
Setelah mengambil baju di apartemen, Jeje kembali ke rumah mamanya. Sepanjang perjalanan, Jeje masih teringat dengan kata-kata Celia, yang mengatakan Fira adalah selingkuhannya. Jeje sedikit menyesali keputusannya dulu menerima pertunangan dengan Ana, yang berakibat membuat orang menganggap Fira selingkuhannya. Walaupun kenyataannya tidak seperti orang kira, rasanya tidak mungkin dirinya menjelaskan hal pribadi pada semua orang.
Dalam hati Jeje berpikir bahwa hanya segelintir orang, yang berpikir bahwa Fira dulu adalah selingkuhannya. Dan Celia adalah salah satu dari segelintir orang itu.
Tidak terasa perjalanan Jeje telah sampai di rumah. Jeje langsung memarkirkan mobilnya, dan masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, Jeje langsung bergabung dengan Fira, papa dan mamanya makan malam.
Fira yang melihat suaminya pulang, menyambut dengan senyum khas miliknya. Baru saja Jeje meninggalkan dirinya sebentar, tapi rasanya dia sudah merindukan pria yang di cintainya itu.
Jeje yang melihat Fira sudah duduk manis di kursi, dan sedang bersiap untuk makan malam, langsung mendaratkan ciuman di pucuk rambut Fira. Dan beralih menarik kursi tepat di samping Fira, untuk memulai makan malam.
"Kamu mau sampai kapan mau kerja, Fir?" Mama Inan menanyakan pada Fira, di sela-sela makan.
"Belum tahu ma, mungkin sekuat Fira."
"Sebenarnya mama tidak suka kamu berkerja. Jeje masih bisa memberi uang kamu, tanpa harus kamu berkerja," ucap Mama Inan datar.
Fira terkesiap saat mendengar ucapan mertuanya. Sebenarnya bukan itu yang di cari Fira. Fira sadar betul, dirinya selama ini tidak memakai uang hasil kerjanya, karena uang dari Jeje pun tak pernah habis dia pakai. Dia berkerja karena merasa sangat bosan di apartemen sendiri.
Jeje yang mendengar ucapan mamanya, menoleh pada Fira. Jeje tahu betul raut wajah Fira yang berubah, menandakan ada sesuatu yang di pikirnya. "Jeje hanya ingin menjaga Fira ma, dengan Fira ada di kantor aku bisa menjaga Fira." Jeje mencoba menjelaskan pada mamanya.
"Kalau kamu merasa Fira sendiri di apartemen, kalian tinggal saja disini. Mama akan temani Fira di rumah."
"Ma.."
"Mama hanya tidak mau terjadi apa-apa dengan Fira, je," potong Mama Inan pada Jeje
Mamanya yang sudah memotong ucapan Jeje, membuat Jeje tidak bisa melanjutkan menjelaskan.
"Sudahlah ma, Jeje dan Fira mempunyai keputusan sendiri. Papa rasa benar kata Jeje, dengan Fira di kantor, Jeje bisa menjaga Fira. Lagi pula tidak mungkin Jeje memberi perkerjaan berat untuk Fira." Rayhan yang dari tadi mendengar perdebatan anaknya, mencoba menengahi.
Mama Inan langsung terdiam, saat suaminya mulai bicara. Dia tahu suaminya jarang sekali bicara, jika tidak perlu.
Jeje yang mendengar pembelaan dari papanya, merasa bersyukur. Paling tidak mamanya akan berhenti memojokkan Fira lagi, setelah mendengar ucapan papanya.
Akhirnya semua melanjutkan makannya, tanpa perbincangan lagi. Setelah selesai makan pun, mereka tidak ada yang melanjutkan perbincangan.
Jeje dan Fira, kembali ke kamar, setelah makan malam selesai. Mereka langsung berlalu ke kamar mandi bergantian, untuk mengosok gigi sebelum tidur.
Melihat Fira yang baru saja keluar dari kamar mandi, Jeje yang sedang duduk bersandar pada headboard tempat tidur, menepuk tempat tidur di sisi sebelahnya, meminta Fira duduk bersamanya.
Dengan merangkak ke atas tepat tidur, Fira menyusul Jeje dan duduk di samping Jeje. Jeje yang sudah merentangkan tangan, membuat Fira langsung masuk ke dalam pelukkan Jeje.
