
Sesampainya di rumah Jeje langsung mandi, rasanya dirinya benar-benar tersiksaz setelah ke pasar.
Fira yang melihat Jeje muntah, langsung membuatkan jahe untuk Jeje. Sebenarnya Fira tidak tega melihat Jeje muntah. Tapi dirinya tidak bisa meminta Jeje untuk tidak ikut. Karena ibunya begitu ingin menantunya ikut berbelanja.
Masuk ke dalam kamar, Fira membawa secangkir jahe hangat. Berharap itu bisa meredakan mual yang mendera Jeje.
Saat masuk ke dalam kamar, Fira melihat Jeje baru saja keluar dari kamar mandi. "Minumlah, untuk meredakan mual!" Fira memberikan secangkir jahe hangat untuk Jeje.
"Maafkan aku, tapi jangan ajak aku lagi untuk ke pasar itu." Jeje menatap Fira penuh harap, jika hal ini tidak akan terulang kembali.
Seraya menerima jahe hangat yang di berikan Fira. Jeje meminumnya perlahan-lahan. Perasaan nyaman mulai di rasa oleh perut Jeje, setelah air jahe hangat masuk ke dalam perutnya.
"Aku tidak bisa janji, karena bukan aku yang mengajak."
Jeje menghela napasnya. Memang benar bukan Fira yang mengajaknya, dan jika di posisi Fira mungkin dirinya tidak bisa menolak keinginan ibunya.
Menarik lembut pinggang Fira, supaya mendekat, Jeje memandang lekat wajah Fira. "Baiklah, tapi apa tidak ada hadiah untuk perjuanganku ke pasar?"
"Memangnya kamu mau apa?" Fira tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Jeje.
"Apa yang kamu bisa berikan?" tanya Jeje mengoda Fira.
"Menurutmu?" Fira membelai rahang tegas milik Jeje.
Tangan Fira yang membelai rahang Jeje beralih sampai di bibir milik Jeje. Dengan sedikit berjinjit, Fira membenamkan bibirnya pada bibir Jeje. Memberikan ciuman hangat, pada bibir yang sudah dia rindukan beberapa hari ini.
Jeje yang mendapatkan ciuman dari istrinya pun menarik pinggang Fira, agar lebih dekat dengannya. Memperdalam ciumannya, Fira dan Jeje hanyut dalam ciuman hangat mereka.
Aroma jahe pun bercampur dengan saliva Jeje dan Fira. Menciptakan sensasi hangat yang berbeda dalam ciuman mereka.
Tapi saat sedang asik menikmati ciuman, tangan Jeje sedikit bergeser. Tangan Jeje yang membawa cangkir, membuat cangkir yang berisi jahe hangat sedikit tumpah, dan membuat Jeje sedikit memekik. "Aduh.."
Jeje langsung melepas ciumannya. Melihat tangannya, Jeje mendapati tangannya sedikit basah karena tumpahan air jahe. " Sepetinya aku sangat bersemangat," ucap Jeje merutuki kesalahannya.
Fira menarik senyum di ujung bibirnya saat mendengar ucapan Jeje. "Apa sakit?" Fira beralih menatap ke arah tangan Jeje.
"Sakitnya bukan di situ tapi disini." Jeje menunjuk pada bihir Jeje.
Fira beralih pada bibir Jeje, ternyata di bibir Jeje sedikit ada darah. "Ini kenapa?" tanya Fira panik.
"Apa kamu lupa, apa yang kamu lakukan barusan?" Pertanyaan Jeje terdengar penuh sindiran.
Fira mengingat jika tadi dirinya memberikan gigitan-gigitan kecil di bibir Jeje. Karena mungkin terbawa suasana, Fira tidak menyadari, jika gigitannya melukai bibir Jeje.
Fira yang malu hanya menyembunyikan wajahnya di dada Jeje. Memeluk Jeje erat, agar Jeje tidak bisa melihat wajahnya.
Jeje hanya tersenyum melihat aksi Fira. Sebenarnya dirinya memekik karena gigitan dari Fira. Sedangkan air jahe yang tumpah, karena dirinya tubuhnya tersentak sedikit saat merasakan sakit di bibirnya.
"Apa kamu merindukan aku?"Jeje mencium pucuk rambut Fira.
"Sangat," ucap Fira seraya mengeratkan pelukannya.
