
"Apa kamu mau?" tanya Fira seraya menyodorkan burger yang di makannya.
Jeje mengeleng disertai senyuman. Melihat istrinya makan dengan lahap. Baginya melihat Fira makan dengan lahap, membuat dirinya kenyang.
Jeje mengingat bagaimana tadi setelah pulang dari tempat acara Valeria dan Reza, di pertengahan jalan, Fira meminta untuk berbelok ke restoran cepat saji, untuk membeli burger.
Pikir Jeje, mereka akan membeli drive thru saja, tapi ternyata Fira mengajak untuk makan di tempat. Dan mau tidak mau, Jeje memarkirkan mobilnya, dan masuk ke dalam restoran menemani Fira.
"Ayo cepat, buka mulutmu!" perintah Fira.
Jeje mengerutkan dahinya, saat mendengar Fira memaksanya. "Sayang, ini sudah terlalu malam. Nanti aku bisa gemuk kalau makan malam."
"Apa kamu sedang menyindirku?" tanya Fira menatap tajam pada Jeje.
Jeje tersentak saat melihat Fira menatap tajam. Di tambah kata- katanya tadi telah menyinggung Fira, akhirnya Jeje langsung menarik tangan Fira dan menggigit burger yang Fira sodorkan. Jeje langsung memakannya, dan mengunyahnya burger yang sudah ada di mulutnya.
Melihat Jeje memakan burger darinya, rasanya Fira sangat senang. Fira langsung menyodorkan dua double cheese burger yang tersisa.
"Apa?" tanya Jeje yang bingung saat Fira menyodorkan padanya.
"Aku sudah memakan dua burger ini, jadi sisanya kamu yang makan," ucap Fira dengan senyum di hiasi lesung pipinya.
Jeje membulatkan matanya, rasanya tidak sanggup untuk menolak, karena takut Fira akan marah. Tapi membayangkan dua double cheese burger akan masuk ke perutnya malam-malam, rasanya dia tidak tega pada perut six pack.
"Kenapa diam?" tanya Fira yang melihat Jeje hanya diam saja.
Dengan memaksakan senyumnya, Jeje meraih burger dan memakannya. Baginya, demi Fira dia akan melakukan apapun.
Sepanjang Jeje makan, Fira terus saja menampilkan senyumannya. Dan itu membuat Jeje semangat untuk memakannya.
Setelah menghabiskan dua double cheese burger, Jeje dan Fira kembali ke apartemennya.
**
Fira mengingat bagaimana semalam Jeje terpaksa makan dua double cheese burger miliknya.
Sebenarnya Fira juga tidak tega, karena dia tahu Jeje menghindari makan malam yang terlalu larut. Dan sebagai gantinya, Fira berjanji menemani Jeje olah raga.
Dengan mengunakan fasilitas kolam renang yang tersedia di apartemen. Pilihan Jeje dan Fira jatuh pada olah raga berenang
Setelah sampai di area kolam renang, Jeje dan Fira berlalu untuk berganti pakaian renang.
Jeje keluar dari ruang ganti lebih dulu. Dengan celana renang, dia membiarkan dadanya terekspos.
Sejenak Jeje menunggu Fira di luar ruang ganti. Saat Fira keluar dari ruang ganti, Jeje melihat Fira dalam balutan baju renanag. Jeje memperhatikan Fira dengan seksama, baju renang berbahan lycra menempel pas di tubuh Fira. Perut Fira pun, belum nampak terlihat saat Fira memakai baju renangnya.
Mata Jeje terus memindai pakaiaan renang yang di kenakan oleh Fira dari kejauhan. Dan Jeje mendapati Fira memakai baju renang dengan terusan sampai ke lutut, dengan lengan pendek dan tertutup di bagian dada.
__ADS_1
Tapi saat Fira mendekat, Jeje membulatkan matanya saat melihat punggung mulut Fira terekspos. "Kenapa ini terbuka?" protes Jeje pada Fira seraya menujuk punggung Fira.
"Mana aku tahu, tanya saja sama pabriknya," ucap Fira berlalu. Fira melakukan pemananasan terlebih dahulu sebelum menceburkan dirinya ke dalam kolam renang.
Jeje yang melihat Fira berlalu begitu saja, mengejar Fira. "Iya, tapi kenapa kamu pakai baju renang seperti ini?" Jeje masih saja memprotes baju renang yang di kenakan Fira.
Fira yang sedang melakukan pemanasan, menghentikan kegiatannya. "Memang kenapa?"
Jeje menghela kasar nafasnya. Dalam hatinya, pertanyaan apa yang dia ajukan Fira ini. "Ya, karena ini terbuka di bagian belakangnya. Dan aku tidak suka."
Fira mengerutkan keningnya dalam. Sejenak dia melihat kesekeliling. "Lihatlah, yang lebih terbuka lagi jauh lebih banyak," ucap Fira seraya menunjuk dengan matanya.
Mata Jeje langsung mengikuti arah mata Fira. Dan ternyata, Fira menunjukan pada wanita dengan bikini terbuka, juga berenang di kolam renang.
"Sudah ayo," ajak Fira pemanasan. "Kalau kamu protes terus, kita tidak akan jadi berenang. Dan aku tidak tangung jawab kalau perut six pack kamu akan berubah menjadi one pack, setelah makan burger semalam," ucap Fira sedikit menyindir.
Jeje melihat ke arah perutnya melihat ke arah perutnya. Dia hanya menelan ludahnya, membayangkan apa yang katakan oleh Fira. Apa lagi mengingat junk food yang dia makan semalam.
