
Fira langsung memesan makanan pada pelayan kantin. Fira beralih pada Jeje," Tuan ingin pesan apa?" tanya Fira, setelah dia menyebutkan pesanannya.
"Pesankan aku makanan yang sama dengan mu," pinta Jeje yang tidak tahu harus makan apa.
Akhirnya Fira memesan makanan yang sama dengannya, untuk Jeje. Setelah makanan datang, mereka melanjutkan makannnya.
Jeje melihat Fira hanya memilih diam sedari tadi, dan tak mengajaknya berbincang sama sekali. Akhirnya Jeje memilih untuk memulai perbincangan dengan Fira.
"Apa kamu betah kerja disini?" tanya Jeje disela-sela makan mereka.
"Iya," jawab Fira singkat, seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya, dan menunduk melihat makanannya.
Sedari tadi Fira hanya diam, dan menunduk fokus pada makanannya. Dia berusaha untuk tidak terlalu banya berinteraksi dengan Jeje.
"Apa kamu senang tinggal di negara ini," tanya Jeje lagi.
"Iya," jawab Fira dengan singkat lagi, karena malas Jeje yang dari tadi menanyainya.
"Apa kamu masih mencintai ku?"
"Iya," jawab Fira, tapi seketika Fira mencerna baik-baik lagi pertanyaan Jeje, dan menyadari jawaban yang dia berikan pada Jeje.
Fira langsung menengadah, menatap Jeje dengan tajam, "Tidak", jawab Fira tegas. Fira tidak mau Jeje menganggap dia masih mencintainya, karena itu akan menjadi masalah nanti.
Jeje langsung tertawa mendapati jawaban Fira. Jeje memang sengaja menjebak pertanyaan itu, karena dari tadi Fira hanya menjawab iya saat di tanya. Dan ternyata Fira menjawab pertanyaanya dengan jawaban iya, saat Jeje memberi pertanyaan tentang perasaan Fira.
"Dia menjebakku " kesal Fira saat melihat Jeje tertawa bahagia sudah mengerjainya.
"Kalau aku jadi bos mu, aku sudah tidak akan memperkerjakan mu, karena kamu tidak konsisten dengan jawaban mu, sudah bilang iya tapi berubah tidak," sindir Jeje, tapi masih dengan senyum licik.
"Bagaimana aku tidak konsisten, jika kamu sengaja menjebak dengan pertanyaan mu " batin Fira kesal.
__ADS_1
"Sayangnya anda bukan bos saya," jawaban telak dari Fira.
"Tapi pertanyaanku yang terakhir itu, aku sudah dapat jawabnya kemarin, jadi kamu bilang tidak pun, itu tidak berarti untuk ku, karena aku sudah dapat jawabanya," Jeje tersenyum seraya mengedipkan matanya mengoda Fira.
Fira membulatkan matanya melihat ucapan Jeje, dia benar-benar di buat kesal, karena Jeje mengingatkan kepada kejadian kemarin. Dan Jeje membahasnya di tempat umum.
"Sudah lah je, bisa kah kamu tidak membahas masalah itu disini," jawab Fira yang yang tidak suka, saat Jeje mengingatkan dirinya dengan ciuman kemarin.
Sebenarnya Fira tidak kesal, tapi kesal pada dirinya sendiri. Dirinya lah yang salah, karena tidak menolah, dan malah menikmati ciuman kemarin. Dengan ciuamn itu, Jeje mengetahui jawaban atas perasaanya.
Jeje tersenyum melihat Fira yang mulai kesal, dia tahu wanita di hadapannya itu kesal pada dirinya yang tidak menolak. "Baiklah kalau begitu, berarti sepulang kerja kita bisa membahas semuanya," ucap Jeje mengakhiri perdebatan.
"Mungkin ini saatnya aku bilang padanya" batin Fira.
"Baiklah," Fira mengingat pesan ibunya untuk mengambil keputusan yang terbaik, dan yang terbaik untuk saat ini, adalah mengatakan semuanya pada Jeje. Fira berharap semuanya akan jelas.
Jeje yang mendengar Fira mau menerima ajakannya untuk bicara merasa lega. Jeje memang menunggu saat-saat bisa berbicara empat mata dengan Fira. Dan mencari tahu alasan Fira pergi.