"Aku pun sangat merindukanmu." Beberapa hari tidak bertemu Fira membuat Jeje pun merindukan Fira.
***
Setelah membantu ibunya memasakkan untuk makan malam Fira bersiap untuk makan malam bersama.
"Kenapa harus berdandan?" tanya Jeje yang melihat Fira memoles wajahnya di depan cermin.
"Apa kamu mau istrimu terlihat jelek." Fira meruncingkan bibirnya, sedikir kesal dengan Jeje.
"Bagiku kamu dandan atau tidak, kamu akan terlihat cantik." Jeje membungkukan tubuhnya dan memeluk Fira dari belakang. "Kamu lebih cantik jika tidak berdandan."
"Aku hanya sedang ingin dandan saja, entah kenapa," jawab Fira memberikan alasan pada Jeje.
Jeje yang mendengar pun mengangguk. Rasanya dirinya sudah tahu alasan Fira. Mengingat Fira sedang hamil. Keinginan-keinginan Fira akan secara tiba-tiba datang.
"Ayo, ibu pasti sudah menunggu." Fira berdiri dan menautkan jemarinya pada jemari Jeje. Memberikan senyuman hangat pada Jeje, Fira menarik lembut tangan Jeje.
Keluar dari kamar, Fira dan Jeje menuju ke meja makan. Di meja makan sudah terlihat Bu Aji sedang merapikan meja makan.
"Kak Raka belum datang, Bu?" Fira yang tidak melihat Raka pun menanyakan pada ibunya.
"Belum."
Fira yang melihat ibunya menyiapkan makanan di meja makan pun, membantu ibunya. Beberapa masakan sengaja di buat Bu Ani khusus untuk malam ini.
"Sepertinya kita akan makan besar," ucap Jeje yang melihat makanan begitu banyak di meja makan.
__ADS_1
"Akan ada tamu yang datang, jadi ibu sengaja." Bu Ani yang mendengar Jeje mengomentari tentan jumlah makanannya pun menjawab.
"Siapa?" Jeje kira, dirinya hanya akan makan dengan Fira, Bu Ani, dan Raka saja. Tapi ternyata ada tamu juga yang akan datang.
Belum sempat Bu Ani menjawab, terdengar suara Raka menyapa. "Malam."
Bu Ani, Fira dan Jeje langsung menoleh saat terdengar suara sapaan. Tapi seketika Fira dan Jeje membulatkan mata saat melihat Celia datang bersama dengan Raka.
"Kalian sudah datang," ucap Bu Ani.
Raka dan Celia melangkah menghampiri Bu Ani. Meraih tangan Bu Ani Raka dan Celia mencium punggung tangan Bu Ani.
Jeje masih tak melepas pandangannya pada Celia. Ada gemuruh di hati Jeje saat melihat Celia di rumah mertuanya, dan terlebih lagi mereka seperti sudah saling kenal.
Fira pun tak kalah kaget. Dirinya tidak menyangka jika Celia akan datang. Fira sedikit kesal, kenapa ibunya tidak memberitahu dirinya jika Celia akan datang. Bukan karena apa, Fira kesal. Dirinya belum sempat menceritakan pada Jeje, dan bertemu dalam keadaan seperti ini, pasti akan sangat cangung.
"Hai," sapa Raka pada Jeje dan Fira.
Jeje hanya memutar bola matanya malas. Pikirnya setelah dirinya malas melihat Raka, sekarang dirinya harus malas melihat Celia.
"Hai, Kak," sapa Fira. Beralih pada Celia, Fira menyapanya. "Hai Celia."
"Hai, Fir," sapa Celia membalas sapaan Fira. Melihat Jeje yang masih diam dan tidak menyapa, Celia tidak berani memberikan sapaan lebih dulu.
" Maaf ya, Je, Fir, ibu tadi tidak mengatakan kalai ibu juga mengundang pacar Raka." Bu Ani yang tadi pagi mengatakan pada Raka untuk membawa pacarnya, lupa memberitahu pada Fira dan Jeje.
"Tidak apa-apa, Bu." Rasanya Jeje tidak enak saat ibu mertuanya harus meminta maaf. Sebenarnya Jeje sedikit kaget dengan ucapan mertuanya, jika Celia adalah pacar Raka.
Fira menyadari keterkejutan Jeje. Tapi dirinya tidak bisa berbuat banyak. Menarik tangan Jeje lembut, Fira mengajak Jeje untuk duduk.
