Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Berjanjilah.


__ADS_3

"Apa kamu akan ke kantor?" tanya Zara pada Adhi.


"Iya, aku akan ke kantor mengurus semuanya, sebelum kita berangkat ke luar negeri." Adhi menghampiri Zara yang sedang duduk di tepian tempat tidur. "Aku akan segera pulang," ucap Adhi seraya mengecup kening Zara.


"Baiklah." Zara hanya bisa pasrah saat Adhi harus meninggalkan dirinya di rumah. Zara berdiri berniat untuk mengantarkan Adhi ke depan.


"Istirahatlah! aku akan sendiri ke depan." Adhi pun melarang Zara, dan memintanya untuk istirahat. Adhi tahu betul, karena ulahnya semalam, pasti Zara sangat lelah.


"Baiklah." Sebenarnya Zara juga merasa berat untuk mengantar Adhi mengingat dirinya masih merasakan sakit. Tapi Zara berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Adhi.


Adhi yang keluar dari kamar, langsung menuju ke mobil. Tujuan pertamanya adalah rumah Daffa, karena dirinya akan menjemput Tuan Edward disana sebelum ke kantor.


Sesampainya di rumah Daffa, Adhi turun dan menyapa mama dan kakaknya. Tidak mau berlama-lama, Adhi dan Tuan Edward langsung menuju ke kantor.


"Maaf ya, gara-gara Ayu, kamu dan Zara harus tinggal di luar negeri." Tuan Edward memecah keheningan di dalam mobil.


"Tidak apa-apa, Om, lagi pula Adhi juga tidak keberatan." Adhi menatap pada Tuan Edward sebentar, sebelum kembali pada kemudinya.


"Iya, sekalian kamu belajar mengurus perusahaan dari pusat," ucap Tuan Edward.


"Iya, Om, Adhi akan belajar."


Di dalam mobil, Adhi dan Tuan Edward mengisi keheningan dengan mengobrol. Membahas tentang bagaimana perencanaanya ke depan perusaahaan.


Tidak terasa mereka sampai di kantor. Masuk ke dalam kantor, Adhi dan Tuan Edward menuju ruangan Adhi. Karena tidak ada sekertaris, Adhi menghubungi pihak HRD untuk memberitahu pada para staf untuk meeting, membahas perpindahan tugas.


Setelah semua sudah berkumpul, Adhi dan Tuan Edward menjelaskan semuanya. Adhi menjelaskan, jika sementara kantor cabang yang dia pimpin, akan pimpin oleh owner-nya langsung, yaitu Tuan Edward, dan Adhi akan mempimpin kantor pusat. Adhi juga meminta pihak HRD untuk mencari pengganti Zara, karena Zara sudah mengundurkan diri.


Setelah Adhi dan Tuan Edward menyelesaikan rapatnya, mereka berdua masuk ke dalam ruangan Adhi, untuk menyelesaikan beberapa berkas.


"Apa Jeje akan kemari?" tanya Tuan Edward pada Adhi.


"Belum tahu, Om," ucap Adhi. "Tapi coba Adhi hubungi dulu," lanjut Adhi. Adhi langsung mengambil ponselnya, dan menghubungi Jeje. Adhi memang kemarin sudah membuat janji dengan Jeje, tapi pagi ini Jeje belum mengabari dirinya untuk bertemu.


"Halo, Bang," ucap Adhi saat Jeje mengangkat sambungan telepon.


"Ya, dhi." Suara Jeje menjawab sapaan Adhi.


"Apa Abang jadi kemari?" tanya Adhi.


"Sebenarnya aku mau kesana, tapi mungkin aku akan kesana setelah makan siang," jelas Jeje.


"Baiklah, kalau begitu." Adhi yang mendengar jawaban Jeje pun mematikan sambungan telepon.


"Bang Jeje akan kemari setelah makan siang, Om," ucap Adhi menjelaskan sesuai dengan yang di jelaskan oleh Jeje


Tuan Edward mengangguk mengerti apa yang di jelaskan oleh Adhi.