"Apa kamu sedih dengan ucapan mama?" Jeje membelai lembut rambut Fira, dan menanyakan dengan hati- hati pada Fira.
Fira tidak membalas ucapan Jeje. Dia hanya mengangguk, tanda bahwa dia membenarkan ucapan Jeje.
"Mama hanya khawatir, jadi jangan di masukkan ke dalam hati ucapan mama." Jeje berusaha menenangkan Fira.
Fira mengerti kenapa mertuanya begitu tidak suka dengan keputusan Fira berkerja. Bagi mertuanya, anak yang di kandung Fira adalah cucu pertamanya, jadi dia tidak mau terjadi apa-apa dengan kehamilan Fira. "Aku tahu."
"Sudah tidurlah, besok kita harus ke kantor lebih awal, karena jarak dari sini ke kantor lebih jauh dari pada dari apartemen." Jeje merebahkan tubuhnya, dan membawa Fira juga bersamanya, merebah di atas tempat tidur.
Fira yang berada di dekapan Jeje pun tidak menolak saat Jeje membawanya untuk tidur.
**
Fira mengerjap saat merasakan perutnya terasa lapar. Saat matanya terbuka sempurna, Fira mengedarkan pandangan, mencari jam dinding yang terdapat di kamar Jeje. Saat mendapati jam menunjukan jam dua malam, rasanya Fira tidak tega untuk membangunkan Jeje.
Tapi perutnya yang lapar, sudah tidak bisa di tahannya lagi. Dengan lembut Fira membangunkan Jeje. "Sayang," ucap Fira seraya mengoyang-goyangkan tubuh Jeje.
"Em..." Jeje hanya melenguh saat merasa tubuhnya di goyang-goyangkan oleh Fira.
"Sayang," panggil Fira kembali saat Jeje tidak membuka matanya.
Jeje yang mendengar Fira memanggilnya terus, akhirnya membuka matanya perlahan. "Apa sayang?" tanya Jeje dengan suara serak.
"Aku lapar.'"
Jeje yang mendengar Fira lapar, langsung membuka sempurna matanya. "Kamu lapar?"
Fira langsung mengangguk, saat Jeje memperjelas ucapannya.
"Ayo kita lihat ada apa di lemari pendingin." Jeje menyibak selimutnya, dan bangkit dari tempat tidur. Mengulurkan tangan pada Fira, Jeje membawa Fira untuk ke dapur.
Sesampainya di dapur, Jeje membuka lemari pendingin. "Kamu mau makan apa?"
__ADS_1
Fira yang melihat Jeje membuka lemari pendingin, ikut mengintip dari balik tubuh Jeje. "Aku mau makan anggur saja," ucap Fira yang melihat anggur di dalam lemari pendingin.
Jeje langsung mengambil anggur yang terdapat di lemari. "Mau makan di mana?"
"Di kamar saja."
Akhirnya Jeje dan Fira kembali ke kamar, setelah Fira mengatakan ingin makan di dalam kamar saja. Sesampainya di dalam kamar, Jeje langsung mengajak Fira duduk di sofa. Dan meminta Fira untuk makan anggur yang di bawanya.
Fira langsung duduk di sofa, tapi tangannya belum bergerak untuk memakan anggur yang di bawanya. Fira memperhatikan dengan baik, bahwa anggur yang di bawanya ini adalah anggur dengan biji.
"Kenapa tidak di makan?" Jeje yang menunggu Fira dengan menahan kantuknya, melihat Fira diam tidak memakan buah anggur yang di ambilnya dari lemari pendingin.
"Aku tidak mau makan anggur dengan bijinya."
Jeje mengerutkan dalam keningnya, saat mendengar Fira ingin makan anggur tanpa bijinya. Dalam hati Jeje hanya bisa berkata, mana ada orang makan anggur tanpa biji. Biasanya orang makan anggur langsung dengan bijinya. "Lalu bagaimana caranya makan tanpa biji?"
Fira ikut berpikir bagaimana caranya makan tanpa bijinya. "Kamu bisa membelahnya dengan pisau, lalu kamu buang bijinya."
Jeje yang mendengar ide Fira, hanya menahan kesalnya. Bukan Jeje tidak mau membuang biji dalam buah anggur. Tapi Jeje malas sekali, untuk turun ke dapur lagi mengambil pisau. "Bagaimana kalau aku gigit untuk membelahnya, lalu aku akan membuang bijinya."
