
Selama dua hari ini Jeje di sibukkan menyiapkan berkas untuk kerjasama dengan Axton Grup. Karena perusahaan itu memang perusahaan besar, Jeje tidak mau sampai melakukan kesalahan. Apalagi papanya sudah memperingatkan, untuk bisa mendapatkan kerjasama itu.
Dan selama dua hari ini, Jeje meminta Fira untuk pulang bersama dengan Valeria terlebih dahulu. Karena dia dan Reza harus menyiapkan beberapa berkas. Reza yang sudah mengambil cuti dua hari sebelum pernikahan, membuat Jeje dan Reza harus lembur beberapa hari ini.
"Terimakasih, za. Dan besok nikmati cutimu," ucap Jeje sesaat setelah perkerjaan mereka selesai.
"Sama-sama, Pak," ucap Reza. "Maaf tidak bisa menemani untuk kerja sama dengan Axton Grup."
"Tidak masalah, kamu sudah mau membantuku menyiapkan, itu sudah lebih dari cukup." Jeje patut bersyukur, karena Reza beberapa hari ini membantunya menyiapkan beberapa berkas untuk Axton grup, hingga larut malam.
Setelah perkerjaanya selesai, Jeje melajukan mobilnya menuju apartemennya. Jam sudah menunjukan pukul sebelas, membuat jalanan terasa sangat lenggang.
Sesaat dia memarkirkan mobilnya, dia melangkah menuju lift apartemen. Tapi matanya menajam saat melihat seorang wanita sedang menunggu lift. Rasanya Jeje malas sekali untuk melangkah, tapi tidak ada jalan lain untuk menuju unit apartemennya, selain melalui lift tersebut. Dengan langkah gontai, Jeje melangkah menuju lift, dan ikut menunggu lift.
"Je," sapa Celia saat melihat Jeje. Celia melihat dengan Jelas wajah Jeje yang tampak lelah. Dasinya yang sudah nampak berantakan, menandakan bahwa Jeje sudah sangat tidak peduli dengan penampilannya.
Jeje yang sangat lelah, sangat malas menjawab sapaan Celia. Rasanya, dia ingin sekali cepat-cepat sampai di rumah dan menyegarkan badannya, dan menuju tempat tidur, menyusul Fira.
Lift terbuka, membuat Celia dan Jeje bersama-sama masuk ke dalam lift. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Jeje, membuat Celia sedikit geram.
"Apa kamu ingin ke rumah selingkuhanmu, je?" Celia membelah keheningan di dalam lift.
Jeje yang tadinya menghiraukan Celia, menoleh menatap tajam pada Celia. Sejenak ingatannya berputar kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu, saat dirinya menemui Andrea untuk menjalin kerja sama. Sayangnya kerja sama itu malah berujung dengan pemukulan yang di lakukan oleh Jeje, karena Andrea meminta Fira untuk syarat perjanjian kontrak kerja samanya.
Tapi bukan itu yang membuat Jeje menatap tajam pada Celia. Tapi ingatannya tentang ucapan Andrea yang mengatakan, bahwa dia mengetahui bahwa Fira selingkuhan Jeje, dari Celia. Dan secara kebetulan Fira mengatakan bahwa dia bertemu Celia di tempat yang sama dengan Andrea. "Apa kamu yang mengatakan pada klien ku bahwa Fira selingkuhanku?"
Mendengar ucapan Jeje, Celia mengingat kejadian di restoran beberapa hari yang lalu.
Celia yang berniat menemui temannya, di kagetkan dengan pemandangan saat masuk ke dalam restoran. Dari kejauhan Celia melihat Jeje dan Fira sedang duduk di salah satu meja restoran. Celia yang melihat hal itu, merasa sangat kesal, akhirnya di memilih duduk di meja yang terhalang oleh tirai, agar Jeje dan Fira tidak melihatnya.
