Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Taman hiburan


__ADS_3

Fira dan Jeje turun dari mobil, setelah mendapat tempat parkir. Saat memasuki kawasan taman hiburan, terlihat suasana cukup riuh, dengan banyaknya yang datang.


Jeje yang merasa di keramaian langsung menautkan jemarinya pada jemari Fira. Fira langsung menatap Jeje saat Jeje mengenggam tangannya.


"Banyak orang, aku takut kita terpisah." Alasan klasik yang di berikan Jeje pada Fira, saat tahu Fira menatapnya.


Mereka berjalan, memasuki kawasan taman hiburan, membelah lautan manusia yang mereka lewati. Keadaan yang cukup ramai, hingga membuat sedikit penuh sesak.


Jeje benar-benar baru pertama kali ke tempat seperti ini, dan itu membuatnya begitu tidak nyaman. Wajah Jeje benar-benar kesal saat, harus bersengolan dengan satu dengan yang lain, saat melewati kawasan taman hiburan.


Tapi seketika raut wajah Jeje merubah, ketika melihat wanita yang di sampingnya, mengembangkan senyumnya. Terlihat jelas, dia sangat bersemangat datang ke tempat ini. Dan Jeje pun akhirnya merasakan hal yang sama.


Fira terus menarik tangan Jeje yang di genggamnya, dan Jeje hanya bisa mengikuti saja kemana arah Fira membawanya. Langkah Fira berhenti, pada sebuah tempat permainan menembak kaleng. Dan itu membua Jeje berhenti juga.


"Apa kamu bisa menembak?" Fira menatap Jeje penuh harapan bahwa Jeje akan menjawab iya.


"Bisa sedikit," ucapnya, dan membuat senyum Fira mengembang.


Akhirnya Jeje mengikuti arahan permainan, Jeje menembak setiap kaleng, yang terdapat di depannya. Sepanjang pemainan menembak, Fira bersorak saat Jeje berhasil menembak kaleng-kaleng di hadapannya.


Saat Jeje berhasil menembak semua, Fira begitu senang saat Jeje menang, dan mendapatkan sebuah boneka kecil.


"Lucu sekali." Fira memeluk boneka yang baru saja Jeje dapatkan.


"Apa sebahagia itu kamu, aku rasa bukan aku saja yang ingin bahagia " batin Jeje saat melihat kebahagiaan Fira terpampang di depan matanya.


Fira yang sangat antusias menarik tangan Jeje ke segala penjuru taman hiburan. Akhirnya Fira terhenti saat melihat penjual gula kapas, dan membelinya.


"Apa kamu suka," tanya Jeje saat melihat Fira asik memakan gula kapas, tanpa perduli ada dirinya di sampingnya.


"Iya, apa kamu mau?" Fira menyodorkan gula kapas pada Jeje.


"Aku tidak suka makan manis menjelang malam."


"Sayang sekali, padahal ini enak sekali, ini adalah jajanan paling enak."


Jeje yang melihat Fira, menyesalkan dirinya yang tidak mau memakan gula kapas, akhirnya membuat Jeje mengalah. "Baiklah, berikan aku sedikit saja."


Fira langsung tersenyum senang, dan langsung mengambilkan gula kapas dengan tangannya. Fira langsung menyuapkan gula kapas dengan tangannya. Jeje langsung menerima suapan dari tangan Fira. "Enak?" tanya Fira pada Jeje.

__ADS_1


"Enak," jawab Jeje seraya menjilat jemari Fira yang masih terdapat gula kapas yang menempel.


"Kenapa di jilat?" Fira mengerutkan keningnya saat Jeje sibuk menyilati jemarinya.


"Karena gula kapasnya menempel." Senyum licik mengembang di wajah Jeje.


Fira hanya acuh mendengar jawaban Jeje, dan fokus kembali pada gula kapas di tangannya.


"Apa kamu suka kemari?"


"Iya," jawabnya pasti, "Apa kamu tahu dulu ayahku sering sekali mengajakku, saat dia pulang dari berkerja, dia mengajakku berkeliling hingga aku lelah." Fira mengingat bagaiamana ayahnya dulu menemaninya, dan bermain bersama hingga puas.


"Ayo kita berkeliling lagi," ajak Jeje setelah mendengar cerita Jeje. Dia ingin Fira juga merasakan bahagia, seperti dulu bersama ayahnya. Jeje menarik tangan Fira lembut, dan mengajaknya berkeliling lagi.