***


"Siapa?" Fira yang melihat Jeje, mengangkat sambungan telepon bertanya.


Jeje yang sedang memasukan poselnya ke dalam jasnya menjawab. "Adhi."


"Kamu ada janji sama Adhi?" tanya Fira kaget.


"Iya, tapi nanti setelah makan siang," jelas Jeje.


"Tidak apa-apa kamu kesana siang?"


Jeje melihat ke arah Fira. Dia tahu, kalau istrinya merasa tidak enak saat mendengar dirinya ada janji. "Aku mau membantumu untuk mendekor kamar dulu." Jeje tersenyum dan memeluk Fira dari samping.


Jeje dan Fira yang sedang di rumah baru. Sedang di sibukan dengan mendekor kamar utama mereka dan kamar anak. Jeje sudah membuat janji dengan tim dekor, dan membuat dirinya dan Fira sampai di rumah baru pagi-pagi sekali.


Fira dan Jeje pun mengawasi pada tim dekor yang sedang mendekor kamar. Fira sudah berdiskusi dengan tim dekor, jadi tim dekor sudah tahu apa yang di inginkan oleh Fira.


"Aku sudah tidak sabar ingin tinggal disini," ucap Fira.


"Sabar, setelah kamar selesai di dekor kita akan langsung pindah." Jeje menenangkan Fira yang begitu tidak sabar untuk tinggal di rumah baru.


"Apa kamu mempercepat kita pindah kesini?" Fira masih ingat jika Jeje mengatakan kalau akan pindah ke rumah baru setelah melahirkan.


"Iya, tapi berjanjilah, kamu tidak akan melakukan apa-apa. Aku akan meminta asisten rumah tangga untuk mengepaki pakaian kita di apartemen." Jeje yang melihat Fira begitu tidak sabar, akhirnya memutuskan untuk segera pindah.


"Tenanglah, aku akan berjanji kalau aku tidak akan melakukan apa-apa." Fira begitu senang saat mendengar ucapan Jeje yang mengatakan jika dirinya akan tinggal di rumah baru.


"Baiklah." Jeje memeluk Fira. Rasanya melihat istrinya bahagia dirinya pun juga sangat bahagia.


***

__ADS_1


Setelah selesai memantau proses dekor kamar di rumah baru, Jeje mengantarkan Fira untuk pulang. Sebelumnya ke apartemen, Jeje berbelok untuk makan siang terlebih dahulu. Jeje tidak mau Fira sampai kelaparan, apa lagi ada anaknya yang perlu nutrisi dari makanan.


"Tidak perlu mengantarku sampai dalam, aku akan masuk saja sendiri," ucap Fira, saat mobil Jeje di lobby apartemen.


"Kamu yakin?" tanya Jeje memastikan.


"Iya." Fira tersenyum dan meyakinkan Jeje.


"Baiklah," ucap Jeje.


Fira mengangguk dan keluar dari mobil Jeje. Melangkah menuju ke dalam lobby apartemen, Fira menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya pada Jeje. Setelah Jeje melajukan mobilnya, Fira melangkah ke dalam apartemen.


"Fira."


Fira yang sedang ingin naik lift pun menoleh, saat namanya di panggil. Saat menoleh Fira mendapati Celia yang sedang memanggilnya, dan sedang berjalan menghampiri dirinya.


"Celia," panggil Fira seraya menautkan pipinya pada pipi Celia.


"Kamu dari mana?" tanya Celia saat melepas tautan pipinya.


"Aku baru saja dari rumah baru."


"Wah apa kalian akan segera pindah?" Celia memang sudah tahu jika Fira dan Jeje akan pindah ke rumah baru, tapi dia tidak tahu kapan Fira dan Jeje akan pindah.


"Iya, rencannya kami akan segera pindah."


"Ya, aku tidak akan teman lagi." Celia merasa sedih saat melihat Fira dan Jeje akan segera pindah.


"Bukannya kamu juga akan segera pindah, jika kamu menikah."


"Iya, juga." Celia tersenyum saat mendengad ucapan Fira.