Selang beberapa saat Celia melihat klien Jeje datang, dan Celia tahu betul bahwa sorot mata klien Jeje begitu terpesona dengan Fira. Saat klien Jeje pergi ke toilet, Celia memanfaatkan itu untuk menemui klien Jeje.
"Selamat pagi," sapa Celia saat pria itu baru saja keluar dari toilet.
"Pagi, apa saya mengenal Anda?"
"Tidak, Anda tidak mengenal saya. Tapi saya tahu anda adalah klien Pak Gajendra."
"Anda kenal dengan Pak Gajendra?"
"Iya, dan saya juga kenal sekertaris yang merangkap menjadi selingkuhan Pak Gajendra."
"Apa maksud Anda mengatakan bahwa Zhafira selingkuhan Pak Gajendra?"
"Ya Zhafira adalah selingkuhan Pak Gajendra. Dan biasanya Pak Gajendra memberikan sekertarisnya itu untuk kontrak kerja sama."
"Benarkah?" tanya pria itu dengan mata berbinar
"Silakan Anda coba, siap tahu Anda juga bisa menikmati tubuh Zhafira."
Celia melihat dengan jelas, bahwa pria itu senang mendengar cerita dari dirinya. Celia pun memilih meninggalkan restoran, setelah menghasut klien Jeje.
Celia seketika tertawa mendengar pertanyaan Jeje, dan mengingat apa yang di lakukannya di restoran.
Jeje yang melihat Celia tertawa merasa sangat geram. "Jadi benar kamu yang mengatakan itu," ucap Jeje seraya menatap tajam pada Celia.
"Bukankah dia memang selingkuhamu," sindir Celia saat berhenti tertawa.
"Dia bukan selingkuhanku," ucap Jeje dengan suara keras.
"Aku sudah dengar semua cerita dari Valeria. Dan aku sudah tahu bahwa Fira merayumu."
Kening Jeje berkerut dalam mendengar nama Valeria di sebut. di saat bersamaan pintu lift terbuka, Jeje pun melangkah keluar dari dalam lift di ikuti oleh Celia.
"Carilah pasangan yang benar je, Fira hanya memanfaatkan kekayaanmu saja," ucap Celia seraya menarik tangan Jeje. Celia menatap Jeje mencoba meyakinkan Jeje.
Jeje yang merasa tangannya di tarik oleh Celia, langsung menghempas tangan Celia. "Sekalipun dia menghabiskan seluruh kekayaanku, aku tidak akan masalah."
Celia tidak menyangka Jeje akan sebuta itu dengan cinta palsu yang di berikan oleh Fira. "Sadarlah, je. Dia tidak baik untukmu."
"Berhentilah membicarakan omong kosong, Lia. Dan jangan ganggu hidup ku." Jeje melangkah meninggalkan Celia, dan masuk ke dalam apartemennya. Rasanya Jeje benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan Celia.
Jeje yang masuk ke dalam apartemen, masih dengan kesal. Ingin rasanya dia menghubungi Valeria saat itu juga, karena akar dari tuduhan Celia adalah dari Valeria. Tapi mengingat, hari sudah malam, tidak mungkin dirinya menghubungi Valeria.
Lelah Jeje seolah berlipat-lipat ganda, saat bertemu dengan Celia. Dengan langkah gontai Jeje melangkah ke dalam kamar. Saat Jeje membuka pintu, nampak Fira yang tertidur pulas. Rasanya emosi Jeje sektika mereda, saat melihat wajah istrinya yang tertidur.
Jeje langsung berlalu ke kamar mandi, tubuhnya yang lelah, dan pikirannya yang kacau membuat dirinya ingin segera menyegarkan diri.
Setelah selesai mandi, dan berpakaian. Jeje merangkak ke tempat tidur menyusul Fira. Jeje langsung melingkaran tangannya di tubuh Fira, mendekap Fira penuh kehangatan.
