
Hari pernikahan Daffa di selenggarakan di hotel, dan hanya di hadiri oleh kerabat dan teman-teman saja.
Nyonya Ayu begitu bahagia bisa ada disaat pernikahan putranya. Anak-anak yang sudah mau berlapang dada memaafkannya, dan menerimanya lagi adalah kebahagiannya.
"Kamu tampan sekali, Nak," pujinya saat melihat putranya. Nyonya Ayu memperhatikan wajah tampan dari putranya. Dengan balutan jas formal, menambah nilai ketampanannya.
"Terimakasih ma."
"Abang jangan grogi, muka abang jadi pucat. kalau pucat kak Tania tidak akan mengenali abang," goda Adhi di sertai tawa, saat melihat Daffa begitu berdebar-debar menanti pernikahannya.
Daffa menatap tajam pada adiknya, dia merasa kesal, karena di saat seperti ini adiknya masih sempat mengodanya. Tidak di pungkiri yang di katakan Adhi benar, bahwa dirinya begitu grogi. Daffa merasa jantungnya berdebar lebih kencang dari pada biasanya. Dia begitu tidak sabar menanti dirinya dan Tania menjadi sepasang suami istri.
"Jangan mengoda abangmu dhi, nanti kalau kamu menikah kamu akan sama," tegur Nyonya Ayu pada Adhi.
"Aku nggak akan pucat seperti abang ma, nanti saat aku menikah, aku akan dengan berani tanpa takut," elak Adhi.
"Kita lihat ma nanti, kalau dia juga pucat, aku adalah orang pertama yang akan menertawakannya," kesal Daffa.
Ayu senang, bisa dekat dengan dua putranya, dan melihat mereka becanda ria. Sudah lama dia tidak menjadi penengah saat ke dua anaknya bertengkar.
Saat mereka sedang asik menunggu, pintu kamar Daffa di ketuk, dan nampak Tuan Edward, dari balik pintu.
"Apa pengantin pria sudah siap," tanya Tuan Edward, sesaat setelah membuka pintu kamar, dan masuk menghampiri Nyonya ayu dan kedua putranya.
"Sudah," jawab Ayu.
Mereka semua bersiap, menuju ke acara resepsi pernikahan. Nyonya Ayu mengandeng tangan Daffa, menemani ke tempat pernikahan.
Daffa yang terlihat gagah dengan setelah jasnya, dan Tania yang begitu cantik dengan gaun pernikahan menuju ke pelaminan. Aura kebahagian terpancar dari kedua calon pengantin.
Setelah prosesi di lalui, dan di saksikan semua tamu undangan, sekarang mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Daffa dan Tania merasa sangat lega bisa melalui semua proses ini. Rasanya bahagia bisa menikahi orang yang sangat di cintainya.
Nyonya Ayu yang melihat putranya sudah menyelesaikan prosesi pernikahan, sangat bahagia, dia berjalan di dampingi suaminya menghampiri Daffa dan Tania. "Selamat atas pernikahan kalian." Ayu dan tuan Edward memberi ucapan selamat.
__ADS_1
"Terimakasih ma, terimakasih om Edward," Daffa senang mamanya bisa menemani melewati semua proses pernikahan ini.
"Selamat ya Bang, Kak." Adhi tak mau kalah dengan sang mama, dia juga memberi ucapan selamat. "Cepat kasih aku ponakan ya kakak ipar." Adhi mengoda Tania yang sekarang sudah menjadi kakak iparnya.
Pipi Tania langsung merona mendengar Adhi mengodanya.
"Benar yang di bilang Adhi, semoga kalian cepat punya anak." Nyonya Ayu, tidak kalah menanti cucu dari anak dan menantunya.
Daffa dan Tania, hanya tersenyum menanggapi ke inginan mama dan adiknya.
Semua orang memberi ucapan selamat pada sepasang pengantin baru, yang sedang berbahagia, termasuk kedua sahabatnya.
"Selamat, Bro," ucap Jeje dan Atta, mengulurkan tangan bergantian pada Daffa.
"Selamat ya." Terlihat seorang wanita juga mengulurkan tangan pada Daffa dan Tania
"Senang ya lihat kalian, kita akan secepatnya menyusul kan sayang," ucap wanita itu bergelayut manja di lengan Jeje.
