Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Meminta maaf


__ADS_3

"Je ayo bangun, kita harus pergi ke rumah Ana," ucap Mama Inan, yang membangunkan Jeje pagi ini.


"Ma, Jeje masih mengantuk, mama semangat sekali mau ke rumah Ana," kesal Jeje saat tidur indahnya di ganggu oleh mamanya. Jeje benar-benar lelah setelah penerbangan kemarin, dan itu membuat Jeje berat sekali untuk bangun. Di tambah lagi semalam dia harus menunjukan kepada mamanya bagaimana Ana sebenarnya.


"Iya lah, mama mau beri pelajaran wanita itu, enak saja mempermainkan anak mama begini," ucapnya dengan nada kesal, mengingat apa yang di lihatnya semalam.


"Ayo je bangun," Mama Jeje menarik-narik lengan Jeje.


"Iya ma," Jeje akhirnya tidak punya pilihan lain, selain menuruti keinginan mamanya. Jeje pun membuka matanya, dan berlalu ke kamar mandi.


Setelah siap Jeje dan mamanya menuju rumah orang tua Ana. Jeje melihat mamanya yang begitu semangat hanya geleng-geleng kepala. Kemarin dia yang antusias menjodohkan sekarang dia yang antusias membatalkan, itu lah yang pikir oleh Jeje.


Sesampainya di rumah Ana, mama Inan mengetuk pintu rumah Ana.


"Besan ada apa pagi-pagi sudah datang kemari," ucap mama Ana saat membuka pintu.


"Saya masih calon besan, belum jadi besan. Ada yang mau kami bicarakan," mama Inan menjawab dengan sinis.


Mama Ana yang menyadari calon besannya terlihat marah akhirnya mengalah, dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam rumah. Jeje dan Mama Inan pun duduk di ruang tamu.


"Sayang kenapa kamu tidak bilang kalau mau kemari," ucap Ana yang melihat Jeje datang ke rumahnya. Ana pun mendekat pada Jeje, dan duduk tepat di samping Jeje.


Jeje yang melihat Ana duduk di sebelahnya, hanya diam dan tak menanggapi ucapan Ana. Ana yang melihat Jeje hanya diam saja, hanya biasa saja, karena dia memang tahu Jeje seperti itu.


"Kedatangan kami ingin membatalkan pernikahan Jeje dan Ana," ucap mama Jeje memulai pembicaraan.


Orang tua Ana benar-benar kaget dengan ucapan dari keluarga Jeje, mereka tidak menyangka keluarga Jeje datang untuk membatalkan.


"Nyonya Inan jangan bercanda, pernikahan Ana dan Jeje sudah dekat, mana bisa di batalkan begitu saja." Bentak mama Ana pad mama Inan. Dia benar-benar tidak terima atas ucapan dari Mama Inan.


"Kenapa tidak bisa, lagi.pula saya tidak bisa menikahkan anak saya dengan wanita murahan seperti putri anda." Mama Inan meluapkan kekesalannya mengingat apa yang di lihatnya semalam.

__ADS_1


"Jaga ucapan anda Nyonya Inan, atas dasar apa anda mengatakan hal itu." Mama Ana merasa tidak terima atas ucapan Mam inan.


Nyonya Inan melempar foto-foto yang menunjukan kemesraan Ana saat di bar. Orang tua Ana yang melihat foto tersebut langsung kaget, dan menatap tajam pada Ana. Mereka tidak menyangka Ana melakukan itu semua.


"Ma..itu tidak benar," elaknya pada orang tuanya.


"Sayang itu semua tidak benar, bisa saja itu foto rekayasa." Ana beralih pada Jeje, menjelaskan semua tapi Jeje tidak bergeming sama sekali.


"Kamu pikir itu rekayasa?, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, mana mungkin itu rekayasa, apa saya harus menyebutkan dengan rinci apa yang kamu lakukan?" ucap Inan dengan senyum kemenangan.


Ana yang mendengar ucapan Inan begitu kaget, dia tidak habis pikir akan ketahuan secepat ini. Ana melihat orang tuanya begitu marah padanya hanya bisa diam ketakutan.


