Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Memang berjodoh


__ADS_3

Pagi ini Fira bangun dengan tidak mengalami muntah seperti kemarin. Dengan keadaan seperti itu, Fira merasa sangat lega, karena aktifitas paginya, tidak akan terganggu.


Setelah mandi, Fira menuju dapur untuk membantu ibunya. "Sudah selesai ya, Bu." tanya Fira yang baru sampai di dapur.


"Sudah, kamu panggil Raka saja."


Fira mengangguk, dan berlalu menuju kamar Raka, setelah mendapat perintah ibunya. Tapi belum sampai langkahnya di kamar Raka. Fira mendengar suara seseorang mengetuk pintu.


Akhirnya Fira beralih menuju pintu depan, untuk melihat siapa yang datang. Membuka pintu, Fira melihat pria yang tidak asing di lihatnya.


"Fira," ucap Daniel, yang kaget saat melihat Fira ada di rumah yang sama dengan Raka. Daniel yang ingin bertemu dengan Raka, meminta alamat tempat tinggal Raka.


"Pak Daniel," ucap Fira pada Daniel. Fira pun tak kalah kaget, saat melihat Daniel di rumahnya.


"Niel, kamu sudah datang." Raka yang baru keluar dari kamar, berniat ke depan untuk menunggu Daniel. Tapi ternyata Daniel sudah datang.


"Iya," ucap Daniel ragu-ragu.


"Kakak kenal Pak Daniel?" tanya Fira yang melihat Raka menyapa Daniel


"Iya, dia teman kuliah kakak," ucap Raka. "Masuk, Niel." Raka mempersilakan Daniel untuk masuk ke dalam. Raka melangkah ke kursi di ruang tamu, dan mendudukkan tubuhnya.


Fira mengangguk mengerti, apa yang di jelaskan Raka. Daniel pun masuk ke dalam rumah, dan duduk di ruang tamu.


"Kamu kenal Daniel juga?" tanya Raka, yang heran kenapa bisa Fira tahu nama Daniel.


"Iya, dia rekan bisnis Jeje." Fira pun ikut duduk di samping Raka.


"Oh, jadi kamu rekan kerja suami Fira, Niel?" Raka tidak menyangka, jika Daniel adalah rekan kerja Jeje. "Dunia terasa sempit ya." Raka tertawa membayangkan Daniel adalah rekan bisnis Jeje.


"Suami?" ucap Daniel bingung.


"Kamu tidak tahu?" Raka yang melihat raut wajah Daniel yang berubah pun bertanya.


"Tidak." Daniel benar-benar merasa kaget saat mendengar, jika Jeje adalah suami Fira. Yang dia tahu dari Celia, Fira adalah selingkuhan Jeje.


"Ya, sudah aku ambil minum dulu." Fira berdiri dan berlalu ke dapur.


Daniel masih menatap Fira yang berlalu. "Lalu Fira, siapa kamu?" tanya Daniel.


"Oh dia adik angkat aku?"


"Tuan putri yang kamu maksud?" tanya Daniel. Daniel memang tahu dari cerita Raka, jika dirinya menyukai adik angkatnya.


"Iya."


Daniel tidak menyangka, jika dirinya menyukai orang yang sama dengan Fira. Dan lebih tidak di sangka lagi adalah, dari mereka berdua tidak akan ada yang mendapatkan Fira, karena Fira sudah menikah.


Fira yang mengambil minum, kembali ke ruang tamu dengan nampan berisi dua cangkir teh untuk Raka dan Daniel.


"Kamu sudah tidak berkerja, Fir? tanya Daniel. Daniel yang kemarin ke kantor Jeje, tidak menemui Fira disana.


"Oh iya, aku sudah berhenti berkerja."


"Kenapa?" tanya Daniel ingin tahu.


"Fira sedang hamil," potong Raka sebelum Fira menjawab.