Jeje yang malas mendengar Ana hanya diam tidak menjawab. Dia sangat malas membahas pernikahan dengan Ana. Daffa dan Atta yang sudah biasa melihat adegan Jeje yang acuh pada tunangannya, hanya tersenyum.
Nyonya Ayu yang melihat temannya dari kejauhan, berjalan menghampirinya. "Hai, Nan," sapa Nyonya Ayu pada Inan yang ternyata datang kepernikahan putranya.
Inan sebenarnya sangat kaget saat melihat Ayu mendampingi Daffa. "Hai Ayu," sapanya kembali pada temannnya, "ternyata kamu datang?" ucapnya masih merasakan keterkejutannya.
"Ya aku datang mendampingi putraku."
"Aku kira hubungan kamu dengan anak-anak mu masih belum baik." Inan sebenarnya sedikit takut, kalau sampai hubungan Ayu dan anaknya membaik, karena ada kemungkinan Daffa akan bertemu Fira, dan akan memberi tahu Jeje. Tujuannya mengirim Fira ke tempat Ayu, karena dia pikir Ayu tidak akan kemari.
"Apa kamu berharap hubunganku tidak baik?" tanya Ayu sedikit menyindir.
Inan tersentak kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari Ayu, walaupun harapannya adalah begitu. "Bukan begitu maksudku, aku turut senang kalau hubunganmu sudah membaik dengan anak-anakmu," elak Inan yang merasa tidak enak pada temannya.
"Ma.."Jeje memanggil, dan menghampiri mamanya.
"Tante Ayu, apa kabar?" sapa Jeje, yang melihat Ayu sedang mengobrol dengan mamanya. Jeje langsung mengulurkan tangan menjabat tangan Ayu.
__ADS_1
Ayu meneriam uluran tangan Jeje. "Baik je, kamu sendiri apa kabar.
"Jeje juga baik."
Ayu menatap ke arah samping Jeje, di lihatnya seoarang wanita cantik berdiri mengandeng lengan Jeje, " Wah apa ini calon istrimu?"
Ana yang melihat wanita paruh baya menanyakan siapa dirinya pada Jeje, dengan semangat menjawab sendiri, "Ya tante, saya Ana calon istri Jeje," Ana mengulurkan tangan dan menyapa Ayu.
"Wah cantik, aku jadi ingat asisten rumah tanggaku yang di berikan kamu Inan, dia juga secantik ini," ucap Ayu, dengan sengaja sedikir melirik pada Inan.
Inan yang mendengar Ayu membahas asisten rumah tangga, di saat ada Jeje, langsung membulatkam mata, dia tidak menyangka Ayu akan membahasnya disini.
"Mama kasih asisten rumah tangga ke tante Ayu?" tanye Jeje memastikan, karena Jeje memang tidak tahu.
"Oh..itu...em..." Inan sedikit salah tingkah harus menjelaskan apa pada Jeje. Dirinya benar-benar memikirkan jawaban yang tepat untuk Jeje, agar dia tidak curiga.
"Itu lho je, Tante kemarin minta asisten rumah tangga yang berasal dari sini, dan Inan memberi tante. Kamu tahu kan di negara asing, adanya asisten rumah tangga juga orang asing," jelas Ayu, saat melihat Inan yang panik saat dirinya membahas asisten rumah tangga.
"Apa Ayu tahu semua, dan segaja memancing pembicaraan tentang Fira," batin Inan menerka-nerka tujuan Ayu.
"Oh begitu, merasa lebih dekat sama negeri sendiri ya tante, kalau ada orang yang satu negara," ucap Jeje.
"Betul banget kamu je." Ayu tersenyum. Senyuman licik yang memang sengaja dia berikan pada Inan.
Setelah cukup lama dia berbincang dengan Jeje dan Inan, dirinya memilih pamit. "Tante pergi dulu, mau samperin Daffa."
Ayu tak mau membuat suasana menjadi lebih keruh lagi. Sudah cukup sampai disitu saja dia membuat Inan salah tingkah.
.
.
.
Jangan lupa likeš„°
__ADS_1