
Setelah pulang dari restoran Daffa, Jeje melajukan mobilnya, menuju ke apartemennya. Fira yang lelah pun, langsung tertidur.
Sesampainya di parkiran apartemen, Jeje melihat Fira yang masih sangat pulas tertidur. Rasanya Jeje tidak tega untuk membangunkan Fira. Akhirnya Jeje berpikir untuk menggendong Fira ke apartemen saja.
Jeje turun dari mobil, dan beralih ke sisi kursi penumpang. Membuka pintu mobil, Jeje langsung membuka seatbelt milik Fira.
Baru saja Jeje melingkarkan tangannya di kaki dan leher Fira, Fira sudah mengerjap.
"Sudah sampai?" tanya Fira dengan suara yang serak khas bagun tidur.
"Sudah."
Fira yang menatap ke arah Jeje. "Kamu mau apa?" Masih dengan setengah mengantuk Fira bertanya pada Jeje.
"Menggendongmu?"
"Kenapa harus di gendong?" tanya Fira dengan kening berkerut.
"Kamu tadi tidur pulas sekali, jadi aku pikir untuk mengendong kamu?"
Fira baru mengerti apa alasan Jeje. "Aku jalan sendiri saja, lagi pula aku sudah bangun." Fira berucap di sertai dengan menguap. Rasanya dia memang mengantuk sekali.
"Yakin kamu kuat jalan?" Melihat Fira yang masih mengantuk, Jeje yakin Fira berat untuk berjalan.
"Iya."
Fira keluar dari mobil, dan berjalan bersama Jeje menuju ke unit apartemennya. Dengan berglayut manja di lengan Jeje, Fira memejamkan matanya sedikit. Rasa kantuk masih sangat menderanya, hingga sulit untuk membuka mata.
"Masih mengantuk?" tanya Jeje saat mereka berdua sedang berjalan menuju apartemen.
Fira hanya mengangguk dan menutupi mulut yang terus saja menguap.
"Tetap tidak mau di gendong?" tanya Jeje memastikan.
"Tidak," ucap Fira. "Lagi pula aku malu sampai ada yang melihat."
"Biar saja aku menggendong istriku, bukan istri orang lain. Jadi apa masalahnya?"
Fira malas sekali harus berdebat, disaat dirinya sangat mengantuk begini. Fira akhirnya memilih mengeratkan peganggannya di lengan Jeje, dan tidak menjawab ucapan Jeje.
Sesampainya di apartemen Fira langsung berlalu ke kamar mandi, dirinya ingin segera membersihkan diri, mengingat dirinya baru saja dari pasar malam, dan tubuhnya pastinya sangatlah kotor.
Tapi sayangnya, setelah menguyur tubuhnya, di bawah kucuran shower, rasa kantuknya hilang begitu saja. Rasa segar akhirnya mengantikan rasa kantuk yang tadi begitu menderanya.
Setelah kegiatannya mandinya berakhir, Fira keluar dari kamar mandi. Saat keluar Fira melihat Jeje sedang merebahkan tubuhnya, di atas sofa. Dengan menaruh tangan di dahinya, Jeje nampak memejamkan matanya. Senyum tertarik di ujung bibir Fira saat melihat suaminya juga mengantuk seperti dirinya tadi.
Melihat Jeje yang memejamkan matanya, Fira mengendap-endap mendekat pada Jeje. Seketika terlintas ide untuk mengerjai Jeje.
Dengan mengunakan rambutnya, Fira mengelitik wajah Jeje. Jeje yang merasakan sentuhan, di wajahnya mengeleng kecil. Dia pikir mungkin itu adalah nyamuk yang menempel.
Fira tersenyum saat Jeje tidak menyadari apa yang dia rasakan. Dengan semangat, Fira masih melanjutkan keusilannya. Fira mendekatkan dirinya dan melakukan keusilannya.
Tapi tanpa Fira sadari, Jeje sudah terbagun, saat meraskan sentuhan mengelikan di wajahnya. Jeje langsung mengalungkan tangannya di leher Fira. Wajah Fira yang terlampau dekat, membuat Jeje mudah menjangkaunya. Dengan sekali gerakan, Jeje mengecup bibir Fira. "Kamu iseng ya?" tanyanya pada Fira.
"Aku tidak tahan melihatmu tertidur," ucap Fira. Fira hanya tersenyum saat ketahuan mengoda Jeje.
"Kalau aku sudah bagun apa kamu berani mengodaku?"
__ADS_1
"Menurutmu?" tanya Fira berbisik di telinga Jeje.