"Hamil?" gumam Daniel. Rasanya hari ini Daniel mendapatkan banyak kejutan hari ini. Setelah dirinya tahu Fira adalah istri Jeje, dan Raka adalah kakak angkat Fira. Sekarang dirinya tahu, jika ternyata alasan Fira tidak berkerja karena kehamilan.


"Tadi ibu meminta untuk sarapan. Kakak sekalian ajak Pak Daniel saja untuk sarapan," ucap Fira pada Raka.


"Ayo, Niel, kita sarapan sekalian." Raka mengajak Daniel untuk bersama sarapan dengan Fira dan ibunya.


Fira, Raka dan Daniel melangkah menuju meja makan. Di meja makan sudah ada Bu Ani. Raka juga mengenalkan Daniel pada Bu Ani. Dan memulai makan sesaat kemudian.


Di dalam sarapan Bu Ani menanyakan tentang bagaimana Daniel dan Raka berkenalan. Daniel dan Raka pun menceritakan tentang persahabatannya dan masa kuliah mereka.


Setelah selesai sarapan, Raka dan Daniel berpamitan. Raka memang sengaja mengajak Daniel untuk menemaninya melihat pemotretan parfum miliknya pagi ini.


Mengendarai mobil Raka, mereka berdua menuju tempat pemotretan.


"Aku baru tahu, kalau Tuan putri yang kamu maksud adalah Fira." Suara Daniel membelah keheningan di dalam mobil.


Raka yang sedang menyetir, menoleh sebentar dan menjawab. "Iya," jawab Raka.


"Lalu apa kamu sudah rela Fira dengan Jeje?" Rasanya Daniel ingin tahu, apa yang di rasa oleh Raka.


Raka tertawa kecil, mendengar pertanyaan dari Daniel. Mungkin kalau dulu Raka akan bilang jika dia tidak rela melihat Fira dan Jeje. Tapi kalau sekarang, Raka lebih memilih untuk merelakan. "Iya, lagi pula Fira sudah bahagia dengan Jeje. Untuk apa aku paksakan untuk mendapatkannya."


"Apa kamu akan beralih dengan wanita lain? atau menerima cinta.."


"Tidaklah," potong Raka sebelum Daniel melanjutkan ucapannya. "Untuk saat ini, aku belum terpikir untuk itu."


Setelah sampai di tempat pemotretan Raka dan Daniel melihat pemotretan baru di mulai. Sudah tampak model berpose di depan kamera.


"Yakin tidak mau beralih padanya?" tanya Daniel melihat model yang sedang berpose di depan kamera.


Raka hanya menarik senyum di wajahnya. "Setahu aku dia juga mencintai mantan kekasihnya."


Mengingat mantan kekasih, Daniel langsung tertawa. "Aku rasa kalian memang berjodoh."


Raka sedikit mengerutkan dahinya, merasa heran dengan Daniel yang menertawakannya. "Jodoh apa maksudmu?"


"Apa kamu tahu, jika mantan Celia adalah Jeje?"

__ADS_1


Mendengar ucapan Daniel, Raka langsung terkesiap. "Jeje?"


"Iya, Jeje suami Fira," ucap Daniel. "Aku rasa kalian pas, Celia pernah mencintai Jeje, dan kamu pernah mencintai Fira."


Rasanya Raka pun juga ingin tertawa, membayang apa yang di alami dirinya dan Celia. Ternyata mereka berdua terjebak dengan satu pasangan, yaitu Fira dan Jeje.


"Hai," sapa Celia yang menghampiri Raka dan Daniel.


"Hai Celia," ucap Daniel.


"Hai, Lia." Raka pun menyapa Celia.


"Kalian harus menunggu aku, karena aku mau menghabiskan waktu dengan kalian berdua."


"Tenanglah, Bos parfum ada disini," ucap Daniel seraya melirik Raka.


Celia langsung tertawa. "Ya, ini dia pengusaha parfum kita." Celia menambah godaan Daniel.


