Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Keberangkatan


__ADS_3

Setelah dua hari mempersiapkan keberangkatannya, hari ini Adhi dan Zara akan pergi ke luar negeri. Zara dan Adhi sudah dua hari ini mempersiapkan beberapa barang yang akan di bawanya. Baju Zara yang di bawa dari rumah pun akhirnya tidak di buka dari koper, dan itu mempercepat perkerjaan Zara, karena tinggal baju Adhi saja yang harus dia kemas.


Adhi yang baru saja masuk ke dalam kamar, melihat Zara yang sedang memandangi koper-koper yang akan di bawa. "Kamu lihat apa?"


Zara yang mendengar suara Adhi menoleh. "Aku sedang memastikan jika semua barang sudah kita bawa," ucap Zara tersenyum pada Adhi.


Adhi hanya memgelang, dari semalam Zara sibuk memastikan jika tidak akan ada barang yang tertinggal.


"Di ruang tamu ada ayah, ibu dan Nadia." Adhi memberitahu kedatangan mertuanya dan adik iparnya pada Zara.


"Mereka sudah datang?"


Kemarin Adhi dan Zara sudah datang ke rumah orang tua Zara, untuk memberitahu tentang kepergian mereka ke luar negeri, dan sekarang ayah dan ibunya datang untuk bertemu Zara dan Adhi sebelum Zara dan Adhi berangkat.


"Iya, ayo," ucap Adhi seraya mengulurkan tangan pada Zara.


Zara menerima uluran tangan pada Adhi, dan keluar bersama dengan Adhi. Saat sampai di ruang tamu, Zara melihat ada ibu, ayah, dan Nadia yang sedang duduk menunggu.


"Ayah, ibu, sudah lama?" Zara meraih tangan ayah dan ibunya bergantian dan mendaratkan kecupan di punggung tangan ayah dan ibunya.


"Kami baru saja." Bu Intan menjawab.


Adhi dan Zara ikut duduk bersama dengan ayah, ibu dan Nadia. Rasanya Zara masih sangat berat untuk meninggalkan keluargany, tapi dirinya juga tidak bisa membiarkan Adhi untuk pergi sendiri.


"Apa semua sudah siap?" tanya Bu Intan pada Zara.


"Sudah Bu."


"Jaga diri baik-baik disana ya, nanti kalau sudah hamil beritahu ibu," ucap Bu Intan pada Zara.


Pipi Zara langsung merona saat mendengar ibunya membahas tentang kehamilan.


"Iya, Bu, nanti kalau Zara sudah hamil, kami akan beritahu." Adhi pun menjawab pertanyaan Bu Intan yang di tujukan pada Zara.


Zara hanya bisa melirik ke arah Adhi, saat Adhi menjawab pertanyaan ibunya. Zara sadar ayah dan ibunya begitu mengharapkan dirinya segera hamil, karena ini adalah cucu pertama mereka.


"Nad, jaga ibu dan ayah ya." Zara menatap ke arah Nadia-adiknya.


"Iya, Nadia akan jaga ayah dan juga ibu."


"Kamu juga belajar yang rajin."

__ADS_1


"Iya, kak."


Saat sedang asik berbincang, terdengar sapaan seseorang yang datang. Adhi, Zara dan kedua orang tua Zara menoleh untuk melihat siapa yang datang, dan saat mereka menoleh mereka mendapati Nyonya Ayu dan Tuan Edward, serta Daffa dan Tania, yang datang.


"Wah besan sudah datang," sapa Nyonya Ayu. Nyonya Ayu langsung menghampiri Bu Intan dan menautkan pipinya.


"Kami juga baru datang," jelas Bu Intan seraya melepas tautan pipinya dari pipi Nyonya Ayu.


Nyonya Ayu beralih pada Zara. "Kamu sudah siap?" tanya Nyonya Ayu pada Zara.


"Sudah, ma."


"Ya, sudah ayo, agar tidak terlambat." Nyonya Ayu menatap Adhi dan Zara secara bergantian.


Adhi dan Zara pun mengangguk. Mereka masuk ke dalam kamar, untuk mengambil koper yang akan di bawa. Menarik koper, Adhi dan Zara keluar dari kamar. Di temani oleh semua anggota keluarga, Adhi dan Zara keluar dari rumah.