Fira yang merasa tangan kekar memeluknya mengerjap. "Kamu sudah pulang," ucap Fira dengan suara serak.
"Iya, sudah lanjutkan tidurmu." Jeje pun mengeratkan pelukannya, dan Fira membalas dengan memeluk kembali tubuh Jeje. Mereka berdua saling memberi kehangatan malam, dalam pelukan mereka.
**
Pagi ini Jeje dan Fira berangkat lebih awal, karena hari ini Jeje ada pertemuan dengan pihak Axton Grup.
__ADS_1
"Sayang maaf tadi aku mengantuk hingga membuatmu menyiapkan sarapan sendiri," ucap Jeje, saat dirinya dan Fira di dalam mobil. Saat Jeje terbangun tadi pagi, Fira sudah menyiapkan sarapannya sendiri.
Fira menarik senyum di ujung bibirnya. "Jangan merasa bersalah seperti itu. Harusnya aku yang menyiapkan sarapan untukmu. Tapi kamu terlalu memanjakan aku, dan tak mengizikan aku membuat sarapan sendiri."
"Bukankah tugas suami memanjakan istrinya." Jeje menatap sejenak pada Fira, sebelum kembali melihat pada jalanan di depannya.
"Kamu tahu, jika kamu terlalu memanjakan aku. Aku yakin aku akan berada di zona nyaman, hingga membuatku terlena." Fira melirik pada Jeje, dan mencebikkan bibirnya.
Jeje langsung tertawa mendengar ucapan Fira. "Kalau kamu terlena dengan aku memanjakanmu. Sekarang sudah pasti kamu tidak akan bangun pagi-pagi seperti ini, dan pergi ke kantor."
"Apa kamu sedang membahas keputusanku untuk kerja, sayang." Fira tahu kemana arah pembicaraan Jeje. Kata-kata Jeje terselip bahwa dirinya sebenarnya tidak suka Fira berkerja.
"Tidak," Jeje tersenyum saat melihat Fira kesal. "Tapi aku tidak mau orang memandang Zhafira sebagai sekertarisku. Aku ingin orang melihat Zhafira sebagai istri Gajendra." Kejadian beberapa hari ini membuat Jeje tersadar, bahwa menjadikan sekertarisnya bukan pilihan yang tepat.
Fira terdiam saat Jeje mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. "Harusnya aku memikirkan, bagaimana pandangan orang saat melihat seorang istri Gajendra menjadi sekertarisnya sendiri," batin Fira. Fira menimbang-nimbang lagi keputusannya untuk berhenti berkerja.
Sesampainnya di kantor, Fira dan Jeje memulai aktifitasnya. Jeje langsung masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Fira sudah mulai sibuk di meja kerjanya. Karena Valeria sudah mulai cuti, untuk beberapa hari ke depan, perkerjaan Fira akan jauh lebih banyak dari biasanya.
Saat Fira sedang mengerjakan perkerjaannya, terdengar suara langkah sepatu menuju ruangan Jeje. Fira menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Daniel dan sekertarisnya yang baru datang.
"Pagi Pak Daniel." Fira berdiri dan menyapa Daniel yang baru sampai di depan meja kerjanya.
"Pagi, Fira," sapa Daniel balik. "Panggil Daniel saja, aku merasa terlalu tua untuk di panggil dengan sebutan Pak."
Fira tersenyum saat Daniel memintanya memanggil nama saja. "Baiklah Daniel."
Hati Daniel menghangat saat melihat senyum manis dari Fira. Entah kenapa, rasanya begitu menyenangkan saat melihat wanita yang ada di hadapannya tersenyum.
Clara yang melihat Daniel, tahu bahwa bos sekaligus temannya ini sedang terpesona dengan Fira. "Apa kamu tidak mau mengenalkan aku dengan sekertaris pak Gajendra, Niel."
Daniel tersentak saat mendengar suara Clara. "Fira, kenalkan ini Clara, sekertarisku."