Raka hanya tersenyum, menanggapi dua temannya. Raka sudah cukup lama berteman dengan Daniel dan Celia, jadi dia sudah sangat hapal godaan mereka.


Setelah Celia menyelesaikan pemotretan. Raka, Daniel, dan Celia mencari cafe terdekat, untuk menikmati minum kopi.


"Aku mau pindah apartemen sepertinya." Suara Celia memulai obrolan saat mereka bertiga menikmati kopi.


"Kenapa, bukannya kamu suka tinggal di apartemen yang baru?" Daniel yang memang tahu dari awal, jika Celia sangat suka tinggal di apartemen.


"Itu soal waktu itu," ucap Celia pada Daniel.


Daniel mengerti waktu itu, yang di maksud oleh Celia. Daniel merasa tindakan Celia memang sudah melampaui batas, dan Jeje pasti sangatlah marah pada Celia.


Raka yang mendengar obrolan Daniel dan Celia sebenarnya ingin bertanya, tapi rasanya Raka tidak mau menanyakan jika Celia tidak menceritakannya.


"Kapan kamu kembali, Niel?" tanya Raka pada Daniel.


"Besok pagi," ucap Daniel. "Dan aku rasa aku tidak bisa berlama-lama dengan kalian." Daniel yang merasa harus merapikan barangnya, memutuskan untuk segera pulang


"Baiklah, ayo aku akan mengantarmu," ucap Raka.


"Tidak perlu, kamu antar Celia saja, aku akan naik taxi."


"Yakin?" tanya Raka memastikan kembali.


"Iya, tenanglah." Daniel menepuk bahu Raka meyakinkan. Daniel pun berdiri, dan meninggalkan Raka dan Celia.


"Apa benar Jeje adalah mantan kekasihmu?" tanya Raka pada Celia.


Celia tersentak kaget saat Raka tahu, jika mantannya adalah Jeje. "Apa Daniel yang mengatakan?" tanya Celia pada Raka.


"Iya," jawab Raka di sertai anggukan.


"Kenapa memangnya?" Raka merasa aneh, saat Celia memilih pindah apartemen karena Jeje.


"Aku sudah menuduh istri Jeje sebagai selingkuhan Jeje, dan aku mempermalukan istrinya berkali-kali. Jadi dia marah pada ku, dan karena apartemenku bersebelahan, aku merasa tidak nyaman." Celia menghela napasnya. Rasanya dia sudah berusaha untuk bertahan di apartemen Jeje. Tapi peluang bertemu dengan Jeje dan Fira, membuatnya merasa tidak nyaman.


"Kamu mempermalukan Fira?" tanya Raka memastikan.


Mendengar nama Fira di sebut oleh Raka, Celia merasa kaget. "Kamu kenal Fira?"


"Iya, dia adik angkatku."


Celia membulatkan matanya saat mendengar ucapan Raka. Celia tidak menyangka, jika Raka adalah kakak angkat Fira. "Aku baru tahu?"


"Iya, aku memang tidak menceritakan pada dirimu."


Saat mendengar ucapan Raka, terlintas di pikiran Celia untuk melakukan sesuatu. "Bisakah kamu membantuku untuk minta maaf lagi pada Fira?"


"Lagi?"


"Iya, aku sudah mencoba meminta maaf, tapi Jeje tidak memaafkan aku. Dan Fira pun sepertinya sama juga."


Melihat Celia, Raka berpikir tidak ada salahnya membantunya. "Baiklah."


Setelah menghabiskan kopinya, Raka dan Celia menuju ke rumah Fira. Rencananya Raka akan membantu Celia untuk meminta maaf pada Celia. Raka yakin, Fira akan memaafkan Celia.


Celia sebenarnya sangatlah takut, jika yang akan di dapatnya adalah penolakan dari Fira, mengingat Jeje seperti melarang Fira.