"Jadi kapan kamu akan menikah?" tanya Fira.


"Sekitar dua bulan lagi."


"Ya, dua bulan lagi perutku sudah akan sangat besar." Fira menghitung jika Celia dan Raka menikah dua bulan lagi, berarti usia kandunganya genap enam bulan.


"Iya, ya, jadi kalau bisa kamu pesan gaun yang ukuran untuk dua bulan ke depan saja," ucap Celia tertawa.


"Kamu benar, aku akan memesan ukuran lebih besar."


Tidak terasa Fira dan Celia mengobrol hingga mereka sampai di depan apartemen. Akhirnya Fira dan Celia berpisah masuk ke dalam apartemen masing-masing.


"Halo, sayang," sapa Jeje dari sambungan telepon.


"Halo, apa kamu sudah sampai?"


"Iya, aku baru sampai di parkiran mobil, dan setelah menghubhngimu aku akan ke ruangan Adhi," jelas Jeje.


"Baiklah, hati-hati, dan segerlah pulang."


"Iya, aku juga ingin segera bertemu denganmu."


"Bye," ucap Jeje mengakhiri sambungan telepon.


"Bye." Fira pun membalas sapaan Jeje, dan meletakkan ponselnya di atas meja.


Fira yang sudah mengantuk akhirnya memilih melanjutkan tidur di atas sofa. Dirinya sudah tidak kuat jika harus berpindah ke kamar. Memejamkan matanya, Fira menuju alam mimpi.


***


Mematikan sambungan telepon dengan Fira, Jeje keluar dari mobilnya. Jeje langsung menuju ke ruangan Adhi, untuk bertemu dengan Adhi dan Tuan Edward.


Saat Jeje sampai di depan ruangan Adhi, Jeje melihat ada wanita di meja yang biasa Zara tempati. Jeje sudah menduga, jika wanita itu adalah pengganti Zara.


"Apa Pak Adhi ada?" tanya Jeje.


"Ada, Pak." Sekertaris itu pun berdiri dan menuju ke ruangan Adhi. Setelah mengetuk pintu, sekertaris mempersilakan Jeje masuk.


"Bang," sapa Adhi berdiri.


"Maaf terlambat." Jeje mengulurkan tangannya pada Adhi dan bergantian pada Tuan Edward.


"Tidak, kami juga baru saja makan siang, jadi Abang tidak terlambat," jelas Adhi.


"Ayo duduk." Tuan Edward pun mempersilakan Jeje untuk duduk.


Jeje pun duduk di ikuti Adhi dan Tuan Edward.

__ADS_1


"Jadi, ada apa kamu menghubungi aku, Dhi?"


"Aku hanya ingin memberitahu, jika aku akan ke luar negeri dua hari lagi. Jadi semua kerja sama kita, Abang bisa lanjutkan dengan Om Edward."


Mendengar penjelasnan Adhi, Jeje merasa kaget. Jeje memang sudah tahu rencana Adhi yang akan ke luar negeri, tapi tidak menyangka, jika akan secepat itu. "Kenapa buru-buru?" Jeje ingin tahu alasan apa yang membuat Adhi buru-buru ke luar negeri.


"Mama ingin langsung di sini. Jadi aku harua langsung ke sana, Bang."


Jeje baru mengerti apa alasan Adhi. "Baiklah."


Jeje, Adhi, dan Tuan Edward membahas tentang beberapa perkerjaan, dan kerja sama mereka.


***


Jeje yang sudah menyelesaikan pertemuan dengan Adhi dan Tuam Edward langsung berpamitan pulang. Melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, Jeje melihat jam menunjukan pukul tiga. Menimbang dua jam, sudah jam pulang kerja, akhirnya Jeje memutuskan untuk pulang ke apartemen.


Sesampainya di apartemen, Jeje di kejutkan saat melihat Fira yang tidur di sofa. "Kenapa dia tidur di situ?" Jeje melangkah menuju sofa.