Saat Fira berbisik tepat di telinganya, membuat hasratnya mulai bangkit. Aroma manis dari sampho milik Fira, membuat Jeje terbuai. "Jangan mengodaku seperti ini, aku tidak akan tega melakukan lebih saat kamu lelah."
Jeje menyadari kegiatan Fira hari ini sangatlah melelahkan. Dari mengerjakan beberapa perkejaan, hingga bermain di pasar malam.
"Aku rasa, aku tidak lelah."
Mendengar ucapan Fira, seakan Fira sedang memberikan dirinya kode. Mata Jeje yang tadinya mengantuk, akhirnya terbuka sempurna. "Kamu yakin?" tanyanya memastikan.
Fira pun mengangguk dan di sertai dengan senyuman.
"Tunggu aku sebentar, aku akan mandi." Rasa lengket pada tubuhnya. Pasti tidak akan membuat nyaman saat melakukannya. Dan akhirnya membuat diri Jeje membersihkan diri terlebih dahulu.
Jeje langsung mendorong Fira lembut, dan bergegas ke kamar mandi. Rasanya dia sudah tidak sabar melakukan olahraga malamnya dengan Fira. Mengingat dia harus mengurangi intensitasnya selama kehamilan awal Fira. Dan saat Fira memberinya kesempatan, dirinya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Fira yang melihat Jeje berlalu hanya tersenyum. Entah kenapa hari ini dirinya bersemangat untuk melakukan kegiatan malam dengan Jeje.
Mungkin karena tadi di restoran Daffa. Fira mendengar bagaimana Jeje memukul kliennya, hanya untuk membelanya. Rasanya Fira ingin menyalurkan kebahagiaannya pada Jeje. Mengungkapkan cintanya melalui sentuhan-sentuhan halus dengan tangannya.
*
Jeje yang baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Fira sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tampak Fira memejamkan matanya, di balik selimut tebal. Jeje yang tadinya sudah sangat bersemangat tiba-tiba lemas.
Dirinya sadar bahwa Fira tadi begitu lelah. Apa lagi di mobil, Jeje melihat Fira yang sangat mengantuk. Dengan langkah gontai, akhirnya Jeje berlalu untuk mengambil baju di lemari.
Setelah selesai menganti bajunya, Jeje menyusul Fira, untuk merebahkan diri di atas tempat tidur. Jeje membenamkan dirinya dalam selimut. Rasanya dirinya harus bersabar, saat keinginannya tidak bisa terpenuhi.
Baru saja Jeje memejamkan matanya, dia merasakan tangan Fira memeluknya. Dalam hatinya, dia hanya bisa menyemangati dirinya untuk bersabar. Di saat dirinya berusaha untuk menahan diri, tangan Fira malah memeluknya.
Belum usai dirinya meraskan kekesalan dari tangan Fira, Fira sudah mengeser tubuhnya lebih dekat. Jeje tahu apa yang harus dia lakukan.
Tapi mata Jeje membulat saat tangan nya merasakan pungung polos Fira tanpa sehelai benang pun. Jeje beralih menatap ke arah Fira, dan di lihatnya senyum merekah dari wajah istrinya. "Aku pikir kamu sudah tidur."
"Bukannya tadi aku sudah bilang, aku tidak lelah," ucap Fira malu-malu.
Jeje hanya tersenyum, mendengar jawban Fira. Jeje pikir Fira tidur di balik selimut tebal, ternyata Fira hanya menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal. Fira menanti dirinya mandi, dengan berpura-pura tidur
"Kamu..." ucap Jeje yang gemas dengan aksi jahil Fira. Jeje langsung membenamkam bibirnya pada bibir Fira. Memberikan gigitan dan lum*tan penuh gairah pada bibir merekah milik Fira. Tangan Jeje pun, sudah bergrilya mencari tempat yang di sukainya. Tubuh Fira yang sudah polos pun, membuat Jeje lebih leluasa mengaksesnya.
Fira yang mendapati Jeje yang memulai kegiatan panasnya, mulai membalas dan mengikuti irama yang di buat oleh Jeje.
*
Rasa puas tergambar nyata sesaat setelah penyatuannya bersama Fira telah selesai. Dirinya sadar bahwa, dia tidak boleh membuat Fira terlalu lelah. Jadi Jeje hanya melakukan sekali saja, tapi itu sudah cukup baginya.
"Terimakasih," ucap Fira pada Jeje. Fira mengeratkan pelukannya pada Jeje. Tubuh mereka yang sama-sama polos, membuat kehangatan begitu terasa.