Dengan terpaksa, Jeje mengakhiri protesnya, dan mengikuti Fira pemanasan terlebih dahulu. Dan saat di rasa cukup, Fira dan Jeje menceburkan tubuhnya ke dalam kolam renang.
Membelah air kolam renang, Fira dan Jeje berdampingan menuju ujung kolam. Menikmati setia gerakan, dan menikmati air yang membasahi tubuh keduanya.
"Lelahnya," ucap Fira seraya mengusap wajahnya yang basah. Fira yang merasa sudah tiga kali bolak balik dari ujung ke ujung kolam renang, merasakan lelah begitu menderanya. Mungkin karena efek dari kehamilan, yang membuatnya begitu cepat lelah.
Jeje masih asik menikmati membelah kolam renang, bolak balik dari ujung ke ujung kolam. Hingga akhirnya dia menghampiri Fira, yang duduk di tepian kolam. "Kenapa berhenti?" tanya Jeje seraya mengusap wajah basahnya.
Jeje yang mendengar Fira lelah, menyadari apa yang menyebabkan kelelahan yang mendera Fira. "Kamu kembali ke apartemen dulu saja," ucap Jeje.
"Baiklah." Fira pun menuruti ucapan Jeje, untuk kembali ke apartemen lebih dulu. Fira langsung berlalu ke ruang ganti, dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Setelah selesai membersihkan diri, Fira membawa tasnya kembali ke apartemen. Saat Fira baru saja keluar dari lift apartemen, Fira melihat Celia baru saja keluar dari unit apartemennya.
Rasanya Fira belum siap harus bertemu dengan Celia, tapi mengingat Celia adalah tetangganya, tidak mungkin Fira tidak bertemu dengannya.
Celia yang berniat untuk pergi pemotretan, melihat Fira keluar dari lift. Melihat tas yang di bawa Fira, Celia bisa menebak jika Fira baru saja olah raga. "Fir, bisakah kita bicara?" Celia mencoba memberanikan diri menghentikan langkah Fira.
"Apa yang kamu mau bicarakan?" Fira menatap tajam pada Celia. Sebenarnya bisa saja dia menolak, tapi Fira yakin Celia akan berusaha lagi dan lagi untuk berbicara dengannya.
Celia yang mendengar Fira mau mendengarkannya merasa mendapatkan angin segar. "Fir, aku benar-benar tidak tahu jika kamu adalah istri Jeje, karena aku mengira Valeria lah istri Jeje. Waktu itu Valeria menceritakan suaminya, dan aku pikir suaminya itu adalah Jeje dan selingkuhannya adalah kamu."
Sebenarnya Fira sudah tahu akan hal itu, dari cerita Valeria yang menghubungi Jeje kemarin. "Sekarang kau sudah tahu bukan. Jadi berhentilah mengatakan aku selingkuhan Jeje."
"Fir, aku minta maaf karena telah menuduhmu."
"Aku sudah memaafkan mu, tapi aku harap kamu menjauh dari kehidupanku dan Jeje. Sadarlah bahwa Jeje sudah move on dari dirimu," ucap Fira tegas.
Celia tahu betul, dirinya sudah tidak ada harapan lagi pada Jeje. Tapi rasanya dia belum bisa merelakan Jeje untuk Fira.
__ADS_1
Saat Fira dan Celia sedang berbicara, pintu lift terbuka, dan Jeje keluar dari lift. Matanya langsung menajam, saat melihat Celia sedang berbicara dengan Fira. Dengan langkah lebar, Jeje menghampiri Fira. "Mau apa lagi kamu?" tanya Jeje pada Celia.
"Aku hanya mau minta maaf saja, je," ucap Celia. Celia melihat dengan Jelas tatapan tajam dari Jeje, dan itu sangat menyakitkan baginya.
"Tidak perlu ada maaf, pergi dan jauhi kami. Anggaplah kamu tidak mengenal kami," ucap Jeje pada Celia. "Ayo sayang." Jeje beralih pada Fira, menarik lembut tangan Fira dan mengajaknya masuk ke dalam apartemen.
Celia yang melihat Jeje berlalu, hanya membeku di tempat dimana Jeje dan Fira meninggalkannya. Mungkin kesalahpahaman tidak akan terjadi jika dirinya lebih jeli memahami semua. Tapi rasanya, melihat Jeje membencinya, ada perasaan menyesal di hati Celia.
Jeje yang menarik lembut tangan Fira membawa Fira masuk ke dalam apartemen. "Jangan bicara lagi dengannya," ucap Jeje seraya menutup pintu.
"Aku hanya ingin tahu apa yang dia ingin bicarakan."
"Jangan lengah, kita tidak tahu apa yang ada di pikiran Celia. Dan aku tidak mau mengambil resiko."
"Tapi.."
"Aku mohon dengarkan aku kali ini," potong Jeje.
Fira yang mendengar Jeje benar-benar serius dengan ucapannya mengangguk. Fira pikir Jeje lebih mengenal Celia, jadi mungkin jeje punya alasan tersendiri melarangnya.
.
.
.
.
Hari ini up segini dulu ya☺️
Tunggu kelanjutannya besok😁
Sambil nunggu bisa mampir ya ke karya lain aku.
Cinta jodoh lama (Tamat) tapi belum revisi
Cinta Stela (masih mandek sik, tapi lumayan buat bacaan🤭)
.
.
Jangan lupa like terus🥰
.
.
__ADS_1