Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Telur goreng


__ADS_3

Setelah semalam Fira dan Jeje, melakukan perjalanan kembali untuk pulang, pagi ini mereka sudah sampai di apartemen.


Fira langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, rasanya dia masih begitu mengantuk setelah melakukan perjalanan panjang.


Jeje yang memasukan koper ke dalam kamar, melihat Fira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, "Bersihkan tubuhmu terlebih dahulu," tegur nya pada Fira.


"Aku mengantuk." jawabnya mulai memejamkan mata lagi.


Jeje hanya mengeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Fira. Dia ingat betul Fira tidur pulas selama perjalanan pulang, " Tidak baik tidur dalam keadaan kotor," ucapnya dengan sedikit memaksa Fira untuk mandi.


"Hiss," Fira berdesis kesal, "Cerewet sekali dia," gumamnya seraya beranjak menuju kamar mandi, dengan buru-buru. Rasanya dia tidak suka Jeje menganggunya yang sedang menikmati tidurnya.


Mata Jeje langsung mengarah ke arah Fira, saat Fira beranjak dari tempat tidur. Dia di buat heran kenapa Fira harus kesal, hanya karena dia menegurnya, "Kenapa dia sensitif sekali,"


Setelah Fira keluar dari kamar mandi, Jeje bergantian masuk ke dalam kamar mandi. Rasanya dia ingin segera menyegarkan tubuhnya.


Saat keluar dari kamar mandi, Jeje melihat Fira memainkan ponselnya di tempat tidur. Jeje pikir, Fira akan tidur seperti yang dia inginkan tadi.


"Kenapa tidak tidur?" tanyanya, melangkah mendekati Fira.


"Sudah tidak mengantuk," jawabnya dengan ketus pada Jeje. Fikir Fira bagaimana dia bisa tidur, jika rasa kantuknya sudah hilang karena sapuan air saat mandi.


Jeje yang mendengar ucapan Fira yang ketus, bisa menebak, jika wanita yang amat di cintainya itu sedang marah. Jeje langsung naik ke tempat tidur, dan ikut duduk di samping Fira, yang sedang sibuk dengan ponselnya, "Kamu marah?" tanyanya ingin tahu.


"Siapa yang marah," jawabnya membuang muka melihat ke arah lain.


"Kalau tidak marah kenapa membuang muka?"


Fira langsung memutar kepalanya, mendengar ucapan Jeje. Fira melihat ke arah Jeje, dia memandang Jeje masih dengan kemarahan, "Aku hanya kesal."


"Karena harus mandi atau karena mengantuk?" tanyanya dengan senyum meledek.


Fira hanya mencebikan bibirnya mendengar Jeje berucap seraya meledeknya.


Jeje hanya tersenyum melihat Fira masih begitu kesal, "Tidurlah, aku akan menemani mu" Jeje memeluk Fira, dan membawanya merebah di atas tempat tidur.


Tapi baru saja Jeje memeluk Fira, dan belum sempat merebahkan tubuh Fira, Fira sudah menolak, "Aku sudah tidak mengantuk," ucapnya dengan menyingkirkan tangan Jeje lembut dari tubuhnya. "Sekarang aku lapar," Fira melanjutkan ucapannya dengan memandang Jeje.


Jeje langsung teringat bahwa memang benar mereka berdua belum makan, sesampainya di apartemen, "Baiklah aku akan pesan makanan saja," Jeje langsung berbalik, mengambil ponselnya di atas nakas, yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa?" tanyanya sambil melihat beberapa makanan, di aplikasi dalam ponselnya.


"Aku tidak mau pesan makanan,"


Jeje yang mendengar langsung menatap bingung, "Lalu?" Jeje menanyakan apa yang di mau oleh Fira.


"Aku mau kamu yang memasak" ucapnya dengan sedikit memohon.


"Tapi kita tidak punya bahan apa-apa untuk di masak?" Jeje ingat betul, sebelum mereka bulan madu, mereka mengosongkan lemari pendingin.


"Ada telur di lemari pendingin,"


"Kamu hanya akan makan telur?" tanyanya memastikan.


"Iya, aku mau telur mata sapi dengan kecap," ucap Fira seraya membayangkan makanan itu.


Melihat wajah Fira yang begitu menginginkannya, Jeje tidak punya pilihan lain, "Baiklah."


Jeje beranjak dari tempat tidur, dan melangkahkan kakinya menuju dapur, di ikuti Fira yang juga berjalan di belakangnya.