Jeje mengerutkan dahinya dalam. Jeje tahu, Fira jarang sekali mengucap terimakasih setiap melakukan penyatuan mereka. "Terimkasih untuk apa?" tanya Jeje.
"Untuk dirimu yang membelaku."
Jeje baru menyadari, bahwa terimaksih yang di maksud Fira, adalah untuk dirinya yang membela harga diri Fira di mata kliennya. "Aku melakukan kewajibanku, jangan berterimakasih," ucap Jeje seraya mengeratkan pelukkannya pada Fira.
Fira mengangguk mendengar ucapan Jeje. Baginya cinta Jeje yang begitu besar, tidak bisa dia balas. "Apa aku perlu berhenti berkerja besok juga?" Fira menyadari Jeje ingin orang tahu bahwa dirinya adalah istrinya, bukan sekertarisnya.
"Tidak perlu," ucap Jeje pada Fira. "Saat aku ke luar negeri saja kamu berhenti berkerja. Jadi saat di rumah ibu, kamu bisa menikmati waktu bersama dengan ibu. Untuk besok kamu masih bisa ke kantor bersamaku." Jeje berpikir, jika dirinya ke luar negeri, akan lebih tenang saat Fira tidak berkerja.
__ADS_1
"Baiklah. Saat kamu di luar negeri aku tidak akan ke kantor."
"Sekarang tidurlah, besok kamu harus menikmati hari terakhirmu berkerja."
Mengeratkan pelukannya Fira memejamkan matanya mengikuti Jeje untuk tidur kembali.
**
Fira dan Jeje yang sudah sampai di kantor, langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Kamu tadi belum sarapan, kamu mau makan apa?" tanya Jeje. Jeje yang melihat Fira muntah tadi pagi, akhirnya membuat Fira tidak sarapan.
"Aku mau makan..."
Belum selesai Fira mengatakan keinginannya, terdengar pintu ruangan Jeje di ketuk. Saat pintu terbuka tampak Adhi dan Zara lah yang datang.
"Pagi," sapa Adhi.
"Kalian sudah datang?" tanya Fira pada Adhi dan Zara.
"Iya." Adhi dan Zara pun masuk ke dalam ruangan Jeje. Zara yang membawa bungkusan meletakkan di meja di dekat kursi sofa. Mereka berdua langsung duduk di sofa yang terdapat di ruangan Jeje.
"Kami tadi mampir ke penjual bubur di dekat kampus, jadi kami pikir kalian mau," ucap Zara, seraya membuka bungkusan yang berisi bubur yang di belinya.
Mata Fira langsung berbinar saat Adhi dan Zara membawakan bubur yang berada di dekat kampusnya dulu.
"Kamu mau sayang? tanya Jeje pada Fira. Fira pun mengangguk saat Jeje menawarinya.
Jeje tersenyum saat Fira tidak menolak bubur yang di bawa Adhi dan Zara. Dia berharap, Fira tidak akan muntah saat memakan bubur dari Adhi dan Zara. Karena rasanya, Jeje tidak sanggup melihat Fira kesulitan makan.
Tangan Jeje dengan cekatan langsung membukakan bubur yang di bawa oleh Adhi dan Zara. "Ini," ucap Jeje seraya menyodorkan satu bungkus bubur yang sudah di bukanya.
Dengan senang Fira pun menerimanya. Fira langsung memakannya dengan lahap. Di ikuti Jeje, Adhi dan Zara, akhirnya mereka sarapan bersama di ruangan Jeje.
"Jadi kamu mau berhenti berkerja besok?" tanya Zara yang mendengar cerita Fira di sela-sela sarapannya.
"Iya," ucap Fira seraya tersenyum manis pada Jeje. Jeje pun membalas senyuman Fira.
"Aku akan sering main nanti saat ada waktu luang, jadi kamu tidak akan bosan." Zara tahu ini adalah keputusan berat untuk Fira. Tapi sebagai seorang istri ini adalah kewajiban Fira.
"Iya, aku akan menunggu kalian main ke apartemen." Fira merasa sangat senang saat Zara masih memikirkan kebosanannya nanti. Saling mengenal satu dengan yang lain cukup lama, membuat hubungan mereka seperti saudara.
Setelah mereka semua selesai makan, akhirnya mereka melanjutkan perkerjaannya. Hanya tinggal beberapa dokumen saja yang perlu di rapikan. Jadi untuk hari ini mereka tidak punya banyak perkerjaan.
.
.
.
Jangan lupa like🥰
.
.
Mampir juga ke My Baby CEO
__ADS_1
Buat ketemu Shea🥰