
"Mau makan di mana fir?" Adhi yang baru saja menyelesaikan perkerjaan, menghampiri Fira.
"Di kantin kantor aja."
"Iya sudah ayo."
Mereka berdua melangkahkan kaki menuju kantin. Saat sampai di kantin, dari kejauhan Fira dan Adhi, melihat sudah ada Zara dan Nayla disana, sudah duduk di kursi kantin.
"Fira," panggil Zara yang melihat Fira dan Adhi dari kejauhan.
Adhi dan Fira pun menghampiri Zara dan Nayla, dan duduk di bersama dengan mereka.
"Kalian sudah lama disini?" tanya Fira seraya menarik kursi untuk duduk.
"Belum baru saja kok," jawab Zara.
Adhi dan Fira pun memanggil petugas kantin, dan memesan makanan.
"Fir, kapan-kapan kita jalan yuk, dah lama nggak pernah jalan sama kamu?" ucap Zara.
"Boleh," ucap Fira, " Kamu ikutan ya nay," Fira beralih pada Nayla.
"Iya."
Saat sedang asik menunggu makan, tiba-tiba Jeje datang dan duduk di depan Fira. Semua orang di kantin kaget mendapati Presdir mereka duduk di kantin kantor. Tapi karena mereka melihat Adhi juga disana, mereka berfikir kalau Presdir mereka datang untuk rekan bisnisnya.
"Siang Pak Gajendra," sapa Zara dan Nayla.
"Siang juga, apa saya menganggu?"
"Tidak Pak," jawab Zara takut-takut.
Sebenenarnya Jeje sengaja makan di kantin, karena tadi Reza memberitahu kalau Adhi dan Fira sedang menuju ke kantin.
"Pak Gajendra tumben makan di kantin," tanya Adhi dengan senyum mengoda.
"Apa saya tidak boleh makan di kantor saya sendiri," ucap Jeje sinis.
"Bapak mau pesan apa biar saya pesankan," tanya Reza yang sedari tadi menenami Jeje.
"Ada menu apa saja disini?"
"Yang jelas disini tidak ada steak Pak Gajendra," goda Adhi.
"Kamu makan apa fir?" tanya Jeje pada Fira.
Fira yang kaget saat mendapat pertanyaan dari Jeje, hanya menjawab singkat, "soto."
__ADS_1
"Pesankan aku soto saja za." Jeje memerintahkan Reza.
"Soto ayam atau soto danging pak?"
"Memang ada berapa macam soto?" tanya Jeje bingung.
"Ich Presdir mana tahu jenis soto," cibir Reza dalam hati.
"Kamu makan soto apa fir?" tanya Jeje yang ingin tahu.
"Soto daging Pak."
"Kamu sudah dengarkan za, pesankan aku soto daging."
"Baik Pak." Rez pun langsung memesankan makanan untuk Jeje.
Akhirnya mereka makan bersama di kantin, setelah pesanan mereka datang. Biasanya di kantin riuh dengan obrolan, tapi sekarang nampak kantin sepi, karena ada Presdir mereka berada di kantin. Mereka semua tidak ada yang berani bersuara.
"Aku ke toilet dulu ya," pamit Fira pada semua yang duduk di meja kantin. Fira pun berlalu meninggalkan teman-temannya
Jeje yang melihat Fira pergi pun, ikut pamit untuk kembali ke ruangannya.
"Bayar semua yang makan disini za, aku akan kembali lebih dulu."
"Baik."
"Terimakasih Pak Gajendra" ucap para karyawan yang mendengar, bahwa Presdir mereka yang akan membayar makan siang mereka.
Fira yang kaget karena di tarik oleh seseorang, langsung ingin berteriak, tapi urung berteriak karena di bungkam dengan tangan. "Ini aku." Jeje menatap Fira, dan melepas tangannya. Sejenak kedua mata mereka saling beradu. Posisi mereka yang begitu menempel, tidak menyisakan jarak sama sekali.
Fira yang sadar kalau Jeje yang membungkamnya merasa lega. tapi juga merasa kesal. "Kamu kenapa sih tiba-tiba, main menarik aku, dan membungkam mulut aku, sudah kayak penjahat aja," ucap Fira yang begitu kesal.