Fira melirik tajam pada Jeje, saat mendengar ide Jeje yang aneh baginya.
"Jangan bilang kalau kamu jijik, karena anggurnya terkena liur aku." Jeje menebak apa yang di pikirkan oleh Fira.
Fira yang mendengar Jeje menebak apa yang di pikirannya, hanya tersenyum memamerkan deretan giginya. Dirinya sangat malu pada Jeje, saat ketahuan memikirkan hal itu.
"Saat kamu menciumku, dan air liur kita bercampur saja, kamu tidak jijik. Kenapa sekarang harus merasa jijik." Jeje melirik tajam, pada Fira.
Pipi Fira langsung merona saat mendengar ucapan Jeje. "Itu berbeda."
"Apa bedanya?" tanya Jeje. "Atau kamu mau aku aku memakan anggurnya lalu memberikanmu dengan mulutku?" Jeje tersenyum mengoda Fira.
"Kamu pikir aku anak bayi, harus makan dari mulutmu, dan memastikan anggur lembut tanpa biji," kesal Fira. "Aku pilih ide pertamamu saja, kamu gigit untuk membelahnya, dan membuang bijinya."
Jeje hanya tersenyum saat Fira memilih ide pertamanya. Jeje langsung mengigit anggur dan membuang bijinya. Setelah selesai Jeje memberikan anggur pada Fira.
Dengan ragu-ragu Fira memakan anggur yang telah di gigit oleh Jeje. Mengingat perutnya yang lapar, Fira memakan anggur cukup banyak.
Jeje yang melihat Fira belum berhenti memakan anggurnya, terus saja mengigit anggur dan membuang bijinya. Sampai saat terdengar suara Fira mengatakan cukup, akhirnya Jeje menghentikan aktifitasnya membuang biji anggur.
**
Setelah pagi ini berangkat ke kantor dari rumah mamanya. Jeje dan Fira sampai di kantornya. Tadi Fira dan Jeje sengaja berangkat lebih awal untuk menghindari macet, tapi justru membuat mereka berdua datang lebih awal.
"Sayang, kamu mau sarapan apa?" Tadi pagi Fira sempat sarapan sebelum berangkat ke kantor, tapi baru saja memakan makanannya, Fira langsung muntah. Akhirnya Fira memilih untuk tidak melanjutkan makannya.
Fira memikirkan untuk makan apa pagi ini yang enak baginya. "Aku ingin bubur ayam."
"Beli dimana bubur ayam?" tanya Jeje yang bingung, mencari makanan yang di minta oleh Fira.
"Biasanya dulu aku makan bubur ayam di dekat kampus," jelas Fira.
Jeje menautkan kedua alis tegasnya. "Jarak kampus dan kantor lumayan jauh."
Fira menyadari jika jarak kantor memang jauh. Tapi dirinya sangat ingin makan bubur ayam, yang terdapat di kampusnya dulu. ''Bagiamana kalau kita menitip pada Adhi. Setiap berangkat, Adhi selalu melewati kampus. Dan ini masih pagi, jadi pasti Adhi belum berangkat.''
Jeje yang mendengar ucapan Fira, mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Adhi. "Halo dhi,".sapa Jeje saat sambungan teleponnya tersambung.
"Halo, Bang," sapa Adhi balik terdengar dari sambungan telepon. ''Ada apa Bang Jeje menelepon pagi-pagi?''
"Apa kamu sudah berangkat ke kantor?"
"Belum Bang."
"Bisakah aku meminta tolong untuk membelikan bubur ayam di kampus kalian. Fira sedang ingin memakan bubur, dan aku sudah sampai di kantor."
Adhi sedikit berpikir, karena jalan ke arah kantornya melewati kampus dan kantor Jeje, rasanya tidak ada salahnya dia membantu Jeje. "Baiklah, aku akan membelikan dan akan aku antar ke kantor mu."
"Terimakasih, dhi." Setelah mendapatkan jawaban Adhi, Jeje langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Apa Adhi mau membelikannya?" tanya Fira sesaat setelah Jeje mematikan sambungan teleponnya.
"Iya," jawab Jeje di sertai anggukan.
Senyum Fira langsung mengembang di wajahnya saat mendengar Adhi mau membelikannya bubur.
__ADS_1
**
Setelah Adhi membelikan bubur ayam pesanan Fira, Adhi melajukan mobilnya untuk ke kantor Jeje terlebih dahulu. Saat baru masuk ke dalam kantor Jeje, Adhi bertemu dengan Nayla di depan lift.