Melihat Fira yang tertidur pulas, rasanya Jeje tidak tega untuk membangunkan. Meraup tubuh Fira, Jeje membawa Fira dalam gendongannya. Jeje ingin memindakan Fira ke dalam kamar.


Fira yang merasakan tubuhnya melayang mengerjap. Fira terjingkat, saat mendapati tubuhnya melayang.


"Sayang jangan bergerak," ucap Jeje pada Fira. Jeje yang merasakan tubuh Fira terkaget, merasa sedikit oleng. Tapi untung Jeje mampu menahan tubuh Fira, hingga tidak membuat Fira tidak terjatuh dari gendongannya.


"Bagaimana tiba-tiba aku tidak kaget, jika tiba-tiba aku melayang." Fira benar-benar kesal dengan Jeje yang menganggkatnya ke dalam kamar.


Fira yang merasa takut terjatuh dari gendongan Jeje pun mengalungkan tangannya di leher Jeje.


"Aku tidak tega melihatmu tidur sofa, karena itu aku membawamu ke kamar."


"Tapi kamu harusnya bagunkan saja aku. Aku sudah tidur cukup lama, sejak kamu menutup sambungan telepon tadi."


"Sudahlah, sudah sampai juga di kamar," ucap Jeje mengakhiri perdebatan mereka. Jeje menurunkan Fira di atas tempat tidur dengan perlahan.


"Untuk apa sampai kamar, kalau aku sudah tidak mengantuk," grutu Fira.


Jeje yang gemas mendaratkan kecupan di bibir Fira. "Kamu cerewet sekali sekarang," protes Jeje.


Fira hanya tersenyum mendapati kecupan singkat di bibirnya. Walaupun sudah sering melakukannya, kecupan singkat kadang membuat Fira merona.


"Kenapa kamu sudah pulang jam segini?" Fira yang teringat, jika jam belum menunjukan pukul lima pun bertanya.


"Aku tidak kembali ke kantor setelah pertemuan dengan Adhi dan Tuan Edward." Jeje menjelaskan pada Fira.


Fira mengangguk mengerti kenapa Jeje pulang lebih awal. Mendengar ucapan tentang pertemuan dengan Adhi dan Tuan Edward, Fira pun bertanya. "Ada apa bertemu dengan Adhi dan Tuan Edward?"


"Adhi akan ke luar negeri dua hari lagi, jadi kami tadi menjelaskan kerja sama kami ke Tuan Edwadr." Jeje yang sibuk melonggorkan dasinya dan melepas jasnya, menjelaskan pada Fira.


"Kenapa secepat itu?" Fira begitu kaget dengan informasi yang Jeje berikan.


"Iya karena Tante Ayu tidak mau kembali, dia ingin langsung disini mengurus Tania."


"Apa Zara ikut?"


"Adhi dan Zara pengantin baru, mana bisa mereka berpisah." Jeje menjawab Fira seraya tertawa.


"Sykurlah kalau Zara ikut."


"Kenapa bersyukur?"


"Karena berjauhan dengan suami rasanya tidak enak." Fira mengingat bagaimana dirinya dulu berjauhan dengan Jeje, dan menimbulkan pertengkaran.


Melangkah menghampiri Fira, Jeje mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur. "Kamu benar, aku berpisah denganmu beberapa hari saja gila, apa lagi berbulan-bulan." Jeje menatap Fira.


"Kamu benar aku tidak bisa jauh darimu," ucap Fira mengalungkan tangannya di leher Jeje. Sejenak pandangan Jeje dan Fira saling beradu.


Jeje yang melihat bibir ranum Fira selalu tidak sabar untuk tidak segera membenamkannya. Tanpa menunggu lama, Jeje pun membenamkan bibirnya pada bibir Fira.


Berawal dari ciuman di bibir, mengantarkan gelora panas muncul. Tangan Jeje pun mulai bergrilya ke tempat yang dia sukai.


Fira selalu tahu, akan kemana Jeje membawanya. Fira pun hanya menikmati setiap sentuhan lembut yang Jeje berikan, dan membalasnya mengimbangi Jeje.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like


__ADS_2