
"Selamat pagi Nona Zhafira," sapa seorang pria di depan Fira.
Fira yang mendengar ada suara, menengadah mencari sumber suara. Dan mendapati pria yang tersenyum manis padanya.
"Kenapa dia senyum-senyum seperti itu "
"Selamat pagi Tuan Gajendra, silahkan tunggu sebentar saya akan beritahu Tuan Edward bahwa anda sudah datang," ucap Fira sopan pada Jeje. Dan berdiri berjalan menuju ruangan Tuan Edward.
Fira sudah tahu kalau pagi ini Tuan Edward, sudah ada janji dengan Jeje. Sebenarnya Fira tidak kaget akan kedatangan Jeje, tapi kedatangan Jeje, dengan senyum-senyum sedikit membuat Fira sebal.
Fira berfikir senyuman yang di berikan Jeje, seolah sedang meledeknya. Fira mengingat bagaimana dia kemarin tidak menolak ciuman Jeje, dan Fira menerka itu lah, alasan Jeje tersenyum penuh arti padanya.
Fira yang keluar dari ruangan Tuan Edward pun, langsung mempersilahkan Jeje untuk masuk ke ruangan Tuan Edward.
Jeje yang sudah di persilahkan untuk masuk, mengikuti Fira di belakangnya, menuju ruangan Tuan Edward
"Silahkan Tuan Gajendra, Tuan Edward sudah menunggu," Fira mempersilahkan seraya membukakan pintu, dan menutup pintu kembali, setelah Jeje masuk.
Fira langsung menuju pantry, karena tadi Tuan Edward, sudah meminta Fira untuk membuatkan minum untuk tamunya.
Setelah selesai membuat minum, Fira masuk ke ruangan Tuan Edward, dan meletakkan minuman di meja.
"Fir tolong kamu siapkan ruangan sebelah, Tuan Gajendra hari ini akan mengunakan ruangan sebelah, untuk mempelajari beberapa berkas tentang perusahaan kita," perintah Tuan Edward pada Fira.
"Baik Tuan."
Fira keluar dari ruangannya dengan mengrutu,
"Dia akan disini hari ini, ya Tuhan cobaan apa lagi ini," rasanya Fira masih sangat malas, bertemu dengan Jeje dalam waktu yang lama.
Fira langsung bergegas menyiapkan ruangan yang di minta oleh Tuan Edward. Setelah selesai, Fira mempersilahkan Jeje untuk masuk ke ruangan yang sudah disiapkan.
"Ini Tuan berkas yang anda akan pelajari," Fira meletakkan beberapa berkas, yang di minta Tuan Edward.
Jeje menatap Fira yang meletakan beberapa berkas di meja, "Apa kamu tidak menemaniku disini."
__ADS_1
Fira mengerutkan dahinya, berfikir pertanyaan bodoh apa yang di lontarkan Jeje. "Maaf Tuan, perkerjaan saya bukan menemani anda disini," ucap Fira mencoba tetap tenang.
"Saya rasa Tuan Edward tidak keberatan, kalau sekertarisnya satu menemaniku," seragai licik dari Jeje mengunakan Tuan Edward untuk alasan Fira menemaninya.
Fira benar-benar malas berdebat dengan Jeje apalagi ini di kantor. "Silahkan anda kerjakan perkerjaan anda, dan bila anda membutuhkan bantuan, anda bisa memanggil saya Tuan," jawab Fira sopan.
"Baiklah." Jeje tidak punya pilihan lagi, selain mengiyakan ucapan Fira.
Akhirnya Fira keluar dari ruangan Jeje, setelah Jeje menerima penjelasannya. Fira benar-benar kesal dengan sikap Jeje yang seakan mencoba mendekatinya.
Belum beberapa saat, Fira duduk di kursinya, telepon di mejanya sudah berdering, "Bisakah, aku minta secangkir kopi," suara meminta tolong dari balik telepon, dan sudah bisa di pastikan itu adalah suara Jeje.
"Baik Tuan."
"Kenapa tidak menyuruhku tadi sih," kesal Fira, setelah dia menutup teleponnya
Fira yang mendengar Jeje meminta secangkir kopi, berjalan ke arah pantry dan membuatkan secangkir kopi.
Fira pun mengantarkannya ke ruangan Jeje, setelah selesai membuat.
