
Fira keluar dari kamar hotel Jeje, melangkahkan kakinya menjauh dari kamar Jeje. Langkahnya begitu cepat, seolah dia sedang menghindari sesuatu. Siapa lagi, kalau bukan menghindari Jeje. Rasanya Fira ingin secepatnya pergi jauh dari Jeje.
Fira menghentikan taxy di depan loby hotel, dia pun masuk ke dalam taxy, dan berlalu meninggalkan hotel. Fira melihat jam di pergelangan tangannya, Fira menyadari bahwa dia sudah cukup lama berada di hotel bersama Jeje. Tapi dia berfikir tangung jawabnya tak boleh di abaikan, akhirnya di menuju ke kantor, untuk melanjutkan perkerjaanya.
Di dalam taxy Fira merutuki kesalahannya yang tidak menolak ciuaman Jeje, dirinya malah menikmati setiap sentuhan bibir Jeje yang dia berikan di bibir Fira. "Kenapa aku tidak menolaknya," kesal Fira dalam hati.
Fira benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Dengan tidak menolak ciuman Jeje, itu semua akan membuat Jeje berfikir bahwa Fira masih mencintainya. Walau mungkin benar adanya kalau Fira masih begitu mencintai Jeje, tapi harusnya Jeje tidak boleh tahu. Dengan Jeje tidak tahu, itu akan lebih mudah untuk Jeje melupakan Fira.
"Tapi memang aku merindukannya" batin Fira sambil mengusap bibirnya yang masih basah.
Fira mengingat ciuman yang di berikan oleh Jeje tadi, rasanya dia menikmati lum*tan yang di berikan Jeje. Sentuhan hangat dari bibir Jeje yang begitu membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Jujur dalam hati terdalamnya, dia begitu merindukan pria yang begitu dia cintai.
Tapi seketika dia tersadar, sudah sejauh ini dia menghindar, jadi dia tidak boleh menyerah. Apa lagi dia mengingat bahwa orang tua Jeje tidak menyetujui hubungannya, jadi dia tidak akan bisa kembali pada Jeje.
"Aku tidak boleh menyerah, cukup sekali ini aku terbawa perasaanku " Fira mencoba menyemangati dirinya sendiri dan berusaha tidak akan mengulang kesalahan lagi.
Taxy yang di tumpangi Fira akhirnya sampai di kantor, Fira langsung membayar taxy nya dan berlalu. Tujuan pertama Fira adalah toilet.
Sesampainya di toilet, dia melihat wajahnya di cermin."Dia membuat lipstik ku hilang," batinnya seraya membersihkan bibirnya dan menyapukan lipstik baru di bibirnya.
Setelah selesai merapikan penampilannya, dia kembali ke meja kerjanya, dan melanjutkan perkerjaanya.
**
Malam harinya Fira menceritakan pertemuannya dengan Jeje pada ibunya. Fira tak mau ibunya tahu dari orang lain, kalau Fira bertemu dengan Jeje. Dirinya tidak mau membuat ibunya terluka lagi.
"Bu, tadi Fira bertemu Jeje," ucap Fira, saat membaringkan kepalanya, di pangkuan ibunya.
Bu Ani begitu terperangah saat mendengar penuturan anaknya, kalau bertemu dengan majikannya.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa bertemu?" tanya Bu Ani yang penasaran, kenapa anaknya bisa bertemu dengan majikannya itu di negara ini.
"Apa ada yang memberi tahunya kalau kamu disini?" pertanyaan terlontar lagi dari Bu Ani, karena Bu Ani takut ternyata ada yang memberitahu Jeje.
Fira mencoba bangun dari pangkuan ibunya, dan duduk menghadap ibunya, menatap lekat wajah ibunya. "Fira rasa tidak ada yang memberi tahu bu," Fira mencoba meyakinkan ibunya.
"Lalu."
"Tuan Edward ingin membangun perusahaan di negara kita, dan oleh karena itu dia berkerja sama dengan perusahaan Jeje bu," jelas Fira.
