
Setelah mengantar oleh-oleh untuk Zara, Fira melanjutkan untuk makan bersama Adhi didekat restoran kantor Jeje. Tadi Fira juga sempat menghubungi Jeje untuk bergabung makan siang bersama, tapi Jeje mengatakan sedang di luar bertemu klien bersama Reza.
"Kamu kenapa, sepertinya sedikit berubah sejak dari kantor bang Jeje"
"Hah..nggak hanya saja aku memikirkan sekertaris Jeje saja"
"Memang kenapa sekertarisnya?" tanya Adhi heran.
"Aku seperti pernah melihatnya tapi aku lupa dimana"
"Kenapa kamu tidak tanya langsung sama bang Jeje"
"Nanti dirumah aku coba tanyakan"
Fira mengingat, tadi saat Fira mengajak Adhi turun untuk kekantor Jeje, Adhi menolak.
"Ngomong-ngomong tadi kenapa kamu tidak mau turun ke kantor Jeje"
"Aku hanya malas saja"
"Malas dengan Nayla atau Zara ?" tanya Fira langsung tanpa basa-basi.
"Apaan sih fir" Adhi salah tingkah mendapati pertanyaan Fira.
Fira langsung tergelak, "Aku tidak menyangka kamu bisa salah tingkah mendengar nama mereka"
"Tapi kalau kamu butuh bantuan, dengan senang hati aku membantumu"
"Terimakasih atas tawaran bantuannya nyonya Gajendra tapi saya rasa, saya masih bisa berjuang sendiri untuk saat ini"
"Selamat berjuang pejuang cinta" goda Fira, dan Fira menekankan kata pejuang cinta.
Adhi hanya tertawa dengan ucapan Fira.
__ADS_1
**
"Fir bang Jeje jemput nggak hari ini?" tanya Adhi yang baru saja keluar ruangnya.
"Entahlah coba aku hubungi dulu." Fira yang melihat ponselnya tidak berdering, bisa memastikan bahwa Jeje tidak menghubungi.
Fira akhirnya mangambil ponselnya di dalam tas. Dia langsung menghubungi Jeje, karena Jeje belum terlihat menjemput seperti biasanya.
"Halo sayang," suara Jeje menyapa terdengar dari sambungan telepon.
"Kamu dimana?"
"Maaf, aku masih di luar sama Reza untuk ketemu klien," jelas Jeje , "Dan sepertinya aku tidak bisa menjemput."
Fira yang mendengar Jeje tidak menjemput akhirnya memilih izin pada Jeje. "Ya sudah aku pulang dengan Adhi ya."
"Kenapa sama Adhi," suara Jeje di sana terdengar tidak terima.
"Oh kamu lebih suka aku pergi supir taxy?" Fira sedikit menyindir saat Jeje tidak memberi izin untuk pulang dengan Adhi.
"Tapi aku mau ke rumah ibu sebentar untuk kasih oleh-oleh ya."
"Ya sudah, hati-hati sayang."
"Iya." Fira mematikan sambungan telepon.
"Bang Jeje nggak bisa jemput?" tanya Adhi memastikan lagi.
"Iya, masih ketemu klien di luar sama Reza, " ucap Fira seraya memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Kamu nggak keberankan dhi, antar aku ke rumah ibu sebentar." pinta Fira.
"Ya sudah aku antar."
__ADS_1
Akhirnya sesuai permintaan Fira, Adhi mengantar Fira ke rumah ibunya.
Fira mengetuk pintu rumah ibunya. Selang beberapa saat ibunya pun membuka pintu
"Fira," panggil bu Ani kaget saat melihat anaknya di depan rumah. "Kenapa kesini?"
Fira yang mendengar ibunya menanyakan hal itu benar-benae di buat heran. "Emang nggak boleh ya bu Fira kemari," rajuk Fira.
"Ya boleh lah." Bu Ani tersenyum pada Fira.
"Nak Adhi" Bu Ani beralih ke pria di samping Fira, dan melihat Adhi bersama Fira.
"Iya bu," Adhi pun menyalami Bu Ani.
"Nak Jeje mana?" Bu Ani yang melihat Fira sendiri pun, akhirnya menanyakan.
"Jeje masih meeting bu."
"Ya sudah ayo masuk.".Bu Ani mempersilahkan Fira dan Adhi masuk, dan mereka duduk di ruang tamu.
"Fira kesini mau kasih ini aja bu." Fira menyerahkan paper bag.
"Apa ini?" tanya bu Ani yang melihat paper bag yang diserahkan Fira.
"Oleh-oleh bu," jelas Fira. "Bu Fira nggak bisa lama ya." Fira yang berniat hanya mampir pun memilih izin pamit.
"Kenapa nggak menginap, ibu masih kangen fir."
Fira melihat wajah ibunya yang begitu merindukannya, tidak tega untuk pulang.
"Ya sudah bu, nanti Fira kabarin Jeje," ucap Fira, dan ibunya terlihat senang sekali.
Fira beralih ke Adhi, "Dhi maaf sepertinya aku nginep di sini, maaf ya." Fira yang merasa tidak enak akhirnya meminta maaf.
__ADS_1
"Ya fir nggak apa-apa, kalau gitu aku pulang dulu aja ya," ucap Adhi pada Fira. Adhi pun beralih pada Bu Ani. "Saya pamit dulu ya bu."
"Iya, terimakasih sudah mengantar Fira." ucap Bu Ani.