
Fira tidak menyangka niatnya mengoda, membuat Jeje sepanik itu membayangkan.
Ketakutan akan hal itu, terlihat dari kedua bola mata Jeje. Sebenarnya Fira tidak akan pernah lupa, bagaimana dulu Jeje menceritakan, dirinya sekacau apa mencari Fira, waktu mama Inan mengirimnya.
Di tambah lagi, Fira ingat betul bagimana penampilan Jeje pertama kali bertemu dengannya, saat dirinya tidur di apartemen sebelah. Jeje benar-benar terlihat kacau, dan tidak memperdulikan dirinya.
"Aku bilang kan, sebagian ibu hamil, dan aku tidak tahu bagian yang mana nanti aku." Suara Fira yang lembut, dan usapan tangannya di pungung tangan Jeje, seketika membuat emosi Jeje mereda.
"Aku berharap, aku bukan dari bagian ibu hamil yang tidak suka berdekatan dengan suaminya. Aku berharap aku akan selalu ingin dekat dengan mu terus selama kehamilan nanti." Fira tersenyum pada Jeje, meyakinkan Jeje, kalau dirinya berharap lain.
Jeje menghela nafasnya, perlahan menghilangkan gemuruh di dadanya yang begitu sesak membayangkan jauh dari Fira. "Maafkan aku, aku hanya tidak bisa jauh dari mu." Jeje membalikkan telapak tangannya mengengam tangan Fira yang sedari tadi mengusap punggung tangannya.
Fira hanya mengangguk, mata coklatnya menatap tajam ke dalam mata Jeje. Permintaan maaf yang begitu dalam, dan kata-kata tulus dari dalam hati, bahwa dia tidak bisa jauh dari Fira, tergambar nyata di kedua mata Jeje. Hati Fira seketika menghangat, merasa di cintai seorang Gajendra Nareswara. Dirinya tidak menyangka akan mendapatkan cinta sebesar itu dari suaminya.
"Nona Zhafira." Suara perawat seketika membuat mata mereka mengerjap, dan memalingkan pandangan.
"Ayo kita lihat, apakah akan ada malaikat kecil di sini." Jeje berucap seraya mengusap perut Fira dengan tangan kanannya. Dia pun langsung berdiri, tapi langkahnya terhenti, saat tangan kirinya yang mengenggam tangan Fira, tertarik karena Fira yang masih duduk dan tidak beranjak. "Kenapa?" tanyanya yang melihat istrinya masih diam tak beranjak.
Fira sedikit menengadah karena posisi Jeje yang sudah berdiri, "Berjanjilah, kalaupun tidak ada malaikat kecil di sini, kamu tidak akan pernah kecewa." Fira berucap seraya menundukan pandangan sebentar pada perut ratanya, dan kembali memandang Jeje penuh pengharapan. Sebenarnya Fira sedikit tersentak saat Jeje mengusap perutnya, terlihat jelas begitu berharapnya Jeje.
"Iya, aku janji," ucapnya dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
Fira pun langsung berdiri dan masuk bersama Jeje, mengikuti perawat yang menuntunnya untuk bertemu dokter.
"Silahkan duduk," ucap dokter mempersilahkan Fira dan Jeje duduk.
Fira melihat dokter wanita yang telihat cantik. Dia ingat betul sebelum masuk tertera nama dokter tersebut di pintu masuk, dan ter pasang dengan nama dr.Helena, sp.OG.
Setelah duduk, dokter langsung melakukan pengecekan tekanan darah di bantu oleh perawat. Selanjutnya dokter menanyakan kapan hari terakhir datang bulan. Dan apa saja yang sudah di lakukan.
__ADS_1
"Ini," ucap Fira seraya menyodorkan alat tes kehamilan, setelah dokter bertanya apa dia sudah melakukan test di rumah.
Dokter pun melihat tes pada alat kehamilan dan tersenyum pada Fira dan Jeje. "Garis yang muncul secara samar seperti ini, ada beberapa faktor kemungkinan. Pertama di sebabkan karena kadar hormon kehamilan, atau human chorionic gonadotropin hormone (hCG), masih rendah. Tapi segera setelah hamil, tubuh akan memproduksi hCG, dan kadar hormon ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.