"Hai, aku Clara," ucap Clara mengulurkan tangan. "Kemarin kita belum sempat berkenalan."
Fira yang mengingat pertemuan dengan Daniel, merasa malu. Fira ingat betul, dirinya bukannya datang untuk mengikuti Jeje bertemu David, tapi malah sibuk makan es krim. "Iya, kita belum sempat berkenalan kemarin." Fira menerima uluran tangan dari Clara. "Silakan masuk, Pak Gajendra sudah menunggu." Fira melangkah menuju ke ruangan Jeje, untuk mengantar Daniel dan sekertarisnya masuk.
Sedangkan Daniel dan Clara mengikuti Fira di belakangnya, untuk masuk ke ruangan Jeje. Setelah Fira mengetukkan pintu, Daniel dan Clara masuk ke dalam ruangan Jeje.
"Pagi, Gajendra," sapa Daniel.
"Pagi Daniel," sapa Jeje. "Ayo silakan duduk."
Daniel langsung duduk di kursi di dapan meja kerja Jeje, dan Clara duduk tepat di samping Daniel.
Setelah Fira masuk membawakan minuman, Jeje dan Daniel memulai pembahasan kelanjutan kerja samanya. Jeje menjelaskan beberapa hal untuk kerja sama yang di ajukan ke perusahaan Daniel. Daniel pun mendengarkan dengan baik, semua penjelasan Jeje dan meminta Clara mencatat poin-poin penting dalam pembahasan kelanjutan kerja sama antara perusahaan Daniel dan Jeje.
"Aku rasa kita bisa merayakan kerja sama kita nanti malam," ucap Jeje mengakhiri pembahasan kerja sama dengan Daniel.
"Aku rasa begitu, tentukan tempatnya, dan aku akan datang." Daniel menerima tawaran makan malam yang di berikan Jeje.
"Baiklah, aku akan kirimkan alamatnya nanti pada sekertarismu."
Setelah Daniel menerima tawaran undangan makan malam dari Jeje. Daniel pergi dari kantor Jeje.
Fira pun mengantarkan Daniel dan sekertarisnya keluar dari ruangan Jeje.
"Apa kamu akan ikut makan malam dengan kami nanti malam?" Daniel yang baru saja keluar dari ruangan Jeje, memberikan Fira pertanyaan.
"Aku rasa aku akan datang."
Daniel merasa senang saat mendengar bahwa Fira akan datang juga untuk makan malam. "Baiklah, sampai jumpa nanti malam."
"Baiklah, sampai jumpa nanti malam."
Daniel dan Clara pun pergi dari ruangan Jeje. Sedangkan Fira kembali ke dalam ruangan Jeje.
"Kemarilah," ucap Jeje saat melihat Fira masuk ke dalam ruangan Jeje.
Fira melangkah menghampiri Jeje yang sedang duduk di kursinya. Melihat Jeje mengulurkan tangannya, Fira mendekat pada Jeje.
Jeje yang meraih tangan Fira, menarik lembut tangan Fira, dan membuat Fira duduk di pangkuannya.
"Nanti ada yang lihat," ucap Fira yang merasa tidak nyaman duduk di pangkuan Jeje.
"Apa kamu lupa Valeria dan Reza sedang cuti. Dan aku rasa tidak akan ada yang masuk ke ruanganku."
Fira tertawa kecil mendengar ucapan Jeje. "Apa kamu senang bisa mendapatkan proyek kerja sama ini?" Fira membelai rahang tegas milik Jeje.
"Iya, aku sangat senang," ucap Jeje. "Perusahaan Daniel adalah perusahaan besar, dan aku beruntung mendapatkannya."
"Kamu sudah sangat berusaha dengan baik, pastinya kerja sama ini adalah imbalan yang sepadan untuk kerja kerasmu," ucap Fira. "Aku hanya bisa mengucapkan selamat untuk keberhasilanmu." Fira ikut merasakan senang, saat Jeje bisa mendapatkan proyek yang di harapkan.