Saat sedang mengerjakan perkerjaan, dia di kagetkan lagi, dengan bunyi telepon yang berdering.
"Bisakah kamu jelaskan sesuatu di berkas ini sebentar," ucap Jeje, saat menghubungi Fira lagi.
"Baik Tuan," ucap Fira dengan sopan, tapi dia menahan kekesalannya.
"Sepertinya dia mengerjai ku," kesalnya seraya berdiri, dan berjalan menuju ruangan Jeje.
Fira masuk ke ruangan Jeje kembali, dan menjelaskan beberapa isi berkas yang di minta Jeje. Setelah selesai Fira pun kembali ke meja kerjanya.
Belum ada sepuluh menit Fira melanjutkan perkerjaanya, telepon di mejanya berdering kembali.
Fira melihat telepon yang berada di mejanya, dia sudah menduga siapa yang menghubunginya, "Ini orang mau apa lagi sih " batin Fira kesal.
"Bisakah kamu kemari, dan jelaskan berkas satunya," ucap Jeje lagi, dari sambungan telepon.
__ADS_1
"Apa Tuan tidak bisa menyuruh saya tidak berkali-kali tuan!" seru Fira yang kesal karena sudah berkali-kali dia bolak balik ke ruangan Jeje.
"Bukannya tadi aku sudah memintamu untuk menemaniku, tapi kamu tidak mau, dan memintakku memanggil mu saja, kalau aku memerlukan," ucap Jeje polos, dan merasa tidak bersalah.
Fira yang mendengar ucapan Jeje, mengingat apa yanh di ucapkan pada Jeje tadi. Akhirnya Fira mengalah, dan kembali ke ruangan Jeje, tapi kali ini dia tidak kembali ke meja kerjanya. Fira menunggu Jeje kalau-kalau Jeje memerlukan dirinya kembali.
Dan Fira sudah meminta Elen untuk membantunya menyelesaikan beberapa tugas dari Tuan Edward, yang berada di meja kerjannya.
Jeje yang memilih tidak kembali ke meja kerjanya tersenyum, dirinya merasa sangat senang saat berkerja di temani oleh Fira. Sesekali Jeje melirik pada Fira, yang hanya diam menunggu perintahnya. Jeje pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sesekali dia bertanya pada Fira, dan membuat Fira harus mendekat pada Jeje untuk menjelaskan.
Sampai jam istirahat tiba Jeje masih bergelut dengan laptop dan berkas-berkasnya. Jeje cukup teliti saat mempelajari semua mengenai perusahaan Tuan Edward.
"Apa Tuan mau makan siang disini?" tanya Fira memastikan, karena biasanya Fira juga menyiapkan makan siang untuk Tuan Edward.
"Aku rasa begitu, pesankan aku dua makanan" perintah Jeje.
"Apa dia sebegitu laparnya"
"Apa Tuan akan makan dengan porsi double ?" tanya Fira memastikan.
Jeje tersenyum, "Tidak aku tidak makan dua porsi, tapi hanya satu, yang satu untuk mu,"
"Untuk saya?, maaf Tuan, saya terbiasa makan di kantin perusahaan ini," elak Fira, untuk menolak makan bersama dengan Jeje, di ruangan Jeje.
"Ya sudah kalau begitu, tidak perlu pesan, kita makan di kantin saja," ucap Jeje seraya berdiri.
"Kita," gumam Fira
Jeje melangkahkan kakinya, hendak membuka pintu, tapi langkahnya terhenti, saat melihat Fira, masih duduk di kursi, "Ayo Nona Zhafira," ajak Jeje yang sudah setengah membuka pintu.
Fira yang mendengar Jeje mengajaknya menoleh, dan mau tidak mau dirinya harus ikut bersama Jeje. Dia pun berjalan di belakang Jeje, mengekor pada Jeje.
Fira masih bingung kenapa Jeje tidak memilih makan di ruangannya saja, dari pada di kantin yang ramai, "Apa tuan yakin makan disini?" tanya Fira memastikan, saat sudah duduk di bangku kantin.
"Iya, apa kamu keberatan saya disini?" ucap Jeje dengan santai, dan duduk di bangku kantin.
__ADS_1
"Tidak Tuan," Fira hanya pasrah menuruti keinginan Jeje. Fira pun harus rela makan berhadapan dengan Jeje.