan bel rumah Atta, dan menunggu penghuni rumah membukakan pintu.


Selang beberapa saat, pintu terbuka. Dan nampak Atta sendiri yang membuka pintu.


"Kejutan,'' ucap Celia pada Atta.


Atta yang melihat Zara bersama Adhi dan Celia merasa sangat kaget. Dirinya yang tadi siang di kabari bahwa Zara akan datang memenuhi undangan mamanya, tidak menyangka bahwa Zara tidak datang sendiri.

__ADS_1


"Siapa ta?'' tanya Sarah dari dalam rumah .


Celia yang melihat tantenya langsung, melangkah menerobos Atta yang masih diam membeku di depan pintu. "Tante," sapa Celia seraya memeluk mama Atta.


"Kamu juga kesini?" Tanya Sarah yang senang saat melihat keponakannya datang.


"Iya kebetulan tadi aku bertemu dengan Zara dan Adhi, dan mereka bilang akan kemari, jadi aku ikut mereka."


"Adhi?'' Mama Atta nampak bingung siapa yang di maksud Adhi oleh Celia.


"Adhi adik Daffa tante,'' jelas Celia yang melihat kebingungan tantenya.


"Adhi adik Daffa,'' ucap mama Atta. "Mana dia?''


"Di depan.''


Mama Atta langsung melangkah ke arah pintu. "Ta, kenapa tamunya tidak di suruh masuk?''


Atta hanya diam saat mamanya menegurnya, rasanya dia malas sekali mempersilakan Adhi untuk masuk.


Mama Atta langsung beralih pada Adhi. ''Kamu Adhi adik Daffa?''


"Iya tante.''


"Kamu sudah besar sekali. Tante sudah lama sekali tidak lihat kamu. Seringnya lihat Abang kamu yang kemari. '' Mama Atta membelai wajah Adhi.


"Iya tante, saya kemarin sibuk kuliah, dan baru kerja.''


Mama Atta beralih pada Zara. "Halo cantik, akhirnya kamu datang juga, Atta dari tadi sudah tidak sabar menunggu kamu.''


Zara yang mendengar ucapan mama Atta hanya bisa memaksakan senyumnya, dirinya bingung untuk membalas bagaimana sapaan di sertai penjelasan tentang Atta yang menunggunya.


"Ya sudah ayo masuk.'' Mama Atta mempersilakan tamu-tamunya masuk, dan menuntun mereka langsung ke meja makan.


Zara merasa bersyukur, sebelum dirinya menjawab ucapan mama Atta. Mama Atta mempersilakan dirinya dan Adhi untuk masuk.


Atta yang masih kaget dengan kedatangan Adhi dan Celia, masih diam di depan pintu. Rasanya dia geram sekali, acara makan malam keluarga, harus terganggu dengan kedatangan orang yang tidak di undang.


Adhi, dan Zara memilih duduk bersebelahan, sedangkan Celia duduk di sebelah Atta. Mereka memulai makan malam, setelah semua hidangan tersedia.


"Kamu sama Zara berteman dhi?'' Sarah yang melihat Adhi dan Zara akrab pun bertanya.


"Iya tante, kamu dulu satu kampus.''


"Hanya berteman?'' Sarah memperjelas pertanyaannya.


Zara dan Adhi terkesiap saat mendengar pertanyaan dari mama Atta. Seketika Adhi dan Zara saling berpandangan, saat berada di pikiran masing-masing.


"Tante nggak lihat, cara pandang mereka, kenapa masih bertanya hal itu.'' Celia dengan tenangnya mengoda tantenya. Dia tidak tau situasi apa yang terjadi di meja makan, dengan jawabannya itu.


Mama Atta yang melihat Adhi dan Zara sejenak berpikir, bahwa benar yang di katakan Celia. "Tante pikir Zara belum punya pacar,'' ucapnya di sertai tawa kecil. Tapi sejenak dia melihat putranya yang diam dan tak mengatakan apa-apa. Sebagai ibu, dia tahu sorot mata putranya, merasa kecewa dengan kenyataan yang ada di hadapannya.


Zara dan Adhi tidak ada yang membenarkan, atau pun mengelak ucapan dari mama Atta. Zara sebenarnya ingin menjawab bahwa dirinya dan Adhi hanya berteman, tapi entah kenapa, mulutnya terkunci dan tak mau terbuka untuk menjelaskan.


Sedangkan Adhi memilih diam, menunggu Zara menjawab. Tapi saat melihat tak ada jawaban dari Zara, dirinya lebih memilih diam, agar orang-orang membenarkan ucapan Celia.


Akhirnya mereka melanjutkan makan malam, dan menyelipkan perbincangan kecil. Setelah makan malam usai, Zara dan Adhi berpamitan lebih dulu. Celia yang memilih menginap, akhirnya membuat Adhi hanya pulang bersama Zara.


"Terimaksih atas undangan makan malamnya tante.'' Zara yang merasa undangan makan malam di tujukan padanya, berterimakasih pada mama Atta.


"Sama-sama, terimakasih juga sudah mau datang.'' Sarah tahu bahwa makan malam ini tidak sesuai keinginannya, tapi baginya dia cukup tahu kenyataan bahwa anaknya benar-benar menyukai Zara.


Adhi juga mengucapkan terimaksih, dan berpamitan pada mama Atta dan Celia. "Aku balik dulu ya, Bang,'' ucap Adhi dengan senyum kemenangan. Walaupun dirinya belum mengatakan cintanya pada Zara, paling tidak orang sudah tahu bahwa dirinya memiliki perasaan pada Zara.


Atta yang melihat senyum Adhi hanya menahan emosinya. Rasanya, dia benar-benar tidak terima dengan kenyataan bahwa Zara dan Adhi memiliki hubungan. Dia memilih diam tidak menjawab, saat Adhi berpamitan padanya.


Adhi tahu bahwa Atta sedang menahan emosinya. Tapi baginya, semuanya belum selesai. Melihat semua yang terjadi malam ini. Dia berpikir tidak ingin berlama-lama mengungkapkan isi hatinya pada Zara.


Akhirnya Adhi dan Zara masuk ke dalam mobil, dan Adhi melajukan mobilnya menuju rumah Zara.


.


.


.


.


Jangan lupa like ya🥰


Mampir juga ke instragram aku: Myafa16

__ADS_1


__ADS_2