
Setelah acara pernikahan selesai, dan tamu-tamu sudah pulang, Zara masuk ke dalam kamar. Pertama kali membuka kamarnya, Zara membulatkan matanya, saat melihat bunga-bunga bertaburan di atas tempat tidur.
Masuk lebih dalam ke dalam kamarnya, Zara mencium aroma wangi bunga yang bertebaran.
"Perasaan tadi waktu aku selesai make up belum ada bunga-bunga ini," ucap Zara seraya meraih bunga-bunga di atas tempat tidur.
Saat Zara sedang memperhatikan bunga di tempat tidur, Zara mendengar suara pintu terbuka. Membalikkan tubuhnya, Zara melihat Adhi yang masuk ke dalam kamar.
Tubuh Zara seketika melemas. Jantungnya berdetak lebih kencang. Rasanya Zara malu sekali berada di dalam kamar bersama Adhi.
Adhi yang melihat Zara berdiri di tepi tempat tidur, melangkah menghampiri Zara. "Sedang apa?" tanya Adhi tepat berdiri di belakang Zara.
"Em...ini perasaan tadi waktu aku selesai make up nggak ada bunga-bunga, tapi tiba-tiba ada bunga-bunga." Zara menjelaskan apa yang di lakukan dengan perasaan gugup.
"Bang Daffa sudah pulang?" tanya Zara mengalihkan perhatian Adhi.
"Kenapa gugup?" tanya Adhi melihat Zara.
Pipi Zara langsung merona, saat Adhi bertanya.
"Aku senang kita sekarang sudah menikah," ucap Adhi seraya menarik lembut tangan Zara. Mengecup tangan Zara. Adhi mengungkapkan rasa bahagianya.
Zara memberanikan diri untuk menatap pada Adhi. Pandangan mata Adhi dan Zara pun saling mengunci.
"Aku mandi dulu ya," ucap Zara yang menyadari, jika pandangan Adhi tampak lain.
Adhi hanya menarik senyum di ujung bibirnya. "Iya."
Zara menaikan gaunnya dan melangkah menuju ke kamar mandi. Tapi Zara berpikir, jika tidak mungkin dirinya masuk ke kamar mandi dengan gaun. Tapi melihat Adhi yang berada di kamar rasanya Zara malu melepas gaunnya.
"Aku mau melepas gaun ku, bisakah kamu menutup matamu," ucap Zara ragu-ragu.
"Kenapa harus di tutup?" tanya Adhi mendekat pada Zara.
"Karena..."
Adhi membalikkan tubuh Zara. Meraih resleting di gaun Zara. Adhi menurunkannya perlahan. "Kalau aku tutup mata, bagaimana aku membukanya."
Merasakan tangan Adhi yang berada di punggungnya Zara merasakan glayar aneh di dalam hatinya.
"Sudah, sekarang bukalah, dan aku akan berbalik." Adhi langsung membalikkan tubuhnya, dan memberikan ruang untuk Zara membuka gaunnya.
Zara yang melihat Adhi berbalik, langsung membuka bajunya. Meninggalkan gaunnya di tempat dia berdiri, Zara berlalu menuju kamar mandi.
__ADS_1
Adhi yang melihat Zara sudah berlalu ke kamar mandi, berbalik kembali. Menundukan tubuhnya, Adhi meraih gaun milik Zara dan menaruhnya di atas kursi.
Beralih pada dasinya. Adhi melonggarkan seutas tali kain yang mengikat di lehernya itu. Adhi membuka jasnya, dan membuka kancing tangan kemejanya.
Adhi mengedarkan pandangannya, melihat-lihat isi kamar Zara. Untuk pertama kalinya dirinya masuk ke kamar Zara. Kamar sedehana dengan cat warna biru di padukan warna putih. Terlihat jelas, jika kamar menjadi tempat ternyaman dan memberikan ketenangan.
Melihat tempat tidur. Adhi menarik senyumnya. Adhi merasa kamar tidur dengan hiasan bunga memang di siapkan untuk dirinya dan Zara.
Zara keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan kimono, karena tadi dia tidak sempat mangambil baju.
"Em, kamu tidak mandi?" tanya Zara pada Adhi.
Melihat Zara hanya memakai kimono, membuat Adhi merasa keringat dingin. Sebagai laki-laki normal, Adhi merasakan gairahnya muncul.
