Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kenangan manis


__ADS_3

Setelah semua kamar sudah selesai di dekor, Fira dan Jeje sudah mulai pindah ke rumah baru. Di bantu oleh asisten rumah tangan baru dan asisten di rumah mertuanya, Fira mengepaki pakaiannya. Jeje yang sudah memperingatkan Fira untuk tidak terlalu lelah, membuat Fira tidak melakukan apa-apa, dan hanya memerintahkan pada asisten rumah tangga.


"Apa semua sudah selesai?" tanya Bu Ani. Bu Ani yang khusus datang pun tidak membiarkan putrinya untuk mengerjakan apa pun. Bu Ani tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan kandungan Fira.


"Sudah, Bu." Fira yang mengecek jika semua baju dan barang barang, menjawab pada ibunya.


"Baikalah ayo kita keluar, mungkin Jeje sudah selesai menyuruh orang-orang membawa bajumu ke mobil." Bu Ani pun mengajak Fira keluar dari kamar.


Fira mengangguk dan mengikuti Bu Ani untuk keluar dari kamar. Menuju ke ruang tamu, Fira melihat Jeje yang sedang sibuk menyuruh asisten rumah tangga, membawa kopernya ke mobil. Memang tidak banyak yang di bawa oleh Jeje dan Fira, mengingat semua perabotan sudah lengkap di rumah baru. Mereka hanya membawa baju mereka saja, dan beberapa barang penting.


"Ibu akan ikut mereka, dan berangkat ke rumah baru lebih dulu," ucap Bu Ani pada Fira dan Jeje.


"Iya, Bu." Fira mengangguk. "Ibu duluan saja, kami nanti akan menyusul." Fira tidak mau membuat ibunya menunggu dirinya dan Jeje.


Bu Ani keluar dari apartemen Jeje, dan meninggalkan Fira dan Jeje berdua di dalam apartemen.


Fira dan Jeje mengedarkan pandangan ke setiap sisi aparteman, rasanya berat sekali meninggalkan kenangan indah mereka. Memutar kembali ingatan mereka, Fira dan Jeje menyadari jika kisah cinta mereka di mulai di tempat ini. Tempat yang mempertemukan cinta mereka, mengisahkan banyak cerita manis dan pahit mereka.


"Apa kamu ingat pertama kali kamu kemari?" tanya Jeje. Jeje merengkuh pinggang Fira, mendekatkan pada tubuhnya.


Fira tersenyum saat mengingat pertama kali datang ke apartemen. "Mana bisa aku lupa, saat bertemu dengan singa."


"Kamu," ucap Jeje mencubit hidung Fir. Jeje benar-benar merasa gemas, saat Fira mengingatkan panggilan yang Fira sematkan padanya. "Apa singa itu masih ada?" tanya Jeje.


"Singa itu sudah luluh dengan pawangnya." Fira menatap Jeje dan tersenyum.


Jeje menautkan dahinya pada dahi Fira, dan mengiringi dengan tawa. "Apa ini pawangnya?" tunjuk Jeje pada Fira dengan sorot matanya.


"Menurutmu?" Fira mengoda Jeje.


Jeje hanya tertawa menjawab pertanyaan Fira. Jeje membenarkan ucapan Fira yang mengatakan jika Fira adalah pawangnya, karena memang Fira benar-benar sudah membuatnya luluh dan patuh.


"Ayo, kita berkeliling, mengingat setiap sudut apartemen ini." Jeje menarik tangan Fira lembut. Tempat pertama yang mereka tuju pertama kali adalah kamarnya. Walapun kamar itu sudah di gunakan oleh Jeje dan Fira, Jeje ingun mengingat apa yang pertama kali terjadi di kamar itu.


Melihat Jeje membawanya ke kamar, memory Fira kembali di mana pertama kali Fira kisah itu di mulai.

__ADS_1


"Di kamar ini kamu mengatai aku singa," ucap Jeje pada Fira. Jeje menatap Fira dan menarik lembut, agar tubuh Fira lebih dekat dengannya.


"Tapi kamu juga membalasnya." Fira tidak mau kalah dengan Jeje.


Jeje hanya tertawa mengingat saat dirinya mengatai Fira singa. Karena Fira pun sama dengannya suka marah-marah.