Setelah menaruh koper di bagasi, Adhi dan Zara berpamitan dengan semua anggota keluarga. Di antar oleh Daffa, Adhi dan Zara menuju ke Bandara.


Saat perjalanan menuju Bandara, ponsel Adhi berdering. Adhi yang melihat layar ponselnya melihat nomer Fira yang menghubunginya.


"Dhi, apa kalian sudah berangkat?" Suara Fira terdengar dari sambungan telepon.


"Iya, kami baru saja menuju ke Bandara."


"Baiklah," jawab Adhi.


***


Fira yang mematikan sambungan teleponnya, langsung menatap Jeje. "Adhi dan Zara sudah ke Bandara, jadi kita kesana saja," ucap Fira.


"Baiklah." Jeje memutar mobilnya menuju ke Bandara.


"Coba kamu tidak minta berkali-kali, kita tidak akan bangun kesiangan dan terlambat mengantar Zara dan Adhi," grutu Fira. Mengingat apa yang membuatnya terlambat membuat Fira kesal.


Jeje hanya menoleh pada Fira. Senyum tertarik di ujung bibirnya saat mengingat apa yang dia kerjakan semalam, dan membuat pagi ini terlambat untuk mengantar Adhi dan Zara.


"Jangan marah," ucap Jeje pada Fira.


"Aku tidak marah." Fira menatap Jeje, rasanya berat sekali untuk marah dengan Jeje. Fira berpikir, mungkin dirinya terau berlebihan menyalahkan Jeje, hingga suaminya mengira dirinya marah.


"Aku janji, kalau ada acara di pagi harinya, aku tidak akan minta lebih satu kali," ucap Jeje.

__ADS_1


"Benarkah?" Mata Fira menelisik dalam kedua bola mata Jeje, mencari kejujuran di dalam matanya.


"Tapi jika tidak ada acara aku tidak janji," tambah Jeje melanjutkan ucapannya.


Fira hanya bisa mendengus kesal, saat mendengar ucapan Jeje. Fira sudah menduga akan hal itu. Tapi beberapa saat kemudian senyum tertarik di bibir Fira. Fira yang tak pernah bisa menolak pesona Jeje, hingga selalu membuat mengikuti semua keinginan Jeje.


***


Sesampai di Bandara Jeje dan Fira langsung menghampiri Adhi. Sebagai teman, Fira dan Jeje ingin mengantar teman mereka juga. Apa lagi Adhi dan Zara akan lama di luar negeri.


"Ra," panggil Fira seraya melangkah menghampiri Zara dan Adhi.


"Fira." Zara merentangkan tangannya memeluk Fira. "Aku pikir kamu nggak akan kemari?"


"Mana bisa aku tidak mengantar kalian," ucap Fira seraya melepaskan pelukan pada Zara.


"Terimakasih."


"Iya, kamu hati-hati ya di sana, kabari aku saat di sana, jangan kesehatan juga disana." Fira terus tanpa berhenti bicara mengingatkan Zara.


"Kamu, seperti kamu tidak akan kembali saja," gerutu Adhi.


"Sayang," ucap Zara menegur Adhi yang menyendir Fira. Zara memahami, jika Fira dan dirinya akan saling merindu saat jauh. "Aku akan menjaga diri," ucap Zara pada Fira.


"Kabari juga jika sudah hamil." Fira berbisik pada Zara.


Mendengar bisikan Fira, Zara hanya tersenyum. "Iya." Zara dan Fira pun saling tertawa kecil.


Adhi, Jeje dan Daffa hanya saling pandang saat melihat dua sahabat itu saling melepas kepergian. Adhi, Jeje dan Daffa sebenarnya heran, mereka berpikir, wanita memang terlalu berlebihan, padahal mereka juga akan bertemu lagi nanti.


Saat terdengar bahwa pesawat mereka sudah akan take off, Adhi dan Zara langsung bersiap. Fira yang melihat Zara sudah pergi pun hanya bisa melambaikan tangannya. Rasanya, Fira merasakan kesedihan, karena hari-harinya akan sepi.


"Ayo pulang," ajak Daffa pada Jeje dan Fira.


Fira dan Jeje pun mengangguk, dan bersama Daffa menuju mobil mereka.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2