"Memang ada penjahat yang ganteng kayak aku," ucapnya mengoda Fira.
"Memang siapa yang bilang kamu ganteng?"
"Nggak ada sih, tapi menurut kamu aku ganteng nggak?"
"Emm" Fir berpura-pura berfikir.
"Bilangan saja nggak." Jeje langsung menjawab, karena lama menunggu jawaban Fira.
Fira langsung tersenyum, "Kamu ganteng," ucap Fira malu-malu.
Jeje yang mendengar ucapan Fira pun tersenyum.
"Kamu ada apa menarik aku kesini?" tanya saat dia ingat, kenapa Jeje membawanya ke tangga darurat.
__ADS_1
"Aku merindukanmu," Jeje melingkarkan tangan di pinggang Fira, dan mendekat pada Fira.
"Je disini ada cctv," ucap Fira seraya melepas pelukan dari Jeje.
"Kalau tidak ada cctv berarti boleh?" tanya Jeje dengan senyum licik.
"Je..." Fira memanggil penuh peringatan.
"Ya...ya .." Jeje melepas pelukannya, "Pulang nanti kita nonton ya," pinta Jeje.
"Iya." Fira pun merapikan bajunya, yang sedikit kusut karena pelukan Jeje.
Cup..Jeje mengecup bibir Fira, "Aku tunggu nanti pulang kerja." Jeje langsung berlalu meninggalkan Fira yang masih di dalam tangga darurat.
Fira yang mendapatkan kecupan tiba-tiba tertegun, dia memegangi bibirnya mengingat kecupan dari Jeje. Walau hanya sebuah kecupan, rasanya membuat Fira begitu senang, seketika pipi Fira merona saat mengingat kecupan manis dari Jeje.
Fira pun keluar dari tangga darurat, dan kembali ke kantin menemui teman-temannya.
"Dari mana saja kamu kenapa ke toliet lama sekali, " kesal Zara pada Fira.
"Hah ..tolietnya antri jadinya lama," alasan Fira pada teman-temannya. Fira benar-benar tidak tahu apa jadinya, jika mereka tau dirinya bertemu dengan Presdir mereka di tangga darurat.
Mereka kembali keruangan masing-masing. Melanjutkan perkerjaan.
**
Jeje yang sudah di ruangannya begitu senang dengan kedekatannya dengan Fira. Jeje hanya senyum-senyum sendiri, membayangkan memberi kecupan manis pada bibir Fira.
Saat dia mengingat Fira, seketika dia mengingat tangga darurat. Jeje langsung menelpon Reza, "Za hapus rekaman cctv di tangga darurat jam istirahat tadi," ucap Jeje dari telepon.
Reza pun tak banyak bertanya, dan mengerjakan perintah dari Presdir
**
Saat jam kerja sudah beralkhir Jeje sudah bersiap untuk ke pergi ke mall bersama dengan Fira. Rasanya Jeje benar-benar merasa sangat senang, bisa menghabiskan waktu dengan Fira.
Setelah mematikan laptopnya Jeje bersiap beranjak dari ruangannya, tapi langkahnya terhenti saat suara ponselnya berdering. Dia pun mengambil ponselnya dan melihat mamanya yang menghubunginya.
"Halo ma?" jawab Jeje pertama kali mengangkat sambungan telepon.
"Je, bisakah kamu menemui mama?"
"Jeje nggak bisa hari ini ma."
"Pokoknya mama nggak mau tahu je, kamu temui mama secepatnya, mama mau bahas rencana pernikahan kamu!"
Jeje hanya menghela nafasnya, Jeje Fikri setelah dia menuruti keinginan mamanya, mamanya tidak akan memaksanya. "Nanti Jeje usahakan secepatnya menemui mama, sekarang Jeje sedang ada urusan."
__ADS_1
Tanpa mendengar jawaban mamanya, Jeje mematikan sambungan telepon. Rasanya Jeje benar-benar kesal, padahal dirinya sudah mengatakan bahwa dia akan mengurusnya.
Akhirnya Jeje melanjutkan langkahnya, dia tak mau Fira menunggunya lama, karena memikirkan kekesalan pada mamanya.