"Iya, aku akan mandi." Berlalu meninggalkan Zara, Adhi menuju ke kamar mandi.
"Dhi," panggil Zara pada Adhi.
Adhi yang berdiri di depan pintu, berhenti saat mendengar panggilan Zara.
"Ini handuknya." Zara memberikan handuk pada Adhi.
"Oh iya," ucap Adhi gugup.
Adhi berlalu ke kamar mandi buru-buru. Rasanya dirinya tidak berani berlama-lama melihat Zara. Tapi sayangnya, karena Adhi terburu-buru, Adhi lupa membawa bajunya.
Selesai mandi, Adhi keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk di pinggangnya.
"Dhi," teriak Zara, terdengar lebih seperti protes. Zara langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, saat melihat Adhi dengan lilitan handuk di pinggang. Tetesan air yang mengalir di dada Adhi membuat tubuh Adhi semakin sexy.
"Maaf, tadi aku lupa membawa baju." Adhi menuju ke tas yang di bawanya dan di letakkan di dekat lemari Zara. Mengambil bajunya, Adhi memakai bajunya.
"Sudah, buka matamu," ucap Adhi pada Zara.
Zara yang mendengar ucapan Adhi untuk membuka matanya, langsung membuka matanya. Zara merasa lega, saat ternyata Adhi sudah memakai baju.
Adhi melangkah menuju ke tempat tidur, dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Adhi memperhatikan Zara yang sedang memakai cream di wajahnya.
Pantas wajahnya mulus. Ternyata dia merawatnya, batin Adhi.
"Kenapa memperhatikan aku seperti itu?" Zara yang merasa Adhi memperhatikannya, merasa sangat malu.
"Aku hanya memperhatikan wajahmu yang cantik."
__ADS_1
"Apa kamu sedang merayuku?"
"Apa aku salah merayu istriku sendiri?" Adhi tersenyum menatap Zara.
"Aku masih tidak percaya, jika kita sudah menikah." Zara masih melayang memikirkan dirinya yang ternyata sudah menikah.
"Kemarilah, agar kamu percaya."
Zara yang malu-malu pun melangkah menuju ke tempat tidur. Naik ke tempat tidur, Zara ikut merebahkan diri di samping Zara.
"Apa sekarang sudah percaya?" tanya Adhi menatap Zara.
"Sudah."
"Apa kamu bahagia menikah denganku?" tanya Adhi seraya membelai pipi Zara.
"Apa itu harus kamu pertanyakan?" Zara mencebikkan mendapat pertanyaan Adhi.
"Jangan mencebikkan bibirmu seperti itu," ucap Adhi.
"Kenapa?"
"Karena kau tidak akan bisa tahan, untuk tidak menciummu," ucap Adhi seraya membenamkan bibirnya di bibir Zara. Mencium Zara, Adhi mencium Zara lembut. Mengakses setiap sudut bibir Zara, Adhi menikmati manisnya bibir Zara.
Ini adalah pertama kali Adhi berciuaman. Walaupun dirinya tidak ahli, tapi dirinya belajar dari beberpa film yang menyelipkan adegan ciuman.
Zara yang mendapatkan ciuman dari Adhi, hanya diam saja. Dirinya benar-benar bingung harus membalas seperti apa. Mengikuti gerakan yang di ciptakan oleh Adhi. Zara hanya bisa merasakan gelenjar rasa yang tidak dia mengerti.
Melepaskan ciumannya, Adhi memberikan ruang untuk Zara mengambil napas.
"Apa kamu tidak keberatan melakukan sekarang?" tanya Adhi.
"Kata orang sakit, bisakah kita melakukan besok saat di rumah saja," ucap Zara. "Aku malu, jika besok keluar dengan kesakitan," imbuh Zara.
Mendengar ucapan Zara. Adhi membenarkan ucapan Zara. Di rumah Zara masih ada ayah, ibu, dan Nadia, dan jika mereka melihat Zara yang susah berjalan, pasti dirinya juga akan malu.
"Baiklah, kita akan melakukannya di rumah saja," ucap Adhi. "Tapi kalau yang ini, aku tidak bisa menunggu besok." Adhi kembali membenamkan bibirnya pada bibir Zara. Membasahi bibir Zara dengan ciuman bergelora.
Zara pun hanya mengikuti apa yang Adhi lakukan. Menikmati setiap kecapan yang Adhi berikan bibirnya
.
.
__ADS_1
.
.