"Hanya ucapan selamat?" tanya Jeje.
"Lalu?"
"Berikan ucapan selamat, dengan ciuman manis," ucap Jeje membenamkan bibirnya pada bibir Fira.
__ADS_1
Fira yang mendapatakan ciuman dari Jeje, tanpa sadar mengalungkan tangannya pada leher Jeje. Biasanya Fira akan menolak saat Jeje menciumnya di kantor. Tapi entah kenapa kali ini Fira tidak menolak.
Jeje yang mendapat tidak ada penolakan dari Fira, memperdalam ciuman mereka.
"Permisi," ucap seseorang membuka pintu ruangan Jeje.
Daniel yang merasa ponselnya tertinggal di ruangan Jeje, akhirnya memilih untuk kembali ke ruangan Jeje. Tapi saat dia sampai di depan ruangan Jeje, dia tidak mendapati Fira disana. Daniel pun memilih mengetuk pintu ruangan Jeje, tapi tidak ada sahutan. Karena tidak bisa menunggu terlalu lama, karena dia sedang ada janji dengan Celia, akhirnya dia membuka pintu ruangan Jeje.
Saat Daniel membuka ruangan Jeje, Daniel di kejutan dengan posisi Fira yang berada di pangkuan Jeje, dan sedang berciuman. Rasanya Daniel benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Fira dan Jeje yang mendengar ada orang masuk, langsung melepas tautan bibir mereka. Alangkah terkejutnya Fira dan Jeje melihat Daniel lah yang masuk ke dalam ruangang Jeje. Fira yang berada di pangkuan Jeje pun, berdiri dan membenarkan bajunya.
"Maaf tadi aku sudah mengetuk pintu, tapi nampaknya kalian tidak mendengar. Aku hanya ingin mengambil ponselku saja," ucap Daniel menjelaskan maksud kedatangannya kembali.
Jeje yang mendengar ucapan Daniel mengedarkan pandangan mencari ponsel Daniel. Dan ternyata benar yang di ucapkan Daniel bahwa ponselnya tertinggal di mejanya. "Maaf aku tidak mendengar kamu mengetuk pintu," ucap Jeje dengan datar. " Silakan ambil ponselmu."
Daniel melangkah masuk lebih dalam ke ruangan Jeje. Satu tempat yang dia tuju adalah meja kerja Jeje. Daniel yang mengambil ponselnya, diam-diam melirik Fira yang berdiri menunduk di samping Jeje. Daniel tahu betup bahwa Fira menunduk karena malu, saat dirinya melihat sedang berciuman dengan Jeje. "Sudah, terimakasih," ucap Daniel saat mendapatkan ponselnya.
Jeje mengangguk. "Sama-sama."
"Kalau begitu aku permisi." Daniel memutar tubuhnya, melangkah meninggalkan ruangan Jeje. Saat menuju pintu ruangan Jeje, ekor matanya melirik pada Fira, yang masih setia menunduk.
Saat Daniel keluar, Fira merasa lega. Rasanya Fira malu sekali, saat ketahuan berciuman dengan Jeje.
Jeje yang melihat Daniel keluar, menarik tangan Fira lembut, dan kembali membawa Fira di pangkuannya. "Ayo lanjutkan."
Fira membulatkan matanya saat mendengar Jeje ingin melanjutkan ciuman mereka. "Apa kamu tidak malu mau melanjutkan lagi, nanti jika ada yang melihat lagi bagaimana."
"Untuk apa malu mencium istriku sendiri."
Fira memutar bola matanya malas saat Jeje dengan santainya mengatakan tidak malu. "Aku mau melanjutkan kerja. Kalau mau melanjutkan kita bisa lanjutkan di rumah saja."