Mata Jeje beralih pada tempat tidur. "Tempat tidur?" tanya Jeje mencoba mengingatkan Fira kembali tentang kenangan manis mereka.


"Penipu!" Satu kata yang keluar dari Fira saat menngingat apa yang terjadi di tempat tidur.


Suara tawa Jeje mengelegar saat Fira mengatai dirinya sebagai penipu. "Aku tidak menipu, hanya mengambil sedikit kesempatan." Jeje mencoba membela diri.


Fira memeluk Jeje sejenak dan beralih pada tempat tidur. "Di sini pertama kali kamu menyatakan cinta," ucap Fira mengingat.


"Iya, dan kamu juga ternyata mencintaiku." Jeje mendaratkan kecupan manis di puncak rambut Fira.


"Iya, tapi ketakutanku begitu besar waktu itu." Fira ingat betul, jika dulu dirinya sudah berusaha menepis perasaannya. Tapi ternyata dirinya tidak dapat sama sekali menepis rasa cinta yang sudah tubuh di hatinya.


"Kamu tahu, saat kamu pergi, aku benar-benar tidak bisa menempati apartemen ini." Jeje mengingat jika saat Fira menghilang, dirinya memilih untuk tinggal di rumah mamanya, karena merasa setiap sudut apartemennya mengingatkannya pada Fira.


Perjalanan cinta yang begitu panjang telah di lalui Fira dan Jeje. Dari cinta yang tiba-tiba datang, hingga membuat mereka meyakini, jika mereka saling mencintai, sampai saat dimana mereka harus berpisah karena stastus sosial.


Perpisahan itu menjadi cerita tersendiri untuk kisah cinta mereka. Hingga mereka sadar, jika Tuhan memang menciptakan mereka bersama, karena Tuhan mempertemukan Fira dan Jeje dengan cara yang tidak pernah di duga.


"Kamu kamu tahu, perjuangan cinta kita adalah penguat untuk kita." Fira memeluk Jeje meluapkan rasa cinta di dalam hatinya.


"Perjuangan cinta kita akan selalu mengingatkan aku, jika saat aku menyakitimu, aku adalah orang paling bodoh, karena sudah menyia-nyiakan perjuangan kita." Jeje mengeratkan pelukannya. Rasa cintanya pada Fira, benar-benar tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


"Aku yakin kamu tidak akan menyakiti diriku."


"Iya karena aku mencintaimu." Jeje melepas pelukannya dan beralih mendaratkan bibirnya si bibir Fira. Memberikan ciuman lembut, sebagai ungkapan rasa cintanya.


Fira yang mendapatkan ciuman dari Jeje, mengalungkan tangannya di leher Jeje. Tangan Fira yang menarik leher Jeje, membuat ciuman mereka lebih dalam.


Saat merasa oksigen dalam paru-paru mereka berdua mulai berkurang, Jeje dan Fira saling melepas ciuman mereka.

__ADS_1


"Ayo kita segera ke rumah, aku mau menikmati malam kita di sana," ajak Jeje pada Fira.


Fira hanya mengeleng mendengar ucapan Jeje. Fira tidak tahu harus menjawab apa ucapan Jeje.


Jeje menarik lembut tangan Fira dan membawa Fira keluar dari apartemen. Jeje sudah tidak sabar, mencoba menikmati malam di rumah baru mereka.


Keluar dari apartemen, Jeje memastikan jika apartemen sudah terkunci dengan benar.


"Kalian sudah mau pergi?" Suara Celia terdengar saat Fira dan Jeje di depan pintu.


"Iya." Fira menjawab ucapan Celia.


"Ya, aku pasti akan merindukmu," ucap Celia seraya mendekat pada Fira dan memberikan pelukan singkat pada Fira.


"Kita masih bisa bertemu, kamu bisa main ke rumah dengan Kak Raka," ucap Fira saat melepas pelukan.


"Iya, aku akan main nanti dengan Raka."


"Baiklah, aku pergi dulu," ucap Fira.


"Iya, hati-hati."


Celia pun melambaikan tangan pada Fira, saat Fira berlalu ingin meninggalkan apartemen.


Fira dan Jeje yang melangkah menjauh meninggalkan Celia, menuju ke parkiran untuk mengambil mobilnya, dan menuju ke rumah baru mereka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2