Raka yang melihat Celia masih cangung dengan adanya Jeje, menautkan jemarinya pada jemari Celia. Berharap Celia lebih tenang lagi.
Akhirnya makan malam pun di mulai, saat semua sudah duduk di meja makan. Tidak banyak suara terdengar di meja makan. Hanya suara Bu Ani yang lebih sering bertanya dengan Celia.
Jeje dan Fira lebih memilih diam, mendengarkan cerita Celia dan Bu Ani.
Setelah makan malam selesai, Raka berdiri untuk memberitahu sesuatu. "Terimakasih untuk ibu yang sudah mengundang aku dan Celia makan malam," ucap Raka memulai ucapannya. "Pertama aku mau mengucapkan terimakasih buat ibu dan Fira yang sudah menerimaku masuk dalam keluarga ini. Bertahun-tahun tidak bertemu, aku merasa kalian tidak pernah berubah memperlakukan aku sebagai keluarga."
"Ka.." panggil Bu Ani yang sudah mulai terdengar parau. Rasanya Bu Ani sangat sedih saat mendengar ucapan terimakasih Raka.
Jeje yang melihat adegan di depannya menyadari satu hal. Kasih sayang yang di berikan Bu Ani begitu tulus, layaknya seorang ibu pada Anaknya.
"Kedua, aku mau minta maaf pada Jeje, karena sudah membuat kalian salah paham. Aku harap itu tidak membuat hubungan kalian merenggang karena Jeje tidak tahu, jika aku adalah kakak angkat Fira."
Jeje yang mendengar ucapan maaf terbuka oleh Raka, merasa sangat tidak enak. Apa lagi tuduhannya, di dasari rasa cemburu.
"Jeje sudah memaafkan, Kak," ucap Fira seraya mengenggam tangan Fira. Pandangan penuh cinta terlihat dari sorot mata Fira.
"Iya aku sudah memaafkan, maafkan aku juga yang tidak tahu."
Raka merasa sangat lega saat Jeje memaafkan dirinya. "Dan yang ke tiga." Raka mendorong kursi yang di dudukinya. Berlutut di samping Celia, Raka membuka sebuah cincin untuk Celia. "Maukah kamu menikah denganku Celia. Menghabiskan sisa hidup kita bersama, dan membangun keluarga kecil kita."
Celia yang tadi sedang fokus memperhatikan permintaan maaf dan ucapan terimakasih dari Raka, di buat tercengang saat Raka tiba-tiba berlutut di hadapannya.
Kekagetan Celia semakin menjadi, saat Raka melamarnya untuk menikah. Perasaan Celia campur aduh malam ini. Dirinya yang kemarin meminta Raka untuk mengatakam cinta lebih romantis. Malah mendapati lamaran Raka untuk dirinya.
Celia menyadari dirinya dan Raka sama-sama sedang belajar mencintai, dan itu adalah sebuah proses. Jika Raka memilih membawa hubungan ini lebih serius, Celia rasa dia tidak akan keberatan. "Aku mau," ucap Celia mengangguk.
Raka langsung memasangkan cincin pada jemari Celia. Rasanya Raka senang, saat Celia mau menerimanya. Memulai hidup baru bersama dengan Celia, dan sama-sama belajar mencintai.
Bu Ani dan Fira tak kalah bahagia. Mereka tidak menyangka, jika akan ada acara melamar malam ini.
Bu Ani langsung berdiri dan memberikan selamat untuk Raka dan Celia.
"Anak nakal, kenapa tidak memberitahu ibu kalau mau melamar Celia." Bu Ani memeluk Raka, meluapkan kekesalanya pada putranya. Bu Ani tidak menyangka, Raka kecil yang dia rawat sudah akan menikahi seorang gadis.
"Maaf, Bu."
Bu Ani melepas pelukannya dan beralih pada Celia. "Selamat ya sayang, terimakasih sudah mau menerima Raka." Bu Ani pun memberikan pelukan hangat untuk Celia.
"Jangan berterimakasih, Bu. Sekarang Celia juga anak ibu." Mendapat perlakuan manis dari Bu Ani, membuat dirinya mengingat kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
Fira pun tak kalah senang. Sebenarnya Fira ingin memeluk Raka layaknya seorang kakak. Tapi dirinya menyadari, jika Jeje akan sangat cemburu.