Mereka berdua membeli beberapa sosis bakar yang di jual di sana, mereka harus mengantri terlebih dahulu, dan itu menjadi pengalaman pertama untuk Jeje. Setelah mendapatkan, mereka memakan dengan lahap.


Mereka berdua juga mencoba beberapa permainan, walaupun tidak mendapatkan hadiah, tapi mereka senang saat bisa bersorak selama permainan. Mereka berdua juga mencoba beberapa wahana, hingga Fira benar-benar lelah.


"Apa kamu sudah lelah?" tanya Jeje.


"Iya." jawabnya di iringi anggukan.


"Tunggu," ucap Fira seraya menarik tangan Jeje.


"Kenapa?" Jeje bingung kenapa Fira tidak mau pulang.


"Ada satu lagi yang belum kita coba."


"Apa?"


"Itu." Fira menunjuk ke arah biang lala yang terdapat di tengah-tengah taman hiburan.


"Kamu mau?" tanya Jeje, dan Fira mengangguk.


Akhirnya sebelum mereka pulang, mereka mengakhiri dengan menaiki bianglala, sesuai keinganan Fira.


Saat menaiki bianglala, pemandangan kota nampak indah di lihat dari atas. Nampak lampu-lampu bersinar di gelapnya malam. Pandangan bertambah sempurna, saat sinar bulan dan bintang menghiasi langit malam.


"Apa kamu senang?"

__ADS_1


"Ya aku senang sekali."


"Lihatlah lampu-lampu di kota nampak indah di lihat dari atas," Fira mengatakan seraya menunjuk pada lampu-lampu di depannya.


"Ada lagi yang lebih indah di lihat."


"Apa??" Fira mentap Jeje penasaran.


"Kamu." Jeje mentap lekat wajah cantik Fira yang bersinar, tak kalah terang dari bulan dan bintang serta lampu-lampu kota.


Seketika pipi Fira merona merah mendapati gombalan dari Jeje. "Apa kamu sedang merayaku," tanya Fira mencebikan bibir.


"Aku tidak merayu." Jeje mengenggam kedua tangan Fira. "Kamu adalah hal yang paling terindah yang pernah aku miliki" Jeje mencium kedua tangan Fira, menyalurkan rasa cinta yang ada di dalam hatinya.


Belum sempat Fira menjawab apa-apa, permainan bianglala sudah berakhir. Dan mereka harus keluar, karena sudah banyak yang mengantri, untuk bergantian naik.


Fira dan Jeje memutuskan untuk pulang, karena mereka sudah sangat lelah. Saat perjalanan pulang Fira yang kelelahan, langsung tertidur pulas di dalam mobil.


"Sepertinya dia lelah sekali," gumam Jeje yang melihat Fira tertidur pulas sesampainya di mobil.


Sampai saat tiba di parkiran apartemen pun, Fira juga belum bangun. Jeje yang melihatnya tidak tega membangunkannya. "Maafkan aku, sebenarnya aku ingin membahagiakan mu, sebelum aku menikah" gumam Jeje saat memandang wajah Fira, seraya menyingkirkan rambut-rambut Fira yang menutupi wajahnya.


Fira yang merasa ada yang menyentuhnya perlahan mulai membuka matanya.


"Apa sudah sampai?" tanya Fira dangan suara khas bangun tidur.


"Iya."


"Kenapa kamu tidak membangunkanku," protes Fira seraya membenarkan duduknya, dan membuka seatbelt.


"Kamu tidur pulas sekali, aku tak tega membangunkan mu," ucap Jeje, dan Fira mengerti alasan Jeje.


Fira dan Jeje pun turun dari mobil, dan melangkahkan kakinya menuju ke apartemen mereka. Sampai di depan pintu apartemen mereka yang bersebelahan, mereka membuka bersama-sama


"Terimakasih untuk hari ini," ucap Fira yang hendak masuk ke dalam apartemennya.


"Sama-sama, terimakasih untuk kebahagiaan yang kamu berikan untuk hari ini, aku akan menunggu sisa enam hari ke depan" ucap Jeje tersenyum, Fira membalas senyum Jeje.


Mereka berdua masuk ke dalam apartemennya secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2