"Fira yakin ini hanya kebetulan bu, ibu tahu bukan kalau Tuan Edward tidak tahu tentang hubungan Fira, dan tidak mungkin Nyonya Ayu atau kak Daffa memberi tahu, mereka sudah berjanji, dan Fira yakin mereka tidak akan mengingkari"
Bu Ani menatap lekat wajah Fira, rasanya dia tidak tega melihat takdir yang mempermainkan anaknya, setelah memilih pergi sejauh ini, takdir membawa Fira pada Jeje kembali, "Kenapa takdir mempermainkanmu seperti ini fir," keluh bu Ani.
Fira kembali meletakan kepalanya di pangkuan ibunya. Fira menumpahkan kesedihannya air matanya mengalir di kedua pipi nya. Bu Ani yang merasakan kesedihan Fira membelai lembut rambut Fira, memberi ketenangan yang dia butuhkan.
"Dia mengira Fira kemari karena Adhi bu," ucap Fira dengan suara yang parau.
"Fira juga tidak tahu bu, dia bilang Adhi yang membawa Fira tinggal bersama orang tuanya" Fira menceritakan dengan menahan sesak di dadanya. Dia mengingat bagaimana Jeje menuduh Adhi, dan menuduh dirinya ada hubungan dengan Adhi.
"Biarkan dia dengan fikirannya fir, suatu saat dia akan tahu ternyata ibunya sendiri yang mengirim mu sejauh ini," bu Ani mencoba menenangkan Fira.
"Fira harus apa bu?" Dengan air mata yang mulai mengalir lebih deras, Firs meluapkan kegelisahannya. Dia berfikir sudah sejauh ini menghindari Jeje tapi tetap berujung Jeje bisa menemukannya.
"Kita sudah berusaha menjauh fir, tapi takdir yang membawanya kemari, tak perlu menghindar lagi, hadapi semua," ucap bu Ani membelai rambut anaknya. Bu Ani bisa merasakan kesedihan anaknya yang masih begitu mencintai Jeje, tapi dia juga sadar kalau semua tidak mungkin bisa terjadi.
"Apa Fira harus bilang kalau nyonya Inan yang melakukan ini," tanya Fira menatap ibunya yang tepat berada di atasnya.
"Ibu hanya bisa percaya padamu, lakukan yang terbaik menurutmu,"
__ADS_1
Fira mencerna setiap kata dari ibunya. Benar kata ibunya kalau dia harus menghadapinya dan mengatakan pada Jeje semua kebenarannya.
Dengan kebenaran ini Jeje mungkin akan lebih mudah menerima kalau hubungan Fira dan Jeje tidak bisa di lanjutkan.
**
Malam ini Jeje merasakan bahagia teramat di hatinya. Dirinya bersykur bahwa Tuan Edward menawarinya kerja sama, yang akhirnya membawanyan kepada wanita yang di cari selama ini.
Saat mengingat Tuan Edward, dirinya mengingat untuk menghubungi Tuan Edward. Jeje pun langsung menghubungi Tuan Edward untuk membicarakan tentang perkerjaan.
Setelah selesai menghubungi Tuan Edward, Jeje merebahkan tubunnya di atas tempat tidur.
"Bagaimana Adhi bisa membawamu kesini, sedangkan tak ada informasi keberangkatan mu ke negara ini," gumamnya yang masih belum bisa menemukan cara Adhi membawa Fira ke negara ini.
Jeje langsung mengambil ponselnya, untuk menghubungi seseorang.
"Halo Pak," jawab Reza dengan suara seraj khas bagun tidur.
Saat mendengar sapaan Reza, Jeje mengedarkan pandangan mencari jam dinding, yang terletak di dinding kamar hotelnya. "Disana sekarang pukul satu malam."
"Maaf menganggu mu malam-malam,"
"Ini bukan malam Pak, tapi menjelang pagi," tanpa sadar Reza mengatakan hal itu, tapi seketika dia tersadar dengan ucapannya, "Maafkan saya Pak," ucap Reza yang merasa tidak enak dengan atasannya.
Jeje hanya tersenyum, dirinya lah yang salah menghubungi Reza di jam segini. "Tidak apa-apa."
"Ada perlu apa Bapak menghubungi saya?" tanya Reza.
"Cari tahu keberadaan Adhi sebelum dan setelah Fira pergi," perintah Jeje.
__ADS_1
"Baik Pak."
Jeje pun mengakhiri sambungan teleponnya. "Aku akan tahu sejauh apa hubunganmu dengan Adhi."