"Jangan khawatir, aku yakin Fira akan memaafkan dirimu." Raka yang melihat wajah Celia mencoba menenangkan.


Celia merasa tenang saat mendengar ucapan dari Raka.


Sesampainya di rumah. Raka dan Celia turun, dan masuk ke dalam rumah. Wajah Celia tampak tegang, saat akan bertemu dengan Fira. Sesekali dia melihat ke arah Raka. Raka yang menyadari pun, tersenyum memberikan keyakinan, bahwa semua akan baik-baik saja.


Setelah mengetuk pintu, mereka menunggu beberapa saat pintu di buka.


Saat pintu di buka, telihat Bu Ani yang membuka pintu. "Ka," panggil Bu Ani yang melihat Raka.


Raka yang melihat Bu Ani, menyalami tangan ibunya, mencium punggung tangan Bu Ani.


Bu Ani yang melihat seorang wanita di samping Raka, melihat penuh tanya dalam benaknya.


Celia yang melihat Bu Ani, juga mencium punggung tangan Bu Ani, seperti yang di lakukan oleh Raka.


Baru saja Bu Ani menanyakan siapa wanita ini pada Raka. Fira tiba-tiba menghampiri mereka. "Bu, sedang apa?" tanya Fira seraya melangkahkan kakinya.


"Ini kakak kamu bawa pacarnya," ucap Bu Ani.

__ADS_1


Celia dan Raka yang mendengar ucapan Bu Ani membulatkan matanya. Mereka langsung saling pandang. Mereka berdua dalam keadaan bingung harus menjelaskan apa.


"Oh ya." Fira bergegas mempercepat langkahnya untuk mencapai pintu. Tapi matanya membulat sempurna saat melihat Celia lah yang menjadi pacar kakaknya.


"Celia," ucap Fira. "Kamu pacar Kak Raka?" Senyum Fira mengiringi kalimat tanyanya.


Melihat senyum Fira, Celia menyadari jika saat Fira mengira Celia kekasih Raka, Fira menyambutnya dengan tangan terbuka. "Iya," jawab Celia.


Raka langsung menoleh saat mendengar ucapan dari Celia. Dia tidak menyangka Celia akan mengatakan hal itu.


"Ya ampun, ternyata dunia sempit ya," ucap Fira. Fira benar-benar tidak menyangka Raka adalah kekasih Celia. Fira sebenarnya sudah tidak mempermasalahkan semua yang Celia lakukan. Tapi memang Jeje lah yang masih berat memaafkan Celia.


Raka yang melihat wajah Fira yang di iringi senyum akhirnya tidak memberikan sanggahan apa-apa tentang ucapan Celia.


"Ya sudah ayo masuk." Bu Ani pun mempersilakan masuk.


Raka dan Celia masuk ke dalam, dan menuju ruang tamu. Fira yang sudah lebih dulu mencapai ruang tamu, langsung mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


"Kalian sejak kapan jadian?" tanya Fira pada Raka dan Celia.


Mendapat pertanyaan dari Fira merasa sangat bingung. Rasanya Celia terjebak dalam kesalahan yang di lakukannya, dengan mengakui Raka adalah kekasihnya.


"Kami sudah lama kenal sejak kuliah, tapi baru memutuskan jadian hari ini." Raka menjawab pertanyaan Fira.


"Ternyata mereka baru, Bu," ucap Fira sedikit menyenggol ibunya yang duduk di sampingnya.


"Iya, makanya tadi kakak langsung kenalkan dengan ibu dan Fira." Raka mentap Bu Ani dan Fira bergantian.


"Ibu senang kamu sudah punya pacar, jadi nanti tinggal nunggu nikah." Bu Ani sangat antusias saat melihat Raka memiliki pacar.


Celia dan Raka hanya diam tidak menjawab. Karena mereka berpikir hubungan mereka bukanlah kekasih sesungguhnya.