"Melanjutkan di rumah, dengan di tambahi kegiatan lain?" tanya Jeje dengan senyum licik.
Fira hanya mendegus kesal, sempat-sempatnya Jeje mengatakan hal itu di kantor.
Jeje yang melihat Fira kesal, langsung tertawa. Rasanya mengoda Fira adalah hal mengasikkan untuk Jeje. "Baiklah, lanjutkan perkerjaanmu, dan aku akan menunggumu nanti melanjutkan perkerjaan kita di rumah."
Fira hanya tersenyum, saat Jeje tidak henti mengodanya. Fira pun berdiri, membenarkan bajunya yang sedikit kusut, dan melangkah keluar setelah memastikan dirinya sudah rapi.
**
Daniel yang melihat adegan ciuman antara Jeje dan Fira yang di lakukan di kantor, masih tidak percaya. Entah kenapa Daniel merasakan sakit, saat melihat wanita yang di sukainya bercumbu dengan pria lain.
"Kamu kenapa, Niel?" Celia yang bertemu dengam Daniel melihat wajah Daniel berbeda.
"Sejak dari mengambil ponsel di ruangan Pak Gajendra dia diam saja," timpal Clara yang melihat perubahan Daniel.
"Apa tadi kamu melihat bos dan sekertaris bercumbu, hingga membuatmu terdiam." Celia mengoda Daniel seraya tertawa. Dan di balas tawa juga oleh Clara.
"Iya." Satu kata yang lolos dari mulut Daniel.
Celia dan Clara sektika menghentikan tawa mereka. Mereka bingung dengan jawaban iya yang di maksud Daniel. "Iya apa?" Tanya Celia. "Iya kamu melihat Jeje sedang bercumbu?" Celia memperjelas ucapannya.
"Iya, aku melihat Gajendra mencium Fira di ruanganya." Daniel mengusap kasar wajahnya, saat mengingat ciuman antara Jeje dan Fira.
Celia tersentak, dia tidak percaya bahwa Jeje akan melakukan ciuman di kantornya. "Dasar wanita penggoda, bisa-bisanya dia mengoda Jeje." Celia begitu kesal dengan apa yang di lakukan Fira.
Daniel mentap tajam pada Celia, saat mendengar Celia memaki Fira. Daniel ingat betul bagaimana Fira menunduk, menahan malu atas apa yang di lakukan Jeje. "Apa kamu pikir, itu salah Fira. Bisa jadi itu memang salah Gajendra, yang seenaknya mencium sekertarisnya."
Celia bingung dengan apa yang di ucapkan Daniel. "Jangan bilang ku juga terpesona dengan Fira?"
"Iya, aku terpesona dengan Fira. Jadi berhentilah menjelek-jelekkan Fira di depanku."
"Apa kamu tidak melihat bahwa dia semurahan itu mau di cium di kantor." Celia benar-benar tidak menyangka temannya bisa terpesona dengan Fira.
"Jaga bicaramu Celia." Daniel menatap tajam pada Celia.
"Sudah hentikan, sebaiknya kita kembali ke hotel saja, Niel. Sepertinya kamu lelah." Clara yang melihat situasi anatar dua temannya yang sedang bertengkar, memilih mengajak Daniel kembali.
Daniel pun langsung berdiri setelah mendengar Clara mengajaknya kembali. Tanpa berpamitan Daniel meninggalkan Celia. Clara langsung berpamitan dan mengekor di belakang Daniel.
Celia yang melihat temannya berubah setelah bertemu dengan Fira, merasa sangat kesal. "Dasar wanita murahan, bisa- bisanya kamu membuat dua orang dalam hidupku terjebak padamu."
.
.
.
.
Jangan lupa like ya🥰
Ini detik-detik Celia akan tahu ya, tapi aku harap kalian sabar nunggunya.
Terimakasih sudah setia membaca karya aku.
__ADS_1
Kalau untuk Adhi, aku harap kalian sabar juga ya.