
Mata Adhi dan Zara masih saling pandang, dan saling mengunci. Mereka berdua sama-sama saling merasakan debaran di hati mereka. Rasa cinta yang sudah lama di pendam, sekarang terlihat nyata dari sorot mata keduanya.
Saat Adhi dan Zara sedang menikmati moment itu, tiba-tiba ponsel Zara berdering. Suara ponsel yang yang terdengar, membuat Adhi dan Zara terkejut. Seketika mereka berdua saling melempar senyum, saat merasa mement romatis tiba-tiba sirna karena dering ponsel.
Suara ponsel yang tidak berhenti-berhenti, akhirnya membuat Zara mengambil ponselnya dalam tas. Saat melihat layar ponselnya, Zara melihat nama Fira tertera dalam ponselnya. Di usapnya layar ponselnya, dan menempelkan di telinganya.
"Ra, kamu ke toilet lama sekali?" tanya Fira dari sambungan telepon
Mendengar pertanyaan Fira. Zara teringat, bahwa dirinya tadi izin ke toilet saja pada Fira. "Iya fir, sebentar lagi aku kesana," ucap Zara.
Setelah mendengar jawaban Fira. Zara mematikan sambungan teleponnya. Zara beralih menatap Adhi. "Ayo, kita kembali ke pesta."
Adhi hanya mengangguk dan tersenyum, menerima ajakan Zara. Perasaan lega menyelimuti hati Adhi. Ada rasa senang saat dirinya sudah menyatakan cinta pada Zara, dan ternyata Zara pun membalas cintanya.
Adhi dan Zara kembali ke pesta Valeria dan Reza. Berjalan beriringan mereka mencari keberadaan Fira. Saat mendapati Fira, Adhi dan Zara mendapati yang lain juga disana. Dari kejauhan, terlihat Daffa, Tania, Atta dan Nayla selain Jeje dan Fira disana.
"Kamu ke toilet mana sih, lama sekali?" tanya Fira pada Zara baru saja menghampiri Fira.
"Toiletnya jauh ya, ra?" goda Tania seraya melirik Adhi.
Zara yang mendengar pertanyaan Fira dan godaan dari Tania, bingung harus mengelak apa.
Adhi yang melihat Zara kebingungan pun, akhirnya ikut bicara. "Tadi Zara menemani aku mengambil kado untuk Valeria dan Reza," ucap Adhi menjelaskan. Adhi sudah menebak pasti dua wanita ini akan bertanya, karena sebelum dirinya menemukan Zara yang pergi ke toilet, Adhi bertemu dengan Fira dan Tania terlebih dahulu. Saat mendengar dari Fira dan Tania, bahwa Zara di toilet, Adhi langsung menyusul Zara.
Senyum Fira dan Tania langsung mengembang di wajah mereka berdua, mereka sudah tahu bahwa Adhi hanya beralasan.
"Aku kasih kado dulu sama Valeria dan Reza dulu ya," ucap Adhi pada semua yang berada disitu. Adhi menatap Zara sejenak, seolah dari sorot matanya mengatakan bahwa 'aku izin menemui Valeria dan Reza dulu'.
Fira yang melihat Zara, mendekat pada Zara. "Dari mana tadi?" tanya Fira tersenyum, dan sedikit menyenggol bahu Zara sedikit.
Zara yang melihat Fira masih mengodanya, merasa benar-benar bingung. "Kamu tadi dengarkan, bahwa Adhi mengatakan kalau aku mengantarkannya mengambil kado," ucap Zara gugup.
"Sayang, jangan mengoda Zara terus, lihat pipi Zara sudah merona," timpal Jeje pada Fira.
Fira, Tania, dan Daffa tertawa kecil saat melihat pipi Zara merona karena malu. Dan hanya Atta dan Nayla yang tidak tertawa, ataupun tersenyum melihat Fira mengoda Zara. Atta dan Nayla sama-sama merasakan kesal dalam hati mereka. Mereka tidak menyangka, bahwa Adhi dan Zara sudah sejauh itu dekat.
"Oh ya, aku hampir lupa. Besok kami akan mengadakan acara 4 bulan kehamilan Tania, datang ya," ucap Daffa pada semua yang berada disana.