"Iya, Bu. Doakan saja." Raka hanya bisa mengiyakan saja, agar Bu Ani tidak curiga.


"Ya sudah ibu buatkan minum dulu." Bu Ani pun berdiri.


"Fira saja, Bu." Fira yang berniat mengantikan ibunya pun berdiri.


"Sudah kamu duduk saja." Bu Ani menepuk bahu Fira, dan berlalu ke dapur


Menyisakan Fira, Raka dan Celia di ruang tamu, di manfaatkan oleh Celia mengutarakan niatnya.


"Fir, aku ingin minta maaf soal itu." Rasanya Celia sudah sangat malu pada Fira saat mengingat apa yang di lakukannya.


Fira tersenyum pada Celia. "Sudahlah aku sudah memaafkan, tidak perlu di bahas lagi."


Celia memang mengakui, selain cantik, Fira memang baik. Jadi wajar saja, jika Jeje begitu mencintainya. Tidak seperti dirinya, yang meninggalkan Jeje begitu saja, Fira tampak setia pada Jeje.


"Tapi Jeje?" Pertanyaan Besar di hati Celia adalah Jeje. Karena Celia tahu, bagaimana Jeje membencinya.


"Aku akan membujuknya nanti, jangan khawatir." Fira menarik senyum di bibirnya. Memberikan keyakinan pada Celia.


Celia merasa lega, saat Fira mengatakan akan membujuk Jeje. Paling tidak dirinya akan tenang.


Setelah Bu Ani datang minuman. Fira, Bu Ani, Raka, dan Celia berbincang. Mereka menceritakan bagaimana Raka di luar negeri.


Saat Celia menceritakan tentang Raka. Fira dan Bu Ani, baru tahu perjuangan Raka membuat perusaahan parfumnya. Tenyata, Raka menciptakan parfumnya sendiri, dan menjual pada teman-temannya terlebih dahulu, sebagai biaya hidup di luar negeri, sebelum akhirnya menjualnya secara besar-besar. Menciptakan merk sendiri, akhirnya Raka membuat perusahaannya.


Setelah cukup bercerita, akhirnya Raka mengantar Celia untuk pulang. Menaiki mobilnya, Raka menuju rumah Celia.


"Maaf tadi aku mengakui dirimu sebagai pacarku." Celia yang merasa tidak enak, Celia pun meminta maaf.


"Aku tidak masalah," ucap. "Tentang ucapan Fira dan ibu, jangan di masukan ke hati," lanjut Raka pada Celia.


"Iya."


"Tapi jika kamu tidak keberatan aku mau menjadikan semuanya menjadi kebenaran."


Celia mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"


"Aku ingin menjadikan kamu kekasihku," ucap Raka.


"Apa kamu sedang mengajak diriku untuk menjalin hubungan?"


"Ya, bisa di bilang begitu," ucap Raka. "Aku rasa kita sudah lama kenal, dan menjalin hubungan aku rasa tidak ada masalah."


"Tapi aku tidak mencintaimu," ucap Celia ragu-ragu.


"Aku tahu, aku pun juga. Tapi aku rasa belajar saling mencintai tidak ada yang salah bukan?" Raka menoleh sejenak pada Celia sejenak.


Celia merasa apa yang di katakan oleh Raka adalah hal yang patut di coba, mengingat dirinya sudah mengenal Raka dengan baik. "Tapi caramu mengajakku menjalin hubungan, sunguh buruk," sindir Celia.


Raka tertawa mendengar ucapan Celia. "Oke lah, aku akan melakukan dengan lebih baik nanti."


Celia pun juga tertawa, mendengar ucapan Raka. Rasanya akan jadi hal baru saat menjalin hubungan dengan Raka. Tapi tidak akan ada banyak perubahan, mengingat dirinya dan Raka saling mengenal sejak lama.


.


.


.


.


Terimakasih, jangan lupa like🄰

__ADS_1


__ADS_2