**
Tuan Edward dan Jeje, sudah sepakat untuk berkerja sama. Dan perusahaan Tuan Edward akan di bangun di negara Jeje. Semua pengawasan pembangunan, akan ada dalam pengawasan Jeje. Tuan Edward juga akan mengirim orang, untuk mengurus semua.
Karena Jeje besok sudah kembali ke negaranya, Jeje meminta kepada Tuan Edward, agar sekertarisnya menemaninya untuk membelikan oleh-oleh.
Tuan Edward pun menjabat tangan Jeje, dan mengantarkan Jeje keluar. Saat keluar, Tuan Edward menghampiri meja kerja Fira, "Fir tolong kamu temani Tuan Gajendra mencari oleh-oleh untuk dia bawa ke negaranya," ucap tuan Edward kepada Fira.
"Licik sekali dia, dia tidak mau menunggu sampai pulang kerja," batin Fira.
"Baik Tuan," Fira tidak punya pilihan lain karena Tuan Edward yang memintanya.
**
__ADS_1
Akhirnya Fira mengantarkan Jeje kesalah satu mall terbesar untuk membeli oleh-oleh, setelah menumpang taxy, untuk mencapai tempat ini.
"Kira-kira oleh-oleh apa yang cocok untuk tunanganku?" tanya Jeje pada Fira. Jeje benar-benar sengaja memancing emosi Fira. Dia ingin tahu seberapa Fira bisa menahan perasaannya, "Aku mau tahu, seberapa kuat kamu menahan rasa cintamu," batin Jeje.
Fira yang begitu terkejut dengan pertanyaan Jeje, dia hanya bisa menahan sesaknya, "Tunangan?" rasanya Fira begitu sakit mendengar kata tunangan. Dia benar-benar masih tidak rela, orang yang di cintainya sudah di miliki orang lain.
"Terserah Tuan," jawab Fira. Fira berusah untuk tidak terlihat lemah di hadapan Jeje. Dia mengingat tujuannya, dan dia tidak mau sampai semua sia-sia.
"Kamu kan wanita, pasti tahu wanita suka hadiah apa," tanya Jeje lagi.
"Saya tidak pernah mendapat hadiah Tuan, jadi saya tidak tahu," jawab Fira polos pada Jeje.
Jantung Jeje langsung tersentak mendengar ucapa Fira. Jeje mengingat, kalau dia belum memberi Fira apapun, selama Fira menjalin hubungan dengannya. Fira juga tidak pernah meminta apapun dari Jeje, selama mereka menjalin hubungan.
"Baiklah, kalau gitu kita beli perhiasan saja," Jeje berjalan menuju salah satu toko perhiasan di dalam mall.
"Kita??, dia mau beli untuk tunangannya tapi mengajak aku " batin Fira.
Fira hanya bisa mengikuti Jeje memasuki salah satu toko perhiasan. Fira mengedarkan pandangan melihat perhiasan, terpajang rapi di etalase kaca. Rasa kagum saat melihat perhiasan cantik dengan kilauannya.
"Tolong pilihkan untuk ku," pinta Jeje pada Fira.
Fira yang sedang melihat keindahan perhiasan di etalase kaca, terkesiap saat Jeje memintanya memilih perhiasan, "Saya tidak tahu perhiasan Tuan," elak Fira.
Mendenga jawaban Fira, Jeje beralih pada pelayan toko, "Baiklah kalau begitu, pelayan tolong berikan aku kalung terbaik toko ini," Jeje meminta pelayan untuk menujukkan kalung padanya.
Pelayan itu pun, mengambil satu perhiasan, dan menunjukan pada Jeje, "Ini keluaran terbaru Tuan," seorang pelayan menyodorkan kalung emas warna silver dengan hiasan batu rubi warna merah berbentuk love.
Fira yang sedari tadi mengedarkan pandangan pada perhiasan-perhiasan yang berada di etalase kaca, menoleh saat pelayan toko menunjukan satu perhiasan pada Jeje, "Cantik " batin Fira saat melihat kalung tersebut.
"Saya ambil yang ini," ucap Jeje.
__ADS_1
Fira yang melihat Jeje mengambil kalung itu untuk tunanganya, merasa sangat kecewa. Tapi dia berusaha untuk menyembunyikan perasaan itu dari Jeje.