"Kami akan datang besok," ucap Jeje seraya melingkarkan tangannya di pinggang Fira.
"Loe jangan lupa datang juga, ta," ucap Daffa pada Atta.
"Iya, besok gue datang," ucap Atta.
"Kamu datang juga ya, nay." Daffa beralih menatap Nayla.
__ADS_1
Nayla yang mendapat undangan dari Daffa pun, mengangguk dan mengiyakan undangan dari Daffa.
Saat Adhi sudah kembali dari memberikan kado, dan memberikan ucapan selamat pada Valeria dan Reza, mereka semua akhirnya berpamitan. Jeje dan Fira lebih dulu berpamitan, di susul Daffa dan Tania. Dan tersisa Adhi, Zara, Atta, dan Nayla.
"Kamu pulang sama aku aja, ra, " ucap Nayla pada Zara.
Zara yang mendapat tawaran dari Zara bingung harus menjawab apa. Dari tadi saat dirinya dan Adhi datang, Zara sudah merasa Nayla menatapnya dengan tatapan tidak suka. Di tambah lagi saat Fira mengodanya tadi, Nayla menatap tajam padanya. Zara tahu pasti apa alasan dari tatapan Nayla. Tapi dirinya tidak bisa menyangkal perasaannya sendiri.
"Zara pulang sama aku, nay," ucap Adhi pada Nayla.
Nayla sedikit kaget saat Adhi lah yang menjawab pertanyaannya. "Oh ya sudah." Walaupun sebenarnya perasaannya begitu kesal, tapi Nayla berusaha tersenyum. "Kalau begitu aku balik dulu ya." Nayla memilih untuk segera pergi dari pesta Valeria dan Reza. "Ayo Bang Atta, mobil kita bersebelahan bukan." Nayla pun menatap Atta, dan mengajak Atta untuk pergi ke parkiran bersama.
Atta yang mendengar Zara akan di antar Adhi, akhirnya menerima ajakan Nayla untuk pergi ke parkiran mobil bersama. "Aku balik dulu ya, ra." Atta menatap Zara dan berpamitan.
"Iya Bang," ucap Zara.
"Gue balik dulu, dhi," ucap Atta seraya menepuk bahu Adhi dan berlalu meninggalkan Adhi dan Zara.
"Iya, Bang." Adhi pun menjawab Atta yang berpamitan. Dan tinggallah Zara dan Adhi yang tersisa. "Ayo kita pulang," ucap Adhi seraya menautkan jemarinya, pada jemari Zara.
Zara yang melihat Adhi mengenggam jemarinya, langsung melihat ke arah genggaman tangan Adhi. Zara masih tidak menyangka, bahwa dirinya dan Adhi sudah sedekat ini. Zara pun mengangguk, menerima ajakan Adhi.
Saat Adhi menarik lembut, tangan Zara, tidak ada penolakan dari Zara. Adhi dan Zara berjalan beriringan menuju parkiran mobil.
Sesampainya di mobil, Adhi langsung melajukan mobilnya menuju rumah Zara.
Adhi yang sedang fokus pada jalanan di depannya, menoleh sejenak pada Zara. "Kenapa harus tidak enak?"
"Jelas aku tidak enak, karena dia menyukaimu."
"Aku tidak pernah memberikan harapan padanya, harusnya di sadar bahwa aku tidak mencintainya. Jadi harusnya, dia sudah lama berhenti mencintai aku."
Ingatan Zara kembali pada saat dirinya menanyakan kenapa Adhi tidak menghubungi Nayla, dan disana Adhi mengatakan bahwa dirinya tidak mau memberikan harapan pada Nayla. "Apa waktu itu kamu sudah menyukai aku?" tanya Zara.
"Iya," jawab Adhi di sertai anggukan.
"Memang sejak kapan kamu menyukai aku?" tanya Zara begitu penasaran.
"Sejak aku mencari Fira bersamamu," ucap Atta menatap ke arah Zara. "Kebersamaan kita membuat aku sadar, bahwa cinta dan obsesi hanya berbeda tipis. Mungkin dulu aku hanya terobsesi, untuk memiliki Fira saat Bang Jeje melukai Fira. Dan denganmu, aku merasakan, aku jatuh cinta."