"Aku mau dua telur," teriak Fira dari meja makan, saat melihat Jeje membuka lemari pendingin.


Jeje pun mengambil dua telur, dan menggorengnya. Setelah selesai menggoreng, Jeje meletakkan telur goreng di atas piring, dan memberi toping kecap. "Ini," ucapnya meletakan makanan di atas meja makan.


Fira langsung memotong telurnya, dan memasukannya ke dalam mulutnya. Menikmati sensasi sederhana, yang di ciptakan dari perpaduan manis, asin, dan gurih dari telur goreng dengan kecap.


"Kamu mau?" tanyanya pada jeje.


"Tidak, aku akan memesan makanan saja" ucapanya menolak. Dia tidak mau ikut makan telur dengan kecap saja seperti istrinya. Batinnya hanya berfikir, dimana enaknya makan telur dengan kecap.


Akhirnya Jeje memilih mengambil ponselnya, dan memesan makanan lewat aplikasi.


***


"Dhi tadi Fira mengabari kalau dia sudah pulang bulan madu," ucap Zara sesaat setelah dia masuk ke ruangan Adhi.


"Oh ya?" ucapnya seoalah memastikan.


"Iya, tapi dia belum mengatakan, kapan dia akan berkerja," jelasnya pada Adhi.

__ADS_1


Adhi hanya berfikir, saat Fira masuk dan mulai berkerja, itu artinya Zara sudah tidak akan berkerja lagi padanya. Rasanya Adhi belum rela melepas Zara meninggalkan kantornya.


Walaupun saat Zara berkerja padanya, dia selalu mencoba mendekati Zara, tapi waktu yang ada, masih terasa kurang bagi Adhi.


"Dhi," panggil Zara pada Adhi, dan membuyarkan pikiran Adhi.


"Iya," jawabnya kaget.


"Setelah Fira kembali berkerja, aku akan kembali berkerja di perusahaan pak Gajendra," Zara berucap seraya menyerahkan dokumen pada Adhi.


"Bisakah kamu tetap berkerja di sini saja," ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Adhi.


Zara menautkan kedua alisnya, bingung mencerna kata-kata Adhi, " Mana mungkin aku berkerja disini," sanggah Zara pada Adhi.


"Kenapa tidak mungkin?" Adhi menatap Zara meminta jawaban.


"Aku disini mengantikan Fira, lalu saat Fira kembali, aku dimana?" tanyanya menatap balik pada Adhi.


Adhi yang di tatap oleh Zara, seketika langsung melemah, jantungnya berdegup lebih kencang, seolah tatapan itu langsung masuk ke dalam hatinya. Walaupun tatapan itu, hanya tatapan biasa untuk Zara, tapi tidak dengan Adhi. "Di sini," ucap Adhi tanpa sadar seraya memegangi dadanya.


Zara langsung membulatkan matanya, "Apa maksudmu?"


Adhi yang mendengar pertanyaan Zara, merutuki kesalahnnya saat berucap. Rasanya tidak romantis sekali dia mengatakan cinta sekarang.


"Maksudku disini juga, bersama dengan Fira" elak Adhi.


"Apa kamu mau punya dua sekertaris?" tanyanya dengan menatap Adhi dengan sinis.


Bukan, bukan begitu maksudku," Adhi sangat bingung dengan pertanyaan Zara.


"Lalu?"


"Maksudku kamu tetap disini, kita kan tahu Fira sudah menikah, dan dia pasti akan segera hamil, dan kamu bisa mengantikannya," jawab Adhi setelah memutar otaknya untuk menemukan jawaban yang tepat untuk Zara.


"Kamu pikir secepat itu Fira hamil," Zara benar-benar tidak habis pikir dengan Adhi yang memintanya menunggu Fira yang akan hamil, dan entah itu kapan.


Adhi sudah kehilangan kalimat untuk menjawab Zara. Yang di katakan Zara ada benarnya, tidak semudah itu orang bisa hamil, karena banyak buktinya pasangan-pasangan yang menanti untuk kehamilan sampai bertahun-tahun.


"Kita tunggu Fira sampai masuk saja," akhirnya Adhi mengakhiri semua pembicaraan itu terlebih dahulu, karena dia sendiri tidak tahu mau bagiamana.

__ADS_1


Zara yang melihat Adhi sudah selesai bicara akhirnya keluar, untuk menyelesaikan perkerjaannya.


"Bagiamana aku membuatnya tetap disini?" gumam Adhi sesaat setelah Zara keluar.


__ADS_2