"Semua sudah jelas, kami permisi," ucap Inan seraya berdiri dan di ikuti oleh Jeje.


Setelah keluar dari rumah keluarga Ana, Jeje melajukan mobilnya untuk mengantarkan mamanya pulang.


"Mama senang sekali tadi melihat reaksi dari keluarga Ana, mama juga nggak habis pikir Ana bilang itu rekayasa, untung aja kemarin mama lihat sendiri, jadi dia nggak bisa ngelak lagi," celoteh Inan meluapkan kekesalannya mengingat apa yang terjadi di rumah Ana.


"Benar kata kamu je, wanita itu licik banget, untung saja nggak jadi menjadi menantu mama kalau jadi..." Inan bergidik ngeri membayangkan Ana menjadi menantunya.


"Je..apa Fira dan Nu Ani bakal maafin mama ya?" Tanya Inan sedih mengingat betapa jahatnya dia, mengirim Fira dan ibunya ke luar negeri.


"Jeje rasa mereka akan memaafkan ma, asal mama tulus meminta maafnya." Jeje mencoba menenangkan mamanya.


"Je, nanti malam mama akan langsung ke rumah Ayu, mama dah nggak sabar kamu menikah dengan Fira."


"Ya ma, Jeje juga sudah nggak sabar pengen Fira jadi istri aku, tapi harus sabar semua harus sesuai rencana."


Mamanya hanya mengangguk saja saat mendengar ucapan Jeje.


**

__ADS_1


Tok..tok


Inan mengetuk pintu rumah temannya.


"Inan." Ayu terkejut saat membuka pintu, dan mendapati temannya ada di depan rumahnya.


Ayu pun mempersilahkan Inan untuk masuk ke dalam rumah.


"Ada apa nan kamu kemari?" Ayu sedikit heran kenapa temannya ini jauh - jauh datang ke rumahnya. Ayu berfikir pasti ini ada hubunganya dengan Fira dan Ibunya.


"Aku ingin bertemu Bu Ani, apa bisa aku bertemu dengannya?" Inan menatap Ana seraya memohon.


Ayu yang sudah menyadari kalau kedatangan Inan adalah ingin bertemu Bu Ani, tidak pikir panjang lagi, dia langsung memanggilkan Bu Ani, dan memintanya menemui Inan.


"Nyonya Inan." Bu Ani yang merasa kaget saat tau tamu yang mencarinya adalah mantan majikannya. Inan yang menyadari kerkejutan Bu Ani langsung menghambur kepelukkan Bu Ani


"Maafkan saya Bu," ucap Inan dengan terisak.


"Nyonya tidak salah, kenapa harus minta maaf." Bu Ani mencoba menenangkan Inan


Inan melepas pelukannya, dan mengajak bu Ani duduk di sampingnya. "Bu, sekali lagi saya minta maaf atas perlakuan saya yang membuat ibu disini." Inan hanya bisa meminta maaf atas semua kesalahannya.


Bu Ani yang melihat majikannya begitu tulus meminta maaf merasa sangat senang. "Saya sudah memaafkan sebelum Nyonya meminta maaf."


"Bu, selain mau minta maaf saya datang kesini ingin melamar Fira Bu," ucap inan kepada Bu An.


Bu Ani yang mendengar ucapan Inan terkejut. "Apa benar Nyonya mau melamar anak saya?" tanya bu Ani memastikan lagi


"Iya Bu, saya serius ingin menjadikan fira menantu saya bu," pinta Inan dengan penuh harap pada Bu Ani.


Bu Ani yang mendengar merasa sangat senang, dia tahu anaknya begitu mencintai majikannya itu, "Kalau saya tidak keberatan Nyonya, semua tergantung Fira."

__ADS_1


"Untuk Fira, ibu tidak perlu khawatir, Jeje sendiri yang akan melamarnya langsung."


Setelah selesai pembicaraan dengan Bu Ani . Inan juga berterimakasih pada Ayu yang sudah mau menerima Fira dan ibunya berkerja di rumahnya. Ayu pun senang melihat temannya sudah meminta maaf kepada bu Ani, dan malah ingin menjadikan Fira menjadi menantunya.


__ADS_2