"Selamat, Kak." Fira mengulurkan tangannya pada Raka.
"Apa begitu caramu mengucapkan selamat?"
Mendapatkan pertanyaan dari Raka, Fira langsung melihat ke Jeje. Mendapati jawaban anggukan dari Jeje, Fira langsung memeluk Raka singkat. "Selamat, Kak."
__ADS_1
"Terimakasih."
Jeje merasa melihat kakak dan adik yang sedang merasakan kebahagiaan. Mungkin kemarin dirinyalah yang egois menyangka hubungan Raka dan Fira lebih.
Melangkah mendekati Raka, Jeje memberikan ucapan selamat. "Selamat, Bro," ucap Jeje seraya mengulurkan tangan.
"Terimakasih."
"Terimakasih, Je."
Walapun masih cangung, tapi kedua pria itu berusaha menetralkan apa yang terjadi.
Beralih pada Celia, Jeje dan Fira memberikan ucapan selamat.
"Selamat Celia." Fira menautkan pipinya pada pipi Celia. Merasakan kebahagiaan yang sama yang di rasakan oleh Celia.
"Terimakasih, Fir."
"Selamat, Lia." Suara Jeje terdengar setelah dadi tadi dia memilih bungkam pada Celia.
"Terimkasih, Je." Mendapat ucapan dari Jeje, sudah membuat Celia lega. Celia berharap hubunganya dengan Jeje akan berubah lebih baik.
Setelah acara makan malam yang berlanjut dengan acara lamarnn tiba-tiba Raka, akhirnya meraka semua berbincang membahas kapan Raka dan Celia menikah.
Celia dan Raka masih belum tahu kapan akan memutuskan menikah, mengingat lamaran tiba-tiba dari Raka membuat Celia masih kaget.
Celia dan Raka berjanji, setelah membicarakan pernikahan, mereka akan memberitahu Bu Ani dan Fira.
***
Setelah acara makan malam selesai, dan membantu ibu membersihkan sisa makan malam. Fira kembali ke kamarnya menyusul Jeje.
Membuka pintu kamarnya, Fira melihat Jeje sedang memainkan ponselnya. Melangkah menghampiri Jeje, Fira merangkak ke atas tempat tidur.
"Sedang apa?" tanya Fira.
"Ini." Jeje menunjukan sebuah villa di puncak gunung, dengan pemandangan yang tampak begitu indah dari ketinggian.
"Apa kita akan kesana?" tanya Fira semangat.
"Iya, kita akan kesana untuk baby mood, tapi setelah kita periksa kandungan."
"Baiklah." Fira langsung memeluk Jeje. Menyalurkan rasa bahagianya.
Jeje tidak kalah bahagia, membawa Fira ke dalam pelukanya, Jeje mendekap tubuh Fira erat.
"Apa Raka sudah lama menjalin hubungan dengan Celia?" Rasa penasaran Jeje masih sangat menyelimuti hatinya.
"Mereka baru saja menjalin hubungan. Tapi mereka sudah saling kenal sejak kuliah."
Jeje baru tahu kalau Raka dan Celia adalah teman kuliah. Pantas mereka cepat sekali memutuskan untuk menikah. Mungkin mereka sudah mengerti karakter masing-masing.
"Apa kamu sudah memaafkan Celia?" Walapun tadi Fira melihat Jeje memberi ucapan pada Celia. Tapi Fira ingin tahu isi hati Jeje.
"Aku akan mencoba."
Fira merasa senang, saat Jeje sudah mau memaafkan Celia. Paling tidak dengan berjalannya waktu semua akan baik-baik saja.
Apa lagi Celia akan jadi bagian dari keluarganya. Jadi tidak mungkin kalau Fira, Jeje, dan Celia tidak akan sering bertemu.
"Apa besok kamu sudah mulai berkerja?" Fira yang berada di pelukan Jeje, memainkan kancing baju yang Jeje pakai.
"Tidak, aku besok tidak berkerja."
"Kenapa?"
"Karena besok aku mau menghabiskan waktu seharian bersamamu." Jeje mengeratkan pelukannya.
Fira hanya tersenyum mendengar ucapan Jeje. Fira pun merasa besok adalah waktunya untuk melepas rindu. Rindu yang sudah di tahannya berhari-hari.
.
.
.
.
Jangan lupa likeππ»π
__ADS_1