Kedua di sebabkan karena penguapan urin pada tes kehamilan. Dan ketiga bisa di sebabkan karena keguguran dini," jelas dokter pada Fira dan Jeje.
Fira dan Jeje pun mengerti kenapa garis dua yang terdapat di alat kehamilan yang Fira coba tadi pagi terlihat samar.
"Jadi istri saya hamil atau tidak dok?" Jeje yang dari tadi mendengarkan penjelasan dokter belum menemukan jawab pasti. Dan itu membuatnya semakin penasaran.
"Untuk lebih memastikan, sebaiknya melakukan cek darah terlebih dahulu, karena dari cek darah kita bisa mengetahui hasilnya."
Akhirnya Jeje dan Fira tidak punya pilihan lain, selain mengikuti saran dari dokter. Perawat langsung mengambil sampel darah Fira, setelah di minta dokter untuk mengambil sampel darah untuk di cek.
Setelah melakukan pengambilan sampel darah, Fira dan Jeje di minta untuk menunggu terlebih dahulu. Mereka berdua pun menunggu hasil di ruang tunggu.
Fira yang melihat Jeje begitu tidak sabar malah menjadi takut dengan hasilnya. Dari test kehamilan tadi sudah di jelaskan kenapa alat itu bisa samar. Fira benar-benat takut, hasilnya negatif yang artinya dia tidak hamil
"Kalau..." Jeje menoleh pada Fira, tapi ucapannya terhenti saat melihat wajah Fira yang nampak pucat, dia benar-benar tidak sadar kalau grutuannya membuat wanita yang di sampingnya ini menjadi panik.
"Sayang maafkan aku," ucapnya mengenggam tangan Fira. Tangan Fira yang begitu dingin, menandakan ketakutan yang luar biasa. Jeje benar-benar merutuki dirinya, membuat istrinya sampai ketakutan.
Fira hanya menjawab dengan senyum kecut, menutupi ketakutannya.
Selang beberapa saat perawat memanggil Fira dan Jeje, untuk masuk ke dalam ruangan. Mereka berdua duduk di depan meja dokter.
Menunggu doktet membuka hasil test darah, yang Fira lakukan tadi.
Jeje dari tadi mengenggam tangan Fira, memberi kekuatan pada Fira, untuk menerima apa pun hasil yang di bacakan oleh dokter.
__ADS_1
"Selamat istri Anda hamil." Satu kalimat yang di ucapkan dari dokter.
Fira dan Jeje masih mencerna baik-baik ucapan dokter, mereka berdua masih tak percaya akan hasilnya.
"Apa benar istri saya hamil dok?" Jeje memastikan kembali.
"Dari hasil test darah yang di lakukan tadi, menujukan bahwa istri Anda hamil. "
Jeje benar-benar tidak percaya, dia pun menolah ke arah Fira, mengenggam tangan Fira lebih kuat, Fira yang masih begitu terkejut masih diam. Tapi saat genggaman tangan Jeje semakin kuat, membuat dia tersadar, dan menatap Jeje. "Kamu hamil," ucapanya pada Fira.
Fira menatap Jeje, mendengarkan dengan baik kata-kata yang di ucapkan suaminya. Rasanya dia benar-benar masih tidak percaya, bahwa di dalam rahimnya ada malaikat kecil yang tumbuh. Ingin rasanya dia menjawab ucapan Jeje, dengan pelukan, tapi rasanya tidak mungkin karena dia sedang berada di ruangan dokter. Akhirnya Fira hanya menjawab dengan anggukan, dan senyuman pada Jeje.
Jeje pun beralih pada dokter, "Lalu kenapa alat test kehamilan, yang di coba istri saya samar?" Jeje yang masih begitu ingin tahu akan alat itu pun memilih bertanya.
"Karena ini awal kehamilan, dan terlalu dini, maka saat di cek melalui alat test kehamilan yang Anda beli, akan terlihat samar."
.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
Mampir juga ke karya istagram aku Myafa16
__ADS_1