"Mau ketemu Pak Gajendra, dhi?" tanya Nayla yang melihat Adhi di kantor.
"Iya, Nay."
Adhi dan Nayla pun masuk ke dalam lift bersama, dengan beberapa karyawan lain.
"Dhi, bisakah kita bicara berdua?" Nayla memberanikan diri, untuk mengatakan itu pada Adhi.
Adhi yang merasa Nayla tidak ada berhentinya mendekatinya, akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan Nayla. Adhi pikir ini saatnya dia bicara baik-baik dengan Nayla, untuk berhenti mendekatinya. "Baiklah, aku akan kabari jika aku ada waktu."
Nayla yang mendapatkan jawaban Adhi merasa senang. "Baiklah, tidak apa-apa, kabari saja jika kamu ada waktu kosong ," ucap Nayla. Saat lift terbuka, Nayla berpamitan untuk keluar lebih dulu , sedangkan Adhi melanjutkan menuju ruangan Jeje .
Sesampainya di depan ruangan Jeje, Adhi melihat Fira berada di depan meja kerjanya.
"Ini Nona pesanan Anda," ucap Adhi seraya meletakkan kantung berisi bubur ayam pesanan Fira.
Fira yang melihat Adhi memberikan pesanannya, langsung tersenyum. "Terimakasih."
Adhi yang melihat senyum Fira, merasa senang saat bisa membantu temannya yang sedang hamil itu. "Apa aku sudah mirip kurir makanan?" Adhi mengoda Fira.
"Mana ada kurir makanan, setampan dirimu."
"Astaga, sepertinya anakmu akan mirip denganku, jika kamu memujiku seperti itu." Adhi tertawa mengoda Fira.
"Mana bisa," ucap Fira seraya melirik tajam Adhi.
Adhi hanya tertawa sat melihat wajah kesal Fira. "Bang Jeje ada di dalam?" tanya Adhi mengalihkan pembicaraan.
"Ada, kamu mau bertemu?"
"Iya."
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu, makanlah buburmu. Aku akan masuk sendiri." Adhi berlalu meninggalkan Fira dan mengetuk pintu ruangan Jeje. Setelah terdengar suara Jeje mempersilakan masuk, Adhi langsung masuk ke dalam ruangan Jeje.
"Kamu dhi,"ucap Jeje saat melihat Adhi yang masuk ke dalam ruangannya. "Mana buburnya?" Jeje yang melihat Adhi tidak membawa masuk apa-apa ke dalam ruangannya.
"Sudah aku berikan pada Fira," ucap Adhi seraya menarik kursi, tepat di meja kerja Jeje. "Ada yang mau aku tanyakan, Bang?"
"Apa?"
"Apa Abang sudah tahu bahwa Celia tinggal di apartemen sebelah, yang dulu di tempati Fira." Adhi yang ke kantor Jeje memanfaatkan kesempatan ini, untuk menanyakan hal yang mengganjal di hatinya.
Jeje yang mengira Adhi akan membahas tentang perkerjaan, tidak Menyangka Adhi akan membahas masalah Celia. "Iya," ucap Jeje. "Aku juga baru tahu saat Fira mengatakan tetang tetangga baru. Karena proses penjualan apartemen semua di tangani oleh Reza, aku tidak tahu bahwa yang membeli apartemenku adalah Celia."
"Fira sudah tahu bahwa Celia mantan Abang?" Tanya Adhi dengan penuh rasa penasaran.
"Sudah, aku sudah menceritakan semua."
Adhi merasa lega saat mendengar bahwa Jeje sudah mengatakan semua pada Fira. "Sepertinya, Abang lebih gerak cepat." Adhi tersenyum pada Jeje.
"Aku tidak mau Fira salah paham, jadi aku menghindari itu."
"Aku ikut senang. Paling tidak semua harus di mulai dengan kejujuran."
Jeje hanya mengangguk saat mendengar ucapan Adhi. Setelah Adhi mendapat jawab dari Jeje. Dan tugaskan mengantarkan makanan selesai, Adhi kembali ke kantornya.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca terus
Terjebak Cinta Majikan.
Jangan lupa berikan likeš„°
Jangan lupa mampir ke karya lain ku
__ADS_1
Dan mampir juga ke ke instagram aku: Myafa16