"Tapi waktu di luar negeri bukannya kamu senang bertemu Fira?" Zara ingat betul saat Adhi menceritakan bahwa bertemu Fira, Adhi begitu bahagia.
"Bukankah kita mencari Fira bersama. Bukankah kepanikkan kita sama, saat Fira hilang. Aku hanya ingin membagikan kebahagiaan, karena pencarian kita akan Fira sudah berakhir."
Dari penjelasan Adhi, Zara baru tahu bahwa kebahagian Adhi bukan karena bertemu Fira semata. "Sebenarnya saat kamu dan Fira menghubungi aku, aku merasakan bahwa kamu akan kembali pada Fira," ucap Zara lirih.
__ADS_1
Adhi hanya tersenyum mendengar ucapan Zara. Dia tidak menyangka, Zara menyimpan rasa cemburunya sudah sejauh itu. "Apa saat itu kamu juga sudah merasakan mencintaiku?"
"Aku tidak tahu itu cinta atau bukan. Tapi aku hanya takut saja, kamu akan mengejar Fira lagi."
"Tapi buktinya, tidak bukan?"
"Iya, saat kamu menceritakan bahwa Pak Gajendra akan membawa Fira dan menikahi Fira, aku baru merasa lega."
"Tapi aku berhenti mengejar Fira bukan karena Bang Jeje akan menikahi Fira. Jauh sebelum Bang Jeje memintaku membawa Fira kembali, aku sudah mengatakan bahwa aku mencintai orang lain, dan akhirnya aku mau membantunya," ucap Adhi. "Dan orang lain itu kamu." Adhi meraih tangan Zara.
Zara merasa lega mendengar bahwa Adhi mencintainya, bukan karena Fira meninggalkannya menikah, bukan karena dia mencoba move on dari Fira. Tapi memang dari dalam hati Adhi sendiri yang menyimpan rasa padanya.
"Mungkin melalu Fira, aku menemukanmu." Adhi mempererat genggaman tangannya.
Zara menyadari, sebuah perjalanan cinta terkadang tidak semudah yang di perkirakan. Dia merasa benar yang di katakan Adhi, dari mencari Fira, kedekatan mereka terjalin. Dan dari mencari Fira, dirinya menyadari bahwa dia menyukai Adhi.
**
"Sial," ucap Atta seraya memukul stir mobilnya. Atta mengingat bagaimana kekesalannya bertambah mendengar ucapan Nayla.
"Apa saja yang sudah, Bang Atta lakukan selama ini?" tanya Nayla pada Atta saat mereka sampai di parkiran mobil.
"Kamu pikir aku diam saja? aku sudah datang ke rumah sakit, saat dirimu mengabari aku, bahwa ayah Zara sakit. Aku juga sudah mengundang dia datang makan malam ke rumah. Tapi ternyata semua gagal." Atta yang mendengar ucapan Nayla, merasa sangat geram.
Nayla hanya bisa mendegus kesal. "Lalu apa yang kita akan lakukan?"
"Aku akan pikirkan nanti," ucap Atta membuka pintu mobil. Dan pergi meninggalkan Nayla.
Saat Atta sedang mengingat semua ucapan Nayla, Atta mendengar kaca pintu mobilnya di ketuk. Dan saat Atta menoleh, dia melihat mamanya disana. Atta pun langsung keluar dari mobilnya.
Mama Atta yang melihat putranya sudah sampai rumah, melihat Atta tidak keluar-keluar dari mobilnya. "Kamu kenapa?" tanya Mama Atta yang melihat putranya kesal.
"Tidak apa-apa," ucap Atta pada mamanya. Atta melangkah meninggalkan mamanya, menuju ke dalam rumah. Tapi langkahnya terhenti saat teringat sesuatu. "Aku terima tawaran mama waktu itu," ucap Atta pada mamanya.
Mama Atta menarik senyum di wajahnya. Dia merasa senang putranya menerima tawarannya. "Baiklah, mama akan segera siapkan semua."
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like kalianš„°
__ADS_1
.
.